Bab. 16 Resign

3672 Kata
POV Aisyah Sesuai janjiku kepada Mas Reino, aku menghadap ke kepala sekolah untuk membicarakan pengunduran diriku. Sebenarnya aku tidak rela tapi mau dikata apa lagi, aku tidak mau suamiku terus menerus mencurigai diriku dan juga Irwan. Selepas menghadap ke kepala sekolah aku berjalan dengan langkah yang berat, beberapa kali aku mencoba menahan air mata yang akan jatuh dengan menggigit bibir bawahku. Sungguh aku belum siap meninggalkan tempat di mana aku bisa leluasa menjadi diriku sendiri. Aku ingin terus mengajar anak anak, ini kali pertama aku merasa sangat berat untuk meninggalkan apa yang sudah aku mulai. Aku pernah berkerja di kedutaan Indonesia untuk Kairo, rasanya memang sangatlah membanggakan tapi tidak ada kepuasan seperti yang aku rasakan sekarang. Di sini aku merasa nyaman, aku seperti berada di rumah. Tapi lagi lagi sebagai seorang wanita bersuami aku harus mematuhi perintah suamiku. "Mas, semoga semua pengorbanan yang aku lakukan untukmu membawa kebahagiaan untuk kita berdua. Semoga kamu bisa melihat betapa aku mencintaimu mas, walaupun aku tahu kamu belum mencintaiku tapi aku akan terus berdoa semoga Allah membuka hatimu untukku." Aku sampai di ruanganku, di sebelah ada Husna yang memperhatikan wajahku yang terlihat murung. Dia segera mendekat untuk menanyakan ada apa denganku." "Kamu kenapa, ada masalah?" "tidak." "Ca aku sahabatmu bukan, boleh ana tahu apa masalah yang menimpa sahabat ana ini? Husna memberanikan diri. "Hus, ana berhenti mengajar hari ini. Suami ana melarang ana untuk mengajar di sekolah ini." " Tapi mengapa, kenapa suami anti bisa melarang?" "Ana tidak bisa menjelaskan terlalu detail kepada anti, intinya suami ana ingin ana di rumah saja!" "Ana sedih karena harus kehilangan anti, apa tidak bisa dibicarakan lagi dengan suami anti?" (Anti=kamu) "Sepertinya tidak bisa, ana lelah selalu berselisih paham hanya gara gara hal ini terus menerus." "Ana tidak tahu masalah Ica apa, tapi kalau Ica butuh bantuan apa pun ana siap membantu kapan pun Ica membutuhkan ana." "Terima kasih banyak." Husna memelukku dengan erat, kami menangis bersama. Selama 2.5 bulan aku mengajar, kami memang yang paling dekat. Aku selesai mengajar pukul 2 siang, setelah tangis tangisan kami di ruang pengajar tiba saatnya untuk ku kembali Ke rumah. Mas Reino menjemputmu pada pukul 14.15 wib. Mas Reino menghampiri ruanganku, mungkin karena aku tidak kunjung berada di parkiran depan. Dia melihatku sedang berpelukan dengan para ustazah dalam keadaan menangis. Aku bisa melihatnya, wajah suamiku terlihat pias entah karena apa? apa karena melihatku menangis atau yang lainnya. Aku segera menghampirinya, aku tidak mau dia marah seperti tadi pagi. Sungguh aku takut bila suamiku marah karena dari hadist yang k****a ridho suami adalah ridhonya Allah. Entahlah apa mungkin karena itu, atau karena aku yang terlalu cinta sehingga apa pun yang suamiku ucapkan selalu kupatuhi. "Mas sudah datang?" tanyaku, saat kami berdekatan. "Mas menunggumu di depan tapi kamunya tidak ada, mangkanya aku susul ke sini. Kamu dan yang lainnya kenapa menangis?" "Nanti aku bicarakan di dalam mobil saja, kita pergi yuk Mas." "Ya sudah!" Mas Reino menggandeng tanganku, sesuatu yang belum pernah dia lakukan selama ini. Aku merasa bahagia dengan perubahan sikap suamiku kepadaku, aku seperti seorang istri yang sangat dicintai suaminya. Salahkah bila aku menginginkan suamiku mencintaiku seutuhnya. Namun aku sadar diri karena di hati suamiku ada wanita lain, cintanya pun milik wanita itu. Kami sudah berada di dalam mobil, wajah mas Reino masih terlihat sama penuh kesedihan dan kecemasan. "Ca jelaskan kenapa kalian semua Menangis bersama?" "A-aku resign Mas. Tadi pagi sudah kukatakan bukan, kalau Mas mengizinkan aku pergi mengajar maka aku akan jadikan ini yang terakhir." "Kamu sulit ya menghadapiku? aku yakin pasti selama ini hatimu perih karena semua sikapku ke kamu Ca." "Mas, aku sudah pernah berkata sebelumnya. Buatku Mas itu lebih penting, sekarang Mas adalah prioritasku." "Ca..." Suamiku memelukku, aku bisa merasakan tubuhnya gemetar dan nafasnya terasa berat. "A-aku minta maaf atas semua yang aku lakukan kepadamu. A-aku...?" "Aku apa Mas, kamu kenapa sih? kenapa sikapmu aneh." "Tidak apa apa, aku hanya merasa sedih karena bunda berada di rumah sakit." "Apa?" aku seketika melepaskan pelukannya. Kutatap wajah suamiku lekat lekat untuk mencari kebenarannya. "Bunda kena serangan jantung sayang." "Kapan? kenapa tidak memberitahuku!" "Sekarang keadaannya sudah membaik, kita ke rumah sakit sekarang ya." "Iya, Mas ayo cepat. Aku ingin segera bertemu bunda." Mas Reino segera melajukan mobilnya dengan cepat, aku merasa cemas dengan keadaan bunda. Sepanjang perjalanan aku tak henti berdoa untuk kesembuhan bundaku tercinta. Setelah 30 menit diperjalanan akhirnya kami pun sampai di rumah sakit, aku tak sabar ingin segera bertemu beliau. Aku benar benar panik, aku berlari menuju ruangan bunda yang kebetulan berada di lantai bawah sehingga aku tidak perlu naik lift atau tangga untuk sampai di tempat tujuan. Dengan nafas yang tersengal-sengal aku membuka pintu, tak lupa ku ucapkan salam terlebih dahulu setelah itu barulah aku masuk. Aku melihat ibu mertuaku sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, beliau di pasang alat pernapasan dan juga selang infus. Melihatnya seperti itu aku jadi teringat almarhumah ibuku yang telah tiada. Sungguh aku takut bunda kenapa kenapa, aku segera menghampiri bunda. Aku menangis memegang tangannya, senyum di bibir bunda membuatku sedikit tenang. Setidaknya aku tahu beliau baik baik saja. "Bunda kenapa Dek?" aku bertanya kepada adik iparku yang berada di samping bunda. "Angel juga tidak tahu Mbak, Angel diberitahu kakak kalau bunda masuk rumah sakit." Aku kembali menoleh ke arah bundaku. Aku mencium kening bunda dan mengelus pipinya. Sungguh aku tidak rela bunda seperti ini. "Bunda kenapa? hiks... Bunda jangan tinggalkan Ica, cepatlah sembuh Bun. Maaf ya, Ica tidak bisa menjaga Bunda dengan baik karena Ica selalu sibuk mengajar, tapi mulai hari ini Ica akan ada di rumah 24 jam menemani bunda." "Bunda hanya menganggukkan kepalanya dan bibirnya tersenyum. Lalu dia mengusap kepalaku, tapi anehnya ada air mata yang mengalir di sudut matanya. "Bunda kenapa menangis, apa yang sakit Bun?" Lagi lagi bunda hanya menggelengkan kepalanya. " Ica, maafkan bunda ya Nak." tiba tiba bunda mengucapkan kata kata itu, membuatku semakin bingung. "Bun, kenapa? Bunda tidak punya salah apa apa kepada Ica." "Kamu bukan hanya menantu Bunda, tapi kamu anak perempuan Bunda," ucapnya lirih semakin membuatku bingung. "Iya Bunda..." aku hanya menjawab singkat, ada banyak pertanyaan di kepalaku saat ini. Ada apa dengan Bunda dan suamiku? kenapa sikap mereka berdua aneh hari ini, dan kenapa bunda bisa tiba-tiba kena serangan jantung. Mas Reino masuk ke dalam ruangan dengan wajah bersalah, dia bahkan tidak mau menatap ke arahku dan bunda. Hal ini membuatku semakin bertanya tanya apakah keduanya bertengkar? atau ada hal lain sehingga bunda shock dan kena serangan jantung. Senja mulai menghilang digantikan oleh gelapnya malam, bunda memintaku untuk pulang ke rumah bersama suamiku, aku sempat menolak. Aku ingin menginap di rumah sakit untuk menemani bunda, tapi bunda menolak. Beliau memintaku untuk pulang dan beristirahat. Aku tidak mau membuat bunda sedih, maka aku ikuti apa pun keinginan bunda. Aku mengajak suamiku untuk pulang ke rumah, tapi sebelum kami pulang bunda terlebih dulu ingin berbicara dengan suamiku sebentar. Aku dan Angel menunggu di luar sementara mereka berdua berbicara empat mata entah soal apa? ingin rasanya aku menguping pembicaraan mereka tapi terasa tidak sopan. Walau bagaimanpun setiap orang punya privasi yang harus kita jaga. Sekitar 15 menit kami menunggu keduanya berbicara, Mas Reino keluar dengan wajah yang lesu dan mata yang merah. Sepertinya suamiku habis menangis tapi karena apa? aku semakin penasaran dengan keduanya. Mas Reino mengajakku pulang, dia meminta Angel untuk menjaga Bunda dengan baik malam ini karena Mas Reino tidak akan menginap di rumah sakit. Setelah itu aku pamit pulang kepada adik iparku, sepanjang jalan Mas Reino hanya terdiam. Ada yang aneh dengan sikap mas Reino, dia tak henti-hentinya menggenggam jemariku, Sesekali dia mencium punggung tanganku membuatku malu karena dilihat orang. Jantungku serasa akan lepas dari tempatnya, sungguh ini kali pertama aku diperlakukan seperti ini oleh seorang pria. Tentunya pria halalku. Seumur hidupku ini adalah yang pertama aku jatuh cinta kepada lawan jenis, aku tidak tahu bahwa jatuh cinta itu seperti ini, membuatku panas dingin saat bersentuhan dengannya. Walaupun proses yang kulalui tak semudah pasangan lainnya, tapi entah mengapa aku sangat mencintainya. Aku benar benar mencintainya sampai sampai aku takut Allah cemburu karena aku terlalu mencintai suamiku. Mas Reino membukakan pintu mobil saat kami tiba diparkiran, dia mempersilahkan aku masuk. Aku bak permaisuri yang ada di film film, aku benar benar bahagia dengan perubahan sikap Mas Reino, aku berharap kami berdua bisa bersama sampai Jannah. Mataku mengekor saat suamiku mengitari mobil dan masuk ke dalam. Dia duduk di belakang kemudi, sebelum dia melajukan mobilnya terlebih dulu dia mengatakan sesuatu yang membuatku tambah bingung. "Sayang, apa pun yang terjadi bisakah kamu hanya percaya padaku? bila nanti ada yang mencoba mengusik hubungan kita, bisakah kamu jangan dengarkan dia? cukup dengarkan aku saja!" "Mas...?" "Yah, aku mohon! aku mohon padamu, Sayang." "Iya Mas. Ya sudah kita pulang yuk, Mas pasti belum makan bukan?" "Iya sayang, Ca aku ... aku?" "Apa Mas? dari tadi siang aku aku terus." "Tidak apa apa. Ayo kita pulang ... cup!" Mas Reino mencium pipiku, membuat jantungku kembali berdegub kencang sama seperti tadi saat mas Reino menggenggam jemariku. Setelah kebingungan, kebimbangan dan jantung yang tak berhenti berdegub kencang kami kembali ke rumah. Setibanya di rumah aku mandi sedangkan mas Reino rebahan di atas tempat tidur. Usai mandi aku langsung ke dapur untuk memasak makan malam, aku tidak mau berlarut-larut dalam kebingungan. Aku mencoba mencari tahu melalui asisten rumah tangga yang ada di rumah bunda. Aku bertanya kepada Tina, asisten rumah tangga bunda yang berusia 19 tahun. Semoga saja ini bisa membuat rasa penasaranku terpuaskan. "Mbak Tina bisa Ica bicara sebentar?" "Iya Nona Bos, ada apa ya?" wajah Tina langsung menunduk saat aku berbicara kepadanya. "Mbak, Bunda kenapa ya?" "Anu Nona Bos, awalnya tadi pagi sekitar jam 10 ada tamu dua orang pria dan Wanita. Saya merasa tidak asing dengan si wanitanya karena sepertinya dia artis." "Artis, memangnya ada urusan apa mereka ke sini Mbak? apa ada hubungannya dengan sakitnya bunda." "Iya Nona Bos, Nyonya pingsan setelah berbicara dengan tamu itu. Ada Tuan Reino juga di sana, coba deh Nona Bos tanya Tuan Reino." "Jadi suami saya ada di tempat kejadian saat bunda pingsan?" "Iya Nona Bos, oh iya saya boleh ke kamar mandi sekarang?" "Eh iya silahkan, Syukron mbak." Aku semakin penasaran, siapa artis yang di maksud? apakah itu Helen. Aku ingin bertanya kepada Mas Reino, tapi rasanya aku takut. Tapi dengan menyebut nama Allah aku siap menerima konsekuensi bila Mas Reino marah yang penting rasa penasaranku hilang. Setelah masakanku matang dan telah terhidang di atas meja, aku kembali ke kamar untuk mengajak suamiku makan malam. Setibanya di kamar, Mas Reino masih terbaring di tempat tidur dengan memakai pakaian yang sama, itu artinya Mas Reino belum mandi dan berganti pakaian. Aku mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, ku pandangi wajah pria yang sedang lelap tertidur ini. Wajahnya terlihat cemas walaupun sedang menutup mata, apa masalah yang sedang dihadapi suamiku ini? aku benar benar penasaran. "Mas... Mas Reino bangun. Mas, bangun!" aku memegang dadanya lalu menggocangnya pelan sampai suamiku bangun. "Hem, ada apa Sayang?" "Makan Mas." "Aku tidak lapar Sayang, aku ingin memelukmu saja boleh tidak? aku benar benar takut." Mas Reino memelukku dengan erat, dia tak henti-hentinya menciumi tengkuk dan mengelus punggungku. Dia juga menghela nafas dengan berat sepertinya suamiku sedang menahan tangis. "Apa ini saat yang tepat untuk menanyakan masalah apa antara Mas Reino dan bunda?" ujarku dalam hati. "Mas kata mbak Tina, tadi pagi ada seorang artis datang ke rumah kita lalu setelah itu bunda jatuh pingsan." "Hah, terus dia bilang apa lagi?" "Ya tidak bilang apa apa, dia lupa nama artis tersebut. Memangnya siapa Mas, kenapa dia bisa membuat bunda sakit seperti itu?" "Hem bukan siapa siapa hanya tamu biasa kok, kebetulan saja bunda pingsan bertepatan saat dia datang." "Oh gitu, ya sudah Mas mau makan dulu atau mandi dulu? aku siapkan air hangat dulu ya." Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengisi bathub, setelah air terisi aku mempersilahkan Mas Reino mandi. Sementara mas Reino mandi aku mengecek ponselku, sedari siang aku belum mengeceknya dan benar saja banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab terutama dari Irwan. Irwan menelepon sebanyak 33 kali, sahabatku itu juga mengirimiku pesan untuk menanyakan perihal pengunduran diriku hari ini. Seharian ini aku sengaja mengheningkan ponselku jadi aku tidak mendengar bila ada telepon masuk. Aku membalas pesan, tak lama setelah itu dia meneleponku. Aku harus bagaimana, ponselku berdering terus. Aku tidak mungkin mematikan ponsel yang sedang berdering ini tapi aku juga tidak mungkin mengangkatnya. Ini benar benar pilihan sulit. Suara dering yang menggelengar terdengar sampai ke telinga suamiku, aku merasa menyesal telah mengaktifkan kembali volumenya. Benar dugaanku tak lama Mas Reino keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih di tetesi air. Saat dia mendekat aku bisa mencium aroma shampo dan sabun yang menguar. "Siapa yang telepon?" Mas Reino berkata dengan menggesekkan handuk ke rambut untuk mengeringkannya. "A-aa, anu Mas ini Irwan, boleh aku angkat Mas?" "Sini mas yang angkat!" Mas reino langsung merampas ponsel yang aku genggam dengan tangan gemetar. "Halo, mau ngapain telepon Istri orang malam malam begini!" Aku hanya bisa mendengar Mas Reino berkata seperti itu, aku tidak bisa mendengar suara Irwan. Mas Reino hanya menjawab jangan pernah ganggu istriku lagi, setelah itu dia mematikan ponselku. Sebelum dia menyerahkan ponsel tersebut ke tanganku, terlebih dulu Mas Reino membuka ponselku. Padahal aku saja tidak pernah memeriksa ponselnya. Setelah puas melihat isi ponselku, dia kembalikan benda itu ke tanganku kemudian dia membuka handuknya. Aku terkadang takut dengannya, karena seingatku dia selalu melakukan itu ketika cemburu. Apa malam ini pun begitu. Aku merapatkan tubuhku saat Mas Reino semakin dekat bahkan sangat dekat. Aku bisa melihat benda itu menegang, apa akan berakhir seperti sebelumnya? kenapa sekarang Mas Reino selalu menyentuhku setiap malam. Padahal 1.5 bulan sebelumnya dia masih mengatakan tidak akan menyentuhku, tapi sekarang hampir setiap malam dia meminta itu. Mas Reino memelukku, bibir lembabnya berlabuh di leherku dan meninggalkan bekas berwarna merah. Seketika tubuhku merinding. Aku hanya bisa memejamkan mata saat dia melakukan itu, aku tidak tahu ternyata dia sedang menatapku. Saat mataku terbuka aku melihat tatapannya penuh dengan cinta dan takut. Apa benar dia mencintaiku? tapi kenapa ada rasa takut di sorot matanya. *** POV Reino. Aku berada di rumah sakit bersama Bunda, perasaanku kacau balau. Aku benar benar takut terjadi sesuatu kepada bunda dan semua karena wanita k*****t itu. Bagaimana kalau dia mencoba mendatangi Ica? aku benar benar takut hubunganku dengan Ica akan berakhir. Aku harus membuat Ica segera hamil agar istriku tidak meninggalkanku karena ada janin di dalam rahimnya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 wib, aku lupa kalau harus menjemput istri tercintaku. Setelah Angel tiba, aku langsung bergegas menjemputnya di sekolah. Selama di perjalanan aku tak henti-hentinya memikirkan masalah rumah tanggaku, aku ingin berdoa kepada Tuhan tapi aku malu. Aku juga tidak tahu harus mulai dari mana? karena selama ini aku tidak pernah datang kepadaNya, aku takut Tuhan menolak doaku. Aku tiba di sekolah tempat Istriku mengajar, selama 15 menit aku menunggunya di parkiran tapi Ica tak kunjung datang. Akhirnya ku putuskan untuk mencari ke ruangannya, aku berada tepat di depan pintu yang terbuka lebar itu. Ica sedang berpelukan dengan teman teman sesama pengajar di sana dan terlihat mereka semuanya menangis. Aku sedikit heran ada apa dengan mereka? Ica yang melihatku berada di pintu segera menghampiri. Aku menanyakan perihal yang kulihat tadi, tapi Ica mengatakan akan membahas di mobil saja. Kami berjalan bersama menuju mobilku, selama diperjalanan entah mengapa aku ingin sekali menggandeng tangannya. Sesekali aku cium punggung tangan itu sampai kami tiba di depan mobilku. Aku membukakan pintu mobil dan mempersilahkan pemilik hatiku untuk masuk ke dalam. Aku sangat-sangat mencintai wanita yang dulu bahkan ku haramkan untuk mencintainya ini. "Ca jelaskan kenapa kalian semua menangis bersama?" tanyaku kepadanya. "A-aku resign Mas. Tadi pagi sudah kukatakan bukan, kalau Mas mengizinkan aku pergi mengajar maka aku akan jadikan ini yang terakhir." Mendengar jawabannya entah mengapa aku ingin sekali menangis, hatiku serasa ingin menjerit mengatakan aku cinta kamu tapi mulutku selalu menahannya. Kupeluk tubuh mungil itu, aku memeluknya dengan menahan tangis. Aku hanya bisa mengatakan aku mencintaimu di dalam hati saja, kenapa aku bisa selemah ini di hadapannya? di mana Reino yang dulu tegas dan berani. Kenapa di depannya aku seperti ini, lemah dan takut. Entah sejak kapan Ica masuk ke dalam hatiku, entah sejak kapan dia masuk ke dalam hubunganku dengan Helen hingga akhirnya dia bisa mendepak Helen yang merajai hatiku selama 3 tahun. Setelah memeluknya aku melajukan mobilku menuju rumah sakit. Di perjalanan, ku ceritakan tentang kondisi bunda yang sekarang terbaring di rumah sakit karena serangan jantung. Dia terlihat panik dan menangis. Aku bisa melihat dia sangat peduli dan menyayangi bundaku layaknya ibu kandungnya sendiri. Bahkan dia berlari meninggalkanku sendiri setibanya di parkiran rumah sakit. Aku tidak berani masuk ke dalam, aku hanya melihat dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Aku takut bunda mengatakan tentang kehamilan Helen, tapi setelah lama aku menguping percakapan mereka aku bisa bernafas lega. Bunda sama sekali tidak menyinggung soal kehamilan Helen. Akhirnya aku masuk ke dalam kamar itu, aku tidak berani memandang wajah bunda dan Ica yang sedang melihat ke arahku. Setelah hari mulai gelap, Bunda memintaku untuk membawa Ica pulang, awalnya Ica menolak. Dia ingin terus berada di samping bunda, tapi bunda memaksa dan aku tahu Ica tidak akan menolak karena dia wanita yang penurut dan berhati baik. Setelah mengiyakan untuk pulang, bunda meminta Angel dan istriku menunggu di luar karena bunda ingin bicara denganku. Aku hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun, aku takut berbicara dengan bunda. Aku tahu bunda akan membahas Helen. "Reino, Bunda minta maaf karena telah memaksamu menikah dengan wanita yang tidak kamu cintai. Bunda minta kamu lepaskanlah istrimu, Bunda mohon jangan menyakitinya," ujar bunda dengan suara lemah dan pelan. "Bunda, jangan bicara seperti itu!" "Bunda sudah berjanji kepada sahabat Bunda untuk menyayangi dan menjaganya. Dan sekarang kamu menghamili wanita lain, Bunda yakin Istrimu tidak akan bisa terima semua ini. Bunda tidak tega melihatnya menangis karena kelakuan kamu. Maka dari itu Bunda mohon kepada kamu ceraikan istrimu dan menikahlah dengan wanita yang kamu cintai itu." "Bunda, sampai mati pun Reino tidak akan menceraikan ica, dia istri Reino satu satunya sampai Reino mati!" tak terasa air mataku menetes saat mengatakan itu. "Bukankah kamu tidak mencintainya Reino? jangan egois! kamu tidak bisa memiliki keduanya." "Sudah berapa kali Reino bilang, Reino tidak pernah menghamili Helen Bun! percayalah Bun." "Pulanglah Reino, kamu bicarakan dengan istrimu di rumah. Ingat pesan Bunda, jangan sakiti Ica!" "Iya Bun, Reino pulang dulu ya. Bunda cepat sembuh." Aku mencium kening bunda kemudian keluar dari ruangan itu untuk menemui istriku yang berada di luar bersama adikku Angel. Setelah pamit kepada Angel, kami pun pergi dari rumah sakit itu. Sepanjang jalan aku hanya diam, ucapan bunda terniang-niang di kepalaku. Saking takutnya, aku menggenggam tangan istriku dengan erat dan menciumi punggung tangan itu hingga kami berada di dalam mobil. Sesampainya di rumah aku merasa lelah, kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Entah berapa lama aku tertidur? aku terbangun ketika Ica menggoyangkan dadaku. "Hem ada apa, Sayang?" tanyaku saat membuka mata. "Makan Mas." "Aku tidak lapar sayang, aku ingin memelukmu saja boleh tidak? aku benar benar takut." Ku peluk tubuh istriku dengan erat dan mengelus punggungnya, rasanya nyaman dan semua gundah ku seketika hilang. Tapi saat aku memeluknya tiba tiba Ica menanyakan soal artis yang datang ke rumah hingga membuat bunda sakit. Aku panik, apa pembantuku mengadu ke Istriku soal Helen? jantungku berdetak kencang, aku takut Ica tahu dari orang lain soal kehamilan Helen tapi ternyata tidak. Aku bersyukur pembantuku tidak memberitahu Ica soal kejadian tadi pagi. Aku bersyukur Ica tidak bertanya lebih detail kepadaku, dia pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air untukku. Ah nikmatnya hidupku bersama wanita ini, dia memperlakukanku seperti seorang raja. Saat aku selesai mandi, aku mendengar suara ringtone dari ponsel Ica. Aku hapal bunyinya, aku heran kenapa Ica membiarkan ponselnya berdering tanpa mengangkatnya? akhirnya aku segera keluar dari kamar mandi. Aku bahkan belum mengeringkan tubuhku yang basah. Istriku melihat layar ponselnya, dia terlihat ragu untuk mengangkatnya atau tidak. Aku yang melihat hal itu yakin telepon tersebut dari Irwan. "Siapa yang telepon?" tanyaku tiba tiba hingga membuat dia kaget. "A-aa, anu Mas ini Irwan. Boleh aku angkat Mas?" Irwan lagi Irwan lagi. Bagaimana bila pria itu tahu kalau Helen hamil? ini bisa jadi kesempatan pria itu untuk mengambil Ica dariku dan aku tidak rela hal itu terjadi. Segera kurampas ponsel tersebut dan mengatakan kepada Irwan untuk tidak menganggu istriku. Pria itu justru menantangku, dia bahkan berucap akan merebut Ica dari sisiku. Mendengar hal itu langsung aku matikan ponsel tersebut, aku kesal, aku marah. Seenaknya saja dia akan merebut wanita yang aku cintai ini. Melihat Ica membuatku bernafsu, entah mengapa setiap hari aku selalu bernafsu kepadanya apalagi saat cemburu. Aku tidak mau dia di miliki pria lain, aku harus membuat dia hamil. Kubuka handuk yang melilit di pinggangku, Ica terlihat ingin menghindar tapi segera aku menangkapnya. Kukecup lehernya yang terbuka hingga menciptakan tanda merah di sana. Aku menyukai sisi polos istriku, sangat suka. Melihat tanda itu membuatku semakin bernafsu, kulucuti semua pakaiannya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak lupa ku tutupi tubuh bawah kami dengan selimut, barulah kunikmati tubuh istriku yang selalu membuatku candu. Tubuhnya terasa nikmat, suara desahannya membuatku gila. Ku pacu tubuhku di atas tubuhnya, tangannya melingkar di pinggangku sementara matanya tertutup rapat. Kupandangi wajahnya, bulu matanya terlihat sangat lentik dan panjang. "Ya Tuhan apa yang berada di bawahku ini bidadari? kenapa bisa secantik ini?" batinku. Tak henti-hentinya aku menatapnya, tiba tiba matanya terbuka hingga membuat kami saling tatap. Dia menatapku, walaupun terkadang matanya kembali terpejam karena aku mempercepat gerakanku. Setelah puas menikmati tubuh istriku, kurebahkan tubuhku di sisinya. Kupandangi kembali wajahnya yang sedang tertidur karena lelah melayani nafsuku. Dia memang tidak seagresif Helen atau wanita wanita lain yang pernah aku tiduri. Namun entah kenapa justru aku menyukainya, aku seperti mentor yang mengajari step by step kepada Istriku, kalau dulu aku selalu menerima servis dari para wanita. Berbeda dengan Ica, dia tidak mengerti harus melakukan apa? sehingga aku bebas melakukan apa pun yang aku mau. Malam ini kami tertidur tanpa makan malam, tapi saat tengah malam perut kami keroncongan dan bunyi. Kami berdua terbangun dan pergi ke dapur untuk makan malam yang tertunda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN