Tragedi Buku

1548 Kata
Pagi masih menyisakan dingin sisa hujan kemarin yang berlanjut hingga malam hari. Tetesan embun-pun masih terasa di ujung dedaunan yang basah. Sebelum shubuh kamar kosku sudah terang oleh cahaya lampu yang baru saja kunyalakan, istirahat seharian kemarin membuat kondisi tubuhku lebih baik. Bangun dengan berkeringat membuatku ingin segera beranjak dari tempat tidur. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi, saat membuka pintu kamar tidak ada satupun aktifitas yang ada. Penghuni kos masih khusyuk dengan jam tidurnya masing masing. Setelah mandi dan keramas membuatku segar dan memulai aktifitasku kembali. Setelah mengeringkan rambut kemudian ponselku bergetar panggilan masuk. Drrr drrr Bunda Tersayang Calling Senyumku merekah, segera menggeser icon warna hijau pada ponsel androidku untuk menjawab. "Assalamu'alaikum Bunda" "Wa'alaikumsalam anakku sayang" "kangeeeeeen" rengekku manja hingga tetesan diujung mata mulai mengalir "Kok nangis nak? Kenapa? Ada apa?" tanya Bunda khawatir, karena jarang sekali Aku menangis seperti ini. "kemarin Wilda hubungi Bunda nggak bisa, kirim pesan juga nggak dibales" jelasku dan dijawab dengan berohria "Maaf Nak, kemarin Bunda ikut bantuin Ayah di Toko. Ada dua pekerja yang cuti menikah sama melahirkan. Bunda nggak sempat cek HP, tapi kamu baik baik saja kan Nak?" "sekarang uda baik Bun" "Kamu habis sakit?" "kemarin uda periksa kok, Alhamdulillah sekarang Wilda baik baik aja" "Yaa Allah Nak, sakit apa? Sampai periksa berarti parah dong? Hari ini Bunda ke Surabaya deh" "Enggak perlu Bun, Wilda beneran uda baik banget. Sekarang aja uda selesai mandi mau siap siap ada kuliah jam tujuh" "beneran Nak? Kok kamu nggak hubungin Ayah atau rumah sih? Bunda jadi khawatir. Bunda ke Surabaya aja, cuma mau mastiin." "insya Allah minggu depan Wilda pulang Bun. Mumpung seninnya tanggal merah, jadi sekarang Bunda nggak perlu ke Surabaya. Transferin Wilda aja buat ganti ongkos periksa kemarin, hehehe" "gitu yaaa... Bunda mau jenguk nggak boleh, diganti transferan aja" Dan obrolan berlanjut dengan menceritakan kegiatan kampus dan Bunda bercerita tentang keadaan usaha Ayah. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Pagi ini ada meteri kuliahnya Pak Satya, kali ini tidak ada kata telat yaaa... Keadaan kelas cukup ramai karena teman temanku sudah banyak yang datang padahal jam masuk kuliah masih tiga puluh menit lagi. Rupanya pesona killer Pak Satya masih ampuh untuk mereka yang ingin datang terlambat pagi ini. "Pagi Wildaku sayang" seseorang tiba tiba memelukku dari belakang "ehhhh" memiringkan kepala sambil menjitak Si empunya suara "ngagetin aja Lo, Nad" "aduuuh" ringisnya melepaskan pelukan sambil menggosok gosok dahinya "kejam banget, masih pagi juga" "salah sendiri" kekehku "ohy, hari ini ada Kuis kan? Gue duduk di belakang Lo aja deh. Kali aja dapat Ibu peri baik hati terus bagi bagi jawaban" "enak aja, tuh liat" sambil kutunjukkan tas yang kubawa terletak di meja paling belakang "tas gue uda parkir manja disana" "yah... Kok gitu sih" "kalau Lo mau, tuh meja nomor satu sama nomor dua masih kosong" "ya kali tempat duduk Gue di depan meja dosen Wil? Mati kutu. Gue belum belajar sama sekali" "selamat menikmati yaaa" balasku dengan senyum penuh kemenangan "ohya, Gue mau ke kamar mandi dulu Nad, Kebelet" "iya cepetan. Bentar lagi Pak Satya datang tuh" kata Nadia tanpa kujawab dengan segera keluar dari kelas. Benar saja, ketika kembali Pak Satya sudah duduk manis di tempatnya. "kamu telat lagi" tanyanya kemudian ketika kubuka pintu kelas, dan sikap juteknya kembali pada mode on. "dari toilet Pak, saya sudah datang dari tadi. Itu tas saya ada di meja..." kataku terputus ketika akan menunjukkan letak tas ranselku di belakang, tiba tiba dikagetkan dengan menemukan keberadaan tasku di atas meja yang letaknya tepat di depan meja Dosen, mataku membulat seketika. Tidak mungkin tasku bisa berjalan sendiri bukan? Kuarahkan pandanganku ke belakang, disana ada Anton yang duduk di mejaku sebelumnya. Aaaarrrggghhh! Balasannya hanya nyengir tidak berdosa sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf 'V' "Kamu mau ikut kelas saya apa tidak" tanya Pak Satya kasar "eh, iya Pak. Maaf" melangkahkan kaki ragu menuju meja di depan Pak Satya. Ampun, kali ini Gue bener bener tengsin. Mengerjakan kuis kali ini terbilang cepat, tidak sampai 30 menit sudah selesai. Gimana tidak? Opened book yang sudah jelas jelas catatanku selalu penuh dengan penjelasan dari Pak Dosen. Buat yang males nulis materi yaaa selamat menikmati, kayak Nadia. Boleh ketawa jahat kan Gue? "sssttt, Wil? Lo uda selesai kan?" bisik Nadia duduk tepat di belakangku yang kujawab dengan anggukan pelan. "kumpulin gih! Terus catetan Lo, Gue pinjem" Titahnya yang kujawab dengan gelengan cepat sambil senyum jahil "Astaga, Jehongnya temen Gue" Aku bener bener uda nggak tahan mau ngetawain Nadia. Selang beberapa menit segera mengumpulkan kertas jawaban dari kuis hari ini. "yang sudah selesai bisa keluar dari kelas saya" perintah Pak Satya Tentu sebelum keluar kelas dengan adegan slow motion sambil melirik Pak Dosen, kuletakkan buku catatanku pada Nadia. Karib masa mau ninggalin gitu aja, kulihat ia tersenyum lepas seperti baru saja mendapatkan door prize. -Kantin Kampus- Menunggu Nadia hampir tiga puluh menit hingga pesanan cappucino ice menyisakan gelas tanpa isi didalamnya. "uda selesai Nad? Lama bener? Padahal di catatan Gue uda lengkap lho" tanyaku saat baru saja datang kemudian duduk tepat didepanku yang tidak merespon sama sekali pembicaraanku. "Lo kenapa sih?" tanyaku kemudian "Anyway, mana buku catatan Gue?" sambil menyodorkan tangan "itu masalahnya" jawabnya lemas "masalah gimana?" tanyaku kembali "buku cacatan Lo" Makin ambigu kan Nadia? "kenapa dengan buku catatan Gue?" kali ini Gue bingung. "dibawa Pak Satya" katanya dengan hati hati. "What?" mataku membulat sempurna. Nadia menjelaskan ketika Aku keluar, Pak Satya mendekatinya dan meminta buku catatan yang jelas jelas ada namaku tertera disana. "Gue nggak bisa berbuat banyak Wil, ketika Pak Satya bilang gitu" jelas Nadia Yaaa, seperti biasa. Selalu mengancam dengan nilai. Kupijat ujung hidungku yang tidak terlalu mancung. "pokoknya nggak mau tau, Lo harus ambil tuh buku dari Pak Satya" "itu juga masalahnya, yang harus ngambil harus empunya buku. Sorry" "argghhh, Gue kena lagi" "mending sekarang Lo susul Pak Satya deh, sebelum masuk kelas lagi" pinta Nadia. "susul kemana?" tanyaku sarkastik. "Susul ke pelaminan" jawab Nadia ngasal membuat mataku membulat seketika "ya ke kantornya dong" lanjutnya. "tuh mulut minta dilakban ya, lama lama nyablaknya nggak bisa ditolelir" Tanpa mendengarkan lanjutan penjelasan Nadia, segera berdiri dan berjalan menuju suatu tempat. -Kantor Ka.Prodi- Tok tok tok Kuketuk pintu dari luar. "masuk" suara lantang dari dalam. Setelah pintu kubuka... "oh, kamu" jawabnya seakan sudah mengetahui yang akan datang "duduk" titahnya. "anu..." satu kata ambigu yang keluar, kulihat Pak Satya mengerutkan kening tidak paham "anu... buku catatan saya Pak" lanjutku "harus to the point ya?" "saya nggak suka bertele tele Pak" "Oke, saya jawab. Buku kamu saya bawa" jelas Pak Satya tidak kalah singkat. "kok dibawa Pak? Yang salah kan Nadia" tolakku. "kenapa kamu pinjamkan sama temen kamu?" tanya Pak Satya yang membuatku menarik kalimat berikutnya. Hening, "sudah tau kesalahan kamu dimana?" tanya Pak Dosen yang kujawab dengan anggukan "Oke, kamu bisa keluar" "nasib buku saya gimana Pak? Bapak nggak butuh butuh banget kan? Semua catatan saya ada disitu semua" "sementara saya bawa, sekarang kamu bisa keluar" What? Gue diusir "masih belum dikembalikan yaaa wil?" tanya Nadia ketika melihatku berjalan kearahnya. "belum boleh diambil. Tau deh mau diapain" dengan malas menjelaskan pada Nadia "nanti juga bakal dikembalikan Wil, btw ke Kafe Jingga yuk" "Gue masih Unmood nih" "makanya ayok Ngafe dulu... Kali aja bisa stalking sambil nongki cantik" "boleh deh, biarin tuh buku mau diapain" Sore harinya, di Kosan cukup lengang karena banyak penghuni yang masih aktifitas di luar. Tempat kos yang kutinggali selama dua tahun terakhir terdiri dari dua lantai, kamarku terletak di lantai dua yang paling ujung. Sengaja memilih tempat paling ujung karena lebih privasi dan tidak banyak penghuni lalu lalang, dan tentunya karena view balkon langsung menghadap jalan raya. Jadi kalau ada mamang jualan bisa kedengeran dan sekali panggil langsung kelihatan. Cerdas kan Gue? Hehehe "mbak Wilda ngapain?" tanya seseorang yang duduk disampingku "eh, Calista yaaa?" ia mendekatiku. "Iya mbak, tadi ngikut Andin kesini. Habis di kosanku sepi" "kosan kamu di daerah mana emang?" tanyaku sedikit kepo. Jujur ya, Calista ini cantiknya diatas rata rata. Kulit putih terawat dengan perawakan model yang membuat lapar mata lelaki pastinya. "mbak Wilda lupa?" "Bukan lupa Cal, tapi emang nggak tau. Kapan gitu ke kosan kamu?" "kata Mas Satya, nyariin Aku kos bareng sama mbak Wilda" jelas Calista yang membuatku mengingat memori beberapa waktu yang lalu. "bentar deh, Mas Satya?" tanyaku kembali memastikan. "aduh mbak, perlu banget diperjelas yaaa?" kekeh Calista "Pak Dosen Rakastya Wijaya kenal kan?" "eh? Jadi kamu?" Saat menyadari sesuatu. "Iya, Aku sepupu Dosennya mbak Wil" jelas Calista berikutnya yang membuat mulutku membeo. "kirain...." "Pacarnya" tebak Calista yang disambung dengan ketawa lepas. "yaaa kali kamu suka dengan yang lebih dewasa Cal" makin tidak terkontrol "ehhhh" sambil menutup mulut tiba tiba. "emang kelihatan banget yaaa mbak?" godanya. "apanya?" "Mas satya lebih dewasa daripada usianya" "uda 30 tahun nggak sih?" tanyaku kepo "Mas Satya baru 27 ditahun ini mbak, Masa' setua itu ihhh" "ohhh, maaf maaf... Eemmm kok jadi bahas Pak Dosen" "Iya yaaaa?" kekehnya kembali "boleh nggak sih Ghibahin di depan sepupunya sendiri?" tanyaku disertai dengan ketawa. "sebenernya Mas Satya orangnya baik banget lho... Keliatannya aja cuek kalau di kampus" jelas Calista yang kubenarkan. Dosenku satu itu seperti punya dua sifat yang berbeda, eeeehhh... Jadi bahas yang enggak enggak nih, potong sampai disini pembahasan Pak Satya. Karena sampai detik ini Aku tetap setia menjadi hatersnya, apalagi setelah kejadian tadi pagi. . . . To be Continued ----------------------------------------------------------------- With Love -Ayaya-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN