Part 21 Sebuah Vonis Dokter

1814 Kata
Sejak kedatangan nyonya Meina seminggu lalu, salonku jarang dikunjungi. Bahkan tiga pegawaiku pun berhenti dari sini hanya tersisa satu saja yaitu Mbak Prapti meski aku sudah menyuruhnya pergi dan mencari pekerjaan lain, ia tetap tak mau meninggalkanku sendiri. "Yang lain sudah pergi, Mbak. Kenapa Mbak ada di sini? Apa tidak malu punya majikan seperti saya?" tanyaku padanya saat kami bersantai di siang hari. Aku mengajaknya berbincang berdua, di kursi salon. Kami sama-sama memandang jalanan dengan pemikiran masing-masing. "Untuk apa malu, Pingkan? Saya di sini untuk bekerja dan mencari uang." "Tapi pemasukan kita akan berkurang banyak karena masalah yang kemarin, Mbak. Saya takut tak bisa membayar gaji tepat waktu." "Sudah jangan dipikirkan. Masih ada jalan terbuka di luar sana yang telah Tuhan sediakan. Tuhan akan mengatur rejeki kita, Pingkan," ucap Mbak Prapti meyakinkanku. Mbak Prapti lebih tua empat tahun, kami bertemu pertama kali saat aku melihatnya menjadi pemotong rambut di jalanan dan kuperhatikan kala itu ia sungguh pandai mengatur juga memotong rambut pelanggannya. Aku tertarik dan mengajaknya bergabung walau awalnya ia tak mau. Kini sudah sembilan tahun kami bekerjasama dan aku memercayai salon ini padanya jika aku sedang tak ada di sini. Mbak Prapti tahu segalanya mengenaiku, tentu dari mulut orang-orang di sekitar ruko saat aku pertama kali membuka salon. "Tak ada manusia yang bersih dari dosa, Ping. Begitu juga dengan saya. Apa kamu tahu sebelum saya menjadi pemotong rambut jalanan, saya ini bekerja untuk seorang wanita yang tugasnya memanggil dan menjebak para gadis untuk dijual." "Dengan keahlian yang saya miliki, saya mengajak mereka untuk dirias secara gratis dan mengobrol soal pekerjaan. Dari situ saya menawarkan pekerjaan yang kotor." Baru kali ini Mbak Prapti menceritakan kisah hidupnya padaku, sejak bertemu aku tak pernah mencari tahu mengenai kehidupannya karena ia orang yang tertutup dan tak banyak bicara, hanya melakukan tugasnya dan datang lebih awal. "Delapan tahun saya melakukan pekerjaan itu hanya demi sesuap nasi dan membiayai pendidikan anak saya satu-satunya setelah suami pergi secara tiba-tiba. Lalu Tuhan menghukum saya begitu hebatnya, anak saya dijebak oleh temannya sendiri dan ia dilecehkan." Aku benar-benar tidak tahu jika Mbak Prapti memiliki anak. Selama ini ia hanya diam saat ada yang bertanya soal pernikahan, ia menanggapinya dengan dingin dan sampai sekarang tak ada lagi yang mau bertanya. "Lalu di mana anak Mbak sekarang?" Sebagai majikannya, aku juga ingin tahu meski tak secara menyeluruh. "Saya pernah meminta kepadamu jika bekerja di sini, bukan? Hari itu di mana saya libur kerja, saya mengunjungi anak di rumah sakit jiwa." "Setelah dilecehkan dan keguguran karena ulah temannya yang kaya, ia menjadi kehilangan pikirannya. Saya terpaksa memasukkannya ke rumah sakit jiwa, ia sering kabur dan menganggu tetangga." Ada rasa trenyuh ketika Mbak Prapti menceritakan kisah hidupnya. Sikap diamnya selama ini bukan karena ia tak mau bergaul dengan rekan kerjanya, tapi masalah yang sedang dihadapinya. "Apa Mbak tidak melaporkan pelakunya?" "Untuk apa, Ping? Percuma karena kita akan kalah dengan yang namanya kekuasaan dan kekayaan." "Uang itu segalanya, Ping. Ya untuk hidup dan juga untuk menutup mulut orang kecil." Benar kata Mbak Prapti, uang bisa mengalahkan segalanya dan hidup perlu uang juga. Namun jangan kita diperbudak oleh uang tersebut, matipun benda itu tak dibawa ke alam baka. "Mbak, boleh aku menemui anaknya Mbak saat Mbak ke sana?" tanyaku hati-hati, tak ingin menyinggungnya. "Boleh kalau kamu siap menghadapi anak Mbak." Aku tersenyum Mbak Prapti memperbolehkanku untuk menjenguk anaknya. Aku bersyukur bisa mendapat teman bicara seperti Mbak Prapti yang penuh perhatian dan tak banyak ikut campur dalam urusan masalahku. "Mau kopi untuk menyegarkan pikiran, Mbak?" tanyaku yang diangguki Mbak Prapti sembari beranjak dari kursi Aku menawarkan minuman kesukaannya, dalam sehari Mbak Prapti bisa menghabiskan minum tiga cangkir kopi karena untuk membuat otaknya kembali terbuka dan segar. "Ping, kenapa?" "Tidak apa-apa, Mbak," sahutku dari pantry. Mataku tak fokus melihat meja di depan sehingga terbentur, entah kenapa beberapa hari ini pandanganku kabur dan kadang-kadang aku tak tahu jika menabrak meja ataupun kursi. Mungkin aku sedang stres jadi bertingkah seperti ini. Aku dan Mbak Prapti menghabiskan waktu siang dengan banyak mengobrol mengenai diri sendiri masing-masing. Tak ada pelanggan satupun hingga sore dan kami memutuskan tutup lebih awal. **** Sore ini aku diberitahu oleh perawat jika hasil laboratorium milikku sudah keluar dan aku harus bertemu dokter Zhalim untuk membahas mengenai sakitku. Sebenarnya aku ini tak sakit apapun, akan tetapi dokter Zhalim menyuruhku melakukan pemeriksaan lengkap. Di ruang tunggu penyakit bagian otak, aku memerhatikan beberapa orang yang sakit ditemani oleh keluarganya. Aku tersenyum pedih karena keluarga yang aku miliki hanya Rita dan Janar saja. Mereka berdua ingin menemaniku tadi, tetapi aku tak memperbolehkan karena mereka sibuk dan menunggu hasil setelah aku pulang dari sini. "Ibu Pingkan, silakan masuk. Anda sudah ditunggu dokter Zhalim." "Anda baik-baik saja, Bu?" Menuju ke ruang praktek, aku dibantu perawat untuk berdiri karena tiba-tiba saja kaki ini terasa lemas. Kelamaan duduk terkadang membuat salah satu kakiku akan menjadi kaku atau lemas seketika. "Iya saya hanya kelamaan duduk, Sus," kataku bercanda. Sampai di ruang praktek pun sang perawat senantiasa membantuku hingga aku duduk dengan nyaman. Dokter Zhalim bahkan memberiku waktu untuk minum dan istirahat dulu sebelum beliau berbicara. "Jadi apa sakit saya ya, Dok?" tanyaku setelah beberapa menit. Aku harap tak ada hal yang serius. Dokter Zhalim menunjukkan sebuah rekam medisku di layar komputer di mana menunjukkan otak yang aku miliki. Dokter Zhalim memang tak suka bertele-tele, beliau langsung menjelaskan mengenai penyakit pasien. "Anda tahu ini adalah bagian dari sel otak, bukan?" Aku mengangguk, sejak dulu aku senang mengenal anatomi tubuh. Kalau saja ada biaya mungkin aku akan menjadi seorang dokter. Aneh-aneh saja pemikiranku saat ini padahal masih ada di ruang praktek dokter. "Tiga tahun lalu anda pernah terkena tumor otak dan dinyatakan sembuh setelahnya. Namun tidak demikian yang terjadi pada anda, Nona Pingkan. Penyakit itu kembali menyerang anda." Aku ingin sekali tidak memercayai ucapan dokter Zhalim, beliau yang mengatakan jika tumor di otakku sudah diatasi tiga tahun lalu dan dinyatakan sembuh. Akan tetapi apa yang kudengar barusan? Tumorku kembali menyerang? "Karena tumor otak yang menyerang menyebabkan anda kehilangan ingatan perlahan-lahan." "Maksud dokter saya akan pikun seperti orang yang sudah lanjut usia?" "Bukan, Nona Pingkan. Lebih tepatnya Demensia". "Tapi dalam keluarga saya tidak ada faktor penyebabnya, Dok," sanggahku pada dokter Zhalim. "Salah satu faktor yang memicu terjadi penyakit tersebut adalah tumor otak juga konsumsi alkohol di masa muda," jelas dokter Zhalim tanpa jeda. "Apa saya bisa sembuh, Dok?" Tak usah dijawab pun, aku tahu penyakit ini adalah hal yang paling ditakutkan oleh semua orang. "Penyakit ini tidak bisa menyembuhkan hanya memperlambat saja agar sel anda tidak mengecil. Anda harus mengonsumsi obat dan vitamin secara rutin." "Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok? Bagaimana jika saya nantinya akan melupakan semua hal di sekeliling saya?" Dokter Zhalim memberiku sehelai tissue, aku sungguh takut menerima kenyataan ini. "Buatlah catatan setiap hari, apa yang anda alami dan yang anda kerjakan di sebuah memo seperti buku harian. Setiap bulan bawalah catatan itu ke sini dan kita lihat perkembangan anda selanjutnya." "Saya akan terus memantau kesehatan anda setiap hari dan nona, saya sarankan lebih baik beritahu keluarga anda mengenai penyakit ini. Semakin lama ingatan anda akan memudar dan anda butuh pertolongan orang lain." "Iya Dok," jawabku pelan berusaha untuk tersenyum meski ada rasa sedih. Dokter Zhalim mengantarkanku sampai pintu dan menepuk bahuku, ia memberiku pelukan hangat layaknya seorang ayah pada anak gadisnya. "Saya tahu anda orang yang kuat dan bisa mengatasinya." "Terima kasih, Dok." Aku membalas perkataannya dengan pelan, tak ingin semua orang tahu tentang kesedihanku hari ini. Aku berpamitan kepada dokter Zhalim dan perawatnya, menyunggingkan senyum sembari melangkah pulang. "Aduh maaf Mbak. Saya nggak sengaja." Aku hendak naik lift ketika seorang wanita berpakaian seragam perawat yang mendorong troli obat menyenggol tanganku. "Iya nggak apa-apa. Saya juga salah kok, Sus." Aku juga salah karena tak fokus sewaktu berjalan masih terngiang perkataan dokter Zhalim tadi. "Mbak mau ke lantai berapa?" tanyanya saat kami sudah berada dalam lift. "Ke tempat parkir, Sus." Perawat yang memiliki rambut sebahu itu menekan tombol lift lalu menyandarkan tubuhnya sejenak di dinding sebelum keluar. "Dari dokter mana, Mbak? Penyakit dalam atau penyakit bagian otak?" Ia bertanya dengan sopan. "Saya habis dari dokter Zhalim, Sus." Tak sopan rasanya jika tak menjawab pertanyaan orang meski suasana hatiku tak nyaman saat ini. "Oh dokter Zhalim. Dokter hebat itu, Mbak. Kata senior di sini jika dokter Zhalim yang mengoperasi pasien selalu berhasil dan selamat. Mereka pasti berumur panjang." "Sudah berapa lama Mbak jadi pasiennya?" "Sudah tiga tahun, Sus." "Wah sudah lama ya? Kok saya baru lihat Mbak akhir-akhir ini. Saya ini kenal banyak pasien loh, Mbak," candanya memberitahu perihal dirinya. "Saya jarang ke sini, Sus. Hanya sebulan sekali di hari Sabtu." Setelah tiga tahun dinyatakan sembuh, aku hanya datang berkonsultasi ke dokter Zhalim sebulan sekali. "Oh pantas. Saya kalau Sabtu libur, Mbak." Aku menjawab ala kadarnya, kadang mengangguk dan memberinya senyuman. Terasa lama sekali lift untuk turun ke lantai paling dasar. "Saya Ratmi. Senang berkenalan sama Mbak. Saya turun dulu ya, Mbak." Aku hanya mengangguk sembari tersenyum. Suster muda yang ramah, bersahabat dan banyak bicara pada orang baru dikenalnya. "Saya doakan sakit Mbak cepat sembuh," ucapnya seraya keluar dari lift dan melambaikan tangannya. Sebuah ucapan doa tulus dari seorang suster yang tak menanyai perihal sakitku. Siapa saja yang berurusan dengan dokter Zhalim pasti tahu jika beliau yang menangani segala macam penyakit bagian otak. Ucapan doanya kubalas dengan doa dari dalam hatiku, tak mungkin aku bisa sembuh dari sakit ini selamanya. Hanya menunggu waktunya saja. **** Keluar dari rumah sakit, aku tak langsung pulang melainkan berdiam diri di dalam mobil di tempat parkir. Aku merenungi setiap hal yang telah kulakukan selama ini. Kesalahan di masa lalu membuat peristiwa ini terjadi. "Apa yang harus Laksmi lakukan, Bu?" Hanya ibu yang memanggilku Laksmi jika berduaan. Di saat keadaan ini satu hal yang ingin aku lakukan adalah memeluk ibu dan mencurahkan isi hatiku, menangis di pelukannya sambil ibu membelai rambutku. Aku menangis dengan kencang menumpahkan segala kepedihan dan rasa marah pada diriku sendiri. Aku bodoh tak memeriksa kesehatanku lebih awal, andai aku melakukannya dulu apakah tak ada penyakit ini? ["Ibu, kapan pulang?"] Aku mengangkat telepon dari Janar yang sudah pulang dari tempat kursus dijemput Dave, karena diriku lebih memilih ke dokter dan menelepon Dave tadi. "Ibu akan pulang sebentar lagi, Nak." ["Ibu menangis ya?"] tanya Janar di seberang telepon, dari nada suaranya terdengar kecemasan. "Ibu flu, Nak. Jadi seperti orang menangis." Ah, aku berbohong padanya. Maafkan ibu, Janar. ["Cepat pulang kalau begitu, Janar akan suruh bibi masak buat makan malam."] ["Loh kok menyuruh bibi masak sih? Kan sudah kemarin."] ["Ibu sakit, Bi. Pokoknya bibi harus masak sekarang juga."] Terdengar keributan kecil di sana karena Janar tak menutup teleponnya. Dengan adanya mereka, hidupku dipenuhi kebahagian dan tak ada kesedihan. Namun aku takut, bagaimana jika aku tak ingat mereka lagi nantinya? ["Ibu, cepat pulang."] "Iya ini ibu mau pulang." Aku hanya bisa berdoa pada-Nya untuk tidak cepat-cepat mengambil nyawaku sebelum Janar menemukan kebahagiannya dan yang penting, aku ingin terus melihat wajah orang yang kusayangi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN