Bab 10. Mencari Tahu

3189 Kata
"Maksud Mas apa?" Aisyah berusaha menutupi bagian tubuhnya dengan satu tangannya. "Dasar wanita munafik. Murahan. Aku tanya sekali lagi apa yang kamu lakukan bersama Irwan di dalam kamar hotel." Reino kembali berteriak. "Mas, aku tidak mengerti apa yang Mas maksud? izinkan aku berpakaian dulu, baru kita bicara." Aisyah berusaha menghindar tapi Reino menarik lengannya hingga tubuh mereka saling merapat. Reino tidak memperdulikan pakaiannya basah karena pria itu berdiri tepat di bawah shower. "Aww ...sakit Mas, lepaskan dulu tanganku. Aku ingin pakai baju." Untuk apa kau menutup tubuhmu di depanku padahal sebelumnya kau memperlihatkannya kepada pria lain. "Mas! apa yang kamu katakan? sedari tadi bicaramu ngawur." Reino mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memperlihatkan foto Aisyah dan Irwan yang tampak sedang ingin masuk ke dalam kamar. "Mas aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." "Jadi benar kamu berada di sana, kalian bercinta di sana!" "Astaghfirullah, jaga ucapan Mas. Aku wanita terhormat." "Wanita terhormat apa yang menyodorkan tubuhnya kepada pria lain!" "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan Mas, aku bisa menjelaskannya. Tapi aku mohon lepaskan dulu tanganku. Izinkan aku memakai bajuku." Reino justru semakin kencang memegang pergelangan tangan Aisyah, sampai meninggalkan bekas. Reino mendorong tubuh istrinya hingga menyentuh dinding kamar mandi. "Apa tadi enak? apa sentuhannya terasa nikmat?" Reino membuang ponsel ya dia pegang ke lantai. Pria itu kembali mengintimidasi Aisyah, membuat wanita itu ketakutan. "Apa dia melakukan ini?" Reino meremas dadanya Aisyah, membuatnya meringis kesakitan. "Apa dia melakukan ini?" Reino memasukkan jarinya ke dalam bagian sensitif istrinya, membuat Aisyah berteriak. "Mas, lepaskan aku. Aku mohon jangan lakukan ini. Aku tidak melakukan apa-apa Mas, aku bersumpah." Reino tidak memperdulikan ucapan istrinya, dia juga tidak mau mendengarkan penjelasan istrinya. Baginya buktinya sudah jelas bahwa Aisyah berselingkuh. "Apa dia juga melakukan ini?" Reino menciumi leher dan area sekitar dadanya Aisyah, kemudian menghisap pucuknya yang terlihat menegang dengan sendirinya "Tidak Mas, ya Allah." "Apa dia melakukan ini? Reino Melumat bibir Aisyah, kemudian menggigitnya pelan membuat bibir wanita itu bengkak. "Apa rasanya, nikmat bukan? kamu menikmati sentuhannya? apa miliknya besar? jawab!" teriak Reino pada kalimat terakhirnya. "Tidak Mas! aku tidak berbuat apa apa. kalau tidak percaya kita bisa telepon Irwan, Mas bisa menanyakan semuanya. Kami memang ke hotel untuk menjemput guru besar dari Arab Saudi dan kami tidak hanya berdua Mas. Aku bersumpah!" Air mata mengalir deras, Aisyah benar benar ketakutan. Dia heran dari mana suaminya mendapatkan foto itu dan siapa yang mengirimkannya? jahat sekali orang itu pikir Aisyah. "Lepaskan aku, Mas. Izinkan aku berpakaian, dan kita telepon Irwan supaya Mas tahu kebenarannya." "Aku tidak perlu menelepon laki laki itu untuk tahu kebenarannya. Aku akan mencari tahu sendiri." "Bagaimana caranya, Mas?" Reino membuka kancing kemejanya satu persatu dengan satu tangan, karena tangan satunya mencengkram erat lengan Aisyah. "Mas, mau ngapain? jangan macam macam Mas. Atau aku teriak!" "Silahkan teriak yang kencang. Katakan, Suamiku akan memperkosaku!" "Ampun Mas. Kita bicara baik baik ya. Kita telepon Irwan." Reino tetap membuka kemeja yang dia pakai, kemudian membuka ikat pinggang dan kancing celananya. Kini keduanya sama sama polos tanpa sehelai benang pun. Aisyah memalingkan wajahnya, dia tidak mau melihat tubuh suaminya yang bertelanjang bulat tanpa memakai apa pun. Tubuh atletis Reino merupakan daya pikatnya selama ini, membuat wanita yang melihatnya meleleh. Tapi tidak dengan Aisyah, wanita itu justru terlihat takut dan gemetaran. "Ayo sini! aku akan mencari tahu sendiri." Reino menarik lengan Aisyah menyeretnya ke kamar dan menghempaskan nya ke tempat tidur. Dengan membabi buta dia menciumi tubuh Aisyah, tanpa memperdulikan rengekan istrinya. Dia tidak peduli walaupun Aisyah memohon berkali kali. Emosi sudah membutakan mata dan hatinya. Reino Melumat bibir tipis itu, menciumi leher dan memberi tanda merah dimana-mana. "Kamu milikku! hanya aku yang boleh melakukan ini!" "Ampun Mas! aku mohon lepaskan aku." Reino meremas dua benda milik istrinya dengan kasar, lalu menjilat ujungnya. Tanpa berlama lama dia membuka lebar kedua kaki istrinya dengan lututnya hingga terlihat jelas. Aisyah tidak bisa melawan, kedua tangannya di pegang erat oleh suaminya. Reino mengarahkan inti tubuhnya tepat di inti tubuh istrinya, kemudian dengan hentakan keras dan kasar dia mencoba memasukinya, tapi belum berhasil. Hingga kedua kali mencoba, barulah tubuh mereka bersatu sepenuhnya. Aisyah hanya bisa menangis ketika benda asing itu terbenam di dalam inti tubuhnya. Reino merasa bersalah, ternyata istrinya masih perawan. Terlihat ada darah segar yang menempel pada batang kejantanannya. Tapi bukannya berhenti, pria itu justru bergerak maju mundur menikmati tubuh istrinya. Ini pertama kalinya dia bercinta dengan seorang perawan, dan perawan itu istrinya sendiri. Selama ini semua wanita yang bercinta dengannya sudah tidak perawan termaksud Helen. Sensasinya terasa berbeda. Terasa sempit, ngilu dan nikmat luar biasa. Reino Melumat bibir istrinya yang sedari tadi menangis, Reino seperti ingin membungkam mulutnya. Dia terus berpacu hingga inti tubuhnya menyemburkan cairan kental berbau khas ke dalam rahim istrinya. Reino melumat bibir istrinya, saat pelepasan itu datang. Selama ini Reino selalu bermain aman dengan menyemburkan cairannya di luar atau memakai alat kontrasepsi. Baru kali ini dia menyemburkannya di dalam rahim seorang Wanita. Hiks...hiks. Masih terdengar suara tangisan dari mulut Aisyah, Reino menyelimuti tubuh polos istrinya dari dinginnya udara yang berhembus dari pendingin ruangan. "Aku minta maaf sudah menuduhmu yang bukan bukan, tapi aku tidak akan meminta maaf atas apa yang baru saja aku lakukan. Itu hakku sebagai seorang suami. Dan mulai sekarang persiapkan tubuhmu setiap malam!" "Kenapa Mas, kenapa melakukan hal ini? katanya, Mas tidak akan menyentuhku. Mas berkata, bahwa aku jangan pernah berharap jadi istri seutuhnya. Tapi kenapa Mas melakukan ini kepadaku?" Reino memeluk tubuh istrinya yang sedang tidur membelakanginya, Aisyah masih merasa ketakutan, tapi dia tidak berontak. Mungkin karena merasa semuanya percuma, toh dia juga sudah kehilangan semuanya. Aisyah menyadari memang itu hak suaminya, tapi bukan dengan cara seperti ini. Dia juga mempunyai impian melakukan malam pertama romantis dengan suaminya, bukan dengan cara dipaksa. Entah mengapa memeluk Aisyah saja membuat inti tubuhnya menegang lagi. Reino membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya dan melakukannya lagi. Kali ini Aisyah tidak melawan, dia hanya pasrah membiarkan suaminya melakukannya lagi dan lagi sampai pria itu puas. Tubuh Aisyah sudah terasa remuk redam, terutama bagian sensitifnya yang terasa perih karena s*x maraton yang dilakukan suaminya. Setelah selesai, dia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang diseret karena selangkangannya terasa perih saat dia melangkah. Aisyah membersihkan diri, kemudian mandi junub, setelah itu dia menunaikan sholat isya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, itu artinya Reino melakukannya berkali kali dari sore hingga malam. Reino bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, pria itu pun membersihkan dirinya setelah puas bercinta. Sehabis itu dia kembali ke kamar dan melihat istrinya mengganti sprei lama dengan yang baru. Ada bercak darah di seprei lama, membuat Aisyah menggantinya dengan yang baru. "Kamu sudah makan belum, Ca?" "Belum, aku juga belum memasak makan malam untuk Mas." Aisyah berkata tanpa melihat suaminya. "Kita buat mie saja bagaimana, kamu pasti lapar bukan? aku juga lapar. Perutku bunyi terus dari tadi." "Iya Mas." Reino berbicara dengan Aisyah seolah-olah tidak terjadi apa apa sebelumnya, sedangkan wanita itu masih merasa takut dan sedih karena perbuatan suaminya. Reino menunggu Aisyah selesai memasang seprei, kemudian pria itu menghampiri dan mencium kening Aisyah secara tiba tiba, membuat wanita itu kembali ketakutan. "Jangan khawatir aku tidak akan melakukannya lagi. Setidaknya untuk sekarang, besok lain lagi ceritanya. Lagi pula sudah aku katakan kamu harus mempersiapkan tubuhmu setiap hari. Aku ingin membuatkan cucu untuk Bunda." "Apa. Setiap hari?" Reino tersenyum gemas melihat reaksi istrinya yang terlihat ketakutan. Sesudah merapihkan tempat tidur, Reino menggandeng tangan istrinya dan membawa Aisyah keluar dari kamar untuk makan malam. Keduanya bertemu Bunda saat menuruni tangga. Bunda melihat rambut anak dan menantunya basah, sepertinya mereka berdua baru saja keramas. "Ca kamu baik baik saja, kenapa wajahnya pucat begitu? apa kamu sakit Nak?" tanya Bunda. "Ica baik baik saja Bun. Istriku hanya lelah saja." Reino langsung menjawab pertanyaan Bunda, sementara Aisyah hanya tertunduk diam. "Lelah? memangnya Istrimu habis ngapain Reino?" "Apalagi kalau bukan membuatkan Bunda seorang cucu." Reino terkekeh setelah mengatakannya. Sementara Aisyah, wajahnya seperti kepiting rebus. Dia merasa malu kepada mertuanya. Reino membawa istrinya ke dapur, dia meminta Aisyah duduk di kursi, sementara Reino yang memasak mie. Aisyah ingin membantu, tapi Reino meminta agar dia diam saja, karena dia yang akan memasak untuknya. Selesai memasak, Reino meminta istrinya mencicipi hasil masakannya. Aisyah menuruti apa yang suaminya perintahkan, dia tidak mau Reino marah seperti tadi. Wajah Reino menyeramkan bila sedang marah. "Enak tidak?" tanya Reino. "Enak Mas. Jazaakumullahu Khoiron." "Ayo makanlah, supaya tenagamu pulih kembali." "Iya Mas." Aisyah segera mengabiskan mie di mangkuknya, dia ingin segera kembali ke kamar karena tubuhnya masih terasa lelah dan area sensitifnya benar benar terasa nyeri seperti teriris benda tajam. Ica mencuri curi pandang di sela sela makannya, dia melihat wajah suaminya berseri seri, tidak ada rasa lelah sedikit pun seperti dirinya saat ini. "Kenapa kamu susah sekali di tebak mas, apa yang kamu ucapkan berbeda dengan yang kamu lakukan. Setelah kamu mengatakan tidak akan memberikan nafkah batin, justru sekarang kamu memaksaku untuk melayanimu. Sebenarnya apa yang kamu inginkan mas? aku benar-benar tidak memahami dirimu," batin Aisyah. Keduanya kembali ke kamar setelah selesai makan, Aisyah langsung merebahkan tubuhnya dan tertidur lelap sedangkan Reino pergi ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda tadi siang. Reino jadi teringat ilustrasi yang pernah di sampaikan Aisyah saat di Bali waktu honeymoon, bahwa tidak perlu berzina untuk tahu rasanya karena nantinya semua orang yang menikah akan merasakan hal itu ketika sudah waktunya. "Apa yang dikatakan Ica memang benar, rasanya berbeda saat melakukan hubungan dengan pasangan sah. Ada rasa kepuasan, dan aku tidak perlu panik kalau Istriku hamil. Tapi masalahnya apa aku mencintainya? apa aku yakin dia wanita yang tepat untuk mengabiskan masa tua bersama? bagaimana dengan Helen? bukankah aku sangat mencintainya? dulu aku sangat bangga ketika mendapatkannya." Reino bimbang, pria itu tidak tahu harus bagaimana? masih ada waktu beberapa bulan lagi untuk memutuskan apakah dia tetap menceraikan Aisyah dan menikah dengan Helen atau bertahan dengan Aisyah dan melepaskan Helen. *** Pagi pagi sekali Aisyah mendapat telepon dari Irwan, pria itu meminta Aisyah untuk datang lebih pagi dari biasanya ke sekolah karena ada urusan penting. Aisyah mengiyakan permintaan Irwan. Seperti biasa Aisyah membangunkan suaminya pada pukul 6.30 sesuai permintaan Reino. "Mas. Mas bangun." "Hem ... jam berapa sekarang?" "Jam 6.30. Ayo bangun Mas sudah siang, nanti Mas terlambat." Dengan mata yang masih mengantuk Reino bangun dari tidurnya, saat dia membuka mata terlihat Aisyah yang sudah berpakaian rapih. "Kamu mau ke mana Ca, jam segini sudah rapih begitu." "Mas, Ica izin pergi ke sekolah ya. Tadi Irwan telepon, katanya Ica diminta datang lebih pagi karena ada urusan penting di sekolah." "Siapa yang telepon?" "Irwan Mas." "Dia lagi? hari ini kamu tidak boleh mengajar. Kamu di rumah saja temani aku." "Tapi Mas, aku sudah menyanggupi." "Kalau aku bilang Jagan ya jangan! kamu kan tahu kemarin aku marah gara gara apa? sekarang kamu mau bertemu dengan laki laki yang menjadi sumber kemarahan ku." "Tapi Mas. Aku kan harus mengajar juga, tidak salahkan aku berangkat ke sekolahnya lebih pagi. "Apa perkataan ku kurang jelas? awas ya kalau kamu pergi!" "Iya Mas. Tapi aku masih boleh mengajar kan Mas? hari ini aku ke sekolah ya." Pucuk di cinta ulam tiba, Irwan menelpon Ica. Ponsel Aisyah berdering, Ica mengambilnya dari dalam tas. Tertera nama Irwan di layar handphonenya, membuat Aisyah serba salah. "Siapa? kenapa tidak diangkat!" "Irwan Mas, aku terima teleponnya ya." Aisyah bermaksud untuk keluar kamar, dia tidak mau Reino mendengar percakapannya dengan Irwan ditelepon. Tapi Reino bergerak lebih cepat, sebelum Ica mencapai pintu, Reino terlebih dulu menguncinya. "Angkat teleponnya di sini!" ucap Reino. Aisyah dengan berat hati menerima panggilan dari Irwan di depan suaminya. "Assalamualaikum, Wan..." "Loudspeaker !" bisik Reino Aisyah mengikuti perintah suaminya, dia menekan tombol pengeras suara di handphonenya. "Waalaikum salam. Ca kenapa belum sampai di sekolah? aku sudah menunggumu sedari tadi tapi kamu belum datang juga." "Maaf Wan, aku mengurus keperluan mas Reino dulu ya. Tidak apa apakan aku sampai di sekolah seperti biasanya?" "Aku salut sama kamu Ca, punya suami jahat seperti itu tapi tetap saja melayaninya. Andai ada satu lagi seperti dirimu di dunia ini berikan dia untukku. Aku akan menjaganya dengan nyawaku!" "Kamu bicara apa sih, Wan? ya sudah aku siap siap dulu, sekitar 30 menit lagi aku sampai di sekolah. Assalamualaikum." Aisyah mematikan sambungan telponnya, dia menatap suaminya yang sedari tadi berdiri di depannya dengan tangan bersedekap. "Aku mandi dulu. Nanti aku yang antar kamu ke sekolah!" Reino berjalan ke kamar mandi, pria itu ingin mengguyur tubuhnya yang panas karena mendengar perkataan Irwan di telepon. Selepas mandi dia menatap wajahnya di cermin, terlihat kecemasan, kebimbangan dan amarah di wajahnya. "Aku harus bertemu dengannya. Aku tahu dia mencintai Istriku. Aku bisa melihatnya, dan kenapa pula aku harus takut begini. Aku takut Ica juga mencintainya. Walaupun Aisyah pernah keceplosan bahwa dia mencintaiku tapi kenapa hatiku tetap saja merasa takut." Setelah puas memandangi wajahnya sendiri, dia kembali ke kamar. Aisyah sudah menunggunya, dia memegang setelan jas yang akan dikenakan suaminya. "Pakai kan kemejaku!" ucap Reino. "Biasanya Mas pakai sendiri?" "Hari ini aku ingin kamu yang memakaikan, bisa?" "Iya Mas. Wanita itu memakaikan kemeja suaminya lalu menautkan kancing kemeja itu satu persatu. Setelah selesai dia memakaikan celana kerjanya dan terakhir wanita itu memakaikan sepatu. Setelah semua selesai Reino menangkup wajah Aisyah yang masih berjongkok di hadapannya. wajahnya condong ke bawah mendekati wajah istrinya. Dengan perlahan dia menempelkan bibirnya ke bibir Aisyah, dan dengan lembut pula Reino mengecup bibir itu. melumatnya dengan sangat lembut, tidak ada nafsu di dalamnya hanya ada rasa sayang. Selesai melakukan itu, Reino meminta Aisyah duduk di sampingnya. Dia menggenggam tangan istrinya dan menciumnya. "Ca, mulai sekarang tidak perlu memakaikan sepatuku lagi ya. Biar aku yang melakukannya." "Tapi kenapa, Mas marah padaku ya?" "Tidak! dulu aku sengaja menyuruhmu melakukannya karena ingin mengerjai mu saja. Tapi ternyata kamu tulus melayaniku selama ini." "Ya itukan memang kewajiban ku, aku tidak pernah merasa terbebani." "Aku tidak mau selamanya tergantung padamu. Bagaimana nanti kalau kamu pergi? aku harus membiasakan diri mulai sekarang." "Aku tidak mengerti maksud Mas?" "Aku tidak tahu apa yang hatiku mau Ca? aku takut melukaimu!" "Sulit sekali memahamimu Mas, Ini perih untukku. Berkali kali aku menahan amarahku, menahan semua ego yang aku punya untuk menghadapimu. Semua akan aku lakukan Mas. Bahkan lebih dari itu Mas, apa pun yang kamu lakukan aku tidak masalah, kamu mabuk, kamu tidur dengan wanita lain aku tetap memaafkan. karena apa? karena buatku suamiku lebih penting dari egoku sendiri. Tapi kamu, kamu selalu bingung." "Ica ... terbuat dari apa hatimu? kenapa begitu baik kepadaku!" "Karena untukku, Mas lebih penting. Andai Mas bisa mencintaiku sedikit saja, tapi aku tidak akan memaksa! aku tidak bisa berbuat apa apa kalau Mas tidak mencintaiku. Aku bisa apa? aku hanya seorang istri yang tidak diinginkan. Aku hanya..." Reino mencium bibir istrinya, Aisyah hanya memejamkan matanya. Dia tidak mengerti harus berbuat apa? ada air mata yang menetes di sudut matanya. "Coba Mas, ayo coba cintai aku. Tapi jika memang tidak bisa aku ikhlas melepasmu," ucapnya dalam hati. Ciuman sendu di pagi hari itu pun berakhir. Reino menyeka air mata yang mengalir di sudut mata istrinya. "Turun yuk, kita sarapan." Reino mengandeng tangan istrinya menuju ruang makan. Di sana sudah ada kedua wanita yang sejak semalam bertanya tanya ada apa dengan suami istri itu? kenapa awalnya Reino masuk ke kamar dengan wajah menyeramkan tapi keluar dengan wajah bahagia. "Wih tumben gandengan?" tanya Angel. "Anak kecil bawel!" jawab Reino. Semuanya sarapan bersama dengan penuh keceriaan. Reino menatap wajah Ica yang sedang tertawa renyah mendengar lawakan Angel. "Ca ... aku akan berusaha membuat keputusan yang terbaik untuk kita. Untukku, untukmu dan Helen. Aku hanya berharap, apa pun yang aku putuskan nanti semoga itu yang terbaik untuk kita bertiga." Batin Reino. Seperti katanya, dia mengantar Ica ke sekolah tempatnya mengajar. Dia ingin bertemu Irwan dan membahas soal Irwan dan Aisyah. Begitu sampai di parkiran, Aisyah mencium tangan suaminya dan pamit mengajar. Wanita itu membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Reino. Aisyah tidak tahu kalau Reino juga keluar dari mobilnya untuk menemui Irwan. Irwan yang sejak tadi menunggu Aisyah, akhirnya melihat penampakan wanita itu. Dengan tersenyum dia buru buru mendekat. "Ca akhirnya datang juga." "Maaf ya Wan aku tidak bisa datang lebih pagi. Oh iya apa yang ingin kamu katakan?" "Kita ke ruanganku dulu ya, nanti aku ceritakan disana." keduanya berjalan berdampingan tapi tetap berjarak. Reino melihat keduanya jalan bersama dan mengikutinya sampai ke ruangan Irwan. Saat kaki Aisyah melangkah masuk, tiba tiba ada yang menahan lengannya. Aisyah menoleh kebelakang dan ternyata Reino yang memegang pergelangan tangannya. "Loh Mas, kok masih di sini?" "Iya, aku mau bicara dengan dia." Reino menggerakkan dagunya ke arah Irwan. "Anda mau bicara dengan saya? apa ada urusan kita yang belum selesai?" sahut Irwan. "Ada, dan itu penting buat saya!" "Sayang, kamu pergi ke ruangan kamu dulu ya, aku ada urusan dengan Pak Irwan." Reino bicara sembari mengelus pipi mulus Ica di depan Irwan. "Baik Mas. Wan aku pamit dulu ya, Assalamualaikum." Selepas kepergian Aisyah, Reino masuk ke dalam ruang kerja Irwan. Tanpa dipersilahkan si empunya ruangan, Reino duduk di sofa menyisakan Irwan yang berdiri mematung. "Pak Irwan, kenapa anda bengong di sana? jangan menatap kepergian istri saya dengan sedih begitu dong, sini duduk sebentar. Kita bicara!" Irwan tersadar dari lamunannya, dia berjalan menuju kursinya dan duduk menghadap Reino. "Ada apa lagi pak Reino, anda mau bicara apa dengan saya? maaf saya tidak punya banyak waktu." "Ya saya bisa melihatnya. Anda sibuk mengejar istri orang!" "Jaga bicara anda Pak! saya jauh lebih dulu mengenal Ica ketimbang Anda." "Tapi anda juga lupa, mau selama apa pun kalian saling mengenal, kalian tetaplah hanya 2 orang lain tanpa ikatan. Sedangkan saya adalah suaminya!" "Suami seperti apa yang rela membiarkan istrinya menangis di pinggir jalan sementara dia asik tidur dengan wanita lain? coba anda jelaskan kepada saya apakah laki laki seperti itu layak disebut suami!" "kau...!" "Kenapa. Anda tidak bisa jawab Bapak Reino yang terhormat! dengar ya, awalnya saya sudah mengikhlaskan Ica menikah dengan anda. Tapi setelah malam itu, saya bertekad akan memperjuangkan cinta saya untuk istri anda. Saya tahu anda tidak mencintainya maka saya akan mengambilnya dari anda." "Jadi Anda sekarang terang terangan menantang saya." Reino bangkit dari sofa dan berdiri tepat di depan meja yang menjadi pembatas antara dirinya dan Irwan. Irwan pun berdiri, karena melihat Reino. Dia menatap balik Reino dengan tatapan serius. "Saya tidak sedang menantang. Saya mempertegas! Ica bukan hadiah sayembara atau bahan taruhan. Baiklah saya akan mengakui ini di depan anda, saya Irwan Sastra Wijaya mencintai istri anda yang bernama Aisyah Mujahidah." Reino memberi reaksi dengan tertawa. Bahkan dia bertepuk tangan atas pengakuan Irwan. "Bravo...! akhirnya anda mengakuinya juga. Tapi sayang sekali Ica hanya mencintai saya. Oh iya saya ke sini juga mau mengucapkan terima kasih karena berkat anda, Ica menjadi istri saya seutuhnya. Anda paham kan maksud saya!" "Kalau sudah tidak ada yang ingin anda bicarakan lagi, sebaiknya anda pergi!" "Ok ... saya permisi dulu ya Pak Irwan Sastra Wijaya. Ingat kata kata saya. Jauhi istri saya!" Reino pergi meninggalkan ruangan Irwan dengan percaya diri. Tapi sesampainya di dalam mobil, pria itu mendadak takut. Dia takut Irwan benar benar mengambil Aisyah dari sisinya. Hatinya pun risau, dia mulai bimbang, haruskah dia mengakhiri hubungannya bersama Helen dan menjalani bahtera rumah tangga bersama Aisyah seperti pasangan lain. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN