Sebuah Nada

1547 Kata
"Wil, hangout yuk" suara Nadia dari seberang telepon. "boleh, mau kemana emang?" tanyaku "ajak Rendi sekalian. Lama banget Kita nggak nongki bareng" pintaku. "males Gue, tiap diajak sok sibuk banget. PTC aja, sekalian cuci mata. Kali aja ada barang diskonan yang pengen Gue beli" "alasan aja Lo, Gue nggak mau yaaa nanti pas nyoba terus nggak jadi beli. Tengsin Gue" mulai nggak setuju dengan sikap Nadia kalau di Mall. "nyoba kan gratis" Kekehnya "Jemput Gue di Kosan ya?" "iya Nyonya" tutupku Percakapan selesai, Wilda meraih handuk dang segera beranjak menuju kamar mandi. Memakai kaos lengan panjang dengan rok selutut ditambah sneakers melengkapi penampilanku kali ini. Setelah siap, mengambil sling bag dan helm kitty-nya dan berangkat menjemput Nadia. -PTC- "bener kan feeling Gue, hampir sejam muter muter cuma nyobain stand yang ada diskonan. Malu Gue ah" benar dugaanku dari awal. "cuma sekali doang ah. Sensi Lo mah" Nadia menyenggol pundakku. "buruan cari makan nih, Jam segini waktunya ngasih jatah perut Gue" melangkahkan kaki lebih cepat. "yes madam" jawab nadia singkat karena sudah mulai melihat raut Bete diwajahku. Keduanya menaiki eskalator menuju food court. Namanya mahasiswa, lebih memilih menu makanan food court daripada jejeran stand restoran yang memiliki harga cukup tinggi. Keduanya memilih menu paket Nasi ayam lada hitam dengan es lemon teh ukuran jumbo. Mereka duduk tidak jauh dari stand makanan yang dipesan agar memudahkan pramusaji mencarinya. Sambil menunggu pesanan datang tiba tiba Nadia memegang kedua tanganku. "wil, Gue mau bicara serius sama Lo" tanya Nadia tiba tiba dengan pandangan serius menatapku, kali ini benar benar tidak ada raut bercanda di wajahnya "bicara aja Nad, bikin Gue penasaran aja" jawabku dengan santai. "Lo tau kan Gue dalam misi pepetin ketua BEM?" katanya hati hari dengan antusias "unfaedah bahas itu lagi dari kemarin" kataku dengan menyeruput es lemon teh. "dan perasaan Gue berbalas Wil, Lo percaya?" Benar saja, kalimat yang diucapkan Nadia sukses membuatku kaget hingga tersedak. Untung cuma air putih yang tadinya kubawa dari kosan. Nadia bangkit sambil menepuk punggungku pelan. "Lo bercanda nggak lihat Sikon sih" sambil mengusap mulut dengan tissu. "emang ada manik bercanda di wajah Gue?" kembali Nadia duduk tepat di depanku. Percakapan Kami terpotong ketika pramusaji datang memberikan pesanan Nadia. "Lo serius gaksih?" tanyaku yang dijawab dengan anggukan pelan "kok bisa?" Nadia menjelaskan ketika terakhir Kita bertemu di parkiran, setelah kepergianku ia didekati Kak Dito. Mengajak Nadia untuk bertemu keesokan harinya dan disitulah momen Kak Dito menyatakan perasaannya, di pantai kenjeran kawasan Surabaya bagian utara. Kulihat binar bahagia tercetak jelas di mata Nadia ketika begitu bersemangat menceritakan detik detik Kak Dito memintanya untuk dijadikan pacar. "oke oke, anggap aja Gue percaya. Terus kapan PJ-nya?" "minta sama Kak Dito dong, eh bentar Gue angkat telpon dulu. Lo makan aja keburu dingin" Selang beberapa menit Nadia kembali dengan menggandeng seseorang, mataku membulat seketika. -Si Ketua BEM- yang dulu sempat Kupuja dan sekarang harus berucap 'bye' padanya. Ya, secara udah sold dengan sahabatku Nadia. "Hai?" menyapaku kemudian yang Kujawab dengan senyum tipis sambil menerima jabatan tanggannya "Kamu Wilda kan?" "Iya Kak" jawabku singkat, sumpah deh Gue pengen kabur aja dari pasangan baru jadian yang masih anget. "uda pada pesen makan nih?" tanya Dito pada kami yang sudah tersaji dua paket makanan yang siap disantap. "iya kak, kirain Kakak tadi cuma bercandain mau kesini. Eh taunya beneran" jelas Nadia pada pacar barunya, sumpah gue pingen segera beranjak dari situasi seperti sekarang. "nasib jomblo nih, kalau begini jadi obat nyamuk aja" potongku "kamu belum punya cowok wil?" tanya Dito yang diakhiri dengan ketawa. Kok Akunya tersinggung yaaaa. "kalian ini janjian buat jomblo atau gimana sih?" tuh kan, mulutnya minta dikuliahin. "enak aja, emang belum ada yang pas di hati" ngelesku "jawaban pembelaan" tambah Dito dengan kembali tertawa "kalau masih bahas hal unfaedah gini mending Gue pulang aja deh. Biar kalian bisa berdua" jurus ngambekku keluar. "jangan dong Wil, makanan Lo aja belum habis semua" Nadia merasa tidak enak. "cowok Lo tuh, buat badmood" "bercanda aja wil... Mau dicariin nggak?" Dito akhirnya mengalah. Boleh Gue bilang ini kesempatan bagus nggak sih? Relasinya Dito kan banyak. Kali aja ada yang nyantol dan sreg di hati. Ketawa jahat deh... "beneran nih? Boleh deh dicariin. Yang standarnya diatas Kak Dito yaaaa" jelasku dengan ketawa "waduh, sulit amat Wil pasang target. Yang mendekati kayak Aku aja susah apalagi diatasnya" baru tau kepribadiannya Dito yang super Pede. "standarku bukan yang biasa biasa aja yaaaa... Uda ah, mau makan. Ngobrol sama Kak Dito buat Laper" segera menyantap nasi ayam di depanku. "Kak, tadi Wilda nanyain PJ tuh," Nadia emang pinter, ingetin PJ buat Dito. "boleh aja, minta dimana emang?" tanya Dito tanpa beban "Restoran Steak yaaa..." boleh Aku bilang ini mumpung banget gaksih? Hahaha "oke, Kapan?" "besok aja gimana?" usul Nadia "deal" Dito menyetujui "ajak Rendi yaaa..." pintaku "boleh, terserah kalian aja" Obrolan Kami bertiga berlanjut membahas seputar kegiatan kampus. Tidak terasa sudah satu jam lebih kami mengobrol. "Nad, kamu pulang bareng siapa?" tanya Dito. "sama Wilda dong kak, tadi kan berangkatnya bareng" jelas Nadia sambil menggandengku "emmm, Lo bareng sama Kak Dito aja gimana Nad?" disini malah Akunya yang gak enak. Jadi terpaksa ngalah pulang sendirian. "kenapa Wil?" tanya Nadia "Aku masih mau mempir ke satu tempat" melepaskan tangan Nadia yang masih memegang lenganku " uda nggak apa, Aku jalan dulu yaaa... Baik baik Lo pulangnya" disini terpaksa melihat adegan Nadia digandeng Dito. Kok Baper Qaqaaaa? "Kak antar Nadia sampai selamat yaaa" pintaku pada Dito. Secara Gue sahabat yang baik yekan? "siap... Kamu memang sahabat yang pengertian" Dan berakhir dengan menaiki sepeda matic ku sendiri, beginilah nasib seorang Mblo. Malam minggu, di kosan hanya berteman dengan Laptop dan musik dari sound speaker yang melantunkan lagu lagu sendu pilihanku. Mau ngerjain tugas, males. Semua serba males. Tok tok tok Suara pintu kamarku diketuk dari luar "masuk aja" Setelah pintu terbuka "mbak, barusan Calista telpon ngajak nongki di Kafe Jingga, Malming gini kan ada Live Music. Suruh ngajakin mbak Wilda, kalau nggak sibuk sih" Pucuk dicinta, ulam pun tiba. "boleh banget, Mbak ganti baju dulu yaaaa" mengiyakan ajakan Andin dengan senyum Disini kami bertiga sekarang. Gue, Andin dan Calista memilih duduk yang tidak terlalu jauh dari sebuah panggung mini yang terdapat beberapa peralatan musik akustik. Live music baru akan dimulai, biasanya ada satu vocal yang akan menyanyikan sebuah lagu dan dua lagu request. Setelah itu para pengunjung bisa ikut menyumbangkan suaranya dengan ditemani vocal dari Band akustik.     'Pernah by Azmi' menjadi lagu pertama yang dinyanyikan oleh vokalis'. Lagu kedua dan ketiga bergenre sendu lagi lagi yang dipilih. Dan kini saatnya pengunjung kafe diminta untuk maju kedepan secara sukarela. Dan apa yang terjadi? Andin langsung meneriakkan namaku yang diikuti oleh Calista. Sontak pengunjung yang lain mengikutinya. "Yang namanya Wilda bisa maju kedepan untuk menyumbangkan suara emasnya" pinta sang vokalis laki laki. Kututup wajahku karena malu ketika namaku dipanggil "Ayo mbak Wil, masa cuma berani nyanyi di kamar kos aja?" ledek Andin. "yuk mbak Wilda, Aku semangatin" tambah Calista. Karena kehebohan kedua temanku ini berakibat pada vokalis tadi mendekatiku untuk memberikan microphon dan memintaku maju kedepan. Berdiri ragu sambil merapikan baju dan rok yang kupakai sambil berjalan menuju mini stage yang berada di depan. Sedikit ngobrol dengan anggota band akustik dan vocalis untuk memilih lagu serta menyerasikan nada. Menarik nafas sambil memejamkan mata untuk menetralkan degub jantungku yang tak karuan karena nerveus, dan berikut persembahanku     Tepukan riuh kudapatkan ketika menyelesaikan bait lagi terakhir. Senyumku mengembang. Sengaja kupilih lagu duet agar bisa mengajak vokalis ikut bernyanyi bersama, memilih lagu yang cukup mellow semakin melengkapi komposisi playlist music live malam ini. "Baper akuuu mbak Wil" Andin berkomentar sambil memelukku ketika kembali ke tempat duduk kami. "easy listening banget" tambah Calista yang membuatku merona. "makasih semua. Duh mimpi apa semalem bisa live music gini" sambil memegang pipiku yang menghangat "ohya, tadi Aku lihat Calista lagi videoin gaksih?" tanyaku "live i********: mbak" sambil melihatkan ponselnya. Mataku membukat sempurna saat melihat hampir menyentuh ribuan pengikutnya melihat live i********: milik Calista. Gak salah sih kalau banyak yang nonton, secara followersnya Calista juga banyak mencapai puluhan ribu ala ala selebgram. "yaaa ampun, malu ihhh" "suara bagus gitu kok malu sih?" "ehem, permisi" tiba tiba seseorang mendekati Kami. "iya?" tanyaku padanya "saya manajemen Kafe Jingga bisa bicara sebentar dengan saudari Wilda?" "saya Mas?" menunjukkan wajahku "iya mbak, mari ikut saya" pinta Mas tadi "bentar ya..." pamitku pada dua temanku Selang beberapa menit Aku kembali menuju meja yang masih diduduki Andin dan Calista. Mereka memasang wajah penuh tanya ketika kumendekat "ada apa Mbak wil?" tanya Andin penasaran "aku ditawarin jadi trainer vokalis akustik band-nya Kafe Jingga" terangku dengan wajah sumeringah "seriusan?" "tuh kan,,, Aku bilang juga apa... Suara mbak Wilda tuh easy listening" Calista yang selalu memuji penampilanku "terus, mbak Wilda terima dong?" tanya Andin antusias "belumlah, masih fikir fikir dulu. Belum bilang sama Bunda juga" jawabku datar "yahhh... Padahal nyanyi kan nggak butuh waktu lama mbak, lumayan juga. Tapi semua balik sama mbak Wilda" "Aku uda dikasih kartu nama namajemennya kok, jadi enggaknya tetep diminta untuk menghubungi" sambil menyodorkan sebuah kartu nama pada mereka berdua "kita habisin makan terus balik ya?" pintaku pada mereka. Setelah kejadian di Kafe kok aku antusias banget yaaa... Tunggu besok diobrolin sama Bunda... Saturday Night, Jam menunjukkan pukul sebelas malam, sudah diatas kasur memeluk guling dan bersiap berlayar menuju pantai indah kapuk... . . . To be Continued ----------------------------------------------------------------- With Love -Ayaya-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN