Menemukan tempat parkir di Kampus ketika sore itu susah susah gampang, kenapa? Karena banyaknya volume Mahasiswa yang memarkirkan kendaraan mereka, kalau saja bisa sedikit rapi mungkin bisa memuat lebih banyak kendaraan. Karena kurang sadar akan kedisiplinan jadi parkiran kampusku tambah semerawut.
Sore ini tidak ada jadwal kuliah, hanya ingin menghadiri rapat UKM untuk membahas majalah kampus edisi bulan depan.
Aku cukup aktif dalam mengisi rubrik majalah, minimal ada dua karyaku disana. Yang menjadi langganan adalah rubrik 'Curhat' dan 'Tips & trick', karena kedua rubrik tersebut yang menjadi usulanku ketika awal mengikuti UKM Jurnalistik dan langsung disetujui.
"baik, untuk tema edisi bulan depan ada usulan dari temen temen?" tanya Rio selaku pimpinan redaksi, dia anak tehnik semester tujuh.
Jujur Aku sempat pernah mengaguminya, dan cukup sampai disitu karena dia sudah punya pacar yang selalu kudoakan segera putus dari tahun pertama Aku mengikuti UKM ini, namun doaku tak pernah terkabulkan. Disini mulai nyeseg.
"Politik aja gimana?" usul siska, anak semester tiga yang sefakultas denganku
"alasannya?" tanya Rio kembali
"kan mendekati tahun politik kak, bisa memberikan wawasan kepada Mahasiswa agar bisa berpartisipasi aktif" jelas Siska yang diikuti anggukan Rio
"tapi bukannya tahun politik lebih dikhususkan tahun depan ya? Tapi Kita tahan dulu, mungkin ada opsi yang lain?"
"E-commers gimana?" usulku membuka suara
"bukannya uda sering yaaa?" bantah Damar teman seangkatanku namun beda fakultas
"bukan sering, kalau ingatanku benar terakhir dibahas pertengahan tahun kemarin kok" cobaku mengingatkan
"alasan kamu untuk mengambil tema ini kembali?" Rio menengahi
"jadi gini, sekarang kan bermunculan Online shop dengan berbagai macam penawaran untuk menarik customers. Kita bisa angkat itu untuk dibahas, bukan cuma dari sisi E commersnya aja tapi dari sudut pandang lain. Baik pelaku usaha online ataupun offline, ada kejadian beberapa Mall ternama pada gulung tikar" jelasku panjang lebar
"Kita juga bisa membandingkan manajemen E commers yang pernah dibahas sebelumnya dengan sekarang, sisi positif dan negatifnya pasti ada" lanjutku yang membuat beberama teman UKM mengangguk
Hening...
"busseeeet, kali ini Gue percaya kalau Lo bener bener Mahasiswa fakultas ekonomi Wil" terang Wisnu, anggota UKM yang paling heboh dan nyiyir
"masuk tahun ketiga kuliah baru nyadar kak?" jawabku sebal
"Aku setuju sih, e commers yang pernah dibahas sebelumnya juga pasti update informasi. Gimana dengan yang lain?" Rio menengahi
Semua anggotapun menyetujui usulanku kali ini.
"Tema politiknya kita simpan dulu untuk tahun depan menjelang pilpres. Sekarang kita bagi tugas" tutupnya pada pembahasan tema edisi bulan depan dan berlanjut job description.
What the hell?
Senjata makan tuan pada akhirnya. Gue yang usul, Gue juga yang bertanggung jawab untuk bagian laporan utama. Kenapa? Karena sudah jelas narasumbernya dari fakuktas ekonomi. Dan tau siapa? Coba menebak...
Nama 'Pak Satya' menjadi opsi tunggal dan semua setuju dengan satu nama itu kecuali Gue. Sistem musyawarah mufakat menjadikanku kalah dalam pengambilan suara.
Alasannya cukup jelas, terbilang Dosen baru, muda, cerdas, kariernya bagus. Yaaa iya tahun ketiga uda jadi Ka Prodi aja.
Kali ini bukan itu, masalahnya karena Gue yang harus mengadakan sesi wawancara dengan Pak Satya. Memang tidak sendiri karena ada Sisika yang akan ikut, tapi tetep Gue nggak mau. Males, sumpah!
"kenapa mbak kok kayaknya nolak banget untuk wawancara Pak Satya" tanya Siska ketika rapat UKM Jurnalistik usai
"emang keliatan banget ya?" tanyaku yang dijawab Siska dengan anggukan "nggak apa apa sih sebenernya. Tapi kenapa harus Aku gitu?"
"secara anggota UKM yang dari fakultas kita kan cuma mbak Wilda yang paling senior. Tapi kan enak bisa ngobrol sama Pak Dosen ganteng"
"kamu juga masuk kategori fansnya Pak Satya?" tanyaku sedikit penasaran
"jelas dong mbak, ganteng pinter gitu" jawab Siska antusias
"kok Aku biasa aja ya?" dengan muka datar
"berarti ada yang salah sama mbak Wilda" kekeh Siska
"enak aja, maksudnya apa nih?"
"hehehe, bercanda Mbak"
Rapat selesai ketika selesai adzan maghrib berkumandang. Memutuskan untuk mengikuti jamaah di Masjid kampus dan segera pulang ke Kosan.
Ketika baru menyalakan mesin motorku sayup sayup terdengar seseorang memanggil namaku cukup lantang. Sambil mencari sumber suara, dan benar saja
"tumben sore sore ngampus neng? Padahal nggak ada jam kuliah kan?" tanya Nadia yang berusaha duduk di Jok penumpang
"baru selesai rapat UKM Gue. Nah elo ngapain?" tanyaku balik
"sama sih, Rapat nyiapin acara seminar kewirausahaan bulan depan. Ikut ya?"
"free pass yaaa?" kekehku
"maunya yang gratis mulu sih?"
"punya temen bisa ngasih gratisan kenapa nggak dimanfaatin coba?"
Tidak ada jawaban dari Nadia
"Nad" Gue toleh kebelakang, Nadia sedang melihat suatu arah dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya "NADIA EKA PRATIWI" panggilku dengan keras
"ngagetin aja Lo ahhh"
"maghrib gini ngelamun? Awas kesambet Lo" ingatku padanya.
Tapi memang benar sih, terlepas dari mitos atau fakta ada beberapa larangan ketika menjelang waktu maghrib. Salah satunya itu, gak boleh ngelamun.
"lihat arah jam dua deh" pinta Nadia dan anehnya kuturuti "seger banget gaksih lihat pemandangan kayak begitu" jelas Nadia tanpa menoleh sedikitpun.
Arah jam dua meletakkan pandanganku kepada sosok laki laki duduk di atas kap mobilnya yang sedang tertawa lepas bersama gerombolan teman temannya. Harus kuakui Aku sempat mengaguminya, catet! Hanya mengagumi.
"kenapa emang? Biasa aja Gue. Elonya aja yang nggak bisa move on sama ketua BEM" kataku dengen melihat sekilas Dito dan teman temannya.
Anandito Darmawan, ketua BEM yang pesonanya bertebaran kemana mana. Mirip selebritis kampuslah.
Pembawaannya supel dan ramah serta pandai manjemen berorganisasi membuat hampir semua Mahasiswi kampus mengidolakannya. Terlebih dia dari fakultas yang sama denganku, jadi paling tidak Pak Satya ada saingannya.
"uda sebulan ini Gue deket terus sama dia Wil, dan anehnya Gue makin penasaran" jelas Nadia.
"deket gimana maksud Lo?" tanyaku tidak paham.
"yaa kan dari kemarin sama sama ngurusin Maba terus sekarang ada seminar. Jadi Gue bisa leluasa pandangin Mahakarya ciptaan Tuhan yang satu itu" jelasnya sambil pandangannya tidak terlepas dari Dito.
"Modus sih Lo. Niatnya aja iku BEM fakultas, taunya cuma pengen ngecengin cowok" kataku dengan menyenggol lengannya.
"ngawur, kalau ngecengin cowok itu bonusnya kali"
"terserah deh! Eh, kemarin mau bilang apaan sih?" tanyaku mengingatkan beberapa waktu yang lalu Nadia sempat chat w******p untuk memberitahu sesuatu.
Kan kepo...
"ya ini, ngecengin Dito. Kali aja dapet" katanya dan kuberikan delikan tajam.
"unfaedah banget. Buruan bangun, Gue mau balik kos nih" sambil sedikit memberikan dorongan ringan.
"buru buru amat?" tanya Nadia saat ia berdiri.
"mending Gue balik kos daripada sama Lo yang halu liatin cowok orang"
"jomblo kok dia. Makanya Gue pepet, kali aja nempel, hahaha"
"Gue kok sangsi yaaa kalau Lo mau alih profesi jadi pelakor"
"ehhh... Tuh mulut minta dikasih sambal gaksih?"
"mau banget, sekalian ditambahin ayam bakar makin mantap" kemudian terkekeh.
"maunya..."
"mau bangetlah... Uda ah, Gue cabut dulu. Hati hati Lo di kampus"
Pamit sama Nadia, menstarter sepeda matic-ku dan bergerak keluar area kampus menuju Kosan.
.
.
.
To be Continued
-----------------------------------------------------------------
With Love
-Ayaya-