Bab 13. Melakukan Dengan Cinta

3114 Kata
Malam ini hujan turun dengan deras, awalnya Reino ingin mengajak Aisyah jalan jalan tapi karena hujan yang sangat deras mereka membatalkannya. Keduanya berbincang-bincang di kamar Ica yang serba pink itu. "Ca ada kamar lain tidak? aku geli, kamarmu semua serba pink. Aku seperti pria gemulai." "Ada kamar tamu, Mas tidur di sana saja ya? aku minta pelayan menyiapkan kamarnya." "Tapi denganmu? aku tidak mau sendirian. Apalagi hujan hujan begini." "Tidak mau. Aku mau di kamarku saja!" Aisyah berjalan menuju pintu kamarnya, dia akan meminta pelayan untuk merapihkan kamar tamu untuk Reino. Tapi baru 3 langkah Reino mencegahnya, pria itu dengan cepat memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. "Mau ke mana?" "Katanya mau tidur di kamar lain? aku mau menemui pelayan di bawah, meminta mereka merapihkan kamar tamu untuk mas." "Tidak jadi. Aku di sini saja bersamamu!" " Lepas Mas, aku mau ke bawah sebentar." Aisyah mencoba melepaskan lilitan tangan suaminya tapi Reino terlalu erat menautkan jari jarinya. "I miss you ...so much." Reino bukannya melepaskan tubuh istrinya justru semakin erat memeluknya. dia menciumi rambut bergelombang Aisyah, membuatnya sedikit menjauhkan kepalanya karena geli. Reino memutar tubuh istrinya, hingga mereka berhadapan. Pria itu mencium tulang selangka Aisyah yang terbuka, malam ini Aisyah memakai daster semacam baby doll berlengan pendek, ada kerutan di dadanya dan panjangnya di atas lutut. Biasanya Reino selalu melihat istrinya tidur menggunakan kaos panjang dan celana panjang atau piyama. Tapi saat di rumahnya istrinya berbeda, dia memakai baju tidur yang sedikit seksi, membuat Reino bernafsu melihatnya. "Kamu mau keluar kamar dengan menggunakan ini, nanti ada laki laki yang melihat bagaimana? aku tidak mau ada yang melihatmu selain aku." "Kalau malam hanya ada pelayan wanita Mas, Mang Diman dan anaknya sudah pulang ke rumah belakang. Dari dulu selalu begitu, saat malam Mang Diman tidak akan berkeliaran di rumah." "Jangan pergi!" Cup...suara bibir Reino mengecup leher Aisyah, membuatnya menghindar. Aisyah melihat gelagat mencurigakan pada suaminya. Reino yang melihat istrinya menghindar, mendekatinya lalu menggendongnya ala bridal wedding. "Mas, turunkan aku!" "Aku akan menurunkannya di sana." Reino menunjuk tempat tidur dengan gerakan wajahnya. "Tapi Mas, ini baru jam 8 malam." "Memangnya aku mau ngapain? geer deh kamu!" Wajah Aisyah memerah seperti tomat karena malu. Bisa bisanya dia berpikir bahwa suaminya menginginkan hal itu? padahal memang iya, Reino tidak kuasa melihat leher istrinya yang terbuka. Dibaringkannya tubuh istrinya di atas ranjang yang seprainya bermotif princess dan berwarna pink itu. Pria itu duduk di samping istrinya, tapi kedua tangannya mengungkung tubuhnya. Keduanya saling bertatapan, ada nafsu di mata Reino yang bisa di tangkap oleh mata Aisyah. Secara perlahan Reino mendekatkan wajahnya, pria itu bermaksud ingin mencium wanita yang sedang berbaring itu. Pertama tama Reino mengecup kening istrinya, lalu berpindah ke pipi kiri dan kanannya. Tangan kanan Reino masuk ke dalam sela daster dan meraba paha mulus Aisyah menciptakan sensasi meremang seluruh tubuh. Aisyah memejamkan mata, dan mengigit bibirnya saat menerima sentuhan tangan Reino. Setelah dirasa istrinya mulai terbuai, Reino mencium bibir kenyal itu, melumatnya dengan penuh nafsu, Aisyah berusaha sebisanya membalas ciuman suaminya. Mereka saling memangut, sementara tangan Reino menjalar naik ke atas perut Aisyah dan berhenti di dadanya.. Dengan perlahan Reino meremasnya, tidak ada gerakan kasar seperti waktu itu. Semuanya dilakukan dengan lembut. Pertarungan lidah pun di lakukan dengan sangat lembut tapi penuh nafsu. Tidak puas meremas dua benda istrinya yang masih berbalut bra, Reino menyusupkan tangannya ke sela sela bra yang Aisyah kenakan. Seketika, Aisyah bisa merasakan jemari tangan Reino yang langsung bersentuhan dengan kulit, pucuknya menegang seketika saat di sentuh. Reino melepaskan tautan bibir mereka, dia menciumi leher dan tulang selangka istrinya lalu memberi tanda kiss Mark di sana, sementara tangan kanannya tetap bermain di area favoritnya saat ini. Desahan meluncur pelan dari mulut Aisyah, dia tidak kuasa menerima sentuhan semacam ini, berbeda dengan Minggu lalu. Saat ini dia menikmatinya, Aisyah menyerahkan tubuhnya malam ini kepada suami tercintanya. Reino yang mendengar suara desahan istrinya semakin bernafsu. Entah sejak kapan Reino meloloskan daster yang dikenakan Aisyah hingga menyisakan pakaian dalamnya saja. pria itu melepas bra, dan menatap kedua benda milik istrinya yang terlihat menantang. Dengan cepat dia memasukannya ke dalam mulut lalu mengisapnya, membuat tubuh Aisyah terangkat ke atas karena sensasi geli bercampur nikmat. Reino menghisap, menjilat, dan meremas secara bergantian. Dia berhenti sejenak untuk melepas kaos dan celana yang dia pakai, terlihat inti tubuhnya yang sudah sangat siap, membuat Aisyah takut membayangkannya. Reino membuka penutup tubuh istrinya yang terakhir yaitu celana, membuka kedua kakinya lalu mencium bagian sensitif istrinya. Lagi lagi tubuh Aisyah terangkat ke udara karena tak kuasa menerima sensasi geli bercampur kenikmatan yang dilakukan Reino. Selama Reino bercinta dengan wanita wanita di luar sana termasuk Helen, pria itu tidak pernah melakukan hal ini. Reino hanya memasukkan inti tubuhnya saja. Hanya dengan Helen dia mau bercinta dan berciuman bibir, dengan wanita satu malam, dia menerima servis oral dari si wanita tanpa melakukan hal yang sama. Reino hanya memasukan inti tubuhnya, itu pun menggunakan pengaman. Dia merasa jijik bila harus berciuman atau menjilati area sensitif wanita. Bahkan sering kali Helen memintanya tapi Reino tidak pernah mau, dia hanya menggunakan jari untuk menyenangkan Helen. Hanya Aisyah, wanita pertama yang diperlakukan secara istimewa. Pria itu menjilat dan menghisap cairan yang keluar tanpa rasa jijik saat istrinya mengalami pelepasan. "Mas..." Aisyah mencengkram seprai saat pelepasan itu datang, Reino yang melihat istrinya sudah sangat siap berhenti menjilatinya, dia mengarahkan inti tubuhnya lalu berusaha memasukinya. "Mas, pakai selimut." "Kenapa?" "Supaya tidak di lihat mahluk halus. Pakai selimut saat melakukannya dan jangan lupa berdoa." Reino menutup tubuh mereka dengan selimut hingga sepinggangnya. "Doanya apa? aku sudah tidak tahan lagi ini." "Baca Bismillahirrahmanirrahim saja Mas, supaya tidak ada campur tangan syetan di dalamnya. Reino mengikuti saran istrinya, sungguh ini pertama kalinya Reino melakukan hal ini. Sebelum sebelumnya dia main hajar saja dan tidak pernah memakai selimut. "Ya Allah jauhkan kami dari campur tangan mahluk lain, dan jadikanlah anak yang Sholeh dan Soleha seandainya benih ini jadi," ucap Aisyah dalam hati. Selesai berdoa, Reino mulai menekan inti tubuhnya perlahan. Milik istrinya terasa sangat sempit, membuat inti tubuhnya merasakan nikmat luar biasa. Pelan pelan inti tubuh Reino tenggelam hingga menyentuh mulut rahim istrinya. Saat di rasa inti tubuhnya sudah tenggelam sempurna, dia mulai bergerak. Gerakan maju mundur yang khas mulai dilakukan Reino. Aisyah pun tak berhenti mendesah, desahan yang terdengar seksi membuat Reino semakin kuat memompa tubuhnya. Pria itu merasa semua yang ada di tubuh istrinya terasa nikmat. Mungkin karena dia melakukan dengan pasangan halal, sehingga Reino melakukannya dengan nyaman tanpa rasa takut. Kenikmatan yang tidak dia dapat dari wanita wanita sebelum istrinya, termasuk Helen. Hal ini baru dirasakan saat berhubungan dengan Aisyah. "Ica, kamu memang luar biasa, apa yang kamu katakan memang benar. Melakukan dengan pasangan halal 1000x lebih nikmat. Ini luar biasa nikmat Ca," batin Reino. Reino terus memompa tubuhnya hingga akhirnya dia mendapat pelepasan. Reino memeluk tubuh Aisyah dan meremas kedua pundak istrinya, lalu bibirnya mengecup bibir istrinya yang terlihat sudah sangat kelelahan. Permainan panas namun lembut itu pun berakhir. Reino mencabut miliknya dan menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut berwarna pink. Dipandanginya wajah Aisyah yang masih mengatur nafasnya. "Lelah ya?" Aisyah hanya mengangguk karena napasnya masih tersengal. "Tidur ya, dan terima kasih banyak Sayang." Reino mengecup kening istrinya. Dia memunguti pakaian Aisyah yang dia buang sembarangan di lantai, lalu memakaikannya kembali. Tak lupa Reino menyelimuti tubuh istrinya agar tidurnya nyaman. Tak lama setelahnya mata Aisyah terpejam, tandanya wanita itu sudah tertidur pulas. Di pandangi wajah itu berlama-lama. Betapa beruntungnya dia mendapat wanita seperti istrinya. Aisyah ibarat paket komplit, cantik, pintar, lemah lembut dan jago memasak. Reino tidak menyangka bahwa Tuhan begitu baik padanya dengan memberikan wanita seperti Aisyah, padahal selama ini Reino rajin melakukan dosa tapi Tuhan justru memberinya hadiah istimewa berupa istrinya. "I love you Ica ... i love you so much," ucapnya dalam hati. Pria itu ikut tertidur di samping istrinya, rencananya tengah malam dia akan meminta jatah kembali. Tapi bagaimana caranya? dia masih mencari ide supaya istrinya mau. Mereka berdua tertidur pulas, Reino memeluk erat istrinya yang tertidur sangat pulas. Beberapa kali Reino mencium dan menyentuh inti tubuh istrinya dengan jari tapi Ica tidak bereaksi. Wanita itu seperti mati saking pulas dia tertidur. Hujan belum juga reda justru semakin deras, semakin malam banyak kilat menyambar. Ica terbangun karena mendengar suara petir menyambar, dia ketakutan. Ternyata Aisyah takut akan petir., sedari kecil wanita itu akan menangis histeris bila mendengar suara petir menyambar. Duarrr ... petir kembali menyambar. Seketika Aisyah berteriak dan menangis. "Ibu Ica takut, hiks ... hiks. Ayah Ica takut ayah. Hiks ... hiks ... hiks." Ica membenamkan kepalanya di dalam selimut. Dia tidak henti-hentinya menangis hingga akhirnya Reino terbangun karena mendengar suara tangisan. Reino membuka matanya, dia melihat istrinya yang berada di bawah selimut dengan suara tangisan dari dalamnya. "Sayang, kamu kenapa?" Reino berusaha membuka selimut yang tertutup rapat. Aisyah memegang erat selimutnya agar tidak lepas, membuat Reino kesusahan membukanya. "Sayang, kamu kenapa? buka selimutnya. Kenapa kamu menangis histeris begini." Duarrr...petir kembali menyambar dan seketika itu juga Aisyah berteriak ketakutan. "Huaaaa ... Ibu aku takut. Aku takut Bu. Tolongin Ica Bu, Ica benar benar takut." Reino di buat panik pada tengah malam. Tubuhnya polos, pria itu belum memakai bajunya kembali setelah bercinta. "Sayang, buka Sayang. Ini aku suamimu!" Aisyah tidak mau membuka selimutnya, wanita itu hanya menangis histeris. Tak hilang akal, Reino menyusup dari bawah kaki istrinya, pria itu masuk ke dalam selimut kemudian memeluknya. "Tenang ya Sayang, ada aku." Tubuh Aisyah gemetaran karena takut, Reino mengelus punggung istrinya dan menciumi keningnya berkali-kali. "Aku takut Mas! aku takut petir!" "Ssstttt ... ada mas di sini Sayang. Kamu tidak perlu takut lagi." Aisyah membenamkan wajahnya di d**a suaminya, dia merasa lebih tenang. Sejam kemudian hujan berhenti tepat pada pukul 2 dini hari. Reino membuka selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Akhirnya Reino bisa menghirup udara, setelah sejam merasa pengap di dalam selimut. "Kamu takut petir ya, Ca?" Aisyah menjawab dengan anggukan. "Jangan takut lagi ya, aku akan selalu melindungimu." "Iya Mas..." "Aku ambilkan minum ya?" "Jangan pergi, Mas!" Aisyah memeluk erat suaminya. "Aku mengambil air minum yang ada di meja itu." Reino menunjuk meja belajar istrinya. Aisyah melepaskan pelukannya, dan mengizinkan suaminya untuk bangkit dari sisinya. Reino mengambil air putih tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Reino memberikan segelas air putih untuk Aisyah, wanita itu meneguknya. Setelah habis, dia melihat penampakan suaminya, Reino duduk di sisi Aisyah. Mata wanita itu tertuju ke arah milik suaminya. "Liatin apa?" tanya Reino. "Mas, kamu tidak pakai baju?" "Lupa Ca ... aku langsung tertidur sehabis bercinta denganmu." "I-itu, Mas ...?" "Punyaku kenapa?" Reino melihat miliknya, lalu kembali memandangi Aisyah untuk mencari jawaban. "I-itu Mas besar dan panjang. Menyeramkan!" "Pppttt ... " Reino terkekeh mendengar istrinya mengatakan itu. Ekspresinya terlihat polos dan lucu. "Kamu, mau lagi?" "Tidak Mas, cukup. Ini saja masih terasa perih!" Aisyah menutup tubuhnya dengan selimut hingga lehernya, membuat Reino semakin gemas untuk menggodanya. "Yakin tidak mau? rugi loh!" Dalam hitungan detik inti tubuhnya menegang, dia bergerak gerak menggoda istrinya. Aisyah semakin melilitkan selimut di lehernya, membuat tubuhnya terbungkus seperti lemper. Reino menarik ujung selimut sementara Aisyah mempertahankannya. Keduanya saling tarik menarik selimut. Reino tidak hilang akal, dia menggelitik telapak kaki Aisyah sampai wanita itu kehilangan fokusnya. Tubuh Aisyah meliuk-liuk karena geli. Di saat istrinya lengah, Reino berhasil membuka selimut yang membungkus tubuh istrinya dan membuangnya agak jauh dari tempat mereka. "Mas ...perjanjiannya hanya sekali saja!" "Iya tapi nanti saat kita kembali ke rumah bukan? nah sekarang belum termasuk ke dalam perjanjian." Dengan cepat dia meloloskan daster yang dikenakan Aisyah dan membuangnya begitu saja di lantai. Tanpa izin, Reino langsung membuka kedua kaki istrinya lalu merabanya dengan jari untuk membuatnya basah. Saat dirasa sudah basah Reino menarik jarinya dan menjilati lendir yang menempel di jari telunjuknya tersebut. Pria itu mulai memposisikan tubuhnya di atas tubuh istrinya, sebelum memulai dia mencium inti tubuh Aisyah lalu mengecup bibir istrinya singkat. "Mas, pakai selimut." "Pakai selimut lagi?" Aisyah mengangguk. "Jangan lupa doa juga." Reino mengambil selimut yang tadi dia buang kemudian menutupi tubuh bagian bawah mereka. Tak lupa dia juga berdoa sesuai perintah istrinya. Akhirnya Reino berhasil menyatukan tubuh mereka untuk kedua kalinya. Rasanya tidak pernah puas bagi seorang Reino untuk menikmati tubuh istrinya setiap hari. Tubuh Aisyah menjadi candu untuknya, dia mendapatkan kepuasan yang sesungguhnya setelah sekian lama mencari pada wanita wanita yang dia tiduri. Keduanya berhenti pada pukul 3 pagi, Aisyah menarik nafasnya dengan berat karena kelelahan. "Rapatkan kakimu Ca, supaya benihku tidak tercecer." "Iya, Mas." "Semoga saja benihku jadi. Ya sudah kamu tidur ya, tubuhmu lelah kan?" "Salah siapa?" "Iya salahku. Ya sudah sekarang tidur ya." "Hem ..." *** Keesokan paginya Reino Bagun siang, Aisyah sudah berusaha membangunkannya untuk sholat subuh tapi Reino tidak mau membuka matanya. Alhasil Aisyah membiarkan suaminya tertidur sampai siang. Reino terbangun pada pukul 10 pagi, dia melihat ke samping kiri dan kanannya tidak ada Aisyah di sana. Reino memanggil istrinya berulang ulang tapi tidak mendapat sahutan. Reino akhirnya memutuskan untuk mandi dan berpakaian, setelah itu dia turun ke lantai bawah untuk mencari istrinya. Reino justru bertemu Bi Beti di bawah, "Bi, istriku mana?" "Oh si Eneng teh lagi kedatangan tamu den, tuh di sana." Beti menunjuk ke arah taman belakang rumah majikannya. "Siapa Bi?" "Temen si Eneng dari SMP, Den Irwan." "Apa!" Reino bergegas menemui istrinya, dia melihat keduanya sedang berbincang. Walaupun jarak mereka sekitar setengah meter tapi tetap saja mereka sedang berduaan. Aisyah dan Irwan tidak mengetahui kalau Reino menghampiri mereka karena posisi mereka yang membelakangi Reino. Dengan penuh amarah Reino menerjang tubuh Irwan dari belakang hingga pria itu tersungkur ke depan dengan posisi tengkurap. "Mas, kenapa?" "Ngapain dia ke sini. Aku sudah pernah memperingatkan anda ya Pak Irwan, jangan pernah dekati istri saya!" Irwan kembali berdiri, baju bagian depan dan wajahnya kotor terkena lumpur sisa hujan semalam. "Dia sahabat saya. Saya mengenal dia jauh sebelum anda!" teriak Irwan. "Tapi sekarang dia istri saya!" "Istri sementara Anda, Pak Reino!" Mau sementara atau selamanya dia tetap Istri saya. Jangan pernah dekati dia lagi selain urusan sekolah!" "Mas sudah mas, ayo masuk ke dalam." Aisyah memegang lengan Reino yang sedang mengepalkan tangannya. Reino menoleh ke arah istrinya, tatapannya tajam membuat bulu kuduk Aisyah merinding. Di luar dugaan Reino menurut, dia merangkul pinggang Aisyah dan membawanya masuk ke dalam. Menyisakan Irwan di taman belakang dengan wajah dan baju depan yang kotor terkena lumpur. Sesampainya di dalam, Reino duduk di sofa sedangkan Aisyah membuatkan kopi. Nafasnya masih memburu karena amarah. Setelah selesai membuat kopi, Aisyah membawa nampan yang berisi secangkir kopi dan kue serabi. Aisyah meletakkan nampan itu di meja, kemudian dia mendekati suaminya perlahan, dan mengelus rambutnya. "Mas kamu kenapa, marah sama Irwan karena apa? kami tidak melakukan apa pun, Mas." "Tapi dia mencintaimu!" Reino mendongak, menatap wajah Aisyah yang berdiri di sampingnya. "Mas, hubungan itu akan terjadi bila kedua belah pihak menghendaki. Dan aku tidak menghendakinya Mas, karena hatiku hanya untuk suamiku." "Aku tahu aku bukan pria baik, tapi aku bisa berubah. Aku janji akan memperlakukan kamu seperti ratu di istanaku." "Mas sudah ya, jangan marah marah lagi. Ayo diminum dulu kopinya nanti keburu dingin." "Ca..." "Iya Mas." "Cium aku!" "Di sini, mas?" "Iya." "Nanti dilihat orang Mas, nanti saja saat di kamar ya." "Kalau gitu kita ke kamar sekarang!" " Tapikan, Mas belum sarapan." "Aku tidak berselera!" Reino berdiri, secara tiba tiba dia membopong Aisyah dan membawanya ke kamar. Aisyah yang merasa tidak siap, meronta minta diturunkan tapi Reino tidak menghiraukannya. Reino menapaki anak tangga satu persatu, Aisyah hanya bisa pasrah,dia mengalungkan tangannya di leher suaminya. Sesampainya di kamar Reino membuka pintu dengan tangannya lalu menutupnya dengan kaki. Reino membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur, dia mengelus pipi mulus Aisyah dengan tatapan lembut dan takut. Dia takut istrinya berpaling darinya, dia takut Aisyah lebih memilih Irwan ketimbang dirinya. Pria itu ingin sekali mengucapakan kata Cinta, tapi sulit sekali terucap dari bibirnya. Dalam hati dia mengatakan "Aku cinta kamu Ca, sangat cinta." Tapi bibirnya tidak bisa berucap. "Mas, kita mau ngapain?" Reino menatap wajah istrinya, dengan perlahan dia menggerakkan tubuhnya untuk lebih dekat. Reino mencium bibir Aisyah, melumatnya lembut. Reino berhenti sebentar lalu membuka hijab instan yang dikenakan istrinya. "Ca, kamu hanya mencintaiku kan?" "Iya Mas." "Semua yang ada pada dirimu milikku kan? hati dan tubuhmu semuanya milikku?" "Iya Mas." "Jangan pernah batasi aku menyentuhmu, karena kamu milikku!" "Mas, kamu kenapa? cemburu pada Irwan?" Reino mengangguk, dia seperti anak kecil yang takut permennya di ambil. "Terus, kita mau ngapain ini di kamar? aku mau memasak makan siang dulu ya di dapur." Aisyah baru aja hendak beranjak, tapi tangan Reino menahan kedua pundaknya, dia tidak mau istrinya pergi dari tempat itu. "Mas, kamu mau apa? ayolah katakan biar cepat. Aku harus memasak makan siang." Reino hanya diam menatap istrinya, dia hanya mengelus paha Aisyah yang masih berbalut rok pliskat berwarna hitam. "Mas, mau itu lagi?" "Kalau diizinkan ya mau." "Tapi Mas belum sarapan loh, ini sudah jam 10.00. Dan aku juga harus memasak makan siang." "Sebentar saja." "Janji hanya sebentar ya? awas bohong!" "Janji." "Pakai selimut ya, Mas!" "Sipp." Reino membuka rok beserta celana Aisyah, menyisakan kaos yang istrinya kenakan. Dengan cepat dia melakukan penyatuan tubuh tanpa pemanasan, dia hanya menggesekkan inti tubuhnya pada inti tubuh Aisyah, sampai basah supaya tidak melukainya. tidak lupa dia berdoa dan menutup tubuh keduanya dengan selimut. Aisyah kembali mendesah seperti semalam saat Reino menggerakkan tubuhnya. Reino cemburu pada Irwan, entah kenapa setiap cemburu dia ingin menyetubuhi istrinya. Dia ingin membuktikan bahwa Aisyah hanya miliknya. Usai melakukannya, Aisyah membersihkan dirinya di kamar mandi kemudian turun kembali ke lantai bawah, Reino pun melakukan hal yang sama. Sehabis mandi pria itu menyusul istrinya, dia memakan sarapannya dan meminum kopi yang sudah di buat istrinya. Mereka benar benar melupakan Irwan yang pulang dalam keadaan kotor. Ica kepikiran Irwan saat sedang memasak di dapur, tapi dia tidak bisa menghubungi sahabatnya itu karena ada Reino. Dia tidak mau suaminya marah karena dia menelpon Irwan. "Maafkan suamiku ya, Wan. Aku harap kamu bisa mengerti," gumam Aisyah. "Sayang, kamu sedang melamun kan apa? tanya Reino. "Tidak Mas, sehabis makan siang kita ziarah ke makam orang tuaku ya Mas." "Iya, aku juga ingin berkenalan dengan Ayah dan Ibu mertuaku. Aku ingin meminta restu keduanya." "Mas, apa Mas yakin akan membina rumah tangga denganku? tidak akan menyesali keputusan mas dan kembali kepada Helen?" "Aku tidak akan menyesalinya, Sayang." "Tapi apa alasannya, kenapa Mas memilihku?" "Karena ... karena kamu?" "Aku apa Mas?" "Karena kamu jelek! Sudahlah jangan membahas itu lagi. Yang penting aku tidak akan menduakanmu sampai kapan pun." "Ya ampun Mas, aku berharap semua karena kamu mencintai aku. Ternyata hanya karena aku jelek," ucap Aisyah dalam hatinya. Aisyah menganggap serius ucapan Reino, dia benar-benar menganggap suaminya memilihnya karena dia jelek. Aisyah tidak pernah berbohong kepada orang lain, jadi saat orang berkata kepadanya dia anggap orang itu pun tidak berbohong sama seperti dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN