Pagi itu, suasana di perusahaan Arsenio terasa lebih sibuk dari biasanya. Para karyawan berlalu-lalang membawa berkas, suara telepon bersahutan, dan aroma kopi menyebar ke seluruh ruangan. Mikayla melangkah masuk dengan langkah ringan namun hati yang waspada. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, di kantor ia bukan perempuan yang tinggal satu atap dengan presdir. Ia hanya karyawan magang yang harus bekerja sebaik mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan. Namun ketenangan itu lenyap begitu ia melihat seorang perempuan baru berdiri di depan ruang kerja Arsenio. Tubuhnya semampai, rambut hitamnya disanggul rapi, bibir merahnya tersenyum sopan kepada setiap orang yang lewat. Di dadanya tersemat pin kecil bertuliskan Selena, sekretaris eksekutif. Beberapa karyawan pria berbisik kagum, sem

