Siang hari sekitar pukul 14.00, sebelum pulang Reino mengajak istrinya untuk mengunjungi makam kedua orang tua Aisyah yang meninggal karena kecelakaan pesawat.
Reino sudah berada di depan makam mertuanya. Mereka berdoa bersama, selesai berdoa Aisyah meninggalkan Reino karena wanita itu ingin buang air besar ke kamar mandi.
Setelah kepergian Aisyah, Reino jadi leluasa untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan kepada mertuanya.
"Ayah dan ibu mertua, aku ingin meminta izin kepada kalian untuk hidup bersama Aisyah Istriku. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan dia dalam hidupku. Ayah dan ibu tidak perlu khawatir karena aku benar-benar mencintai putri kalian."
Reino sedang asik berbicara kepada batu nisan itu ketika Aisyah datang menghampirinya. Wanita itu datang dengan langkah yang terburu-buru karena takut suaminya mengoceh karena terlalu lama menunggu.
"Mas, maaf ya aku lama."
"Tidak apa apa. Lagi pula aku sudah selesai!"
"Ya sudah ayo kita kembali ke rumah."
Di perjalanan menuju rumah orang tua Ica, mereka berbincang-bincang. Reino menanyakan perihal kematian kedua mertuanya kepada istrinya.
"Ca aku ingin bertanya, maaf bila pertanyaan ini membuatmu tidak nyaman."
"Apa Mas?" Aisyah deg-degan menantikan pertanyaan suaminya.
"Ca, apa jasad kedua orang tuamu utuh?"
Aisyah terdiam sejenak, dia pun menghentikan langkahnya. Reino merasa bersalah telah menanyakan hal itu kepada istrinya.
"Tidak Mas. Ayah hanya bagian kaki dan 1 tangan. Sementara ibu hanya bagian tangan saja. Tim SAR sudah berusaha mencari potongan tubuh lainnya di lautan, tapi sampai 7 hari pencarian hanya berhasil menemukan itu saja. Tapi walau bagaimana pun aku tetap bersyukur bisa menguburkan sebagian jasad kedua orang tuaku."
Reino memeluk tubuh istrinya, seraya mengatakan kata maaf.
"Aku minta maaf membuatmu mengingat kembali masa masa pahit dalam hidupmu. Aku janji kepadamu, aku akan melindungimu seumur hidupku."
"Jazakillaahu Khoiron Mas, aku juga berjanji akan menjadi istri yang baik."
"Kamu memang istri sempurna untukku. Ayo kita masuk ke dalam, sore ini kita kembali ke rumah Bunda ya."
"Iya Mas." Aisyah melepaskan pelukannya dan mereka berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam rumah.
Aisyah sebenarnya masih ingin berada di rumah yang penuh dengan kenangan bersama kedua orang tuanya ini. Tapi apa mau dikata, suaminya ingin segera kembali ke rumah Bunda.
Pada sore harinya Reino dan Aisyah pamit pulang ke Jakarta kepada para pelayan di rumah itu. Aisyah menuju mobilnya lebih dulu sementara Reino masih asik mengobrol, saat Aisyah membuka pintu, dia melihat ada seikat bunga tergeletak di atas jok depan. Bunga itu sudah terlihat layu dan kelopaknya mulai berguguran.
Reino yang saat itu sedang berbicara kepada Mang Diman tidak ingat bahwa dia meninggalkan seikat bunga di dalam mobilnya dan lupa memberikan bunga tersebut kepada istrinya. Saat Reino selesai bicara, dia menuju mobil. Aisyah masih diam mematung dengan posisi pintu depan yang terbuka.
"Ca kenapa masih berdiri disitu? ayo cepat masuk," ucap Reino sembari membuka pintu kemudinya. Reino masuk dan duduk di jok kemudi. Pria itu menoleh ke arah samping, dia melihat seikat bunga yang sudah layu tergeletak di jok.
Reino mengambil bunga tersebut dan memegangnya, lalu pria itu meminta Aisyah masuk ke dalam. Reino teringat, kemaren dia meminta Ica mengambil bunga ini di mobilnya.
"Ca kenapa bunganya tidak kamu ambil? lihat nih bunganya layu. Bukankah aku menyuruhmu untuk mengambilnya."
Aisyah yang saat ini berada di dalam mobil merasa heran dengan suaminya. Jikalau Reino ingin memberikan Ica bunga, kenapa tidak dia berikan kepadanya? justru Reino menyalahkan dirinya karena tidak mengambil bunga tersebut.
"Mas, niat ngasih tidak sih? masa iya aku harus mengambilnya sendiri."
"Ya sudah ini di buang saja." Reino melempar bunga tersebut ke luar mobil membuat kelopak bunga mawar putih itu berserakan di tanah.
Aisyah memilih untuk diam, dia tidak mau beradu mulut. Menurutnya diam lebih baik. Reino melajukan mobilnya, keduanya tidak saling berbicara satu sama lain. Reino sesekali menoleh ke arah Aisyah yang sedang memperhatikan jalanan dari balik kaca mobil.
Sekitar 30 menit mobil itu melaju, Reino berhenti di depan toko bunga. Pria itu keluar dari mobil tanpa mematikan mesin. Reino juga tidak mengajak Aisyah ikut, dia berlalu begitu saja meninggalkan Aisyah seorang diri di dalam mobil.
Tak lama Reino keluar dari toko itu dengan membawa buket bunga lili super besar. Dia berjalan menuju mobilnya, Reino masuk ke dalam dan duduk di belakang kemudi.
Aisyah yang melihat buket bunga super besar itu enggan bertanya untuk siapa bunga itu? dia tidak mau terlihat kepo atau rasa ingin tahu berlebihan.
"Ini untuk kamu Ca, maaf ya bunga kemaren layu. Maafkan aku yang tidak peka."
"Ini untuk aku, Mas? serius untuk aku!"
"Bukan. ini untuk pelayanmu yang bernama Beti!"
"Serius?"
"Ini untuk kamu Ica. Nih terima bunganya!"
Reino menyerahkan bunga itu ke tangan Aisyah. Tidak ada suasana romantis layaknya pasangan yang sedang merayu kekasihnya.
"Jazakillaahu Khoiron, Mas."
"Hem..."
Aisyah memandangi bunga tersebut sembari tersenyum lebar, seumur hidupnya ini pertama kalinya dia mendapat bunga dari seorang pria.
Melihat istrinya tersenyum, Reino kembali melajukan mobilnya. Mereka tiba di rumah pada malam hari. Bunda menyambut keduanya dengan bahagia, beliau bahkan rela menunggu anak dan menantunya itu di depan teras rumahnya.
Aisyah keluar dari mobil dan berlari ke arah bunda. Aisyah seperti merindukan ibu kandungnya yang sudah lama tidak dia temui.
"Assalamualaikum Bunda, Ica kangen." Aisyah berkata sembari berlari menghampiri mertuanya.
"Masya Allah putri bunda akhirnya pulang juga." Mereka saling berpelukan, sama sama melepas rindu selama seminggu lebih.
"Bun. Angel mana, kok tidak terlihat?"
"Kamu seperti tidak tahu adikmu saja, dia sibuk dengan urusan organisasi di kampusnya."
Reino yang masih di dalam mobil memasang wajah cemberut.
"Sebenarnya yang anak kandungnya itu siapa sih, aku atau Ica? Bunda bahkan tidak menyambutku seperti itu," gumam Reino.
***
Keesokan paginya seperti biasa Ica melakukan rutinitasnya seperti memasak untuk suaminya, mempersiapkan pakaian, menyemir sepatu dan menyiapkan air mandi. Aisyah memperlakukan suaminya seperti raja. Menurutnya suami itu adalah surganya, dia akan patuh dan melayani suaminya tanpa mengeluh.
Selesai melakukan tugasnya, Aisyah membangunkan suaminya yang masih terlelap berbalut selimut tanpa memakai pakaiannya. Aisyah menggoncang lengan kekar itu sampai dia terbangun.
"Mas segera mandi ya, sudah siang. Mas lain kali bangunnya lebih pagi ya, supaya bisa sholat subuh."
"Sholat...?
"Iya Mas. Maaf ya Mas jangan tersinggung. Selama kita hidup bersama aku belum pernah melihat Mas melakukan aktivitas sholat sekali pun."
"Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir aku melakukan itu? aku juga lupa dengan bacaan-bacaan dalam sholat."
"Astaghfirullah Mas. Kalau aku ajari mau tidak?"
"Hem ... aku pikir pikir dulu ya, soalnya aku sibuk!"
"Mas sibuk apa?"
"Sibuk cari uang Ica. Apalagi!"
"Terus kapan Mas mau mulai sholat?"
"Nanti kalau sudah tidak sibuk!"
"Lalu kapan itu Mas?"
"Aku tidak tahu!"
"Sama halnya Mas tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa Mas bukan?"
"Maksudmu? kamu menyumpahi ku mati!"
"Tidak Mas, bukankah tadi mas bilang kalau Mas tidak tahu kapan Mas punya waktu. Begitu juga hidup kita Mas, kita tidak pernah tahu kapan kita kembali kepada yang maha kuasa."
"Ca kamu pagi pagi sudah ceramah seperti ini. Pokoknya aku belum siap melakukan itu! Sudahlah aku mau mandi dulu, jangan membuat pagiku tidak menyenangkan."
"Iya mas maaf."
Reino bangkit dari tempat tidur, pria itu tidak memakai apa pun di tubuhnya karena semalam dia habis melakukan aktivitas favoritnya.
Aisyah duduk termenung di tepi tempat tidur, wanita itu menunggu suaminya selesai mandi . Hatinya gundah, dia merasa mempunyai kewajiban untuk menuntun suaminya agar mau beribadah kembali.
Bagaimanapun Reino adalah imam dalam rumah tangganya. Aisyah harus bisa menggiring suaminya untuk hijrah tanpa paksaan.
"Ya Allah Mas, sudah terlalu jauh hatimu tersesat sampai sampai hatimu mati rasa. Bismillahirrahmanirrahim. Bantu aku ya Allah, bantu mas Reino untuk kembali menyembahmu karena kemauannya sendiri," ucap Aisyah lirih.
Aisyah masih termenung di atas tempat tidur, dia tidak menyadari bahwa Reino sudah keluar dari kamar mandi.
Pria itu menghampiri istrinya yang tampak sedang melamun itu. Dengan iseng reino menutup wajah istrinya dengan handuk yang dia pakai untuk mengeringkan rambutnya.
"Mas buat aku kaget saja!" Aisyah mengambil handuk yang menutupi wajahnya lalu berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambilkan stelan jas suaminya.
"Kamu melamun kan apa? serius sekali."
Aisyah memakaikan kemeja dan menautkan kancingnya, Reino memakai celananya sendiri tanpa bantuan Ica.
Saat Aisyah akan memasangkan sepatu, Reino meminta istrinya untuk duduk di sampingnya.
"Tidak perlu memakaikan sepatuku lagi. Aku bisa pakai sendiri Sayang."
"Tapi Mas ini tugasku."
"Tugasmu itu hanya melayaniku di ranjang dan melahirkan anak anakku. ya walaupun aku membiarkanmu memasak untukku, tapi aku tidak memaksa kalau kamu tidak mau melakukannya. Aku hanya akan memaksamu kalau kamu tidak mau melayaniku dalam hal yang satu itu saja."
"Tapi Mas itu kodratku sebagai istri!"
"Kamu ini belajar agama di mana? kodratmu itu hanya melayani suami di ranjang, hamil dan melahirkan, kemudian menyusui. Selain yang ku sebutkan tadi itu bukan kodrat namanya ca, karena aku pun bisa melakukannya."
Aisyah terpukau dengan jawaban suaminya, suaminya sungguh sangat bijaksana.
"Mas, aku tetap akan memasak untukmu. Aku tidak mau wanita lain memanjakan lidahmu."
"Maaf ya, kemarin kemarin aku memintamu melakukan semua yang aku mau. Itu semata-mata aku lakukan supaya kamu tidak betah dan minta pisah."
"Iya Mas."
"Ya sudah kita turun ke bawah untuk sarapan setelah itu aku akan mengantarmu ke sekolah. Soal mobil yang tertinggal di bandung, biar nanti di ambil orang suruhanku."
"Iya Mas."
Setelah sarapan keduanya pergi bersama, Aisyah membawakan bekal untuk suaminya yaitu pastry isi daging dan kopi yang di taruh dalam termos mini.
Reino terlebih dahulu mengantar Ica ke sekolah tempatnya mengajar setelah itu dia pergi ke kantornya. Aisyah merasa bahagia bisa kembali mengajar murid-muridnya di sekolah, bisa bertemu dengan para ustazah terutama sahabat barunya ustazah Husna.
Ustazah Husna bahkan berlari menghampiri Aisyah saat melihat wajah itu. keduanya memang paling muda, usianya sekitar 23 tahun sementara ustazah lain rata rata di atas 30an.
"Ya Allah ust ana sararat birawyatik maratan 'ukhraa." (senang melihatmu kembali) ucap Ustazah Husna.
"Masya Allah kama 'uhib ustazah" (Masya Allah, aku juga senang ustazah)
"Ana pikir Ustazah Ica tidak kembali, tapi pas ana lihat Ustazah datang, ana gembira. Ana jadi punya teman seseruan lagi.
"Iya ust, maaf ana pergi lama meninggalkan anak anak. Syukron sudah mengantikan ana selama ana pergi.
"Wa iyakum. Ayo kita ke ruangan kita ust."
Kedua wanita itu saling melepas rindu di ruangannya, Ica merasa senang karena memiliki sahabat seperti ustazah Husna. Husna tidak mau mencampuri urusan pribadi Ica, selalu menghormatinya dengan tidak kepo atau rasa ingin tahu berlebihan terhadap kehidupan pribadi sahabatnya, begitu pun sebaliknya.
***
Siang ini di kantornya, pria itu tengah sibuk menggarap proyek besar yang di dapatnya waktu bertemu istrinya di cafe beberapa Minggu lalu. klien itu rencananya ingin membuat iklan dengan durasi sekitar 10 menit tayang di media elektronik.
Setelah menentukan model, dan konsep iklan yang akan di usung, projects itu mulai di garap oleh orang orang berkompeten di perusahaan Reino.
Saat jam istirahat makan siang, Reino membagikan bekal yang dia bawa dari rumah yaitu pastry buatan istrinya. Dia ingin orang kantor mencicipi rasanya apakah enak atau tidak? Reino sepertinya punya rencana lain untuk Ica agar istrinya tidak bertemu lagi dengan Irwan.
Reino ingin membuka toko roti untuk Aisyah, supaya istrinya bisa berhenti mengajar. Memikirkan setiap hari istrinya bertemu Irwan membuat dirinya tidak tenang.
"Sis, bagaimana rasa pastry nya enak tidak?" ucap Reino kepada Siska sekretarisnya.
"Ini sumpah enak banget Pak, Bapak beli di mana?"
"Serius enak? tidak sedang membohongi saya kan!"
"Serius Pak, menurut staf yang lain juga ini enak sekali. Rasanya pas, kulitnya renyah dan isiannya enak jadi balance rasanya."
"Oke, baiklah terima kasih masukannya."
"Pak. Boleh tahu Bapak beli dimana?"
"Oh itu Istri saya yang buat."
"Istri, kapan beliau menikah?" gumamnya.
Reino berlalu meninggalkan sekretarisnya yang terlihat kebingungan saat Reino mengucapkan kata istri. Ya wajar saja, saat menikah dengan Ica beberapa bulan lalu tidak ada satupun yang Reino beritahu karena pernikahan itu tidak pernah dia inginkan. Hanya keluarga kedua belah pihak saja yang yang datang menghadiri.
Siska masih mencerna ucapan bosnya, sejak kapan bosnya itu menikah? setahu Siska, bosnya hanya mempunyai kekasih yang bernama Helen. Di saat wanita itu masih terlihat bingung, di waktu yang sama Helen datang.
Dia melewati meja Siska begitu saja tanpa permisi. Kebiasaan Helen jikalau berkunjung ke kantor Reino, dia tidak pernah permisi. Helen merasa dia adalah wanita spesial pemilik perusahaan ini, jadi dia tidak perlu izin kepada siapapun untuk memasuki ruangan Reino.
Helen lupa bahwa sekarang statusnya bukan siapa siapa bagi Reino. Dia tak ubahnya hanya orang lain bagi pria itu. Dengan penuh percaya diri Helen masuk ke dalam ruangan Reino, wanita itu dengan tidak tahu malu mendekat dan memeluk mantan kekasihnya yang sedang menerima panggilan telepon
Reino yang sedang berbicara di telepon di buat terkejut dengan keberadaan tangan yang melingkar di perutnya. Pria itu sedang menghadap jendela saat menerima telepon dari relasinya.
Reino seketika mengakhiri teleponnya dan melepaskan lilitan tangan mantan kekasihnya itu. Dia memutar tubuhnya dan segera menjauh beberapa jengkal dari tempat Helen berada.
"Helen, ada kepentingan apa kamu kemari?"
"Sayang, kok bicaranya begitu? aku kangen kamu. Aku rasa selama 3 hari ini kamu juga merindukanku kan? kamu menyesali keputusanmu yang telah mengakhiri hubungan kita 3 hari lalu."
"Helen please!"
"Sayang aku tahu kamu hanya mematuhi perintah bundamu, aku tahu sebenarnya kamu tidak mencintai pembantumu itu bukan? aku bisa memahaminya sayang, aku rela bersabar sampai kamu menceraikannya."
"Apa maksudmu? bukankah sudah aku katakan dengan jelas bahwa aku mencintai Istriku!"
"Jangan berbohong Reino! aku tahu kamu hanya berpura pura." Suara Helen mulai meninggi.
"Aku serius! aku mencintainya, aku sangat mencintainya. Walaupun pernikahan kami baru 4 bulan tapi aku benar benar mencintainya Helen, mengertilah!"
Helen merasa putus asa, dia menutup kedua telinga dengan tangannya saat Reino berkata seperti itu. Ini sungguh tidak sesuai dengan apa yang Helen inginkan.
Wanita itu berpikir Reino akan luluh saat melihatnya hari ini, tapi ternyata dugaannya salah. Pria itu sudah membuat keputusan yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Reino, lihat aku! a-aku hamil. Aku hamil 2 bulan dan ini anak kamu," ucap Helen tiba tiba.
Helen tidak punya pilihan lain. Entah apa yang ada dipikirannya, dia tidak tahu lagi harus bagaimana cara mendapatkan Reino. Dia spontan mengucap kata hamil.
"Apa kamu gila? sejak kapan aku menanam benih pada rahimmu!"
"Kita melakukan itu tidak dalam keadaan sadar saja Reino, terkadang kita melakukanya dalam keadaan mabuk berat. Mana kamu tahu kalau saat itu kamu keluar di dalam?"
"Aku tidak pernah lupa untuk membuangnya. Kamu jangan mengada ngada Helen! jangan mencari alasan untuk tetap bersamaku! karena sampai kapanpun aku tidak akan mengakuinya."
"Jahat kamu Reino. Ini anak kamu! aku hanya melakukanya denganmu saja," teriak Helen.
"Bohong! aku tidak akan percaya dengan kata yang keluar dari mulut kamu Helen. Pergi kamu! jangan sampai aku menyuruh security untuk mengusirmu."
"Reino ini anak kamu. Aku hamil anak kamu Reino aku bersumpah!"
Helen berpura pura menangis, bukan hal susah bagi dia untuk akting menangis. Karena Helen adalah seorang aktris.
Reino mendekat ke meja kerjanya, dia memencet tombol yang ada di telepon.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" ucap Siska.
"Sis kamu panggil security, dan suruh dia ke ruangan saya sekarang juga!"
"Baik Pak!"
Reino berbalik, matanya menatap dengan penuh kebencian pada wanita yang dulu dia puja ini.
"Kamu mau pergi sendiri atau dengan security?"
"Tega kamu Reino. Aku hamil dan sekarang kamu mau mencampakkan aku begitu saja. Kamu laki laki bukan sih?"
"Kamu mau uang berapa? 1 milyar, 2 milyar aku bisa memberimu asalkan kamu pergi jauh dari hidupku."
"Jahat kamu Reino. Jahat! aku ingin kamu bertanggung jawab atas anak yang aku kandung ini. Jangan lari dari tanggung jawab Reino!"
"Anak apa Helen! aku hanya menanam benihku pada istriku saja. Selama 3 tahun kita berhubungan tidak sekali pun aku lupa untuk mengeluarkan spermaku di luar!"
"You are bastard, Reino. Kamu benar benar bastard! Aku tidak terima penghinaan ini. Aku pastikan rumah tangga kamu hancur dan kamu akan menikahiku"
"Awas saja kalau sampai kamu menganggu istriku!"
"Will see Reino ... !"
"Tok...tok...tok."
"Masuk!" ucap Reino.
"Permisi Pak Reino, ada yang bisa saya bantu?" ucap salah seorang security.
"Bawa wanita gila ini keluar sekarang juga!"
Kedua security itu saling memandang. Mereka berdua tahu siapa wanita yang ada di depan mereka, seorang artis papan atas dan juga merupakan kekasih dari bos mereka.
"Baik pak!"
Kedua security itu mendekat dan hendak memegang lengan Helen.
"Jangan sentuh saya! saya bisa pergi sendiri."
"Maaf nona kami hanya menjalankan perintah saja."
"Saya bilang jangan sentuh saya!"
Helen dan Reino saling bertatapan.
"Reino aku bersumpah tidak akan pernah rela kamu dimiliki oleh wanita kampungan itu. Aku pastikan kalian berpisah!"
"Bawa dia pergi pak!"
"Minggir saya bisa sendiri!" Helen pergi dari ruangan Reino dengan penuh amarah dan merasa direndahkan.
Helen berada di depan lift dikawal oleh kedua security. Ketiganya masuk bersama ke dalam lift dan turun ke lantai bawah.
"Aku akan menghancurkan mu Reino. Hancur sehancur hancurnya!"
Helen mengepalkan tangannya, dia merasa terhina bisa kalah dari Wanita yang dianggapnya tidak selevel dengannya.
"Perempuan iblis. Lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu!" Setelah pintu lift terbuka, wanita itu pergi meninggalkan kantor Reino dengan mengendarai mobil sport miliknya.
Sementara di dalam ruangannya, Reino merasa cemas. Pria itu takut Helen mengacaukan pernikahannya dengan Aisyah. Dia tidak mau kehilangan wanita yang benar-benar membuat dia jatuh cinta.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, sudah waktunya Ica pulang mengajar.
"Tut...tut...tut." Reino melakukan panggilan kepada istrinya.
"Assalamualaikum Mas, ada apa?"
"Wa-waalaikum salam. Ca aku jemput ya, kamu tunggu aku."
"Mas, aku sudah jalan pulang, aku naik taksi online mas."
"Loh, kenapa tidak menelepon Mas?"
"Mas kan sibuk. Lagi pula kantor Mas jauh dengan sekolahan, aku tidak mau ganggu pekerjaan Mas."
"Lain kali kamu telpon aku dulu untuk memastikan aku bisa jemput atau tidak. Jangan pulang sendiri!"
"Iya Mas, maaf."
"Ya sudah langsung pulang ya, jangan mampir ke sana ke sini."
"Iya Mas. Aku sudahi dulu ya, aku sudah di dekat rumah. Assalamualaikum." Aisyah menutup teleponnya.
"I love you Ca. Jangan pernah pergi dariku, aku bisa hancur kalau kamu pergi!" ucapnya lirih.
Reino tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, perkataan Helen membuatnya takut. Pria itu benar benar takut Helen akan berbuah nekat, Reino yakin 100% wanita itu berbohong. Tapi masalahnya Helen pintar acting, Reino takut Aisyah dan keluarganya termakan acting yang dimainkan oleh Helen.
Lama Reino melamun hingga akhirnya pukul 6 sore dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Reino tiba di rumah pukul 7 kemudian. Seperti biasa Aisyah duduk di sofa menunggu suaminya pulang.
Reino masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa karena ingin segera bertemu dengan istri kesayangannya, dia bahagia melihat istrinya menunggunya di tempat biasa.
"Lama menungguku ya?" Reino mengecup kening istrinya membuat Aisyah tersipu malu.
"Mas kenapa menciumku di sini, nanti ada yang melihatnya."
"Biarkan saja. Ayo ke kamar."
Aisyah hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda dia setuju. Begitu sampai di kamar, Reino memeluk Aisyah begitu erat. Hembusan nafasnya terasa berat.
"Mas kenapa memelukku begini?"
"Kamu sudah hamil belum, Sayang?"
"Hah, hamil?"
"Iya hamil. Apa di dalam sini sudah ada anakku?" Reino mengendurkan pelukannya lalu meraba perut rata itu.
"Aku tidak tahu Mas, bukankah kita pertama kali melakukannya 3 Minggu yang lalu? memangnya bisa langsung hamil ya Mas?"
"Besok mas belikan testpack ya."
"Iya. Mas mandi dulu ya, aku siapkan air hangat."
"Mandiin ya." Reino memasang wajah manja seperti balita yang minta dimanja.
"Nanti akunya basah Mas."
"Ya sudah kita mandi bersama ya, mau kan?"
Aisyah menggelengkan kepalanya, dia meninggalkan Reino dan masuk ke kamar mandi untuk menyalakan kran air. Setelah air di bathtub penuh, dia kembali ke kamar menemui suaminya.
"Mas mandi dulu sana, airnya sudah siap."
"Mandikan ya, atau kita mandi berdua."
"Tapi aku sudah mandi, badanku wangi kok Mas."
"Ayolah Sayang. Ica sayang mau ya?" tangan Reino bergelayut manja di pundak istrinya, dia mendorong pelan tubuh Aisyah yang sedang dia peluk dari belakang itu hingga masuk ke kamar mandi.
Reino terlebih dahulu melepas pakaiannya, setelah itu melucuti pakaian yang dikenakan Aisyah. Menanggalkannya satu persatu tidak menyisakan apa pun.
Setelah itu dia menggiring Ica untuk masuk ke dalam bathtub dan mandi bersama. Keduanya sedang berada di dalam bathtub untuk berendam, Ica berada di depan sedangkan Reino di belakang memeluknya.
Sentuhan-sentuhan lembut yang dilakukan Reino membuat tubuh Aisyah meremang, di tambah kecupan di leher dan pundak Aisyah menciptakan gairah pada keduanya.
Reino memegang dagu istrinya dan memutarnya pelan hingga wajah Aisyah menoleh ke samping. Dengan lembut pria itu menyatukan bibirnya kemudian mulai melumatnya perlahan.
Lama kelamaan ciuman itu diliputi nafsu, Reino yang sudah tidak tahan menahan gairahnya. Menggendong Aisyah ke tempat tidur. Mereka pun melakukan penyatuan tubuh, setelah itu melanjutkan mandi yang tertunda karena kegiatan panas mereka.
Keduanya turun ke lantai bawah untuk makan malam, Bunda dan Angel yang berada di ruang makan melihat keduanya dengan rambut basah. Mereka sudah bisa memastikan kegiatan apa yang dilakukan pasutri ini sampai sampai keluar kamar dalam keadaan rambut yang sama sama basah.
"Sepertinya sebentar lagi Bunda akan mempunyai cucu deh."
"Bunda jangan menggoda istriku. Soalnya istriku ini pemalu sekali," ucap Reino sembari mencium jemari Aisyah."
"Mas..." Aisyah melepaskan tangan yang dipegang Reino, wanita itu malu kepada bunda dan Angel yang berada di sana.
"Wah, sebentar lagi aku akan mempunyai keponakan dong. Asik aku mau keponakan laki laki ya Mbak Ica, semoga saja wajahnya mirip Angel."
"Aku mau anakku perempuan, biar seperti mamanya Solehah."
"Aku sih apa saja Mas, yang penting sehat," jawab Aisyah.
"Yang penting kita rajin membuatnya Sayang, supaya cepat jadi."
"Uhuk...uhuk...uhuk." Aisyah batuk gara-gara mendengar celetukan suaminya.
Bunda dan Angel tertawa melihat kepolosan Ica, Bunda sangat bahagia karena akhirnya Reino bisa menentukan pilihannya dan lepas dari Helen. Dia merasa bersyukur kepada Tuhan karena mempunyai menantu yang luar biasa seperti Ica.