Part 20 Kemarahan Nyonya Meina

1873 Kata
Belum selesai masalahku dengan nyonya Geni kini aku dikejutkan dengan kedatangan nyonya Meina dan Ditha ke salonku pagi ini. "Tumben nyonya ke sini pagi, apa ada acara atau melunasi yang kemarin," sambut pegawaiku. Aku kira mereka datang untuk menyelesaikan pembayaran yang kemarin, tetapi dugaanku keliru. "Dasar wanita nakal!" Aku tak tahu apa-apa mendapat tamparan dari nyonya Meina ketika aku sedang menyapu selesai memotong rambut pelanggan. Sungguh mendapat serangan mendadak seperti itu membuat aku dan pegawaiku terkejut. "Ada apa, Nyonya?" tanyaku mencoba untuk bersabar. Mungkin nyonya Meina lagi emosi. "Mbak kok tega sama Ditha sih?" Giliran Ditha memarahiku tanpa alasan yang tak aku ketahui. "Mbak tega kenapa sama kamu, Ditha?" "Kenapa Mbak mau merebut Mas Bi dari sisi Ditha?" Tunggu ... dari mana Ditha dapat berkata seperti itu? Apa alasannya aku sampai merebut calon suaminya? Ini pasti ada kesalahpahaman di antara Birendra dan Ditha. "Ini apa buktinya, Mbak?" Selembar foto dari tangan nyonya Meina ia ambil lalu dilemparkannya kepadaku. Aku melihat ada diriku dan Birendra di pantai kemarin, aku tak tahu kalau seseorang sedang memotret kami di sana. "Kami hanya ke sana, Dith. Tidak ada apapun di antara kami," ucapku memberitahunya mengenai kebenarannya. "Tapi tidak seharusnya anda pergi bersama calon tunangan orang!" Nyonya Meina tak lagi menyebut namaku, ia memanggilku dengan sebutan 'anda' layaknya orang yang baru pertama kali bertemu. Tatapannya menusuk dan pegawaiku sudah saling berbisik, untung tak ada pelanggan atau orang luar. "Nyonya Meina, ini pasti salah paham. Saya dan Bi memang ke pantai dan sungguh saya bersumpah kalau tidak ada hal apapun yang terjadi. Kami hanya menikmati senja, itu saja." "Jangan beralasan anda, ya? Jelas-jelas anak saya membeli pakaian untuk anda. Apa perlu saya datangkan pegawai toko bajunya?" Lagi, jari itu nyonya Meina tunjukkan ke arahku. "Maaf nyonya. Yang saya katakan memang benar. Saya dan Bi hanya sebagai sahabat yang lama tak jumpa." "Waktu itu pakaian saya basah dan kebetulan Bi bertemu saya di jalan. Ia mengajak saya sambil mengobrol lalu ia membelikan saya pakaian. Itu saja, Nyonya," ucapku ada yang benar ada juga aku berbohong sedikit. "Tapi kenapa Mbak mau diajak ke pantai? Seharusnya Mas Bi makan malam denganku!" Inilah yang aku pikirkan saat Bi memintaku terus untuk bertemu, pasti suatu hari nanti akan ada hal yang diributkan oleh ibunya dan terbukti. Aku sudah banyak mengenal tipe manusia seperti nyonya Meina dan aku pun pernah mengalaminya dulu. "Karena itu permintaan Bi terakhir kalinya sebelum ia bertunangan denganmu seminggu lagi, Ditha. Mbak juga setuju sebab tak baik jika Bi bertemu dengan Mbak meski kami hanya berteman." Maaf, Bi aku berbohong. Ini demi kebaikanku juga dirimu. "Syukurlah anda masih mengingat masa lalu anda yang kelam dan bertobat. Tapi saya masih belum percaya kalau anda itu berubah. Benar kata teman saya kalau dulunya pemilik salon ini adalah perebut suami orang," ejek nyonya Meina disertai sindiran tajam. "Apa seorang pendosa seperti saya tidak berhak diampuni, Nyonya?" tanyaku pelan. Belum cukupkah perkataan pedas yang dilontarkan ibunya Dave kini ada lagi yang membahas masa laluku. "Ditha, apa Mbak nggak boleh diberi maaf dan ampunan di mata masyarakat?" Aku bertanya pada Ditha yang memilih diam. "Sudah jangan menjawab, Dith. Ibu tidak akan sudi berada di sini dan tidak mau lagi perawatan di tempat p*****r murahan!" Nyonya Meina mengeluarkan ponsel lalu ia mengirim pesan. Aku tahu apa yang sedang beliau ketik dan katakan di grup obrolan, beliau akan menghancurkan usahaku juga memperolok diriku sebagai w************n. Hal itu biasanya nyonya Meina lakukan jika tak menyukai atau membenci seseorang. "Sudah ibu kirim ke grup agar jangan lagi melakukan perawatan di sini lagi! Tempat berdosa siapa tahu juga pegawainya melakukan hal yang sama dengan atasannya." "Nyonya, saya mohon jangan lakukan itu. Kalau nyonya melakukannya maka nyonya mematikan usaha saya," pintaku memohon dan mendekatinya, tetapi nyonya Meina menghindar seolah-olah aku adalah wanita yang memilili penyakit menular. "Memang itu yang saya lakukan. Biar tidak ada lagi orang seperti kamu di sini!" "Nyonya Meina, Ditha, saya mohon lakukan apa saja kepada saya asal jangan menutup tempat ini. Bagaimana dengan nasib pegawai saya nantinya?" Aku memandang satu persatu pegawaiku, mereka menatapku entah itu tatapan kasihan atau malah tatapan penuh kekesalan. Aku tak ingin nyonya Meina melakukan hal tersebut, karena beliau akan 'merusak' nama baik orang jika beliau tak suka. "Dith, Mbak mohon. Tolong katakan kepada ibumu jangan lakukan ini ya." Aku menghampiri Ditha, tetapi tubuhku didorong oleh nyonya Meina hingga terjatuh. "Jangan sentuh Ditha dengan tangan kotormu! Saya menyesal telah melakukan perawatan di sini bertahun-tahun tanpa tahu siapa pemiliknya!" "Saya jijik lihat wajahmu yang pura-pura polos!" Aku mengerang kesakitan saat nyonya Meina menjambak rambut sementara tak ada satupun yang menolongku. Beberapa pejalan kaki yang melintas melihat keberadaanku yang sudah berantakan. Malu, sedih dan ingin menangis melebur jadi satu. Haruskah nyonya Meina memperlakukanku layaknya binatang? "Ibu hentikan!" Sebuah tangan mengangkat tubuhku untuk berdiri dan di depanku berdiri Birendra yang menghadang ibunya untuk memukulku kembali. "Apa yang kamu lakukan di sini Bi! Mau membela wanita kotor ini?" "Mas, jadi benar kalau Mas cinta sama wanita kotor ini?" Aku melihat dan mendengar Ditha mendesak untuk bicara, tetapi tatapanku pada Bi memberi isyarat agar Bi tidak mengatakan hal yang sebenarya. "Kami hanya berteman, Bu. Apa salah jika aku mengajak temanku ke pantai? Kami tak melakukan hal yang menjijikan di sana," sela Birendra dan mengerti tatapanku, berbohong demi kebaikan semua. "Berteman kok perginya ke pantai!" Nyonya Meina mendecih dan menatapku dengan rasa jijik di matanya. "Karena aku yang membawanya untuk mengucapkan rasa terima kasih karena berkat Pingkan, aku tak mungkin sesukses ini, Bu!" "Apa yang telah wanita berikan, Mas? Tubuhnya? Sampai Mas berkata seperti itu?" "Ditha, jaga ucapanmu! Aku dan Pingkan tak pernah melakukan hal yang kamu tuduhkan." "Siapa tahu kamu sudah kepincut dengan kemolekan tubuhnya." Ucapan nyonya Meina sungguh menyakitkan. "Terserah kalian mau berpendapat seperti apa tentangku dan Pingkan. Tuhan maha tahu dan kami tidak pernah melanggar dosa." "Apa Mas mencintai wanita ini daripada Ditha?" tanya Ditha namun yang ditanya hanya diam saja dan membuat Ditha menyadarinya. "Tatapanmu sudah memberi jawabannya, Mas. Mulai sekarang aku dan Mas tidak ada hubungan, aku akan mengatakan pada ayah tidak akan meneruskan tunangan ini!" Birendra mendapat tamparan kecil dari ibunya setelah membiarkan Ditha menangis dan pergi begitu saja. Aku mencoba sekali lagi meminta maaf pada nyonya Meina, tetapi nyatanya permintaan tulusku disambut dengan cemoohan. "Seorang pendosa selamanya tak akan bisa bertobat!" Begitu mudahnya nyonya Meina berkata yang menyakitkan. Tuhan saja maha pengampun, kenapa umatnya menghakimi sesamanya? Aku hanya bisa tersenyum getir dan menyuruh Birendra pulang bersama ibunya. "Kalian pulanglah. Saya akan menutup salon ini dan besok datanglah kembali ya." Aku meminta pada pegawaiku untuk berkemas lebih cepat dari biasanya. Aku ingin menenangkan dulu ke suatu tempat dan membiarkan salon ini tutup hingga esok. Sebelum aku melangkah menuju lantai terdengar suara dari para pegawaiku. ["Besok aku nggak akan kerja di sini lagi."] ["Iya buat apa punya majikan tapi bekas w************n?"] ["Kalau mau berhenti, berhentilah jangan menghakimi orang seakan kalian tak berdosa. Cari kerja sana di luar, nggak mungkin ada lulusan SMA dibayar tinggi selain Mbak Pingkan."] Itulah sifat dasar manusia. Mereka akan menghakimi seseorang tanpa melihat kekurangan dan dosa mereka sendiri. Aku menyerahkan keputusan ada di tangan mereka, jika mau berhenti karena malu memiliki majikan sepertiku maka kupersilakan. Aku tak mau memaksa kehendak mereka untuk tetap di sini. **** Mungkin hanya orang kaya saja yang melakukan kesalahan masih bisa berjalan dan bertemu orang lain tanpa dicela. Tuhan mengampuni umatnya walau pun kadar dosa mereka berat. Tapi kenapa ciptaan-Nya tidak bisa memberi ampunan bagi sesamanya? Jika saja waktu dapat berputar, aku mungkin saja memilih tak mengenal Dave ataupun Birendra. Aku tak menyalahkan kehadiran mereka, tetapi justru akulah yang patut dipersalahkan. "Ping, akhirnya aku menemukan tempat persembunyianmu." Birendra orang pertama yang mengetahui keberadaanku, setelah peristiwa di salon tadi aku pergi menghindar dulu dan di sinilah aku berada. Restoran di atas bukit, tempat aku dan Birendra dulu bertemu. "Aku tahu kamu pasti ada di sini," ujar Bi memasangkan jaketnya ke tubuhku lalu ia duduk bersamaku di rerumputan sambil memandang lampu-lampu kota di bawah. "Maafkan aku, Bi. Karena aku, Ditha memutuskan tidak mau bertunangan denganmu." Aku tak menyukai Ditha yang mengambil keputusan mendadak tadi, seharusnya hal ini dapat mereka selesaikan dengan baik. Bukan ini yang aku inginkan. "Biarkan saja. Akhirnya aku tahu siapa Ditha. Dia masih kekanak-kanakan pikirannya dan aku tak suka,"sahut Birendra santai dan mengeluarkan rokok dari dalam sakunya. "Sejak kapan kamu merokok, Bi?" Seingatku Birendra tak mau merokok justru aku yang dulu melakukannya. "Entahlah. Mungkin sepuluh tahun lalu saat aku kehilangan semangat hidupku." "Sebenarnya apa yang terjadi hari itu, Bi? Saat aku menolak untuk pergi bersamamu." Waktu itu Bi pergi dalam keadaan marah dan emosi yang labil setelah aku tolak permintaannya. Masa tersebut adalah saat aku kehilangan kendali dan masih menjadi Pingkan yang jahat. "Aku langsung memutuskan ke Belanda menuntaskan studiku. Aku meninggalkan ibu bersama bibi dan baru kembali sepuluh tahun, Ping." "Apa kamu marah waktu itu, Bi?" "Tentu saja. Aku ingin membawa wanita yang kucintai pergi bersamaku. Tapi kamu mentah-mentah menolakku dua kali dengan kata-katamu yang kasar." Aku bukanlah Pingkan yang dulu, Bi. Kalau saja permintaanmu itu dilakukan hari ini tanpa pikir panjang aku akan menerima ajakanmu. "Benarkah? Maaf jika kata-kataku pernah menyakiti hatimu. Aku memiliki waktu yang berat kala itu." "Justru kalimatmu itu mampu membuatku bangkit dari keterpurukan dan aku ingin membuktikan kalau aku bisa berhasil," ungkit Bi mengingat masa lalunya. Dalam keheningan malam dan hanya terdengar sayup-sayup musik dari restoran, kami menghabiskan waktu berdua di sini. Hanya aku dan Bi saja yang tahu tempat ini, jika aku sedang berada dalam masa sulit maka di sinilah aku merasa tenang. "Bi, kenapa kamu bisa menyukai wanita sepertiku? Aku bukanlah wanita baik-baik." "Menyukai seseorang itu pilihan setiap orang, Ping. Aku menyukaimu karena kamu bisa membuatku merasa nyaman dekatmu. Kamu yang mengubah duniaku yang suram menjadikanku kuat." Bagaimana bisa seorang Pingkan yang dulu dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik? Terdengar lucu rasanya saat Bi berkata akulah penyelamatnya. "Kenapa? Kamu nggak percaya?" sahut Bi melihatku seakan ia berpikir jika aku tak memercayainya. "Ya lucu saja, Bi. Bagaimana mungkin bisa aku mengubahmu? Aneh deh." "Malam itu aku ingin mengakhiri hidup karena usaha yang dirintis ayah bangkrut. Ibu menjadi wanita pemabuk dan setiap hari tak lagi menyalahkan ayah yang meninggal karena meninggalkan hutang di bank." "Tapi saat aku melihatmu masuk ke mobilku, aku seketika sadar bahwa aku tak sendiri yang memiliki masalah di dunia ini. Masih banyak orang di luaran sana yang hidupnya jauh menderita dibandingkan aku." Kehidupan yang kamu jalani tak sebanding dengan diriku, Bi. Kita berbeda dalam menyingkapi kehidupan. Kamu menjalani hidupnya tanpa dosa, beda denganku. "Bersyukurlah kamu tak melakukannya, Bi. Apa kamu nggak kasihan dengan ibumu kalau kamu tiada?" "Aku tak berpikir sampai segitunya, Ping. Bagiku saat itu adalah segera mengakhiri hidup." Mengakhiri hidup mungkin keputusan cepat saat kita sudah dalam putus asa dan depresi. Itu yang pernah aku alami dulu, tetapi Tuhan masih menginginkan aku hidup lebih lama begitu juga yang dialami Birendra. "Terima kasih, Ping. Kamulah penyemangat dan penolong untuk aku." Kami tak menyadari malam telah larut dan restoran hampir tutup. Kami segera bergegas beranjak dari taman ini. Aku menyuruh Bi untuk pulang karena aku sudah memesan kamar di hotel dekat sini. Namun Bi menolak, ia pun ikut menginap mengingat malam semakin larut. Tak ingin ada lagi yang orang mengikuti kami, aku memilih pergi ke kamar dulu dan meninggalkan Bi di lobby. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN