Bab 17. Pengakuan Helen

3063 Kata
POV Aisyah... Pagi hari begitu indah, suara lantunan adzan terdengar sampai ke dalam kamarku. Aku bergegas bangun dari tidurku, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu. Kutunaikan 2 rakaat, setelah itu kulantunkan surah Al- Waqiah untuk menyambut hari ini. Tak lupa kuberdoa, aku hanya ingin kehidupan rumah tanggaku bahagia dengan suamiku Mas Reino. Setelah selesai membaca kitab suci Al-Qur'an, aku ke dapur untuk memasak. Sebenarnya aku sedih karena sampai sekarang suamiku belum mau menunaikan sholat 5 waktu. Doa tak henti kupanjatkan agar suamiku mendapat hidayah dari Allah Subhana Wa taala. Hari ini, hari pertama aku berhenti mengajar, aku mempunyai pemikiran untuk membuka les mengaji untuk anak anak. Aku ingin ilmu yang kudapat bermanfaat untuk orang banyak terutama anak anak. Dulu aku sangat bangga ketika diterima bekerja pada kedutaan Indonesia yang berada di Mesir, mungkin karena terlalu bangga sehingga Allah cemburu kepadaku, tiba tiba Ibuku menelpon, memintaku untuk pulang ke Indonesia. Dengan berat hati saat itu aku kembali ke Indonesia karena permintaan Ibuku. Dari sana aku bisa memetik pelajaran, bahwa semua yang kupunya, semua yang kuraih bisa hilang dalam sekejap mata. Jadi apa yang harus aku banggakan? aku tidak mau terlalu mencintai duniawi, aku ingin Allah meridhoi apa yang aku lakukan. Saat sedang memasak, Bunda datang menghampiri. Beliau ingin membantuku memasak, tapi aku melarangnya karena Bunda belum pulih pasca kena serangan jantung beberapa hari lalu. Bunda duduk menatapku, ditatap oleh Bunda membuatku grogi. "Bun, kenapa menatap Ica seperti itu? Ica jadi malu Bun." "Tidak apa-apa, Bunda hanya merasa bersyukur dan bahagia karena mempunyai menantu seperti Ica." "Ah Bunda bisa saja, justru Ica yang bersyukur karena mempunyai mertua seperti Bunda. Ica diperlakukan dengan sangat baik, di sayang, dan Bunda juga perhatian kepada Ica." "Sayang. Bunda boleh mengajukan pertanyaan?" "Silahkan Bunda, kenapa harus izin. Bunda mau tanya apa?" "Bagaimana pendapat Ica soal suami yang berpoligami?" ucap Bunda getir. Aku tersentak mendengar kata poligami, siapa yang akan berpoligami, apakah Mas Reino? aku mematikan kompor dan duduk di sebelah Bunda. "Bunda, poligami dalam Islam tidak diharamkan. Hanya saja terkadang pria selalu memakai dalil itu untuk melegalkan perselingkuhannya, Ica tidak keberatan kalau misal suami Ica berpoligami asalkan selama pernikahan Ica tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis suami, tidak bisa mempunyai keturunan karena mandul. Tapi kalau selama menikah Ica bisa memenuhi itu semua, alasan apa yang membuat suami Ica harus berpoligami? misal karena Allah, Ica juga tidak akan keberatan." "Jadi, Ica mengizinkan seandainya suami menikah lagi?" "Ya seperti yang Ica katakan tadi, dilihat dulu poin yang tidak bisa Ica penuhi. Kalau Ica bisa memenuhi semuanya untuk apa Ica di poligami. Karena menurut Ica, tidak ada yang namanya adil walaupun kita sudah berusaha. Adil buat Ica belum tentu untuk yang lain, tapi kalau Allah mentakdirkan Ica harus di poligami Ica bisa apa, Ica harus menerimanya Bun. "Nak, apa pun yang terjadi dalam rumah tanggamu percayalah Bunda akan selalu menganggap kamu anak Bunda." "Bunda kenapa sih, ada yang disembunyikan dari Ica ya?" "Sudah bangunkan suamimu sana, jam segini belum bangun juga. Kebiasaan!" "Iya Bun ...?" Bunda mengalihkan pembicaraan, aku jadi curiga sebenarnya apa yang Bunda sembunyikan? aku pergi meninggalkan Bunda, selama menapaki anak tangga hatiku bertanya tanya. Apa yang melandasi Bunda berbicara seperti tadi? hatiku tidak tenang setelah mendengar kata kata itu. Aku juga tidak tahu harus bagaimana seandainya Mas Reino menikah lagi? apakah aku bisa terima atau tidak. Aku sampai di depan kamar, kutatap terlebih dahulu pintu kayu yang berwarna coklat Dove itu. Kata kata Bunda terniang-niang di kepalaku, sekian detik aku melamun. Kemudian aku membuka pintu kamar di mana suamiku terbaring di sana. Aku berjalan pelan menuju ranjang di mana kami menghabiskan waktu bersama selama beberapa bulan ini, Mas Reino memang sudah menjadikan aku istri sepenuhnya tapi apakah aku ada di hatinya? bukankah seorang pria tidak perlu memakai perasaan saat berhubungan dengan lawan jenisnya. Berbeda dengan seorang wanita yang selalu melibatkan perasaan seperti aku inilah misalnya. Mas Reino tidak pernah sekali pun mengucapkan kata cinta untukku, aku tidak tahu apakah suamiku hanya membutuhkan tubuhku saja atau memang dia sudah mencintaiku. Kuhampiri suamiku dan duduk di sampingnya. Belum juga membangunkannya, mata Mas Reino sudah terbuka sempurna. "Selamat pagi Sayang, sini peluk aku." Mas Reino merentangkan kedua tangannya memintaku untuk masuk dalam dekapannya. Aku diam terpana, telingaku serasa tuli. Aku tidak menyimak apa yang suamiku bicarakan barusan. "Hei Sayang, mikirin apa?" Mas Reino mendekap tubuhku, dia mencium telingaku lembut membuat tubuhku meremang. Ku usap punggungnya dengan kedua tanganku, dia membalas dengan membelai rambut cokelatku. "Mas, mandi dulu sana. Sudah siang loh ini." "Aku malas mandi, aku mau tidur sepanjang hari denganmu." "Tidak mau Mas!" "Sayang. Kita ke apartemen yuk, tapi sebelumnya kita nonton ke bioskop dulu seperti orang pacaran." "Ke bioskop Mas, mau ngapain?" "Ke bioskop ya nonton dong Sayang, memangnya kamu belum pernah nonton ke bioskop?" "Pernah, aku nonton ayat ayat cinta, ketika cinta bertasbih, perempuan berkalung sorban dan yang terakhir surga yang tak di rindukan. Eh ... aku baru sadar deh mas, semua film itu bercerita tentang poligami semua." "Poligami, kok kamu nonton film begituan sih?" Ya tidak apa apa ketimbang nonton film barat. Banyak mudaratnya Mas, banyak adegan aneh aneh." "Maksudnya aneh yang seperti apa, Ca?" "Seperti yang Mas lakukan kepadaku!" "Memangnya aku melakukan apa ya?" " Itu loh berciuman, masa tidak paham sih Mas!" "Ya bilang saja berciuman gitu, masa adegan aneh yang sering aku lakukan?" " Tapikan dosa Mas, masa zina di pertontonkan sejagad raya!" Mas Reino terkekeh mendengar perkataanku, mungkin yang ada dipikirannya aku ini konvensional sekali, tapi itulah aku. "Sayang, jadi selama 22 tahun kamu ngapain saja? sepertinya hidupmu flat banget ya." "Tidak juga Mas, aku hobi berkuda, memanah. Aku biasa berburu dengan ayah ke hutan dekat rumahku. Di sana banyak sekali babi liar yang mengganggu tanaman di kebun belakang, jadi kami sering memburunya." "Keren juga istriku ini." Mas Reino mencubit pelan kedua pipiku lalu menggoyangkannya sehingga kepalaku terombang ambing mengikuti gerakan tangannya. "Mas, tadi Bunda bicara soal poligami." "A-apa ...? " "Iya Mas, aku juga heran. Apa Mas punya niatan poligami?" "Ti-tidak. Aku hanya akan menikah denganmu saja!" "Mas yakin, tidak akan berubah pikiran dikemudian hari?" "Tidak Sayang. Percaya padaku!" "Katakan Insya Allah Mas, karena kita tidak tahu dengan hidup kita di masa depan. Bahkan 4 menit kemudian kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi." "Iya deh ... Insya Allah." "Ya sudah Mas mandi sana, nanti kesiangan ke kantornya." Aku menarik lengan Mas Reino, memaksanya untuk mandi. Dengan malas Mas Reino beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Seperti biasa, dia merengek minta dimandikan tapi aku menolak. Seperti yang sudah sudah itu hanya modus suamiku saja. Aku tidak mau berakhir seperti sebelumnya, harus mandi lagi gara gara aktivitas itu. Setelah suamiku mandi, kami sarapan bersama. Kemudian aku mengantar Mas Reino sampai dia masuk ke dalam mobilnya dan meluncur ke kantor. Mobil suamiku sudah tidak terlihat lagi, aku pun masuk ke dalam. Rencananya aku akan membuat milky bread dan roti ala ala Roti boy, karena suamiku suka sekali minum kopi. Sepertinya akan pas bila aku membuat Roti cappucino itu. Selama 2 jam aku berkutat di dapur, selagi menunggu rotinya matang, aku mengaji. Aku mempunyai Qur'an mini yang selalu kubawa ke mana mana, itu sangat memudahkan buatku. "Ting ..." Suara oven berbunyi, tandanya roti buatanku sudah matang. Tak sabar aku mengeluarkannya, tapi terjeda karena Mbak Tina menghampiriku. "Nona Bos, ada artis yang waktu itu datang ke rumah." Mbak Tina baru saja tiba di depanku, sepertinya dia berlari karena nafasnya terengah-engah. "Siapa sih Mbak? penasaran deh!" "Ayo dilihat dulu Non." Mbak Tina menggiringku ke ruang tamu. Sesampainya di sana, aku melihat punggung wanita yang sedang berdiri menghadap ke arah luar. "Assalamualaikum, cari siapa ya?" Wanita itu berbalik badan dan membuka kaca mata yang dia pakai. " Apa kabar Aisyah, long time not see ya pasca kita bertemu di mall bulan lalu." "Mbak Helen. Ada apa datang menemuiku?" "Pastinya ada sesuatu yang penting menyangkut hubunganku dan Reino suamimu." Tubuhku mendadak gemetar, tapi aku berusaha menyembunyikan itu semua dari wanita itu. Aku takut terjadi sesuatu dengan Mas Reino. "Silahkan duduk Mbak, pamali ngobrol dengan tamu sambil berdiri begini." Kami berdua sama sama duduk di kursi masing-masing. Aku meremas telapak tanganku yang sudah basah karena keringat. Sungguh aku gugup, aku takut menerima kabar buruk tentang suamiku karena aku yakin kedatangan wanita ini ada hubungannya dengan suamiku. "Aisyah apa kamu sudah mendengar dari suami atau ibu mertuamu mengenai apa yang menimpaku saat ini?" "Jangan membuat saya bingung! langsung ke intinya saja Mbak." Wanita itu tertawa mendengar perkataanku, entah apa yang membuat tertawa, seolah-olah hal itu lucu untuknya. "Oke baiklah. Aku hamil!" Telingaku bermasalah atau memang wanita itu mengucap kata hamil? aku diam terpaku di tempatku. Tubuhku kaku seperti di suntik formalin, jantungku memompa dengan kencang dan kepalaku serasa berputar putar seperti iklan obat nyamuk. "A-apa ...?" jawabku dengan nada lemah, bahkan mungkin tidak terdengar olehnya. "Aku hamil anaknya Reino, dan aku minta Reino tanggung jawab!" "Apa Mbak yakin itu anak suami saya? bukankah hubungan kalian sudah berakhir." "Ya aku pun tahu setelah hubungan kami berakhir. Selama hubungan kami berakhir, aku tidak pernah tidur dengan laki laki lain. Jadi sudah bisa dipastikan ini anaknya Reino!" "Lantas, apa kata Mas Reino mengenai hal ini?" "Dia untuk menolak tanggung jawab! enak saja dia menolakku setelah puas menikmati tubuhku dan menanam benih pada rahimku." "Lalu kenapa Mbak bicara dengan saya? kenapa tidak bicara padanya. Saya tidak punya urusan apa pun dengan kamu, jadi saya tidak mau di sangkut pautkan." "Jelas ada! kamu itu istrinya, dan dia tidak mau menikahiku karena dirimu." "Maaf Mbak, saya ingin kembali ke kamar saya. Silahkan Mbak pulang!" Aku bangkit dari tempatku duduk dan memutar tubuhku membelakanginya, baru saja ku langkahkan kakiku wanita itu buru buru menahan langkahku dan berlutut di kakiku. Aisyah, aku mohon bujuk Reino untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Bukankah kamu paham mengenai hal ini. Aku mohon!" Mbak jangan seperti ini. Saya mohon bangun Mbak." Aku memegang kedua lengannya dan membantunya untuk berdiri. Tak lama Bunda menghampiri kami berdua, Mungin dia mendengar suara orang mengobrol di ruang tamu sehingga beliau menghampiri kami berdua. "Ada apa ini?" ucap Bunda tegas. "Tante tolong Helen. Reino tidak mau tanggung jawab Tante." Wajah Bunda menjadi pucat, Bunda juga memegang d**a sebelah kirinya. Aku menghampirinya dan membantu Bunda untuk duduk. "Bun, Bunda tidak apa apa kan? apa yang sakit Bun." "Tante, aku mohon bantu Helen Tante." Helen tidak bisa melihat situasi, Bunda sedang kesakitan tapi wanita itu terus saja merengek meminta tolong kepada Bunda. "Bun, Ica antar ke kamar ya. Bunda lebih baik istirahat di kamar saja." "Aisyah aku belum selesai!" Helen memegang lenganku, dia mengiba padaku. "Mbak, tolong lihat Bunda saya. Masalah Mbak nanti kita bicarakan lagi, aku mohon Mbak. Kasihan Bunda!" "Ok, dua hari lagi aku kembali lagi. Dan aku harap kamu sudah mempunyai keputusan!" Wanita itu pergi meninggalkan Bunda yang kesakitan karena ulahnya. Sejenak aku melupakan kehamilan Helen, aku hanya fokus kepada Bunda. Ku papah tubuh Bunda ke kamarnya, ku rebahkan tubuh gempal itu di atas tempat tidur dan mengambil air minum ke dapur, lalu kembali lagi ke kamar. Aku mengambil obat yang berada di meja rias Bunda, dan kumasukkan obat tersebut ke mulut Bunda dan membantunya minum. Setelah 10 menit Bunda kembali rileks, sakitnya perlahan-lahan berkurang dan Bunda sudah bisa duduk menyandar pada penyangga tempat tidur. "Ica, maafkan putra Bunda ya, Bunda benar benar minta maaf. Hiks ... hiks," ucap Bunda lirih dan berurai air mata. "Bunda ... Ica tidak tahu harus bagaimana? ini terlalu menyakitkan untuk Ica." "Bunda tahu Sayang, Bunda bisa mengerti. Bunda serahkan semua di tangan Ica, apa pun keputusan Ica Bunda terima." "Bun, Ica minta tolong kepada Bunda. Jangan beritahu Mas Reino dulu soal ini!" "Tapi kenapa?" "Ica ingin memikirkan masalah ini dulu Bun. Nanti kalau suasana hati Ica sudah tenang, pikiran Ica tenang, barulah Ica akan membahas masalah ini dengan Mas Reino." "Masya Allah Nak, wanita seperti kamu tidak akan ada duanya lagi. Beruntung sekali laki laki yang menikah denganmu." "Bunda, jangan memuji Ica berlebihan. Ica hanya manusia biasa Bun, manusia itu tempatnya khilaf dan salah. Sungguh, Ica mohon jangan terlalu memuji Ica." "Ya sudah Nak, Bunda mau tidur dulu." "Ica kembali ke dapur ya Bun." Aku pergi meninggalkan Bunda, ku seret kakiku yang terasa berat. Kulihat oven yang tadi lupakan, ku keluarkan rotinya. Sembari menangis aku menaruh roti tersebut di piring. Tidak kuat menahan sesak yang melanda, aku berlari menaiki anak tangga menuju kamarku di lantai 2. Dengan cepat aku membuka handle pintu dan berlari ke tempat tidur menjatuhkan diriku di sana. Aku hanya bisa menangis. Ini terlalu sakit untukku, terlalu sakit untuk kurasakan. Sungguh aku bukan wonder woman, aku hanya seorang wanita bernama Aisyah Mujahidah. Aku juga bukan Aisyah istri Baginda nabi Muhammad Saw. Lama aku menangis, tak terasa sudah memasuki waktu sholat Dzuhur. Kuhapus air mata yang berlinang deras di pipiku lalu ku basuh dengan air wudhu. Hatiku terasa adem, aku ingin bermunajat kepada Allah. Aku ingin mengadu masalah rumah tanggaku, aku ingin mencurahkan keluh kesahku kepada Rabbku. Lama aku mengadu kepada Allah, kulantunkan surah Al Baqarah dan surah Al-Mulk. Aku ingin menenangkan hatiku dan mencari solusi tentang permasalahanku. Hari menjelang sore, kulanjutkan menunaikan sholat ashar, dan lagi lagi kupanjatkan doa panjang kepada Allah. Aku hanya ingin solusi terbaik untuk pernikahanku. Menjelang senja aku bergegas mandi, aku turun ke lantai bawah untuk menyiapkan makan malam. Sebentar lagi Mas Reino pulang ke rumah. Hari berganti senja dan senja beranjak pergi digantikan cahaya rembulan di malam hari. Pukul 7 malam suamiku pulang ke rumah. Seperti biasa aku menunggunya di sofa depan. Aku menyambutnya seolah olah tidak terjadi sesuatu hari ini. Aku mengurus semua keperluannya, aku menyiapkan baju gantinya dan mengisi air di bathub. Mas Reino terlihat lelah, dia memelukku dari belakang saat aku membuka lemari pakaian untuk mengambil bajunya. Entah mengapa aku merasa pelukan ini begitu menyedihkan dan menyesakkan dadaku. Aku teringat kembali kehamilan Helen, aku membayangkan suamiku mencumbu wanita itu. Aku melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Mas Reino. Aku menyibukkan diri di kamar mandi, tanpa kusadari Mas Reino masuk ke kamar mandi. Tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Dia kembali memelukku dari belakang dan mengecup tengkukku. Sungguh aku risih dengan perlakuan suamiku. Ingin rasanya kucakar wajahnya atau bila perlu ku gunting saja k*********a. Aku tidak pernah semarah ini seumur hidupku, bahkan aku sampai mempunyai pemikiran sejahat itu. Astaghfirullah, aku mengucap kata itu dalam hati. Kenapa pikiranku sejahat itu. Setelah selesai mengisi air, kulepaskan lilitan tangannya dari pinggangku. Aku ingin menghindarinya, aku tidak mau termakan marahku. "Kamu kenapa sih Sayang, Kamu marah ya?" "Tidak Mas, aku baik baik saja!" "Tapi kenapa kamu seperti menghindariku?" "Mas, aku harus menyiapkan makan malam. Aku turun ke bawah dulu ya, nanti setelah mandi Mas langsung menyusul ke bawah." "Cium aku dulu." Mas Reino mengerucutkan bibirnya hingga menyerupai kelopak bunga mawar. Aku hanya menatapnya tanpa melangkah maju. Melihat diriku yang diam di tempat, Mas Reino mendekat kemudian mengecup bibirku. Ketika dia melumat bibirku, ingin rasanya kugigit saja bibir nakal itu. Entah sudah berapa bibir wanita yang bersentuhan dengan bibirnya. Bayangan Mas Reino sedang mencumbu wanita itu kembali menghiasi kepalaku, aku memejamkan mataku rapat rapat untuk mengusir bayangan itu. Ya Allah. Aku harus bagaimana, keputusan apa yang harus aku ambil? Mas Reino menyudahi ciumannya, dia menyatukan kening kami berdua. Seperti ada yang ingin dia ucapkan tapi entahlah aku tidak begitu memperdulikannya. Aku izin keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Selesai menyiapkan makan malam, aku duduk termenung seorang diri di kursi makan, tak lama Angel dan Bunda ikut duduk bersamaku. Kami sama sama menunggu kepala rumah tangga di rumah ini yaitu suamiku. "Kak Reino mana Mbak, kok gak keliatan?" "Masih mandi, Dek." "Lama banget sih mandinya, perut Angel keroncongan nih. Apa lagi Mbak Ica masak nasi liwet seperti ini, perut Angel semakin keroncongan saja." "Sabar ya, kita tunggu Mas Reino bergabung dengan kita." Setelah lama menunggu, akhirnya Mas Reino bergabung dengan kami. Aku dan yang lainnya memulai makan malam bersama dengan hening, terutama Bunda. Saat makan malam beliau hanya diam, sesekali dia hanya melayangkan senyum kepadaku yang duduk di depannya. Usai makan malam, Mas Reino minta dibuatkan kopi. Dia masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga dia harus lembur di ruang kerjanya. Aku membawa kopi dan roti yang tadi siang kubuat, roti itu terlihat menggoda di mata suamiku. "Sayang ini kamu buat?" Mas Reino mengambil salah satu roti rasa moka dan memakannya. "Rasanya enak Sayang, ini seperti yang dijual itu loh." "Makanlah Mas, aku sholat isya dulu ya." "Nanti tunggu Mas ya, tidurnya jangan pakai bra supaya gampang akunya." "Hem ... iya Mas!" Ingin rasanya aku siram wajahnya dengan kopi panas itu. Aku kesal, kata katanya terdengar menyebalkan di telingaku. Aku menunaikan sholat isya, Air mata kembali jatuh. Aku benar benar bingung harus mengambil keputusan apa? aku tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Selepas sholat isya aku tertidur. Rasanya tubuhku lelah terutama hati dan pikiranku. Aku terbangun saat jemari Mas Reino menggerayangi tubuhku, aku sontak terbangun ketika Mas Reino memilin pucuk payudaraku. "Mas, ngapain sih?" "Kamu lupa ya dengan jatahku setiap malam?" Mas Reino langsung membuka pakaianku. Sebenarnya aku tidak siap. Hatiku terluka karena pengakuan wanita itu. Mas Reino mulai menikmati tubuhku, untung saja lampu kamar dimatikan jadi Mas Reino tidak melihat ketika aku menangis. Saat sedang melakukan itu, tak terasa air mataku mengalir deras di sudut mataku. Aku membayangkan saat suamiku melakukan hal ini kepada wanita lain. Sebelum pengakuan Helen, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tapi setelah pengakuan itu, aku jadi terbayang ketika Mas Reino melakukan hubungan terlarang dengan wanita wanita di luar sana. Mas Reino masih terus berpacu, dia benar benar menikmati tubuhku sementara aku sama sekali tidak menikmatinya. Aku hanya pura pura mendesah. Seolah olah aku menikmatinya, padahal air mata tak henti-hentinya mengalir deras. Beberapa kali aku menghapus air mata itu dengan jari jariku. Aku tidak mau Mas Reino tahu kalau aku menangis, terutama dia tidak boleh tahu kalau aku sudah mengetahui tentang kehamilan Helen. Tubuh bawah suamiku semakin cepat bergerak, itu tandanya sebentar lagi dia akan mengalami pelepasan. Benar dugaanku, setelah itu Mas Reino mengalami pelepasan. Setelah selesai bermain, seperti biasa suamiku memasangkan kembali pakaianku setelah itu aku tertidur. Aku belum sepenuhnya terlelap, aku mendengar Mas Reino mengucapakan kata, "Aku mencintaimu Istriku." Sepertinya aku bermimpi, karena tidak mungkin Mas Reino mengucapkan kata itu. Dalam tidur aku bermimpi bertemu Ibuku, dia mengusap wajahku dan mencium keningku. Hanya dua kata yang dia ucap, "Ikhlas Aisyah." Mimpi ini apakah pertanda aku harus rela berbagi suami dengan wanita itu? apa mungkin ini adalah jalan takdirku yang harus berbagi suami dengan wanita lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN