Bab 12. Menentukan Pilihan

3572 Kata
POV Reino. Aku kembali ke rumah, menemui bunda di kamarnya. Tatapan bunda membuatku takut tapi tetap ku beranikan diri untuk meminta alamat rumah Ica. "Bun, tolonglah aku harus bertemu dengannya. Reino harus bicara dengan Ica Bun!" "Dia belum mau kamu temui Reino, dia ingin kamu memikirkan kembali pernikahan kalian. Mungkin salah Bunda juga, Bunda yang memaksamu untuk menikahinya." "Bun, aku ingin bertemu dengannya Bun. Tolonglah!" "Maaf Reino. Bunda tidak bisa memberitahu! kamu selesaikan dulu urusanmu dengan Helen, setelah itu baru temui dia." "Terserah lah Bun, Reino lelah! kalau Ica tidak mau kembali itu terserah dia. Lagi pula Bunda benar aku harusnya bersama Helen, sekarang aku tahu harus memantapkan hatiku pada siapa." Aku pergi meninggalkan bunda, aku kembali melajukan mobilku menuju apartemen. Aku juga meminta Helen untuk datang menemui ku di apartemen tempat biasa kami menghabiskan waktu bersama. Akan aku buktikan bahwa cintaku bukan untuk wanita berhijab itu. Akan aku buktikan bahwa aku tidak mencintainya seperti yang sering Helen katakan selama ini. Sepertinya aku sudah membuat pilihan. Aku tetap bersama Helen, aku tetap dengan kehidupanku sebelum dia datang. Aku tiba di lobi apartemen dan bertemu dengan Helen di sana. Kami pergi memasuki lift dengan berangkulan, di dalam lift Helen mencium bibirku, aku berusaha membalasnya walaupun rasanya tidak sama seperti dulu. Tautan bibir kami terlepas begitu pintu lift terbuka dan kami berdua keluar bersamaan. Aku bisa melihat pintu apartemen yang selama 2 bulan aku tempati bersama Ica. Helen menekan password untuk membuka pintunya. Saat pintu terbuka aku melihatnya duduk di sofa, dia tersenyum padaku. "Mas, sudah pulang?" Aku tercengang, aku bahagia melihatnya. Sungguh aku bahagia. "Iya aku pulang Sayang," jawabku. Helen yang berada di sampingku bingung? lalu segera menyadarkanku. "Beib. Kamu kenapa? kok bicara sendiri!" "Ah tidak, aku hanya teringat sesuatu." "Yakin?" "Iya. Ayolah kita ke kamar, aku sudah tidak tahan lagi." Aku membopong tubuh Helen sembari menciumnya, Helen membuka kemeja yang aku kenakan, sedangkan bibirnya tak berhenti Melumat bibirku. Sesampainya di kamar, aku merebahkan tubuh itu secara perlahan. Tubuh kami saling menempel ketat, ku remas dadanya tanpa melepaskan tautan bibir kami. Puas meremasnya, aku membuka dress yang di kenakan Helen, hingga menyisakan bra berwarna putih. ku kecup dadanya yang masih berbalut bra itu, tapi entah mengapa aku membayangkan dia, aku membayangkan sedang menyentuh istriku. Aku teringat percintaan kami minggu lalu, saat itu aku melakukannya karena terbakar api cemburu. Kupandangi lagi wajah yang ada di bawah tubuhku saat ini. Aku benar benar melihat wajah Ica yang berada di bawahku. Helen membuka celana yang kupakai, dia terkejut karena melihat inti tubuhku yang tidak menegang seperti biasanya. Helen memegang bahuku dan merebahkan tubuhku, kini posisi kami bertukar tempat. Dia berada di atasku menciumi d**a bidangku, pusar hingga inti tubuhku. Dia memasukannya ke dalam mulut dan memainkannya, aku kembali melihatnya, aku melihatnya sedang tidur di sofa. Dia menangis, aku melihat Ica tidur dengan berurai air mata seperti awal awal kami menikah. Pikiranku kacau, aku tidak bisa berkonsentrasi. Inti tubuhku pun tidak bereaksi walaupun Helen sudah melakukan berbagai cara melalui mulut dan tangannya. Di mataku ada wajahnya, di telingaku ada suaranya, dan di Hatiku ada namanya. Semua ini membuatku pusing, kepalaku terasa akan meledak karena di penuhi olehnya. Aku berusaha berkonsentrasi tapi tetap saja tidak bisa. Aku justru membayangkan diriku sedang mencumbu istriku di sofa itu. Kupejamkan mataku lalu membukanya, bayangan itu hilang tapi berganti suara. Dia memanggilku. "Mas...Air mandinya sudah siap." Aku melihatnya di depan kamar mandi, dia memanggilku. Rambutnya yang panjang bergelombang berwarna coklat itu tampak basah, membuatnya terlihat cantik. Spontan kusingkirkan tubuh Helen hingga wanita itu jatuh ke lantai dengan posisi tengkurap. "Aww ... Reino apa apaan kamu! apa yang kamu lakukan?" "Maaf Helen, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan ini." Aku ke kamar mandi mengguyur tubuhku dengan air dingin. Aku benar benar gila, isi kepalaku hanya Ica saja. "Tok ... tok ... tok. Reino buka pintunya. Beib, ada apa dengan kamu?" Aku tidak menghiraukan gedoran pintu dan teriakan Helen yang menggema di kamar itu. Kusandarkan tubuhku ke dinding kamar mandi, belum pernah aku seperti ini. "Aku mencintaimu Ica, aku mencintaimu. Aku mencintai wanita berbaju kebesaran itu. Aku mencintai wanita dengan penutup kepalanya yang lebar itu. Aku mencintaimu Aisyah Mujahidah. Aku menyerah, aku akui aku mencintaimu." Seminggu tidak bertemu dengannya membuatku hampir gila. Bagaimana bisa? bagaimana bisa aku mencintainya padahal aku mempunyai kekasih yang kupacari selama 3 tahun. Setelah puas merenung di kamar mandi aku keluar dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahku. Kulihat Helen masih berada di sana. Tubuhnya di tutupi selimut tebal . "Beib kamu kenapa, kamu bosan denganku?" Aku memakai kembali pakaian dan celanaku kemudian mengajaknya bicara dari hati ke hati, walaupun aku tahu dia tidak akan semudah itu mau menerima apa yang akan aku katakan. "Helen tolong pakai kembali pakaianmu, aku ingin bicara serius denganmu." "Apa kamu mau mengatakan kalau kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" "Helen percayalah ini tidak mudah untukku. Aku sudah berusaha mempertahankan mu, tapi sekuat apa pun aku mencoba hatiku menolaknya." "Apa maksudmu Reino?" "Maaf Helen, aku jatuh cinta kepada istriku." "A-apa, kamu mencintainya?" "Percayalah ini pengakuan yang sulit Helen, tapi aku harus jujur kalau aku jatuh cinta padanya. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa seperti ini, aku sudah mencobanya untuk menepis perasaanku tapi tetap saja hatiku tidak bisa berdusta. Aku menginginkannya!" "Tidak ...! ini tidak mungkin Reino. Kamu hanya mencintaiku saja! hanya aku." "Maaf Helen, aku benar benar minta maaf. Kita tidak bisa bersama lagi! Maaf ya." "Tidak mau. Aku cinta kamu Reino. Aku mohon jangan tinggalkan aku." "Maaf Helen aku tidak bisa!" "Aku benci kamu! aku benar benar membencimu." "Aku hanya bisa mengatakan maaf dan selamat tinggal." "Tidak, Reino jangan tinggalkan aku please. Aku rela jadi yang kedua asalkan denganmu." "Maaf Helen. Aku harus pergi! kalau kamu masih mau di sini tidak apa apa, tenangkan lah dirimu. Aku pamit ya, sekali lagi aku minta maaf." Aku pergi meninggalkannya, dia berteriak memanggil namaku tapi tak ku hiraukan. Keputusanku sudah final. Ica lah pemenangnya, dia memenangkan hatiku. Aku pulang ke rumah, kutemui bunda dan bicara dari hati ke hati. Akhirnya bunda mau mengerti dan memahami apa yang ku utarakan. Bunda juga memberiku alamat Ica, rencananya besok pagi aku akan menemuinya. Aku akan bertemu kembali dengan Istriku dan membawanya pulang. POV Reino end. *** POV Author Malam ini Aisyah berada di taman, matanya memandang bintang bintang yang ada di langit luas. Hatinya merindukan Reino, tapi dia sudah bertekad untuk mengikhlaskan suaminya memilih kekasihnya. Air matanya kembali tumpah. Dia berharap yang terbaik untuk kedua belah pihak, yaitu untuknya dan juga suaminya. Setiap hari selalu melihat wajah yang sama, tidur di sebelah orang yang sama naif bila Aisyah bilang tidak mencintai suaminya. Tapi masalahnya mengapa suaminya tidak bisa merasakan hal yang sama? mengingat hal itu dadanya menjadi sesak. "Mas Reino," ucapnya lirih. Aisyah menghidupkan ponselnya, selama 4 hari dia mematikan ponsel itu. Ada banyak pesan masuk dan salah satunya dari Reino. Ada sekitar 25 pesan masuk dari Reino, tapi Aisyah enggan membacanya. "Mas, kamu itu duniaku. Cintaku kepadamu tulus tanpa syarat apa pun Mas, semua kata yang terucap dari mulutku tidak ada dusta. Mas sering sekali mengatakan bahwa mas tidak mencintaiku, tapi taukah kamu mas, kamulah alasanku untuk membuka mataku setiap pagi." Setelah mengatakan hal itu Aisyah kembali ke dalam, dia melangkahkan kakinya. Menapaki anak tangga satu persatu hingga akhirnya sampai di kamarnya. Aisyah berusaha memejamkan matanya, berharap dalam mimpi bisa berjumpa dengan suaminya yang dia cintai. Sebenarnya Aisyah menyesali perbuatannya, mengapa dia harus pergi saat bertemu dengan Reino dan Helen di mall waktu itu. Bukankah dia pernah meminta suaminya untuk menikahi Helen untuk menghindari zina? tapi mengapa saat melihatnya waktu itu hatinya terasa sakit. Sungguh dia tidak rela Helen bersentuhan dengan suaminya. Keesokan paginya, Reino tengah bersiap siap untuk pergi ke Bandung. Pria itu bercukur, dia benar benar mempersiapkan penampilannya untuk bertemu dengan Aisyah. Pada pukul 9 pagi dia pamit dari rumah, di perjalanan Reino membeli seikat bunga untuk kesayangannya itu. Jantungnya berdetak tidak karuan, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya saat mereka bertemu? Reino hanya ingin memeluk dan menciumnya saat mereka berjumpa nanti. Selama di perjalanan, Reino memutar lagu untuk mengusir rasa lelah mengendara. Dia mengemudi dengan kecepatan tinggi di jalan tol yang bebas hambatan itu. Reino tiba di Bandung pada pukul 12 siang. Dia mencari alamat yang di berikan Bunda dan menemukannya. Rumah itu berwarna putih dengan bangunan 2 lantai. Reino berada di depan rumah mewah itu, dia tidak menyangka bahwa istrinya bukan orang biasa biasa saja. Jujur, saat awal mula tahu akan dijodohkan dengan Aisyah, dia berpikir bahwa Aisyah gadis kampung yang miskin. Reino bahkan sangat terkejut saat mengetahui Aisyah lulusan universitas Al-Azhar Kairo dan dia bisa menyetir. Dan sekarang dia berada di depan rumah orang tua Aisyah yang terlihat mewah. Reino sungguh takjub dengan istrinya yang sederhana, dan mau melayaninya. Reino keluar dari mobilnya, dia mengetuk pintu rumah yang tak berpagar itu. "Tok ... tok... tok. Assalamualaikum." "Waalaikum salam." Terdengar suara kunci di buka dari dalam, Pintu itu terbuka. Ada seorang wanita paruh baya berdiri di depan Reino saat ini. "Cari siapa Pak?" tanya wanita paruh baya itu. "Eh asa kenal, tapi ningali di mana?" ucapnya saat melihat wajah Reino. "Ica ada Bi?" jawab Reino. "Ada, ari Bapak iye saha? " "Maaf maksudnya apa?" "Oh iya. Maksud saya Bapak ini siapa ya? teman si Neng ya?" "Saya bukan teman si Neng, saya suaminya Aisyah." "Eleh eleh jadi Bapak teh suami si Neng? naha nuju datang ayena" "Maaf saya bukan suami si Neng, tapi suaminya Ica Bi. Ica ada tidak, apa saya salah rumah ya, ini rumah si Neng atau rumahnya Aisyah Mujahidah?" "Buahahahaha. Maaf Den, ayo silahkan masuk, si Neng lagi di halaman belakang tuh baru selesai memanah." "Tidak mau, saya tidak mencari si Neng. Saya mencari istri saya Ica. Kalau begitu saya permisi, mungkin saya salah rumah." "Loh Den, mau ke mana? ini teh rumahnya Neng Ica istrinya Aden." "Tapi nama istri saya Aisyah Mujahidah, bukan Neng!" "Aduh maafkan Bibi ya, kalau di sini non Ica dipanggilnya Neng. itu panggilan untuk anak perempuan." "Oh begitu. Jadi ini benar rumah istri saya kan?" "Iya Den, ayo masuk. Si Nengnya baru selesai memanah di halaman belakang. Ayo Bibi antar." "Waduh memanah! Kalau begitu saya tunggu di kamarnya saja ya, Bibi panggilkan saja dia. Katakan suaminya menunggu di kamar. Oh iya di mana kamarnya?" "Mangga saya antar Aden ke kamarnya si Neng." "Saya tidak bawa mangga Bi?" "Bukan, maksudnya mari saya antar kan." "Oh...???" Reino mengikuti wanita itu menuju kamar istrinya, wanita paruh baya itu meninggalkan Reino setibanya di depan kamar Ica. Dia masuk ke dalam kamar itu, kamar itu girly sekali. Semua berwarna pink baby, mulai dari sprei, gorden, cat dan wallpaper semua serba pink. Ada satu yang menarik perhatiannya, foto dirinya yang di pajang di atas meja belajar. Entah foto kapan dia juga tidak mengingatnya tapi mengapa foto ini ada di kamar istrinya? pria itu mendekat dan memegang foto tersebut. Senyum mengembang menghiasi wajahnya. Bi Beti berlari ke halaman belakang untuk menemui Aisyah, dia sangat senang melihat suami majikannya itu. Dari jauh dia memanggil manggil Ica yang sedang merapihkan alat panahnya. " Neng di rohangan aya Salakina ngantosan si Neng." "Saha Bi?" Salaki Neng. Pak Reino, meni kasep pisan Neng." "Ah si Bibi mah resep ngabanyol, anjeunna aya di dieu?" "Hayu atuh ningali hela." Bi Beti menarik lengan Aisyah dan membawanya ke dalam rumah, Aisyah mengikuti langkah asisten rumah tangga itu dengan langkah yang terburu-buru. Jantungnya berdetak kencang, apa benar Reino menemuinya? atau justru pembantunya ini hanya bercanda saja. Sesampainya di depan kamar, Bi Beti membuka pintu kamar Ica lebar lebar. Saat pintu di buka Ica melihat penampakan pria bertubuh tinggi besar itu ada di sana sedang berdiri di depan jendela. Reino menoleh ke belakang saat mendengar pintu kamar di buka, dia melihat wanita yang selama seminggu ini dia rindukan. Keduanya terdiam untuk beberapa detik, setelah itu Reino berjalan cepat menghampiri Ica dan memeluknya. Aisyah yang merasa tidak siap hanya diam saat suaminya memeluknya. Ica takut ini hanya mimpinya semata. Reino memeluk tubuh itu dengan erat, dia menghirup aroma parfum Ica yang sangat dia rindukan. Bi Beti meninggalkan majikannya, wanita itu bahagia melihat suami majikannya terlihat menyayangi Ica. Reino mengusap punggung istrinya seraya berkata "Kenapa tidak pernah membalas pesanku Sayang? aku merindukanmu Ca, aku sangat merindukanmu." Aisyah menggerakkan tangannya yang semula hanya diam, kini tangan itu melingkar di punggung bawah Reino dan mengelusnya. Reino memegang kedua bahu Aisyah, wajah mereka saling bertatapan sementara tangan Aisyah masih melingkar erat di pinggang suaminya. "Kamu kenapa pergi sih? tahu tidak aku hampir gila mencarimu." Aisyah hanya diam menatap wajah Reino yang sedang berbicara begitu dekat dengannya, bahkan dia memeluknya seperti ini. "Kenapa diam?" Air matanya menetes tanpa bisa di cegah, Ica mengigit bibir bawahnya untuk mengusir rasa gugup karena Reino menatapnya saat ini. Reino terlebih dulu menyeka air mata istrinya kemudian menyatukan bibirnya. Dia melumat bibir istrinya, membuka bibir itu dengan lidahnya. Aisyah hanya diam, dia tidak tahu harus melakukan apa. Aisyah hanya mencengkram kaos yang dikenakan Reino. Pria itu masih melumat bibir istrinya, digigitnya pelan bibir bawah Ica agar terbuka, dia memangut bibir itu hingga menciptakan bunyi kecapan antar bibir. Aisyah menutup matanya, dia hanya diam tanpa membalas karena memang dia tidak tahu. Ica tidak punya pengalaman berciuman selain dengan Reino. Bibir pria itu masih terus melumat bibir Aisyah dengan lembut bahkan sangatlah lembut ada kerinduan dan cinta di setiap lumatannya seolah olah dia berkata dengan isyarat bibirnya. Setelah puas Reino melepasnya perlahan hingga tercipta benang saliva yang menghubungkan keduanya. Aisyah kembali mengigit bibir bawahnya, wanita itu melepaskan lilitan tangannya dari pinggang suaminya dan menjauhi Reino. "Mas, ngapain ke sini?" "Untuk menjemputmu. Apa lagi." Reino berbicara dengan nada cuek padahal di perjalanan dia sudah merangkai kata cinta untuk Aisyah tapi saat berhadapan semuanya hilang. "Tapi, tapi aku tidak mau pulang!" "Bukankah kamu tahu pergi tanpa izin suami itu dosa. Dan katamu sebagai istri itu wajib mematuhi suamimu. Lalu ini apa? kamu pergi tanpa izinku, kamu juga tidak mematuhi saat aku memintamu pulang." "Ya tapi kan, Mas juga tidak mencintaiku, lalu untuk apa aku hidup bersama Mas." "Sudahlah Ca, jangan kebanyakan nonton sinetron. Kamu pulang denganku kita buatkan Bundaku cucu setiap hari." "Aku tidak mau! Mas buat saja dengan kekasih Mas." "Yang mana? aku tidak punya kekasih, aku hanya punya satu istri namanya Aisyah dan istriku sudah seminggu tidak pulang!" Aisyah diam menatap suaminya, apa maksudnya? kenapa suaminya mengatakan bahwa dia tidak punya kekasih, padahal jelas jelas dia memiliki kekasih yang bernama Helen. "Kenapa menatapku seperti itu? aku sudah menyudahi hubunganku dengan Helen, dan kamu harus bertanggung jawab atas semuanya." "Kenapa aku Mas? aku tidak berbuat apa apa." "Apanya yang tidak berbuat apa apa? kamu menghilang. Aku dimarahi bunda habis habisan! pokoknya aku tidak mau tahu kamu ikut pulang denganku titik." "Tapi Mas a...?" Aisyah tidak meneruskan kata katanya karena Reino mengecup bibirnya. Reino menangkup kedua pipinya lalu mengecup bibir itu, hanya menempel tanpa pergerakan. "Cup ... cup ... cup." Reino mengecup bibir itu bertubi tubi tanpa melumatnya. Membuat wajah Aisyah bersemu merah karena malu. Dia menyatukan kening mereka berdua." Cukup katakan iya Mas, aku rindu kata kata itu." "Iya Mas." Reino berjalan menuju meja belajar Aisyah dan memegang bingkai foto dirinya. Aisyah merasa malu mengapa Reino harus melihatnya. "Apa kamu se cinta itu padaku? sampai sampai kamu membingkai fotoku seperti ini." "I-itu dulu diberi oleh bunda sewaktu memperlihatkan wajah Mas. Bunda memintaku untuk menyimpannya, jadi aku bingkai saja. "Aku cinta kamu.." Mata Ica terbelalak, apa dia tidak salah dengar?" "Coba kamu ucapkan dalam bahasa Arab kata aku mencintaimu itu. aku belum pernah mendengar dalam bahasa itu." "Hah ...?" "Jangan geer aku hanya ingin tahu saja, Aku cinta kamu dalam bahasa Arab seperti apa?" "Iinaa ahbak..." "Te quiero Aisyah Mujahidah." (aku cinta kamu) "Hah...apa artinya?" "Artinya aku lapar Ica. Aku belum makan!" "Bilang lapar saja kenapa harus memakai bahasa asing, Mas? ya sudah aku siapkan makanan mas dulu ya. Oh iya Mas mau minum kopi dulu atau makan dulu?" "Siapkan saja Keduanya. Ca di mobilku ada bunga untukmu, kamu ambil saja. Pintunya tidak di kunci." Mata Ica melotot, dia kesal kepada suaminya. "Masa iya aku harus ambil sendiri bunganya mas. Niat memberi tidak sih!" batin Aisyah. "Kenapa melotot kepadaku, ada yang salah?" "Tidak Mas. Aku ke bawah dulu ya, aku mau menyiapkan makanan untuk Mas. "Ya sudah." Aisyah ke dapur untuk menyiapkan makanan dan membuatkan kopi, dia tahu Reino sangat selektif. Dari pada nantinya pria itu ngomel tidak jelas karena masakan bi beti, lebih baik Aisyah yang memasak. Selama satu jam Aisyah memasak, Reino berada di kamarnya. Pria itu melihat lihat album foto. Di sana ada foto Ica waktu kecil, sangat menggemaskan. Wajahnya lebih dominan bule, rambutnya coklat, bola mata coklat dan pipi yang merah membuatnya sangat menggemaskan bagi yang melihatnya. Reino terlihat bingung hampir semua foto istrinya dari usia sekitar 7 tahunan sampai dewasa selalu memakai hijab. Tidak ada satupun foto istrinya tanpa hijab kecuali usia balita. Ada yang membuatnya kesal, album foto itu juga banyak sekali menampilkan foto Aisyah dan Irwan. Walaupun tidak selalu foto berdua tapi keduanya selalu dalam satu frame. Dari mereka SMP sampai SMA selalu terlihat bersama. Reino jadi menduga duga apakah Aisyah pernah mempunyai perasaan kepada Irwan? karena mereka selalu terlihat bersama. "Mas, makanannya sudah siap." Aisyah tiba tiba datang dan berkata, membuat Reino terkejut. Dia meminta Aisyah untuk duduk disampingnya sebentar. "Sini duduk sebentar ada yang ingin aku tanya tanya." Aisyah berpikir sejenak, kemudian wanita itu mengikuti perkataan suaminya. Dia duduk di samping Reino yang masih memegang album foto. "Apa Mas, katanya lapar?" "Ini foto kamu kenapa semuanya memakai hijab. Memangnya dari kapan kamu mulai membungkus tubuhmu?" "Memangnya aku lemper dibungkus! aku memakai hijab dari umur 5 tahunan gitu Mas, tapi masih sering lepas. Nah saat masuk SD sekitar usia 7 tahunan aku pakai sampai sekarang tidak pernah lepas. Memangnya kenapa Mas?" "Tidak apa apa hanya ingin tahu saja. Berarti aku laki laki pertama yang melihat rambutmu?" "Kedua lah Mas, orang pertama itu Ayah." "Iya selain Ayah mertuaku. Kamu sepertinya dekat sekali dengan Irwan? hampir keseluruhan foto foto di album ini ada kalian berdua." "Ya karena kami satu sekolah. Aku dan Irwan itu dekat saat ospek SMP, Mas, dia tuh beda dari anak laki laki yang lainnya waktu itu. Kalau anak lain sering sekali ngatain aku borokan, kutuan, karena aku memakai hijab sementara dia tidak." "Apa kamu pernah menyukainya?" "Tidak Mas. Waktu itu kan pernah aku jawab." "Berarti aku yang pertama kan?" "Ya ampun Mas, ngapain nanya itu terus? ayolah makan katanya lapar." Aisyah berdiri, dia ingin kembali ke ruang makan tapi Reino menarik lengannya hingga dia jatuh dipangkuan pria itu. "Aku akan mengajarimu cara berciuman, setiap kita berciuman aku seperti mencium patung." "Mas. Aku tidak mau, aku malu." Aisyah menutup mulutnya mengunakan salah satu telapak tangannya. Reino menyingkirkan tangan itu dan memulai pelajaran. "Jadi saat aku menyentuh bibirmu, kamu buka sedikit jangan mingkem. Lalu ketika aku melumat bibir bawahmu kamu lumat bibir atasku. Sampai sini paham tidak?" Aisyah hanya menggelengkan kepalanya, tanda wanita itu tidak mengerti. Reino menaruh kedua tangan Aisyah dilehernya, posisinya Aisyah duduk di pangkuan, menyandar pada lengan Reino. Wajahnya memandangi wajah suaminya. Bahkan nafas Reino berhembus tepat di wajah Ica. "Siap ya ...?" Belum apa apa jantung Aisyah berdetak kencang. Saat bibir Reino menyentuh, dia menutup kedua matanya. Aisyah mengikuti saran suaminya untuk membuka mulutnya sedikit, lalu saat Reino melumat bibir atasnya dia mengikuti gerakannya dengan melumat bibir bawah Reino. Bibir keduanya saling melumat, berputar ke atas dan bawah secara bergantian. Aisyah bernafas dengan hidungnya sesuai saran Reino. Keduanya masih saling berputar lama kelamaan mereka saling menghisap seperti vakum cleaner. Aisyah mulai bisa mengimbangi permainan lidah suaminya, wanita itu tidak menyadari dia meremat tengkuk suaminya, menekan kepala Reino agar Lebih dalam. Keduanya berhenti saat mendengar bunyi pada perut Reino yang keroncongan karena lapar. Aisyah bangkit dari pangkuan Reino, dia merapihkan tampilannya dan mengelap bibirnya dengan tangannya. "Ayo Mas turun ke bawah, perutmu lapar tuh." Aisyah berlalu meninggalkan suaminya, Reino menyusul setelah dia merapihkan album foto kembali ke tempatnya. Setelah seminggu tidak menyantap masakan istrinya akhirnya dia bisa merasakannya lagi. Reino duduk di kursinya, matanya selalu memandangi wajah Aisyah yang bersemu merah karena adegan mereka sebelumnya. Aisyah dengan malu malu menuangkan makanan ke piring suaminya, dan Reino menyantap makanannya dengan lahap. "Ca, Irwan pernah kemari tidak?" "Uhuk ... uhuk ... uhuk." Aisyah terbatuk mendengar pertanyaan suaminya barusan. "Kamu kenapa Ca? minum dulu." "Iya Mas." Aisyah meneguk segelas air putih, dan mengatur nafasnya. "Kenapa sampai tersedak begitu mendengar kata Irwan?" "Tidak apa apa Mas, maaf ya Mas aku tidak mau berbohong. Irwan 2 kali menemuiku. Dia hanya ingin memastikan bahwa aku baik baik saja. Hanya itu saja kok Mas." "Besok kita pulang ya, terus aku mau kamu berhenti mengajar. Kamu fokus saja membuat anak." "Aku tidak mau. Aku mau mengajar Mas!" "Tapi dia mencintaimu Ica. Aku tidak mau kamu berpaling dariku lalu memilihnya." "Kalau aku mau, sudah aku lakukan. Tapikan tidak. Aku mohon berilah aku kepercayaan, aku janji tidak akan macam macam. Pegang kata-kataku. "Baiklah aku coba 3 bulan ini, dan jangan lupa persiapkan tubuhmu setiap malam, aku tidak mau ada penolakan dengan alasan lelah karena banyak kerjaan di sekolah." "Tapi jangan berkali-kali seperti waktu itu ya Mas, cukup sekali saja!" "Suka suka akulah. Tergantung permintaan bos besarku." Reino menunjuk tonjolan di celananya yang terlihat besar. "Kalau begitu, kesepakatan batal Mas." "Ca...jangan begitulah. Kamu tidak kasihan padaku!" "Ya sudah. Mas juga ikuti aturanku. Semalam hanya sekali saja!" "Iya, kecuali khilaf." "Tidak bisa! Mas harus jawab iya saja." "Ish...ya sudah. Iya!" Keduanya kembali menikmati makanannya dengan perasan sama sama bahagia. Soal berapa ronde? nanti Reino akan mencari cara supaya bisa nambah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN