Bab 15. Usaha Helen

3111 Kata
Tiga hari berlalu pasca Helen mengaku bahwa dia hamil anaknya Reino. Sejak saat itu Helen tidak pernah mendatangi atau menelpon Reino. Pria itu merasa aman, pikir Reino wanita itu sudah menyerah dan tidak akan menganggu hidupnya lagi tapi perkiraan Reino salah. Karena selangkah lagi Helen akan meledakkan bom waktu yang akan menghancurkan rumah tangganya. Hari ini Reino pulang kerja larut malam. Pria itu sebelumnya sudah mengabari istrinya jangan menunggunya karena akan pulang sangat larut. Reino masih mengerjakan projects sampai pukul 00 wib. Selepas itu Reino kembali ke rumah, sementara yang lainnya menghabiskan waktu di club. Pria itu memilih pulang, dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan istri tercintanya. Di perjalanan pulang Reino gelisah, dia merasa perjalanan kali ini sangat lama. Seharian ini dia tidak berkomunikasi dengan Aisyah, karena sibuk dengan pekerjaannya. Dia hanya mengirim pesan singkat yang mengatakan jangan menunggunya. Supir mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi sesuai instruksi tuannya, berpacu di tengah hiruk pikuk ibukota yang tampak lengang. Sesampainya di halaman rumah yang luas, Reino langsung keluar dari mobil dan berlari menuju rumahnya. Pria itu benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu. Terlihat lampu ruang tamu yang padam, Reino berpikir istrinya ada di kamar, dia membuka pintu rumahnya dan mendapati istrinya sedang tertidur di sofa tempat biasa dia menunggu suaminya setiap malam. Reino mendekat, seketika rasa lelah yang dirasanya hilang saat melihat wanita yang dia cintai menunggunya pulang. Ica terbaring di sofa, dalam cahaya temaram Reino masih bisa melihat wajah cantik istrinya. Dengan perlahan Reino mengangkat tubuh itu, dia membopong istrinya ke kamar. Saat menaiki anak tangga Reino tak henti-hentinya menatap wajah cantik tanpa polesan apa pun diwajahnya itu. Kecupan demi kecupan dilayangkan Reino di pipi, kening dan bibir istrinya yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya. Setibanya di kamar, Reino merebahkan tubuh istrinya perlahan setelah itu dia membuka seluruh pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Reino kembali dengan tubuh yang lebih segar, tetesan air masih mengalir dari rambutnya. Pria itu terlihat maskulin dengan tubuh tinggi besar, perut yang six pat dan dadanya yang bidang membuatnya terlihat menawan. Seperti biasa setiap malam Aisyah meletakkan pakaian tidur Reino di atas bantal suaminya, sehingga Reino tidak perlu repot-repot mencari pakaiannya di lemari. Malam ini terlewati tanpa aktivitas rutin mereka, karena Aisyah sudah tertidur lelap, ditambah kondisi fisik Reino yang kelelahan. Reino hanya memeluk istrinya kemudian memejamkan matanya. Saat tengah malam Ica tiba tiba terbangun, dia teringat sedang menunggu suaminya. Ketika menoleh ke samping dia menemukan suaminya sedang tertidur pulas dengan memeluknya. "Sudah pulang rupanya kamu, Mas?" Aisyah memiringkan tubuhnya menghadap Reino. Wanita itu mengelus pipi suaminya yang sedang tertidur menghadapnya. Hembusan nafas terasa sangat dekat di wajahnya. Setelah puas memandangi wajah suaminya Aisyah pun tertidur kembali. *** Pagi ini Reino membuka mata tanpa dibangunkan oleh istrinya, dia mencari keberadaan Ica yang tak terlihat dikamarnya. Reino mencari ke kamar mandi, tapi wanita itu tidak ada. Dia mencoba mencari ke dapur, pria itu tahu istrinya suka memasak. Dia menemukan Ica sedang memasak nasi goreng, Reino mendekat dan memeluk istrinya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping itu. "Pagi cantik, maaf ya semalam aku pulang larut malam." "Mas tumben sudah bangun? ehm, Mas bisa tidak tangannya disingkirkan. Aku malu Mas." "Malu sama siapa? kamu kan istriku Sayang." Reino justru semakin menggoda istrinya, dia mencium telinga Ica membuat dia memiringkan kepalanya karena geli. "Mas jangan lakukan itu! aku malu mas, nanti ada yang lihat bagaimana?" "Ya sudah kalau begitu matikan kompornya, lalu kita kembali ke kamar. Semalam sepertinya ada yang terlupa bukan?" "Apa ya Mas? sepertinya tidak ada." "Masa lupa sayang? jatah suamimu yang belum kamu berikan." "Mas, aku sedang memasak. Jangan menganggu!" "Sudah matikan saja kompornya, kita ke kamar sebentar. Ya mau ya, please...!" "Tapi Mas ...?" "Ayolah Sayang, matikan kompornya." Tanpa mereka sadari Bunda Merry ada di belakang mereka, beliau hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak lelakinya itu. Reino mematikan kompor dan mengajak istrinya ke kamar, saat keduanya berbalik, mereka berhadapan dengan bunda. Wajah Aisyah langsung memerah, wanita itu benar benar malu. "Bunda. Bikin Reino kaget saja!" "Reino kamu ngapain? istri lagi masak dipaksa untuk melayani kamu. Lepaskan istri kamu!" "Bun, katanya mau punya cucu? ini lagi on the way bun, on proses! iya kan sayang." "Mas, malu!" "Dulu kamu mati matian menolak. Sekarang lengket kayak getah nangka." "Ya lain dulu lain sekarang, iyakan sayang? sudahlah jangan dengarkan Bunda. Ayo kita ke kamar, Yank." Reino mengiring tubuh istrinya sampai masuk ke kamar. Meninggalkan masakan yang belum selesai di buat. "Mas masakanku bagaimana? mas nih membuatku malu saja di depan Bunda." "Malu kenapa? Kitakan suami istri sayang, jadi wajarlah kalau maunya begituan terus." "Ya tapikan jangan bermesraan di depan orang tua, malu Mas." Reino hanya tersenyum menanggapi celotehan istrinya, pria itu mengecup bibir istrinya yang sedari tadi protes tiada henti. Membungkam bibir tipis itu dengan bibirnya yang yang lembut. Aisyah menerima ciuman dengan berjalan mundur karena Reino bergerak maju mendorong tubuh istrinya keperaduan mereka berdua. Seorang mantan Don Juan yang bertekuk lutut kepada seorang hijaber, wanita yang sama sekali bukan seleranya. Membayangkannya saja tidak pernah. Dulu Reino bahkan sangat membenci wanita yang sekarang berada di bawah tubuh kekar itu. Entah sudah berapa lama keduanya berpacu, pria itu masih belum menghentikan gerakannya. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Aisyah harus mengajar dan dirinya pun harus ke kantor. Aisyah merasa gelisah, dia ingin segera berakhir. Tapi suaminya masih terus bergerak maju mundur di atas tubuhnya. Sepertinya Reino mempunyai stamina yang prima pagi ini sehingga dia bisa bermain dengan durasi lebih lama dari biasanya. Setelah lebih dari sejam berpacu, akhirnya pria itu tumbang juga. Tubuhnya meliuk liuk seperti ikan predator yang berada di daratan. Usai puas bercinta, Reino meminta Aisyah untuk tidak beranjak dulu dari tempat tidur. Dia ingin benihnya tidak tercecer keluar dari tempatnya. "Mas aku harus mengajar," ucap Aisyah dengan nafas tersengal. "Nanti saja sayang, sekarang kamu tidur saja dulu. Aku juga akan ada di rumah seharian." "Mas tidak ke kantor? tapi aku harus mengajar. Pukul 10 pagi akan ada ziyadah untuk beberapa muridku." "Ziyadah itu apa? aku baru kali ini mendengarnya." "Itu loh Mas, tes hapalan. Jadi untuk membaca surah selanjutnya Mas harus hapal surah sebelumnya." "Bacaan Alquran gitu ya?" "Iya Mas. Aku mandi ya, aku ke sekolah bolehkan?" "Ya sudah aku antar." Aisyah kembali harus mandi dua kali pagi ini akibat ulah suaminya. Reino ingin berganti celana santai, pria itu mencari di lemarinya. Saat sedang mencari, dia tak sengaja menjatuhkan sebuah tas yang masih terbungkus. Reino mengambil tas itu dan memandanginya. "Sepertinya ini baru, tapi kapan Ica membelinya?" Reino penasaran dengan tas mahal itu, dia menunggu istrinya keluar dari kamar mandi hanya untuk menanyakan soal tas itu. Tak berselang lama Aisyah keluar, wanita itu masih memakai handuk yang dililitkan di atas dadanya. "Ca, ini tas baru kamu ya?" "Oh itu, i-iya Mas." wajah Aisyah terlihat panik, membuat Reino curiga. "Kapan kamu membelinya?" "Hem...anu Mas, wa-waktu kita ketemu di mall waktu itu." "Waktu kamu pergi bersama Irwan dan Husna. Memangnya kamu membeli tas?" "Mas aku sudah telat nih. Aku pakai baju dulu ya." Aisyah mencoba menghindar, dia tidak mau suaminya salah sangka kepada Irwan. "Mau ke mana?" Reino menutup pintu lemari dengan satu tangannya sementara tangan satunya memegangi tas itu. "A-aku harus mengajar Mas. A-aku sudah telat!" "Aku hanya bertanya. Kenapa kamu panik!" "I-itu di kasih teman, Mas." "Teman, siapa namanya?" Aisyah tampak kesulitan menelan salivanya sendiri. Nafasnya berhembus cepat dan matanya melirik ke sana ke sini untuk menghindari tatapan mata suaminya. "Kenapa diam? jawab pertanyaanku!" bentak Reino, membuat kedua bahu Aisyah terangkat ke atas karena terkejut. "Irwan Mas ..." Aisyah spontan menyebut nama sahabatnya karena takut ketika Reino membentaknya "Oh jadi dia. Lagi lagi dia! selalu dia." "Maaf Mas. Tapi bukan aku saja yang dibelikan tas oleh Irwan, Husna juga mas." "Aku tidak peduli dengan Husna. Mulai sekarang kamu berhenti mengajar di sekolah itu." "Tidak Mas, tidak mau. Aku mohon jangan lakukan itu." Aisyah menangis, memohon kepada Reino untuk mengizinkan dia mengajar. "Keputusanku sudah final. Kamu berhenti mengajar dari sana sekarang juga!" "Tidak mau. Aku mohon jangan lakukan itu. Aku tidak pernah mengkhianati Mas, aku bersungguh-sungguh. hiks ... hiks." "Kamu mengajar di sana supaya leluasa dekat dengan Irwan kan? jujur kepadaku, apa kamu mencintainya?" "Tidak Mas! Irwan hanya sahabatku saja. Aku mohon percaya padaku mas. Ya mas ya, percaya sama aku." Aisyah memberanikan diri memegang tangan suaminya, dia memohon supaya Reino tetap mengizinkan dia mengajar. "Kau berhenti mengajar!" Reino pergi meninggalkan Aisyah sendiri di kamar, dia keluar dengan membawa tas Aisyah di tangannya. Wanita itu menangis sesenggukan, dia merasa ini tidak adil baginya. Dia tidak pernah melakukan perbuatan selingkuh atau zina dengan laki laki lain. Irwan adalah sahabatnya sejak remaja, Aisyah merasa Reino sangat berlebihan menyikapi hubungannya dengan Irwan. Setelah puas menangis, Aisyah memakai seragam mengajarnya berupa gamis hitam dan hijab hitam selutut lengkap dengan kaos kaki hitam dan penutup lengan warna hitam. Dengan gelisah dia menunggu Reino kembali ke kamar. Sekitar 20 menit menunggu akhirnya Reino kembali. Saat pria itu membuka pintu, dia terkejut melihat istrinya sudah memakai seragamnya. Itu artinya dia tidak mematuhi ucapannya. "Mau ke mana kamu?" "Mengajar Mas, boleh ya? aku janji tidak akan berbicara sepatah kata pun dengan Irwan, aku akan menghindarinya. Aku mohon izinkan aku." "Apa kata kataku kurang jelas? telingamu tuli ya. Aku menyuruhmu untuk diam di rumah!" "Tapi Mas, kasihan anak didikku. Hari ini ada ziyadah. Aku mohon izinkan ya mas." "Kamu diam di rumah. Oh iya tasnya sudah aku bakar! lain kali jangan pernah menerima barang pemberian dari laki laki lain." "Iya Mas, lain kali tidak lagi. Tapi izinkan aku ngajar ya." "Jangan bantah Ica!" teriak Reino. "Kenapa Mas, kenapa kamu tidak pernah percaya padaku Memangnya apa yang pernah aku lakukan? hidupku selama ini lurus lurus saja. Mengajar adalah duniaku, kenapa tidak bisa mengerti Mas." "Karena aku tidak suka kamu dekat dengan laki laki itu. Dia itu mencintai kamu Ca, dia mengatakannya secara terang-terangan kepadaku!" "Tapi aku bukan wanita yang gampang mendua Mas, aku juga bukan wanita yang segampang itu di jamah laki laki seperti..." "Seperti siapa maksudmu? ayo sebut! kenapa diam." "Astaghfirullah, maaf Mas. Aku tidak bermaksud menyinggung orang lain." "Seperti Helen maksudmu? atau sepertiku!" "Maaf Mas, sudah jangan dibahas lagi. Aku hanya ingin minta izin mas untuk mengajar!" "Kamu berhenti mengajar mulai hari ini! aku akan telepon Irwan." "Tidak Mas, jangan lakukan. Hiks ... aku mohon. Aku minta maaf kalau aku salah, aku janji akan patuh kepada Mas aku janji, tapi izinkan aku. Ini penting untukku Mas, aku menyukai pekerjaanku." "Ica sudah! Jangan membuatku semakin marah." Wanita itu mendekat dan bersimpuh di kaki suaminya. dia memeluk erat betis Reino sembari menangis. "Hiks...hiks. izinkan aku mengajar Mas. Aku janji tidak akan berbicara dengan Irwan, aku akan menghindar darinya aku mohon Mas." "Kamu pilih aku, atau pekerjaanmu!" Reino melepaskan tangan istrinya dan naik ke atas tempat tidur, pria itu duduk menyandar sedangkan Aisyah masih bersimpuh di lantai sembari menangis. Aisyah merasa suaminya sangat egois dan keras kepala. Dia marah pada hal yang tidak semestinya. Apa yang harus dia lakukan? Reino memang suaminya, dia wajib mematuhi. Tapi mengajar adalah tugasnya, membuat anak anak memahami ilmu agama adalah tugasnya sebagai muslimah. Dengan tubuh gemetar Aisyah bangkit dan berdiri memandangi suaminya. "Mas, kalau Mas tidak mengizinkan aku mengajar, aku mohon sehari ini saja izinkan aku untuk pamit kepada anak muridku dan juga para ustazah di sana." Pria itu tidak melihat lawan bicaranya. Tatapannya lurus ke depan entah sedang memikirkan apa? "Mas, Mas Reino. Izinkan hari ini saja aku mengajar sekaligus pamit." Reino menghela nafasnya kemudian bangkit dari tempat tidur dan mendekat. Aisyah merasa takut, dia takut suaminya akan memarahinya atau bahkan memukulnya. Aisyah memundurkan langkahnya ketika suaminya mendekat. Tubuh tinggi besar itu memeluk tubuh mungil Aisyah yang hanya sedadanya saja.Dia mendekap dan menghirup aroma parfum dari pakaian yang dikenakan istrinya. "Ya sudah aku mengizinkan, tapi jangan macam macam. Jangan pernah menerima pemberian dari laki laki lain dan jangan pernah pergi berdua dengan Irwan seperti waktu itu." "Jazakallaahu Khoiron. 'Aedak ya 'akhi." "Apa artinya? "Aku janji, Mas." "Ya sudah hapus air matanya, Mas antar ya." "Iya Mas." Aisyah mengecup pipi Reino dengan berjinjit. Ini pertama kalinya Aisyah bersikap agresif, wanita itu menciumnya duluan tanpa di minta. Entah mengapa jantung Reino berdegup kencang, padahal hanya sebuah kecupan di pipi, tapi rasanya seperti ciuman pertama baginya. *** Pagi ini di sebuah Penthouse seorang wanita tengah mengamuk. Helen terlihat frustasi dengan hasil testpack pagi ini, wanita itu benar benar hamil. Tapi masalahnya dia bingung anak siapa yang ada di rahimnya saat ini? "Arrrgghh ...! kenapa gue bisa hamil begini sih. Anak siapa ini? perasaan saat melakukannya gue selalu bermain aman. Tapi kenapa bisa bobol begini!" Helen mengacak-acak rambutnya dan membuang semua yang ada di depan wastafelnya. Wanita itu keluar dari kamar mandi dan memanggil Diki asisten pribadinya. Pria itu datang menghampiri bosnya, Dia melihat tampilan Helen yang kalut, wanita itu mondar-mandir sembari mengacak acak rambutnya dan menghisap sebatang rokok. "Helen, what happened? kenapa kamu terlihat kacau!" "Gw hamil anjim. Lo cariin gw obat penggugur kandungan atau klinik aborsi yang aman. Jangan sampai ada wartawan yang tahu kalau gue hamil. Bisa abis karir gue" "Jangan digugurkan, aku mau kok tanggung jawab." "Bodoh ...! terus kalau Lo tanggung jawab Lo mau kasih gue makan apa? Lo tuh cuma babu, ya walaupun sesekali kita ngelakuin itu bukan berarti Lo ngelunjak ya. Gue pake Lo juga kalau kepepet aja, anjim." "Tapi anak itu tidak bersalah Len, aku juga yakin itu anakku. Beberapa kali kita melakukannya tanpa pengaman, dan itu juga kamu yang meminta." "Ya Lo mikir dong! orang lagi mabok Lo turutin. Lagi pula Lo nya juga keenakan mentang-mentang gue butuh." "Ya sudah aku tanggung jawab, kita menikah ya." "Anjim Lo. Najis gue nikah sama Lo! gue bakal minta Reino tanggung jawab, walaupun ini bukan anak dia, tapi gue rasa yang cocok jadi ayah anak gue itu dia." "Helen jangan! mantan pacarmu itu sudah menikah. Jangan menganggu hubungan orang." "Diam! jangan banyak bacot. Sudahlah siapin keperluan gue, sepertinya gue bakal mendatangi ibu dan istrinya di rumah. Reino harus menjadi ayah dari anak sialan ini, setelah lahiran nanti gue cari ide lagi supaya Reino tidak menceraikan gue" Helen berganti pakaian sopan, memoles wajahnya dengan make up tipis. Setelah selesai, dia melihat tampilannya di depan cermin. "Time to drama beib...maaf ya kamu harus menjadi ayah dari anakku." Helen meninggalkan Penthouse super mewahnya untuk menemui Bunda Merry. Sebelum menuju ke kediaman Reino, wanita itu mampir ke klinik untuk mengecek kandungannya. Setelah mendapat bukti hasil USG, dia menuju ke kediaman Reino bersama Diki asistennya. Mobil Alphard berwarna putih itu tiba di depan rumah mewah Reino, Helen keluar dari mobil dengan dress warna peach dan kaca mata hitam yang membuat tampilannya semakin cantik dan elegan. Diki mengetuk pintu rumah itu, tak lama seorang pelayan membukakan pintunya dan mempersilahkan mereka masuk saat tahu tamu tersebut adalah tamunya Bunda. Helen dan Diki duduk di sofa tempat di mana Aisyah biasa menunggu suaminya pulang. Tak lama Reino pun kembali setelah mengantar Aisyah ke sekolah. Dia dibuat terkejut dengan penampakan mobil Alpard putih, dia sangat hapal dengan mobil tersebut karena dialah yang membelikannya untuk Helen saat wanita itu merengek meminta mobil. Reino buru buru masuk ke dalam. Pria itu bertemu dengan mantan kekasih dan asistennya diruang tamu. Perasaan Reino benar benar tidak enak, Reino yakin Helen bermaksud memberitahukan berita kehamilannya kepada bunda dan istrinya. "Mau apa kamu ke sini? aku peringatan jangan macam-macam!" "Santai Reino, aku hanya meminta tanggung jawabmu. Aku bukan meminta hartamu!" "Keluar kamu Helen! Jangan ganggu keluargaku." "Wow...begini ya perlakuan calon ayah dari bayiku? aku hamil Reino dan ini anak kamu." "Bukan!" Saat keduanya sedang adu mulut, Bunda datang menghampiri mereka di ruang tamu. "Ada apa ini? kenapa ribut ribut di rumah saya!" "Tante..." Helen bersimpuh di kaki Bunda Merry, membuat beliau risih dan berusaha melepaskan lilitan tangan Helen yang membelit betisnya. "Ada apa ini?" "Tante aku hamil, dan Reino tidak mau tanggung jawab." "A-apa! ka-kamu hamil." "Iya Tante. Aku hamil anaknya Reino, cucu Tante ." "Bohong Bun. dia bohong!" ucap Reino. "Aku serius Tante. Aku hamil 2 bulan, ini hasil pemeriksaan aku tan. Aku sedih karena Reino lepas tanggung jawab." "Reino. Apa ini benar?" "Tidak Bun. Reino bersumpah itu bukan anak Reino Bun!" "Dia anak kamu Reino, selama 3 tahun kita rutin melakukan itu dan sekarang kamu menyangkalnya." teriak Helen. "Reino apa apaan kamu? apa yang sudah kamu lakukan Nak." Bunda histeris. "Maafkan Reino Bun, Reino tahu selama ini Reino hidup bebas. Tapi Reino bersumpah itu bukan anak Reino." "Reino ... egghh." Bunda Merry memegang dadanya sebelah kiri. Sepertinya beliau shock berat dengan berita ini." . "Bunda... Bunda kenapa?" "Jangan sentuh Bunda!" wanita paruh baya itu memegang dadanya sebelah kiri, wajahnya sudah terlihat pucat dan keluar keringat sebesar biji jagung di dahinya. "Bun... Bunda! Bunda kenapa?" Tubuh Bunda Merry semakin condong, sepertinya wanita itu akan jatuh. Reino segera menangkap tubuh bundanya yang jatuh tepat di perlukan Reino. Matanya terpejam. "Bun...bangun Bun. Bun, Bunda!" Merasa Bundanya tidak merespon, Reino segera mengangkat tubuh itu dan berlari ke luar rumah. Dia berteriak memanggil supir keluarga mereka untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Reino membawa bunda ke rumah sakit. Helen si pengacau mengikuti mobil Reino dari belakang. Pria itu benar benar panik melihat bundanya jatuh pingsan, Reino takut terjadi sesuatu ke bundanya. Kalau sampai itu terjadi, seumur hidup dia tidak akan memaafkan Helen. Mobil Reino berhenti tepat di depan UGD, para perawat datang membawa ranjang dorong. Mereka memindahkan tubuh bunda ke ranjang itu lalu membawanya ke UGD. Di dalam UGD, dokter sedang memeriksa Bunda Merry, menurut dugaan sementara bunda mengalami serangan jantung. Tapi dokter itu masih harus memeriksa keadaan bunda lebih lanjut lagi. Helen tiba di rumah sakit. Dia keluar dari mobilnya kemudian mendekati Reino. Keadaan Reino yang sedang kacau bukan waktu yang tepat untuk keduanya bicara. Saat Reino melihat wanita itu mendekat, darahnya langsung mendidih. Dia menyesali kenapa dulu bisa tergila gila pada wanita ini. "Plak" Suara tamparan yang mendarat di pipi Helen saat wanita itu datang tepat di hadapan Reino. Untung saja Helen memakai masker wajah, jadi orang tidak bisa melihat wajahnya. Bila tidak pasti insiden itu sudah masuk akun gosip. "Pergi kamu!" "Aku akan pergi kalau kamu bersedia tanggung jawab." "Sampai mati pun aku tidak akan tanggung jawab! Tidak akan pernah Helen." "Oke...kalau begitu aku akan ada di sini sampai bunda kamu siuman." "Helen please. Jangan memperkeruh suasana. Aku mohon pergilah sebelum aku murka." "No way. Aku ingin memastikan posisiku dulu." "HELEN ...!" "Okay... fine aku pulang. Tapi besok aku kemari lagi. please, pikirkan janin di perutku! Helen pergi meninggalkan Reino yang terlihat sudah sangat murka. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. "Aku tidak akan menyerah Reino. Kamu laki laki yang pantas mendampingiku dari pada si Diki t***l ini,"gumam Helen. Seringai senyum licik menghiasi bibir Helen yang mempunyai sejuta rencana. Andai usahanya bicara ke Bunda Reino tidak berhasil, dia akan berbicara kepada Aisyah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN