Sick

1265 Kata
Malam harinya di kosan... Sejak acara pusing mendadak tadi pagi, yang biasanya Aku anti tidur siang, namun sejak dari tadi pulang dari kampus yang kulakukan hanya bergumul di kasur bertutupkan selimut. Tok tok tok Suara pintu kamar yang diketuk dari luar. "masuk" jawabku Setelah pintu terbuka, terlihat Andin memasuki kamarku. "mbak Wilda kenapa?" Andin mendekatiku duduk disamping kiri sisi ranjang "sampai pucat begini? Kok panas mbak?" kemudian ia memegang keningku. "kecapekan mungkin, nggak apa apa kok. Nanti kalau istirahat juga udah sembuh sendiri" jawabku agak malas "beneran?" tanya Andin kembali yang kubalas dengan anggukan "udah makan belum? Aku beliin ya, soto banjar kesukaan mbak wilda" tawarnya padaku. "uda makan tadi di kantin kampus kok Ndin, mbak baik baik aja. Cuma butuh istirahat aja uda cukup" jawabku memastikan. "yaudah, Aku balik ke kamar dulu. Kalau ada apa apa atau mbak butuh sesuatu nanti chat aja ya" "siap" jawabku singkat dan setelahnya Andin beranjak dari kamarku. Sekilas tentang Andin, kita beda satu angkatan dibawahku. Perempuan asal kota soto Lamongan yang biasa kusebut The Lucky Girl yang selalu membuatku terkadang iri dengannya. Gimana enggak? dapat kuliah di fakuktas kedokteran dengan jaminan beasiswa sampai lulus. Kepintarannya jangan ditanyakan lagi. Andin baru pindah kos yang sama denganku baru beberapa bulan yang lalu, kamarnya bersebelahan denganku yang memudahkan kita untuk lebih akrab. Back... Melihat perhatian Andin ketika sedang sakit begini jadi ingat sama Bunda di rumah, sepertinya sudah lama tidak saling menghubungi sejak perkuliahan aktif. Jadi kangen Bunda... Tidak terasa setetes air jatuh diujung pelupuk mata. Sambil sesenggukan meraih ponsel membuka aplikasi chat, mengetik beberapa kalimat. To : Bunda Kesayangan 'Assalamu'alikum... Bunda lagi ngapain? Wilda kangen' -send- Satu detik . Satu menit . Lima menit . Sepuluh menit Tidak ada jawaban "Bunda kok no respon?" tanyaku tanpa memerlukan jawaban, tangisku kembali pecah. Keadaan sakit dalam kondisi perantauan memang lebih menyakitkan. Perlahan membuka mata, rasa kantuk dan kepala yang masih terasa pusing. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Meraih ponsel mengecek aplikasi chat dan nihil, masih belum ada balasan dari Bunda. "Gue kenapa sih? Tiba tiba sakit begini. Bunda nggak ada kabar pula. Jadi pingen pulang" lirihku sambil sesenggukan hingga kembali terlelap. Keesokan paginya Tok tok tok "mbak Wilda" Andin mengetuk pintu namun tidak ada respon dari dalam kamar "Aku buka yaaa mbak" Setelah pintu kamar terbuka, Andin mendekatiku saat melihatku masih berada di atas kasur dengan bertutupkan selimut. "mbak, ke dokter yuk. Kayaknya ini bukan panas biasa, mungkin ada penyebabnya yang lain" pintanya. "kamu nggak ada jam kuliah ndin?" tanyaku gak enak karena akan merepotkan. "ada mbak, tapi masih nanti siang kadi pagi ini free. Mbak Wilda pakai pakaian yang hangat, diluar lumayan kenceng anginnya, agak mendung juga. Tapi semoga nggak sampai hujan" "yaudah, Aku siap siap dulu" Memakai celana berbahan kaos dan jaket tebal untuk menutupi badanku yang masih terasa nyeri dimana mana. Andin memboncengku menuju sebuah klinik dokter umum untuk periksa. Setelah serangkaian pemeriksaan kemudian segera menuju apotik untuk membeli obat yang kebetulan stoknya kosong di klinik praktek dokter umum tersebut. "tuh kan, yang aku khawatirkan terjadi. Ada infeksi di lukanya" kata Andin saat selesai menebus resep obat. "padahal kemarin uda dibersihin sama Calista lho Ndin" Ketika akan keluar dari apotik... "yaaaah... Hujan mbak Wil" Rintikan gerimis kemudian berubah menjadi hujan yang cukup deras. "di dalam jok sepedaku ada mantel hujan dua pasang" kataku. "Mbak Wilda nggak boleh kena air hujan yaaa... Masih panas gini, bisa bisa sampai kos menggigil, tambah parah dong" tolak Andin "tapi kamu kan ada jam kuliah" Dddrrr drrrrr, ponsel Andin berdering "Bentar yaaa mbak Wil, Aku jawab telfon dulu" Lima menit kemudian Andin kembali. "Mbak, habis ini ada Calista mau barengin mbak balik ke kosan? Soalnya dia bawa mobil" "kok bisa?" tanyaku heran kenapa tiba tiba ada Calista yang akan menjemput. "tadi dia telpon mau ngajak bareng ke kampus soalnya pas hujan gini, Aku bilang lagi neduh habis nganterin mbak Wilda periksa terus dia nanya lokasi kita dan sekarang perjalanan kesini" jelas Andin "kok jadi ngerepotin Calista" kataku tidak enak malah merepotkan orang lain. "nggak apa mbak Wil, itu namanya rizki anak Sholehah. Hehehe" jawab Andin dengan terkekeh "terus kamu gimana Ndin?" "kan ada mantel hujan mbak, biar Aku naik motor sendirian" "kalau gitu kamu balik duluan gih, biar bisa siap siap kuliah" "terus mbak Andin gimana?" "Yaelah, kamu nggak bercanda ngekhawatirin Wilda?" "Yaudah Aku balik dulu, mbak Wilda hati hati" Sepuluh menit kemudian yaris putih berhenti tepat di depanku, mobil yang sudah tidak asing lagi bagiku karena sering melihatnya di parkiran khusus dosen dan pernah sekali duduk disamping kemudinya. Sambil mengernyitkan kening melihat kaca mobil yang gelap disertai rintikan hujan yang belum kunjung reda. Tak berselang lama pintu mobil terbuka dan terlihat dengan jelas siapa sosok yang keluar dari dalam mobil. "Pak Satya?" panggilku dengan sedikit terkejut. Ia berjalan menuju tempatku berdiri menggunakan payung dengan sedikit berlari kecil. "saya antar kamu pulang" katanya. "kok Bapak bisa kesini?" tanyaku sedikit kaget karena ada beliau yang menjemputku. "nanti saya jelasin di mobil, sekarang masuk dulu" jelas singkat Pak dosen dengan memberikan instruksi untuk berjalan dengan memakai payung yang dipegangnya sekarang. Dalam perjalanan pulang... Karena naik mobil jadi arah menuju kos semakin jauh karena tidak bisa lewat jalan pintas yang sempit, ditambah dengan hujan semakin lebat yang menjadikan kendaraan berjalan lambat dan macet dimana mana. Masih sama sama diam tidak berani membuka pembicaraan. "ehm, kamu sakit beneran? Kok diam dari tadi?" tuh kan, pertanyaan nih Pak Dosen mulai nyinyir. Dosa nyinyirin orang sakit, Pak. "Kok Bapak yang jemput saya? Bukan Calista?" tanyaku to the poin. "Calista yang minta tolong karena jam kuliahnya mepet" jelasnya. "kok Bapak mau?" "daripada kamu terus memberi pertanyaan yang tidak jelas lebih baik berterimakasih sama saya yang sudah bersedia jemput kamu" "yaaa kan saya kaget aja kok bisa Bapak yang jemput saya. Tambah merepotkan Bapak juga" "uda biasa kamu repotin" Ambigu. "kapan saya ngerepotin Bapak?" tanyaku tidak paham. "sering, kamu aja yang tidak sadar" Oke, aku lebih memilih diam tanpa merespon dan disini mulai bingung apa yang dimaksud Pak dosen, ngerepotin kapan gitu? "Wil" Samar samar mendengar seseorang memanggilku. "Wilda" "Wildiana Safira" merasa bahuku ditepuk pelan. Perlahan membuka kelopak mata yang masih terasa berat. "Ya ampun, saya ketiduran Pak?" berlanjut dengan mengucek mata sambil mengembalikan kesadaran khas bangun tidur "lumayan 30 menit bisa istirahat di mobil" jawabnya dengan terkekeh. Dan sekarang mobil yang kami tumpangi sudah sampai di depan gerbang kosan, suasana cukup sepi karena hujan masih menyisakan gerimis. "yasudah, kamu bisa lanjutin istirahatnya di kamar. Apa perlu saya antar?" pintanya tiba yang segera kutolak "enggak Pak, terimakasih banyak" "kenapa kamu kok kayaknya antipati sekali kalau kelihatan sama temen temen kamu?" tanya Pak Satya yang kini memutar badannya hingga fokus kearahku. "saya cuma nggak mau aja Pak, ada yang bilang aneh aneh tentang saya dengan Bapak" jawabku salah tingkah ketika beliau melihatku. "aneh aneh gimana? Orang cuma nganterin aja" Pak Satya meminta penjelasan. 'Astaga naga si Bapak, cuma nganterin katanya? Nggak tau gara gara itu hampir aja buat cewek cantik disampingnya hampir celaka' batinku "Pokoknya saya nggak mau" jawabku tegas dengan penekanan "iya terserah kamu aja. Ini tadi saya sempat mampir drive thru saat kamu tidur" dengan memberikan kantong plastik putih dengan logo Mekdi. "buat saya?" "iya, buat siapa lagi disini sekarang? Ohy tadi saya tambahin sup, nanti dihabiskan baru minum obat" katanya. Benar benar rizki anak sholehah yekan? "siap Pak Dosen" jawabku seakan akan menerima titah dari atasan. Setelah sedikit berbasa basi kubuka pintu mobil sambil membuka payung milik Pak Satya dan berlari kecil menuju gerbang. Sedikit melambaikan tangan pada si Empunya yaris putih di depanku sambil berjalan berlalu meninggalkannya. . . . To be Continued ----------------------------------------------------------------- With Love -Ayaya-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN