Setelah Reino pergi, Irwan duduk dengan lemas di kursinya. Hatinya sakit saat mendengar Reino berkata bahwa Ica sudah menjadi istri seutuhnya. Reino juga mengatakan semua karena dirinya? Irwan ingin menanyakan hal itu kepada Ica, tapi sepertinya tidak etis bila harus bertanya masalah pribadi.
Saat istirahat siang, Ica duduk melamun di dalam kelas. Anak anak sedang beristirahat, jadi kelas kosong. Ica terkadang tidak langsung meninggalkan kelas bila jam mengajarnya selesai bertepatan dengan jam istirahat.
Wanita itu teringat orang tuannya, sudah 3 bulan sejak dia menikah Ica belum pernah pulang ke rumah. Walaupun di rumahnya hanya dihuni oleh asisten rumah tangga, tapi di halaman belakang terdapat 2 kuburan. Ayah dan ibunya l dikubur disana.
Setelah menikah, Ica belum sekali pun mengunjungi makam kedua orang tuanya, dia ingin sekali mengajak suaminya. Ica berencana meminta izin kepada Reino untuk pulang kerumahnya yang berada di kota kembang Bandung.
Ica masih berada di kelas, dia teringat tadi pagi Irwan memintanya datang pagi pagi karena ada hal yang ingin pria itu sampaikan. Tapi karena suaminya meminta untuk pergi meninggalkan mereka berdua akhirnya Irwan belum sempat berkata apa pun. Ica bergegas pergi ke ruangan Irwan untuk menanyakan perihal apa yang ingin sahabatnya itu sampaikan.
Sementara di ruangannya, Irwan sedang duduk melamun, dia selalu memikirkan ucapan Reino tadi pagi. Ica mengetuk pintu dan mengucapkan salam ketika sampai di depan pintu.
"Tok...tok...tok. Assalamualaikum, Wan boleh aku masuk?"
"Waalaikum salam, masuk Ca."
"Wan, sibuk tidak? aku ingin menanyakan soal tadi pagi. katamu ada yang ingin kamu bicarakan."
"Oh itu, masuk dulu Ca. Masa kamu berdiri di pintu begitu? duduk dulu, baru aku ceritakan."
"aku buka saja pintunya ya? aku tidak mau ada fitnah."
"Iya Ca. Kamu tuh dari dulu tidak pernah berubah,"
"Hehehe ... ada apa Wan?"
"Ca aku mau minta tolong bantu aku carikan hadiah untuk ibuku? dia ulang tahu Minggu ini."
"Oalah, aku pikir menyangkut masalah sekolah. Rencananya mau kamu belikan apa?"
"I don't know, kira kira apa ya? tas atau sepatu gitulah."
"Ibu butuh apa saat ini? ah, tapikan Ibumu punya segalanya. Mungkin tas saja ya Wan, gimana menurutmu?"
"Boleh. Kapan kamu bisa antar untuk membelinya, siang ini bisa tidak?"
"Hem...aku izin mas Reino dulu ya? kalau di izinkan, aku tidak mau kita hanya berdua saja. Aku ajak ustazah Husna ya."
"Ya sudah terserah kamu. Nanti sepulang mengajar kita pergi ya."
"Baik Wan. Kalau gitu aku kembali ke kantor ya, sebentar lagi aku harus mengajar kembali di kelas 10.
"Iya Ca ... jazakillaahu Khoiron sudah mau membantu.
"Wayyaki. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Ica meninggalkan ruangan Irwan, dia bingung harus berkata apa ke suaminya? sudah pasti Reino tidak akan mengizinkan, tapi dia tetap harus izin. Akhirnya Ica memberanikan diri menelepon Reino.
"Tut... tut...tut."
"Halo ... ada apa Ca?" jawab Reino.
"Assalamu'alaikum. Mas, aku mau minta izin."
"Apa?"
"Mas jawab dulu ya salamku, menjawab salam itu dapat pahala."
"Waalaikum salam. Ada apa Ca?"
"Mas boleh tidak aku menemani Irwan mencari hadiah untuk ibunya? kata Irwan hari Minggu besok ibunya ultah. Tapi kami tidak berdua kok mas, ada ustazah Husna juga."
"Yakin tidak berdua? jangan sampai aku memergoki kalian berduaan ya!"
"Iya mas, aku yakin. Boleh ya mas?"
"Tapi jangan macam macam ya. Jangan membohongiku!"
"Aku tidak pernah membohongi mas. Selama ini aku selalu jujur."
"Ya sudah aku percaya padamu!"
"Jazakallaahu Khoiron ya mas, Assalamualaikum."
"Iya..."
"Mas salamku belum di jawab?"
"Waalaikum salam."
Ica menutup sambungan teleponnya dan kembali ke kantor untuk mengambil buku. Sementara di ruangan Reino, ada seorang wanita yang sedari Reino menerima telepon terlihat kesal. Ya wanita itu tak lain adalah Helen. Jam 10 pagi dia sudah berada di kantornya Reino.
"Ngapain pembantumu telepon?"
"Helen. Capek ya bicara sama kamu, dia punya nama. Panggil dia Aisyah atau Ica!"
"Aku tidak mengenalnya. Lagi pula kamu yang bilang kalau dia pembantu!"
"Dia minta izin untuk pergi dengan teman-temannya."
"Alah norak. Mau main saja harus minta izin! dia hanya ingin mengambil simpati kamu saja tuh beib."
"Biarkan saja, berarti dia menghormati aku sebagai suaminya."
"Suami, apa kamu sekarang merasa menjadi suami sesungguhnya? jangan bilang kalau sekarang kamu mencintainya!"
"Helen please. Jangan mulai!"
"Tapi aku benar kan. Kamu mencintainya?"
"Tidak !"
"Bohong. Kamu pasti melibatkan perasaan dalam rumah tangga kalian. Ingat ya beib, kamu sudah berjanji tidak akan pernah menyentuhnya apalagi mencintainya! sekarang aku mau tanya sama kamu, apa kalian sudah melakukan s*x?"
"Helen. Aku tidak suka dengan pertanyaanmu!"
"Jawab saja iya atau tidak! aku tidak masalah kalau kamu tidur dengan 1000 p*****r asal tidak dengan dia."
"Memangnya kenapa? ada yang salah!"
"Jelas ada. Kalau kamu tidur dengannya itu berarti kamu mencintainya!"
"Bukankah kamu tahu selain denganmu aku sering tidur dengan wanita lain? lalu di mana masalahnya."
"Masalahnya kalau dengan dia berbeda. Dengan wanita lain kamu tidak butuh cinta untuk bisa menidurinya tapi dengan dia kamu melibatkan cinta."
"Tahu dari mana kalau aku memakai cinta?"
"Karena sedari awal kamu membencinya. Kamu benci dia, lalu sekarang kamu membelanya bahkan kamu menidurinya. Kamu bahkan terbakar cemburu saat aku mengirim fotonya dengan seorang pria!"
"Helen aku tidak mencintainya!"
"Mulutmu bisa berdusta tapi hatimu tidak Reino! Awas saja kalau sampai kamu mencampakkan aku dan lebih memilih dia."
"Kamu tahukan aku hanya mencintaimu saja. Jadi jangan berlebihan!"
"Sekarang aku tanya sama kamu, kapan terakhir kita bercinta?"
Reino tidak bisa menjawabnya, sudah satu bulan lebih dia tidak menyentuh wanita yang ada di depannya saat ini.
"Kenapa diam?"
"Kamu mau bukti apa untuk membuatmu percaya bahwa aku tidak mencintainya?"
"Kita bercinta weekend ini. Di apartemen kamu!"
"Oke... weekend kita bertemu!"
Helen tersenyum puas, setidaknya saat ini dia percaya bahwa kekasihnya ini tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada istrinya. Dia harus membuat posisi dia aman, dia tidak mau kehilangan atm berjalannya selama ini.
"Sekarang kita jalan yuk, makan siang dan shopping gitu."
"Sekarang? tapi aku sibuk. Aku free jam 1 siang."
"Ya sudah aku tunggu!"
Reino menerawang jauh ke lubuk hatinya yang paling dalam. Apakah benar yang dikatakan Helen bahwa dia melibatkan perasaan? apakah saat ini sudah ada cinta dihatinya untuk Ica? tapi apa mungkin, karena wanita itu jauh dari tipenya. Reino segera menepis pikiran itu.
"Pokoknya aku hanya mencintai Helen. Hanya Helen!" gumamnya dalam hati.
***
Siang hari setelah mengajar, Irwan pergi bersama dua wanita berhijab besar yaitu sahabatnya dan ustazah Husna. Walaupun Irwan sedikit kecewa karena tidak bisa pergi berdua, tapi setidaknya dia bisa mengajak Ica pergi dengannya. Dia sangat bahagia, pria itu bahagia walau hanya seperti ini saja.
Ketiganya tiba di sebuah mall xx, ada banyak counter tas branded di mall ini. Kebanyakan orang kaya atau artis artis berbelanja di sini. Ica sedang memilih tas yang cocok untuk usia 55 tahun, simple tapi tetap elegan dan multifungsi.
Selama 30 menit mereka memilih, akhirnya Ica menjatuhkan pilihan kepada tas keluaran Prancis yang harganya fantastis, tas itu berwarna gold, karena Ibunya Irwan penyuka warna gold. Tas itu terbuat dari kulit Crocodile dan harganya sangat luar biasa sekitar 250 juta rupiah.
Buat Irwan harga tidak masalah, lebih dari itu pun dia sanggup. Dia ingin memberikan hadiah istimewa untuk ibunya. Bukan hanya ibunya yang di belikan tas, tapi kedua wanita itu juga. Meskipun Ica dan ustazah Husna sudah menolak, tapi Irwan tetap menghadiahi keduanya tas branded senilai 20 juta untuk masing-masing.
Sehabis membeli tas, Irwan mengajak kedua wanita itu untuk makan siang di salah satu restoran Jepang. Hingga pukul 3 sore ketiganya keluar dari restoran tersebut. Tapi tak di sangka, bagai di sambar petir Ica berpapasan dengan suaminya yang merangkul mesra Helen, terlihat suaminya habis memanjakan kekasihnya dengan berbelanja.
Sebenarnya Ica sudah melihat mereka dari jauh, dia berharap mereka tidak berpapasan. Tapi Tuhan tidak mengabulkan doanya, mereka justru berpapasan. Reino dan Helen mengentikan langkahnya begitu juga dengan Irwan dan Ica. Ustazah Husna terlihat bingung dengan apa yang di lihatnya? ustazah Husna tahu pria di depannya ini suami dari ustazah Ica, tapi mengapa dia merangkul wanita lain?.
Ustazah Husna menoleh ke arah Ica untuk melihat reaksinya, ustazah semakin di buat bingung karena ustazah Ica terlihat tenang.
Reino melepaskan rangkulannya dari pinggang Helen, dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan istrinya di tempat sebesar ini.
Ica menggandeng ustazah Husna dan berlalu tanpa kata. Reino memangil namanya tapi Ica pura pura tidak mendengarkan, dia tetap berlalu meninggalkan tempat itu. Reino yang terlihat akan mengejar di tahan oleh Irwan.
"Lepaskan aku!" Pekik Reino ketus.
"Jangan sakiti dia. Anda ini seperti pria yang tidak punya pendirian, pagi bilang A, siang B, sore C apa Anda tidak lelah?"
"Jangan ikut campur!"
"Jelas harus! anda keterlaluan, baru tadi pagi anda meminta saya untuk tidak mendekati istri anda. Tapi anda? Anda justru merangkul wanita lain di depan matanya. Sebenarnya mau anda ini apa?"
"Saya ... lepaskan! saya akan menyusulnya."
Reino mencoba menghempaskan cengkraman tangan Irwan, tapi pria itu terlalu kuat mencengkram lengan Reino sehingga Reino kesulitan untuk melepaskannya.
"Lepaskan tangan saya atau saya berbuat kasar!"
"Lepaskan istri Anda. Saya mohon! Biarkan dia bahagia."
Irwan melepaskan cengkeramannya, dia berjalan cepat menyusul kedua wanita yang sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. Reino menjambak rambutnya sendiri, dia merasa bersalah. Helen yang melihat tingkah Reino merasa yakin bahwa Reino mempunyai perasaan khusus terhadap isterinya.
"Beib, are you okay?" tanya Helen dengan tatapan tajam.
"Ya...!"
"Are you sure ...?"
"Sure ...! sudahlah kita pulang yuk, aku masih banyak perkejaan.
Keduanya berjalan menuju basement tempat mobilnya terparkir. Sementara kedua wanita itu sudah pergi meninggalkan mall, Ica mengemudikan mobil dengan tangan gemetar dan menahan tangisnya. Dia tidak mau ustazah Husna melihatnya menangis.
"Ust, anna boleh bertanya?"
"Na'am ust, ada apa?"
"Bukankah itu alzawj ustazah Ica? (Suami)
"Na'am ust, lakun la yumkinuni sharah al'amr fi waqt sabiq , maratan 'ukhraa 'in sha' allh sa'ashrah." ( iya ust, tapi maaf untuk saat ini saya tidak bisa cerita soal tadi.)
"Nem ustazah kula shay' ealaa mayram." ( iya tidak apa apa ust.)
Ica mengantar ustazah sampai di rumahnya, setelah itu dia pamit. Wanita itu menghentikan mobilnya di tepi jalan dan menangis.
"Ini terlalu menyakitkan, Mas Reino tidak akan pernah mencintaiku. Dia hanya mencintai wanita itu! hanya wanita itu. Ya Allah aku tidak tahu apakah ini cobaan atau justru hukuman darimu atas dosa yang mungkin tidak sengaja aku lakukan di masa laluku. Tapi ini sakit sekali ya Allah."
Setelah puas menangis, Ica kembali melajukan mobilnya tapi bukan arah pulang. Dia memilih untuk menenangkan diri ke Bandung, wanita itu ingin pulang ke rumah orang tuanya.
Untuk sementara Ica tidak mau bertemu dengan suaminya, dia harus memikirkan kembali apakah pernikahan ini layak untuk dia pertahanan atau tidak. Walaupun dia mengatakan bahwa dia akan bersabar dengan kelakuan suaminya, tapi saat melihatnya Ica tak kuasa.
Reino menelepon Ica berkali-kali tapi tidak mendapat jawaban, pria itu buru buru pulang ke rumah setelah mengantar Helen ke apartemennya.
Hari sudah mulai senja, waktu menunjukkan pukul 5 sore, Ica menepi sejenak di rest area untuk menunaikan sholat ashar. Setelah itu dia kembali meneruskan perjalanan.
"Aku bingung, kalau kita tidak bisa bersatu kenapa Allah pertemukan kita mas? bahkan kita dipersatukan dalam sebuah pernikahan. Salahkah aku menginginkan lebih mas, aku menginginkan dirimu menjadi imam dalam rumah tangga kita. Aku tahu kamu sudah terikat janji dengan wanita lain, tapi tidak bisakah kamu melihatku, aku tidur di sampingmu setiap malam mas. Aku ada di sisimu mas tapi mengapa wanita lain yang ada di hatimu," ucapnya lirih dengan berlinang air mata.
Reino tiba di rumah, tapi dia tidak melihat mobil istrinya terparkir. Reino segera masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
Langkahnya terdengar terburu-buru, dia membuka pintu kamar dan memanggil nama istrinya tapi tidak ada siapa siapa di kamarnya.
"Sepertinya dia belum pulang. Ke mana dia?" gumam Reino.
Reino kembali ke bawah menemui bundanya, dia menanyakan keberadaan Ica kepada beliau.
" Bun, Ica sudah pulang belum?"
"Eh iya dia belum pulang ya, biasanya jam 2 sudah ada di rumah."
"Aduh ke mana ya dia?" Reino terlihat panik. Dia teringat kejadian di Bali." Apa mungkin dia bersama laki laki itu? mungkin saja Ica bersama Irwan saat ini."
Reino menelepon Irwan untuk menanyakan keberadaan istrinya. Tapi bukannya memberitahu, Irwan justru memarahinya habis habisan. Karena merasa tidak mendapat jawaban, Reino berencana untuk menemui pria itu.
Sebelum pergi Reino kembali ke kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia kembali menelepon istrinya tapi tetap tidak diangkat bahkan di riject. Karena teleponnya selalu diabaikan, Reino mengirim pesan kepada istrinya.
"Ca, aku minta maaf soal kejadian tadi. Sekarang kamu di mana? kita bicara ya."
Lama Reino menunggu balasan, dan akhirnya pesan itu di balas oleh Ica. "Maaf mas, Ica tidak bisa. Ica ingin menyendiri dulu mas, maaf Ica tidak pamit langsung ke mas. Aku harap kita sama sama menemukan jawaban selama kita sendiri sendiri dulu. Mas aku ikhlas melepasmu!"
"Ca aku mohon kita bertemu ya, aku minta maaf Ca. Maaf! maaf selalu menyakiti hatimu. Tapi aku mohon, jangan pernah lelah mencintaiku. Jangan tinggalkan aku Ca."
"Kasih aku satu alasan kenapa aku harus bertahan mas? Karena jujur saja aku lelah. Aku mencintaimu mas, karena itu aku ikhlas melepasmu asal kamu bahagia."
"Ica please...kita ketemu ya, aku jemput kamu sekarang."
"Maaf mas. Beri aku waktu! semoga perpisahan ini bisa membuatmu mengambil Keputusan. Assalamualaikum."
"Ca aku mohon, apa yang harus aku katakan kepada Bunda bila dia mencarimu? tolong Ca, aku jemput kamu ya."
Pesan terakhir yang di kirim Reino tidak mendapat balasan dari Ica, wanita itu fokus menyetir sampai akhirnya jam 8 malam dia tiba di rumahnya. Ica disambut oleh para asisten rumah tangga yang bekerja belasan tahun kepada orang tua Ica.
"Neng lama tidak pulang? bibi kangen." tanya asisten yang bernama beti.
"Iya Bi, Ica sibuk."
"Mana suaminya Neng, kenapa tidak diajak?"
"Dia sibuk Bi, Ica kangen ingin ziarah. Ica tidak bisa menunggu suami Ica pulang dari luar kota." Ica berbohong dengan mengatakan suaminya sedang berada di luar kota.
"Padahal Bibi dan yang lainnya teh kepingin pisan ningali. Neng sudah makan belum? Bibi masak makanan kesukaan si Eneng."
"Ica mau tidur saja Bi, Ica lelah. Tapi nanti kalau Ica lapar Ica turun ke bawah."
"Muhun Neng."
Ica menaiki tangga menuju lantai 2 rumahnya yang mempunyai luas 1200m. Wanita itu sekarang berada di kamar masa kecilnya sampai usianya 22 tahun sebelum menikah dengan Reino.
Sesampainya di kamar Ica kembali menangis, dia menangis melihat foto yang terpajang di meja bacanya. Dia juga mendapat telepon dari mertuanya, Ica ragu untuk menjawab tapi dia tidak ingin membuat bunda risau dan cemas mencari keberadaannya.
Hiks ... hiks. Terdengar suara isakkan dari mulutnya. "Ya Allah aku tidak akan memaksa segala sesuatu yang memang bukan untukku. Aku mohon ya Allah, aku mohon hilangkan rasa cintaku, aku ikhlas melepas suamiku. Sungguh demi namaMu aku ikhlas ya Rabb."
Ponselnya kembali berdering, Bunda Merry menelpon dia kembali. Ica mengangkat telepon tersebut karena tidak mau ibu mertuanya cemas.
"Assalamualaikum Bun,"
"Nak, kamu di mana sayang. Kenapa belum pulang Nak? bunda cemas." bunda menelepon di dampingi Reino.
"Maaf Bun, karena Ica pergi tidak pamit. Ica ingin menenangkan diri Ica dulu Bun, Ica sudah mengatakan ke Mas Reino untuk beberapa hari ini Ica tidak pulang ke rumah."
"Ica tidak kasihan sama Bunda? Bunda cemas nyariin kamu Nak. Pulang ya Nak, Bunda mohon."
"Ica belum bisa pulang sekarang Bun, Ica mohon maaf ya Bun."
" Ya sudah, tapi setidaknya kamu beritahu bunda di mana keberadaanmu?"
"Belum sekarang ya Bun, nanti Ica beritahu kalau hati Ica sudah tenang. Tapi insya Allah Ica berada di tempat yang aman."
"Ya sudah kalau itu menjadi keputusan Ica."
Beberapa jam sebelumnya, bunda menanyakan Aisyah kepada Reino, beliau panik kenapa menantunya Belum pulang kerja.
"Rein, Reino ke mana istrimu? kenapa sudah jam 6 sore dia belum pulang juga!"
"Ehm anu Bun..?"
"Anu apa Reino? kamu melakukan apa ke istrimu?"
"Tadi siang kami bertemu di mall Bun."
"Terus masalahnya apa? masa hanya bertemu di mall saja sampai menghilang begini?"
"Anu Bun, Reino sedang...?"
"Sedang apa Reino? jangan bertele-tele!"
"Reino sedang bersama Helen Bun."
"Apa ...! plak ... plak. Suara tamparan di pipi kiri dan kanannya Reino. Seketika kedua pipinya memerah akibat tamparan yang dilayangkan bundanya.
"Bun sakit."
"Kamu bodoh. Kenapa kamu begitu bodoh Reino. Kurang baik apa menantu bunda itu Reino. Dia sabar menghadapimu, dia wanita yang baik!"
"Reino tahu Bun, Reino minta maaf. Reino juga bingung dengan perasaan Reino sendiri! Bunda kan tahu saat menikah Reino memiliki kekasih dan Reino mencintainya. Tapi Reino juga tidak bisa menampik bahwa Reino nyaman dengan Ica."
"Bunda sudah berjanji akan menjaganya Reino! tapi kalau memang kamu hanya akan menyakitinya Bunda mau kamu ceraikan saja istrimu. Bunda masih bisa menganggapnya sebagai anak perempuan Bunda dari pada harus melihatnya tersakiti olehmu."
Reino berlutut di kaki Bundanya, dan memohon.
"Reino tidak akan pernah menceraikannya Bun. Tidak akan pernah! Reino mohon bujuk dia untuk pulang ke rumah Bun, atau setidaknya Reino tahu keberadaannya saat ini agar Reino bisa menjemputnya."
"Bunda tidak tahu harus apa. Yang jelas Bunda kecewa sama kamu. Kamu itu bodoh sekali. Ih Bunda sebal." Bunda Merry menjambak rambut anaknya yang sedang bersimpuh di kakinya.
"Aw...aw. Sakit Bun! ampun Bun. Reino mengaku salah."
Pukul 8 malam Bunda mencoba menelepon menantunya, tentunya Reino berada di samping Bunda untuk menguping pembicaraan. Tapi sayangnya Ica tidak mau memberi tahu di mana dia sekarang ini.
Seusai menelpon bunda kembali memarahi anaknya. Dia bahkan mengambil sapu yang berada tak jauh dari tempatnya berpijak. Reino yang melihat bundanya membawa sapu ke arahnya semakin takut dan entah mengapa suasana menjadi mencekam.
Bunda memukuli anaknya dengan sapu yang dia pegang.
"Dasar bodoh kamu! bug...bug..bug." Bunda memukuli tubuh Reino sampai sapunya patah.
"Aduh sakit Bun. Sumpah Bun ini sakit! ampun Bun. Ampun Reino kapok." Reino berjingkrak layaknya anak kecil saat sapu itu mengenai tubuhnya.
"huft...huft...huft." Bunda mengatur nafasnya yang kelelahan akibat memukuli anaknya dengan sabu.
Reino kabur menuju lantai atas, dia mengunci pintu kamarnya. Terlihat paha, betis dan lengannya biru semua akibat senjata pamungkas Bundanya.
Tapi semua itu tidak sebanding dengan kegundahannya. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Ica.
***
POV Reino.
Sudah seminggu kamu menghilang Ca, aku rindu. Aku rindu suaramu, rindu kopi buatanmu, rindu wajahmu dan juga rindu saat kamu mengatakan "Iya mas." Kamu tidak pernah membantahku sekali pun. Bahkan saat awal awal pernikahan, aku selalu menyakitimu.
Ica aku benar benar merindukanmu, rindu ini sungguh luar biasa menyiksaku. Apa kamu juga mengalami hal yang sama? merindukan pria yang jahat ini.
Pagi ini lagi lagi aku tidak bisa meminum kopi buatannya, aku juga enggan sarapan di rumah karena rasanya tidak seenak masakannya. Beberapa kali Helen meneleponku karena kami ada janji berkencan Minggu ini, tapi aku tidak mengangkat teleponnya.
Kenapa aku bisa sangat rindu dengan Istriku padahal kami belum lama berpisah? tapi dengan Helen tidak. Aku tidak pernah merasa seperti ini. Aku hanya mencarinya ketika aku butuh tubuhnya saja.
Selama seminggu ini aku merenung. Apa benar aku mencintai Helen? Helen tidak pernah memprioritaskan diriku di dalam hidupnya, tapi Ica? Ica menganggapku sangat penting.
Aku sudah berulang kali menelponnya, tapi Ica tidak pernah menjawab bahkan selalu diriject teleponku, tapi tidak dengan bunda. Apa kali ini hubunganku dengan dia benar benar akan berakhir? apa dia memilih menyerah kepadaku? apa lagi bundaku sendiri mendukung kalau seandainya kami berpisah.
Karena rasa takut itu, aku mengambil ponsel dari saku jas dan mengetik pesan untuknya.
"Ca, i Miss you so much. Please, comeback"
Setelah itu aku pergi ke kantor seperti biasa. tapi diperjalanan aku berubah pikiran, aku berputar arah menuju sekolah tempat Istriku mengajar. Aku berharap mendapat petunjuk di sana.
Saat sampai di parkiran, aku bertemu dengan wanita yang kulihat beberapa kali dengan istriku. Aku berlari kecil untuk menghampirinya, dia bahkan seperti menghindar entah karena takut atau karena dia tahu keberadaan istriku.
"Mbak, mbak teman istri saya kan? Mbak tahu tidak di mana dia sekarang?"
"Maaf pak saya tidak tahu!"
"Saya mohon Mbak, saya mohon beritahu saya. Saya yakin mbaknya tahu di mana dia?"
"Maaf pak saya tidak tahu! permisi pak."
Wanita itu justru berlari karena takut. Saat aku berbalik badan aku bertemu dengan laki laki itu. Ya laki laki yang mencintai istriku, mungkin seharusnya dia yang pantas menjadi suami Ica. Sebagai laki laki dia nyaris sempurna walau pun aku tetap merasa lebih tampan darinya.
Dia mendekatiku, aku tahu dia ingin memakiku tapi biarlah aku dengarkan saja. Siapa tahu aku mendapat petunjuk soal keberadaan Ica Istriku.
"Mau apa anda di sini?"
"Saya mencari istri saya. Puas anda!"
"Lucu sekali. Sangat lucu, seorang suami tidak tahu keberadaan istrinya. Bahkan anda tidak tahu harus mencari istri anda kemana? karena anda tidak mengenalnya bukan!"
"Siapa bilang? saya mengenal istri saya dengan baik. Hanya saja, saat ini pasti dia bersembunyi di satu tempat yang tidak ingin diketahui oleh saya!
"Kalau anda kenal istri anda, sudah pasti anda tahu ke mana istri anda pergi? sudah seminggu Ica pergi anda bahkan tidak tahu di mana istri anda? saya saja tahu di mana dia berada!"
"Dimana dia? cepat beritahu saya!"
"Buahahahaha. Anda benar benar tidak mencintainya ya? sebaiknya ceraikan saja dia. Percuma, karena anda tidak tahu apa apa tentang istri anda!" Irwan tertawa terbahak-bahak.
Pria itu mengolokku. Kurang ajar sekali! tapi ucapannya benar juga, harusnya aku tahu istriku kemana? ayo berpikir lah Reino, ayo coba berpikir!"
Lama aku berpikir akhirnya aku menemukan jawabannya. Dia pasti pulang ke rumahnya, ya pasti sekarang berada di sana. Kenapa selama ini tidak terpikirkan olehku? aku akan menanyakan alamat Ica ke bunda. aku yakin bunda tahu.
Aku kembali ke rumah, aku tidak menghadiri meeting pagi ini. Aku harus bertemu Ica sekarang juga. aku merindukanmu Ca, aku sangat merindukanmu. Bahkan mungkin aku...
.