Di antara banyak hukuman yang Tuhan beri, hanya ini yang membuatku menangis dan ingin menghindarinya. Aku tak sanggup menerima kenyataan saat mendengar vonis dokter begitu menakutkan.
Aku menderita demensia di mana perlahan-lahan kehilangan daya kemampuan untuk mengingat, mengerjakan sesuatu dan hal yang mengerikan adalah kematian karena otakku akan menyusut.
"Bagaimana hasil labnya, Ping?" tanya Rita pagi ini, di sampingnya ada Janar yang menunggu jawabanku.
"Hanya kelelahan dan banyak pikiran, itu kata dokter," kataku berbohong. Aku tak mau mereka mengetahui penyakitku.
"Kok aneh sih? Kalau sudah berurusan dengan lab atau pemeriksaan di bagian kepala itu ada sesuatu, Ping. Kamu nggak berbohong, kan?"
"Kamu nggak menyembunyikan sesuatu misalnya hidup kamu tinggal beberapa bulan lagi gitu," sahutnya tiba-tiba.
"Bibi, kenapa bicara seperti itu?" Janar memarahinya yang membuat Rita cemberut.
"Makanya jangan kebanyakan nonton drama," omel Janar tak suka dengan perkataan Rita.
"Untuk apa aku bohong, Rit? Ada-ada saja bibi kamu ini, Nak."
Maafkan aku, Rit. Maafkan juga ibu kamu, Nak. Aku tak sanggup menceritakan keadaanku yang sebenarnya pada mereka. Biar aku yang menanggung sendiri. Sebelum ingatanku benar-benar hilang, aku akan terus berusaha mencatat setiap hal yang aku lakukan tiap harinya.
Takut? Tentu saja aku takut jika aku melupakan wajah orang yang aku cintai dan sayangi terutama Janar, ada perasaan sedih kalau suatu hari nanti aku tak mengingat siapa diriku lagi dan bertingkah layaknya anak-anak.
"Kalau ibu masih sakit jangan mengantar Janar ke sekolah. Biar Janar naik taksi saja," anjur Janar yang semestinya hari ini aku mengantarkan menuju sekolah.
"Nggak apa-apa, Nak. Ibu sudah nggak sakit kok." Aku berusaha menyakinkan diri sendiri bahwa keadaan sudah membaik, biarlah Janar dan Rita menganggapku hanya kelelahan saja karena masalah kemarin.
"Ibu akan berganti pakaian dulu ya. Janar sarapan dulu."
Rita mengikutiku ke kamar, ia masih penasaran dengan keadaanku. Aku tahu Rita tak akan begitu saja percaya akan hasil lab yang kuterima kemarin. Ia yang menemukan dokter Zhalim dan mengurus obat-obatanku.
"Kamu boleh berbohong pada anakmu, tapi tidak denganku, Ping," ucap Rita pelan sembari menutup pintu kamar.
"Apa sih Rit? Yang aku katakan benar kok. Aku nggak bohong." Aku menyangkal perkataannya, Rita bukan tipe orang yang diam saat tahu ada rahasia.
"Kamu pernah kena tumor dan kata dokter Zhalim waktu itu sudah sembuh. Tapi aku nggak yakin, dari buku yang aku baca sewaktu-waktu penyakit itu akan kambuh lagi. Benar kataku, bukan?"
"Jadi kamu mengharapkan penyakitku kambuh?" Aku pura-pura marah.
"Ya bukan begitu, Ping. Aneh saja kamu harus melakukan pemeriksaan lengkap dan sudah kali juga. Akhirnya---"
"Rit, tenang saja ya. Aku baik-baik saja dan tidak ada hal serius."
Aku tak mau menjadi beban pikiran Rita. Aku tahu apa yang ia takutkan. Dua kali aku melakukan pemeriksaan lengkap mulai dari pengambilan darah, CT-SCAN dan lainnya juga. Rasa cemas dan khawatir menjadi alasan Rita yang tak menginginkan aku mengalami hal serupa.
"Kalau terjadi sesuatu, kamulah orang pertama yang aku beritahu ya."
"Harus loh ya, Ping. Awas kamu membohongiku!"
Dasar Rita, ia pura-pura sok kuat di hadapanku dan berani memarahiku. Namun di saat sendirian, ia akan menangis sembari menutup wajahnya dengan bantal. Ia tak seberani penampilannya dari luar.
Sebelum mengantarkan Janar, ada baiknya aku mengambil memo dan menuliskan kegiatanku hari ini hingga malam menjelang. Kata dokter Zhalim hal itu memang perlu dilakukan agar kita terus bisa berpikir dan mengingat sesuatu.
****
Sekeras apapun aku berusaha untuk menghindar, Bi selalu datang menemuiku. Kali ini ia mengajakku ke kafe miliknya lagi padahal aku sudah menolaknya.
"Ayo turun, Ping."
"Kenapa mengajakku ke sini?" tanyaku, aku tak mau ada orang yang mengintai lagi.
"Memangnya mau ke mana lagi? Ya untuk makan siang, Ping. Kamu ini aneh," sahut Bi membukakan pintu mobil lalu membantuku berdiri.
"Bukan masalah makan siang, Bi. Bagaimana kalau orang suruhan ibu kamu datang lagi?"
"Ibu tidak pernah tahu tempat ini, kamu satu-satunya wanita yang tahu dan yang kuajak ke sini," ucap Bi begitu santainya sambil tertawa.
Mustahil rasanya jika nyonya Meina tak tahu apapun mengenai kegiatan anaknya. Nyonya Geni itu pengawas anaknya yang jeli.
"Ibu tidak pernah suka kalau aku membangun sebuah kafe karena itulah aku bekerjasama dengan temanku waktu membangunnya lalu ia melepaskan sepenuh hak miliknya setelah selesai. Jadi nggak ada yang mencurigai jika kafe ini sekarang milikku."
"Bi, jangan menuntunku. Banyak mata yang melihat kita."
Aku melepas genggaman jari Bi ketika sudah masuk ke ruangan kafe. Mata pengunjung mengawasi langkahku yang jalannya agak pincang dan Bi yang rupawan. Kami bagaikan si tampan dan si buruk.
"Jangan pedulikan tatapan mereka, Ping. Kebiasaan orang kan begitu. Benar, bukan?"
Aku memagutkan kepala mengiyakan perkataannya. Itu sifat dasar manusia yang ingin tahu segala sesuatunya lalu dibicarakan di belakang.
"Lebih baik kita ke atas saja. Lebih nyaman di kantorku daripada di sini. Aku muak melihat pandangan mereka terhadap kamu."
Tentu saja pegawaimu merasa tak nyaman dengan keberadaanku, Bi. Kamu pria yang punya segalanya dan tampan lalu berjalan dengan wanita pincang sepertiku.
"Sudah nggak apa-apa, Bi. Aku sudah terbiasa kok."
"Ayo kita ke kantormu. Aku ingin tahu di sana ada apa aja."Aku mengajaknya bergurau mengalihkan rasa kesalnya saat salah pegawainya mencibir kedatanganku.
"Di kantorku ada foto kamu," sahutnya sembari menaiki anak tangga.
Aku pun mengikuti langkah Bi, tetapi ada sesuatu yang aneh pada diriku sendiri. Perasaan bingung seperti orang yang kehilangan kesadaran.
"Bi ..." Aku memanggilnya tanpa sadar.
"Hmm. Apa Ping?" Bi menyahut yang terus melangkah menaiki beberapa anak tangga dan aku masih terdiam di pijakan pertama.
"Bi, bisa tuntun aku? Aku pusing," keluhku padanya.
"Kamu sakit, Ping?"
Birendra langsung turun beberapa langkah dan merangkul pundakku untuk mengikuti langkah kakinya.
"Kita ke rumah sakit saja ya? Ini sudah ketiga kalinya aku melihat kamu pusing," ajaknya dengan wajah serius.
"Aku memang seperti ini. Nggak usah khawatir, istirahat sebentar sudah baikan kok."
["Perlahan-lahan anda akan merasakan kebingungan ketika hendak melakukan sesuatu."]
Aku teringat perkataan dokter Zhalim dan itu terjadi padaku barusan saja. Aku bingung caranya menaiki anak tangga, karena itulah aku meminta bantuan Bi.
"Duduklah. Aku akan membuatkan teh hangat juga makanan untuk kita."
Bi membaringkan aku ke sofa dan ia keluar lagi hanya untuk membuatkanku makanan. Ternyata perkataan Bi benar, di setiap dinding terdapat fotoku. Aku tidak tahu kapan Bi memotretnya. Aku berdiri melihat dari dekat semua fotoku.
Ruang kantor yang nyaman dan simpel. Tidak ada atribut apapun hanya kursi, meja, sofa dan foto Bi juga milikku.
Aku menghampiri meja kerja Bi, sedikit ada rasa terkejut karena fotoku diletakkan di sana dan itu adalah aku sepuluh tahun lalu.
"Ya aku ketahuan menyimpan fotomu yang dulu," kata Bi sambil membawa nampan makanan juga minuman.
"Kapan kamu mengambil foto ini, Bi?"
Aku benar-benar lupa apa yang aku lakukan dulu saat terakhir bertemu Bi. Di foto itu ada diriku di taman bunga yang terdapat di kafe bukit.
"Aku mengambil itu waktu pagi hari saat kamu berolah raga. Aku memotretmu diam-diam."
"Foto itu selalu aku bawa dan menjadi penyemangat agar aku bisa menjadi apa yang kamu mau, Ping," tambah Birendra menuntunku ke sofa lalu menyiapkan makanan untukku.
"Aku bukan penyemangatmu, Bi. Dan maaf ya jika kata-kataku waktu itu menyakitimu," sesalku yang pernah berucap kasar padanya dulu.
["Aku akan bersama kamu kalau kamu kaya raya."]
"Untuk apa minta maaf, Ping? Kalau aku tidak bertemu kamu, entah apa jadi aku malam itu."
Aku merasa menyesal telah berkata kasar seperti itu pada Bi. Namun yang kulihat Bi tidaklah marah, perkataan itu ia jadikan motivasi untuk bangkit.
"Ayo makanlah, Ping. Kamu ingat kan makanan ini?" Ia menyodorkan piring dengan nasi yang banyak dan tak mungkin aku habiskan.
"Iya kita sama-sama tak bawa uang lebih jadi memesan nasi goreng berdua," kataku mengenang peristiwa lalu.
Jika mengingat hal tersebut sebenarnya aku malu sendiri, tak bawa uang lebih malah memesan nasi goreng super istimewa bersama Bi.
"Iya kita sama-sama kelaparan waktu itu."
Birendra tertawa, aku memandang caranya ia menertawai kebodohan kami saat itu. Bi, apa kamu tahu? Aku ingin selalu mendengar tawamu dan melihat wajah. Apa aku bisa melakukannya nanti?
"Aku masih memesannya kalau aku ke sana, Bi. Karena itu mengingatkan aku tentang keberadaanmu meski kami hanya sekedar mampir di kehidupanku."
"Aku bukanlah orang yang mampir sebentar di hidup kamu, Ping. Tapi aku yakin semua sudah ditentukan oleh-Nya."
"Karena itulah aku ingin bersamamu dan berbagi kehidupan denganmu, Ping. Jadi istriku, Pingkan."
"Jangan bicara itu lagi, Bi. Kasihan Ditha jika kamu putus darinya," selaku, Bi membicarakan mengenai pernikahan lagi.
"Aku dan Ditha sudah bicara. Kami memutuskan pisah secara baik-baik, karena selama dua tahun hubungan kami datar dan dingin. Aku tak pernah sekalipun mencintainya karena hatiku sudah kuberikan padamu."
"Tapi aku akan menikah dengan Dave, Bi. Aku nggak bisa menerimamu," jawabku berbohong padanya. Bi orang baik tak sepantasnya bersanding denganku.
"Kamu tidak mencinta pria itu. Kamu hanya menebus dosamu padanya, bukan? Dan ibunya tak pernah sekalipun menyukaimu. Waktu hujan itu, kamu mendatangi rumah Dave. Aku tahu semuanya."
"Dari mana kamu semua itu, Bi?" Aku tersentak Bi tahu mengenai peristiwa tersebut.
"Dave yang menceritakannya padaku. Ia meneleponku sewaktu kita ke pantai dan menyuruhku untuk menghiburmu."
Sebegitu pedulinya Dave dengan diriku tapi aku masih belum bisa membalasnya. Aku tahu Dave mencintaiku sehingga ia rela melawan ibunya sendiri, akan tetapi aku tak mau ia menjadi anak durhaka pada orang tuanya.
"Tak perlu lagi ada hal yang kamu sembunyikan Ping. Aku tahu semuanya tentang kamu."
"Apa yang kamu tahu dariku, B? Aku bukan wanita baik-baik dan memiliki masa lalu yang buruk."
"Bagaimana kalau aku tahu mengenai semua masa lalu kamu? Apa aku bisa diterima?" tanyanya yang membuatku bingung dengan inti kalimatnya.
"Maksudmu apa, Bi?"
"Aku tahu siapa kamu, masa lalu kamu dan Dave. Termasuk masalahmu dengan keluarga kaya itu."
Aku menjatuhkan sendok yang hendak kupegang. Bagaimana mungkin Bi tahu semuanya mengenaiku?
"Dari mana kamu tahu? Dave tidak akan begitu mudah menceritakan masa lalunya," ucapku gugup.
Bi mendekat padaku dan kami saling duduk berhadapan, tangannya menangkup wajahku dan ia menatapku.
"Aku selalu mencari tahu tentangmu sebelum kamu benar-benar hilang dari kota lama kita. Sekembalinya aku dari luar, aku pun mencari tahu semuanya tentangmu," ucap Bi pelan dan tanpa sadar aku menangis.
"Jika kamu tahu sudah tahu, kenapa kamu masih mendekatiku, Bi? Aku wanita kotor dan jahat."
Pada akhirnya pria yang kusukai tahu mengenai diriku sebenarnya. Mungkin ini lebih baik sehingga ia bisa pergi dari hadapanku untuk selamanya.
"Aku tak peduli dengan masa lalu kamu, Ping. Aku melihatmu yang sekarang bukan tentang masa lalu kamu," kata Bi yang membawa kepalaku dalam pelukannya.
"Aku ini bukan orang suci, Bi. Aku ini berdosa."
"Memangnya kamu saja yang memiliki dosa? Sebelum bertemu kamu, aku juga bukan pria baik-baik. Aku pecandu yang menyebabkan ayah meninggal, aku seorang p****************g yang membuat ayah harus menanggung akibatnya dan meninggal."
Aku tak ingin memercayai ucapannya, tetapi bukti di lengannya menandakan jika dulunya seorang pengguna.
"Kamu dan aku memiliki masa lalu yang kelam walau masalah tersebut berbeda. Tak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, Ping."
"Masalahnya hanya satu, mau tidak mereka berubah dan bertobat?"
"Bertemu denganmu membuatku ingin berubah dan kamu mampu mengalihkan duniaku yang kelam, Ping."
Aku tak menyangka jika aku yang penuh dosa ini bisa membuat orang seperti Bi berubah. Rasanya tak percaya aku bisa mengubah hidup orang lain.
"Aku sangat mencintaimu, Ping. Jadilah istriku."
"Aku juga mencintaimu, Bi. Tapi aku tak bisa. Masih banyak halangan di luar sana yang tak bisa membuat aku menjadi istrimu."
"Apa karena ibuku? Atau masalah kamu tak akan memiliki anak? Aku tak peduli, kita bisa mengangkat anak seperti Janar," sanggah Bi menyakinkan dengan sungguh-sungguh.
"Jangan memaksaku, Bi. Aku tak mau kamu menyesalinya."
"Berhentilah bicara seakan kamu ingin pergi jauh dariku."
"Ping, apapun yang ada padamu. Aku menerimanya dengan tulus dan kita bisa mengatasi masalah ini bersama-sama."
Aku terdiam mendengar ucapan tulus Bi. Namun tak semudah itu, Bi. Aku berterima kasih telah dicintaimu, tetapi aku tak mau kamu tahu tentang sakitku.
=Bersambung=