Ketemu

1080 Kata
Deril masih selonjoran di dekat bibit yang dia tanam. Lalu dia beranjak pergi menjadi kayu yang sudah kering. Mengambil dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Dia membuat pagar dan menarik tali antar kayu yang dia tancapkan. Lalu dia kembali teringat akan Steve, tapi dia tidak bisa membiarkan bibit – bibit yang ditanamnya merasa tidak aman. Dia pun tiba – tiba mendengar sebuah tangisan. Dia pun berlari ke arah suara tangisan itu. Dia melihat ada sebuah tumbuhan yang sedang menangis. Karena hampir seluruh tubuhnya habis. Hanya terisisa sebuah tangkai daun saja. “Kamu kenapa?” “Tadi ada yang memotong daunku yang lain.” “Siapa?” “Para pendaki.” “Para pendaki pemula itu lagi. Bisa – bisanya mereka mengambil sembarangan begitu.” Ucap deril kesal. “Biasanya juga ada yang ambil. Tapi mereka biasanya hanya mengambil bagian daun baruku saja. Katanya enak kalau situmis.” Ucap pohon pakis. “Memang tumis pakis itu enak. Jadi pengen.” Canda Deril. “Ingat, ambil hanya bagian termuda. Percuma juga ambil yang tua. Gak akan enak dimakan.” “Oh begitu?” “Kamu belum pernah coba?” “Belum.” *** Steve melihat sekeliling. Ada sebuah danau yang luas dihadapannya. “Wah keren banget.” Ucapnya. “Biasa aja.” Sahut Dera. “Diem deh.” Ucap steve. Dera diam, dia hanya mengikuti langkah kemanapun Steve pergi. Steve melihat ada beberapa orang yang membawa carier besar. “Sepertinya mereka para pendaki. Sudah lama gak menikmati jawa sejuk gunung. Ikut mereka ah.” Ucap Steve pelan. “Aku juga ikut.” “Iya ayo.” Mereka berjalan mengekor ke para pendaki. Sambil sesekali pura – pura mengobrol saar para pe daki risih dengan gelagat mereka. “Temenmu rumahnya dimana sih?” tanya Dera pada Steve. “Kalau aku tahu, kita sudah disana dari tadi.” Jawab Steve. “Terus kita ikut mereka nih? Gak bawa tenda loh kita?” “Ngikut saja sebentar. Sambil nyari temenku.” “Kok nyari temennya di hutan.” “Dia kan Peri Hutan.” “Oooooh.” Sampailah mereka di sebuah tanah lapang. Para pendaki mengeluarkan beberap peralatan masak dan bahan makanan. Mereka beristirahat sambil menikmati indahnya alam. “Mereka kayaknya ngikutin kita deh.” Ucap pendaki 1. “Cewek cowok itu?” tanya pendaki 2. “Iya.” Jawab pendaki 1. “Sudahlah, palingan mereka lagi pacaran. Ayo masak, terus makan. Kalau uda lumayan ilang capeknya kita lanjut lagi.” Ucap pendaki 3. “Der, kamu gak lapar?” tanya Steve. “Laperlah. Kenapa?” “Nimbrung ke mereka yuk?” “Ngapain? Minta makan?” “Hehehe.” “Dasar semprul. Ayo turun sajalah. Kita beli makan di toserba. Malah ngajakin nimbrung minta makan. Gak modal.” “Heh, kok malah ngatain. Kata siapa gak modal. Nih aku punya kartu ini, bisa beli apa saja.” “Halah, aku juga punya.” “Iya ya. Hehe.” “Ayolah kita turun saja. Nanti kita balik ke blue house. Nanya dimana temanmu tinggal.” “Yaudah iya.” Mereka berjalan turun. Seseki jaki Dera terpeleset, hingga membuat kakinya sedikit bengkak. Dera meringis menahan sakit tiap kali melangkah. Lama – lama Steve menjadi tak tega padanya. “Sakit banget ya?” tanyanya. “Gak kok. Lanjut aja.” Jawabnya. “Ku gendong sajalah. Sakit banget itu kelihatannya.” “Gak usah. Aku masih bisa jalan kok.” “Yakin?” “Iya. Eh, aduuuuh.” Dera terpeleset lagi. Dedaunan kering memang menjadi sangat licin jika tertumpuk banyak ditempat lembab. Beruntung Steve dengan sigap menahan tubuh Dera hingga tak terjatuh lagi. Beberapa detik mereka saling pandang. Lalu Steve tersadar, dam segera menariknya hingga berdiri tegak. Dia kemudian berjongkok membelakangi Dera. “Ngapain kamu?” tanya Dera. “Ayk kugendong.” Jawabnya. “Gak usah. Aku bisa.” Tolak Dera. “Gak usah malu. Daripada nanti jatuh lagi. Nanti tambah sakit kakimu.” “Gak usah, beneran gak sakit kok kakiku.” “Ayolah. Kalau gendong di deoan aku gak bisa lihat jalan. Apalagi jalannya menurun. Bisa – bisa jatuh berdua nanti kita. Iya kalau jatuh cinta mah enak, nah ini jatuh dari gunung. Ya sakit.” Oceh Steve panjang lebar. “Ayo. Nunggu apa lagi?” perintah Steve. Ahirnya Dera pun menurut. Dia menaiki punggung Steve dan mengalungkan tangannya pada leher Steve. Steve lalu berdiri dan berjalan turun. Tak disangka, dia lupa tadi lewt jalan yang mana. “Der. Di depan ada belokan. Belok kemana?” “Hah? Mana aku ingat. Kan kita hanya mengikuti para pendaki itu.” Mereka berhenti. Berpikir jalan mana yang tadi mereka lewati. Kedua jalan itu terlihat sama persis. Hanya saja satu ke kiri san satu ke kanan. “Mungkin yang kiri.” Ucap Dera. “Kanan deh kayaknya Der.” Sahut steve. Mereka saling berdebat tentang jalan. Bingung haru memilih yang mana. Ahirnya Steve mengikuti insting Dera. Karena biasanya insting perempuan itu lebih tajam. Tapi Steve lupa, bahwa perempuan itu hanya 4 persen saja yang bisa baca peta. Apa lagi yang ingat tentang jalan yang sudah dilewati. Jalan yang sering dilewati saja kadang lupa. Apalagi yang baru sekali dilewati. Itu pun gara – gara mereka ngintil ke para pendaki. “Yaudahlah ayo ke kiri.” “Steve.” Panggil Dera. “Hmm?” “Aku berat gak?” tanya nya. Waduh pertanyaan sulit nih bai para pria. Kalau dijawab jujur kalau berat nanti marah. Kalau dijawab gak berat dia makin marah karena merasa dibohongi. Perempuan memang rumit. Batin Steve. “Steveee.” Panggil Dera lagi larena Steve belum juga menjawab. “Eh apa? Gimana?” “Aku berat gak?” “Lumayan.” Semoga dia gak nanya lagi. Batin Steve setelah menjawab pertanyaan sulit itu. “Hmmm. Berat ya? Jujur sajalah.” “Hey, Der.” “Apa?” “Bukan kamu. Der, Deril.” Panggil Steve. Deril menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. “Steveeeee.” Ucapnya sambil berlari ke arah Steve. Dia langsung memeluk Steve dan kaget karena tangannya tak terganjal sesuatu. “Loh, siapa dia Steve?” “Bukannya dia suruhanmu buat ngikutin aku?” Steve balik bertanya. “Enggak kok.” “Siapa tahu seperti si Bianka. Dimana dia sekarang?” “Sibuk dia. Kapan – kapan saja kita ketemu sama dia. Sekarang kita pulang yuk. Tapi...” “Tapi apa?” “Dia?” “Bawa ke rumahmu dulu deh. Pegel nih gendong dia lama – lama.” “Oh jadi aku berat ya?” sela Dera merasa tersindir. “Enggak kok. Cuma kalau lama – lama ya peg lah. Ayolah cepet kita pulang dulu. Gak usah ngomel.” “Eh Der.” “Hmm?” sahut Derik dan Dera bersamaan. “Deril bukan Dera.” Jelas steve. “Tadi ngapain disana kamu? Ngobrol sama tumbuhan paku?” “Sudah gak usah ngeledek. Aku sudah berusaha mati – matian ini buat dengerin curhatan mereka. Kamu sendiri cupid?” “Kok kamu tahu?” “Tahulah. Hahaha.” “Kamu tahu darimana? Albapante sama Lazardi aja gak ngasih tahu aku. Si bianka juga enggak. Duh pokoknya aku tuh asal kecemplung jadi cupid. Sudah pas magang didorong kw gerbong cupid. Eh pas pengumuman beneran jadi cupid.” “Siapa yang dorong?” “Para kurcacilah.” “Oh, gimana Jessi disana?” “Eh Jessi?” Steve menggantunf kalimatnya. Bukannya Jessi ikut ke dunia nyata. Tapi sepertinya Jessi benar – benar tidak menemuinya. Hingga Deril tak tahu kalau Jessi juga ada di dunia saat ini. “Iya Jessi.” Jawab Deril. “Dia sibuk banget Der. Aku sampai gak sempet ketemu dia.” “Semoga dia baik – baik saja.” “Semoga saja.” Jawab Steve pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN