Writer Block

1079 Kata
“Bagaimana kabar kakak kelas kita itu?” Aku bertanya tampak biasa-biasa saja. Aku harus bagaimana menanggapinya? Sudah sangat lama sekali dan aku mungkin sudah melupakannya. Ada yang aneh di dadaku. “Dia tampak luar biasa. Poppy, kau harus bertemu dengannya. Dia menanyakan tentang dirimu dan aku bilang kalau kau sekarang menjadi penulis terkenal. Aku rasa dia pasti tidak percaya.” “Kau memang selalu berlebihan dalam mendeskripsikan diriku.” “Siapa tahu ada yang menjadi penggemar barumu. Reputasimu sangat menentukan masa depanku.” Sarah mengambil sepotong kue lalu memakannya dalam gigitan yang besar. Pipinya langsung menggembung lucu sekali. “Pelan-pelan, aku tidak akan meminta kuemu.” “Kupikir kau akan melupakan hari ulang tahunku? Seperti biasanya.” Sarah berbicara lagi setelah menghabiskan satu potong kue. “Aku mencoba tidak lupa.” Sudah jelas kalau apa yang baru saja kukatakan adalah kebohongan. Aku pasti akan dimarahi oleh para malaikat karena sudah menebar banyak dosa. “Bagus. Kau harus terus mengingatnya. Aku akan berjanji untuk terus mengingat hari ulang tahunmu sebagai balasannya.” “Bukannya kau selalu ingat?” “Ingatanku sangat bagus. Aku masih tidak percaya kalau dalam kehidupan nyata masih ada orang yang melupakan hari ulang tahunnya sendiri.” “Apa itu penting?” “Tentu saja.” “Aku tidak suka merayakan ulang tahun.” “Iya, aku mengerti.” Sarah mencari air mineral dan aku memberikannya. Aku berada di dekat botol air mineral dan dia langsung berterima kasih dalam suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar. “Aku sudah mengirimkan nomor ponselnya dan memberikan nomor ponselmu kepada Alex.” Mataku terbelalak, lalu berkedip setelahnya. “Kenapa?” Sarah bertanya kenapa kepadaku. Pasti akan sangat canggung sekali setelah lama sekali tidak bertemu. Aku memang penasaran dengan perubahan Alex yang sekarang. Apa dia masih seperti anak laki-laki usil dan tidak jelas? “Aku tidak tahu kalau kau tega sekali memberikannya. Akan sangat aneh sekali jika nanti dia menghubungiku. Lalu aku harus bagaimana meresponnya?” “Kau seperti seorang wanita yang bertemu kembali dengan mantan terindahnya. Aku curiga kalau kalian ada apa-apa.” Sarah menatapku penuh curiga. “Bukan begitu.” Aku membantah. “Kuakui, Alex yang sekarang tampak dewasa dan … aku sangat susah menggambarkannya. Aku juga bilang kau masih single dan aku memang berharap kalau kalian jadian lalu menikah.” Kata Sarah sangat penuh harapan. Aku memang jomblo tapi kalau Alex yang menjadi pasanganku pasti diriku tidak akan baik-baik saja. Aku dan dia sudah lama sekali tidak bersama dan aku sadar kalau dari dulu Alex sudah memenuhi hatiku. Dia memiliki ruangan tersendiri di sana. “Meskipun kau tidak mengatakannya sendiri, aku sebagai sahabatmu sangat tahu kalau kau tidak menyadari jika menyukai Alex. Lalu sikapmu yang tidak memiliki pacar apalagi calon suami membuatku yakin kalau kau dan Alex tidak sesederhana itu. Aku hanya berusaha mendekatkan kalian kembali. Dan sebagai editormu, aku hanya bisa melakukan yang terbaik agar seorang penulis mega best seller bisa bersanding dengan pria-pria yang memiliki reputasi luar biasa. Poppy, kau butuh sebuah citra yang lebih dahsyat lagi.” Sarah berkata terlalu panjang. Kenapa aku jadi pusing dengan rencana gilanya itu? Aku tersenyum kecil ke arah Sarah, aku sangat prihatin dengan nasibku. Ini terlalu mengada-ada. “Kau tidak mengerti, Sayang. Aku tidak ada apa-apa dengan Alex. Baik di masa lalu maupun masa depan.” Aku menjelaskan, tapi mengapa hatiku menjadi hampa ketika mengatakannya? “Aku tahu, kita lihat saja. Jika Alex memintamu menjadi istrinya apakah kau akan menolaknya? Hanya gadis bodoh yang akan menolak pria sepertinya. Jangan ditolak, ya.” “Kenapa jadi begitu? Kenapa tidak kau saja yang menikah dengan Alex?” “Walau pacarku menyebalkan, dia masih kekasihku. Sayang kalau dibuang begitu saja.” “Bilang saja kau cinta. Tidak kau terlalu cinta dan sudah tergila-gila dengannya.” “Poppy, jangan mulai membahasnya. Kau tahu, hari ini dia melupakan hari ulang tahunku.” Sarah mengingatkan kesalahan kekakasihnya kembali. “Oke. Tapi aku dan Alex memang tidak pernah terjadi apa-apa. Kami berteman. Seperti kau dan Alex.” “Terserah kau saja, tapi aku akan bersemangat untuk menjodohkan kalian.” Kata Sarah keras kepala. “Terserah kau saja.” Setelah bercakap-cakap dan menyampaikan beberapa ide tentang calon buku baruku, aku kembali ke apartemen luasku dengan hati yang … bimbang. Aku harus bagaimana misal Alex meneleponku? Setelah makan cemilan aku membuka laptopku dan memulai kata pertamaku. Sialnya, aku tidak bisa merangkai kata-kata selanjutnya. Aku baru mendapatkan beberapa ratus kata dan setelahnya buntu. Writer block yang menyebalkan. Aku menghela napas beberapa kali untuk menenangkan diri. Belum tentu juga Alex menelepon atau mengirimiku pesan, kan? Terlalu cepat jika dia menghubungiku setelah apa yang telah dia lakukan di masa lalu. Aku dan Alex tidak pernah berpacaran. Tidak pernah saling menyatakan cinta. Akan tetapi, ada sesuatu yang sulit aku jelaskan di sini antara aku dan Alex. Tapi ciuman itu nyata, Tapi pelukan dan kehangatannya adalah realita, Aku harus bagaimana? Aku kembali menghela napas dan aku semakin kacau. Mengapa sesulit ini? *** Aku duduk di depan antrian orang-orang yang mau meminta tanda tanganku. Antriannya sangat panjang dan aku sudah melakukan sesi ini selama kurang lebih satu jam. Tanganku sudah pegal dan belum ada tanda-tanda kegiatan ini akan berakhir setelah salam sapa yang kulakukan selama setengah jam sebelum antrian tanda tangan untuk para penggemar. Padahal kemarin sudah ada ribuan buku yang aku tanda tangani untuk edisi perdana kali ini. Aku rasa benar kata Kalea kalau aku jomblo diriku bisa lebih fokus dengan karier menulisku. Buktinya ada banyak penggemarku yang mengantri hanya untuk coretan bodohku ini. Barisan semakin menyusut tapi bukan berarti dalam waktu sepuluh menit akan selesai. Aku mengumbar senyum dan menyapa mereka satu persatu. Aku mengiyakan penggermarku yang memintaku untuk menulis di halaman novel yang mereka bawa. Ada kata semangat dan apa saja yang mereka inginkan. “Apa yang ingin kutulis disini?” Aku mengambil buku dan membalik lembaran sekali lalu menatap ke arah pengantri. Aku tersenyum kaku, aku baru tahu kalau ada pria yang mengantri di barisan di depanku ini. Mungkin ia akan memberikan pacarnya hadiah. Bukan pertama kali hal ini terjadi. Akan tetapi jas yang melekat di tubuhnya sangat tidak biasa dan mencolok sekali diantara barisan. “Tolong tuliskan,” Pria itu tampak berpikir, tapi senyumnya masih tersirat di wajah rupawannya. Aku mengamati lebih jeli lagi. Setelannya tampak pas melekat di tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, akan tetapi jam mahal di tangannya jelas menggambarkan kalau dirinya adalah salah satu orang yang memiliki bayaran tinggi, setinggi tubuhnya yang menjulang di depanku. Mungkin dia adalah orang yang paling tinggi di barisannya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN