bc

Matikan Lampunya Biarkan Aku Menjadi Kekasih Gelapmu

book_age18+
1.2K
IKUTI
9.5K
BACA
billionaire
scandal
dare to love and hate
drama
sweet
bxg
city
cheating
lonely
like
intro-logo
Uraian

Lily namanya. Gadis muda yang baru saja didiagnosa terkena leukemia. Namun siapa sangka justru penyakitnya itu membawanya untuk kembali pada pria yang dulu pernah meninggalkannya.

Geraldino yang menganggap Lily hanya sebagai adik yang harus dijaganya, pada akhirnya menjadikan Lily kekasih gelapnya. Diketahui dirinya telah memiliki wanita yang telah dinikahi sepuluh tahun lamanya sejak dirinya pergi meninggalkan Lily. Sosoknya yang penuh ambisi pada akhirnya hanya selalu berpikir bagaimana dirinya bisa mendapatkan kekuasaan dan harta,

Kisah cinta mereka sangat penuh liku, antara cinta dan tahta. Manakah yang akan Gerald pilih.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Suatu hari seorang pria mengetuk pintu. datang untuk membetulkan saluran air yang tersumbat, ucapnya. Hingga pintupun dibukakannya, tukang ledeng pikirnya. Pucat gadis itu terlihat, beridiri diambang pintu, angin dingin menusuk. Tak ada satu kata yang sempat terucap. “kau tak apa?” Pipi dinginya disentuh, ditangkup, tangan pria itu. Hangat. Rasanya. Tiba-tiba. Ditatapnya terheran siapa pria gila yang dihadapannya kini. “berani sekali kau menyentuhku” Balas si gadis, membuang tangan pria yang memberikan rona diwajahnya. Sedikit bisa kau temukan tanda bahwa ia masih bernyawa. “ayo masuk, disini dingin, biar kuhangatkan dirimu” Ucap pria itu, meraih tangan dingin sigadis dingin itu kedalam. Menuju dapur. Sibuk membuka setiap pintu yang bisa dibukanya. Mencari sesuatu. “kutanya apa yang kau lakukan?” Masih dengan nada dingin, namun terdengar lemah tak bertenaga. Bahkan pria yang ditanyapun tak bergeming karenanya. Mata masih mengawasi setiap laku pria itu. Tangannya menyalakan api dari kompor, memanaskan sesuatu disana, suara air mendidih beberapa saat kemudian. Mie instan dibukanya. Memotong daun bawang hijau pun menjadi salah satu pekerjaannya. “hentikan! kau melewati batas. Ini rumahku. Berhenti mengacak-acak rumahku” Berhadapan dengan sipembuat kekacauan, tangan memegang mangkuk yang mengeluarkan asap diatasnya. Aroma ayam bawang menghujam hidungnya, sigadis. kuat. Membangkitkan rasa ingin menyantap, tak bisa berbohong untuk tak ingin menolak. ** Lily pov Pria asing datang untuk memasakan mie instan untukku. Mimpi apa tadi malam, padahal hari ini sudah kutekatkan diri untuk menyayat diri dikamar mandi. Tuhan menggagalkan niat hati untuk memilih mati dengan mendatangkan orang gila yang membawa semangkuk mie dihadapanku kini. Dan gilanya aku ingin memakan mie itu dengan senang hati. Terdiam untuk beberapa saat. Perutku berkeruyuk dibawah sana. Menunduk tak tahu harus apa. Kusutnya aku berdiri dihadapannya. Hanya mengenakan kaos oblong kebesaran, tak menutupi setengah pahaku, kini kumainkan itu, sidikit kuturunkan, berharap berjauhan dengan celana dalamku, ya sehelai kain itu yang kupakai sebagai celanaku. Bahkan aku lupa mengenakan bra. Oh ayolah aku tak berniat melanjutkan hidup pagi ini atau bertemu dengan orang lain apa lagi pria jangkung ini. sudah kukatakan aku berencana mati dan mengakhiri hidupku hari ini. jadi mau bagaimana lagi. “kau pasti sangat kedinginan” Ucapnya, mata yang tadi ia pakai untuk menatapku lama, canggung mungkin tak tahu bagian mana dari diriku yang pantas dilihatnya. kini tangannya tadi sibuk mengobrak-abrik dapur yang tak pernah kupakai itu, bahkan aku lupa punya sebungkus mie, membuka jaket hitam miliknya, disampaikannya ditubuhku, menutupi tubuhku. Kebesaran. Jaketnya yang kini kukenakan, menampilkan dirinya yang hanya memakai kaus abu, pas ditubuhnya, menampilkan tubuh pria sehat, otot yang tampak, gagah terlihat. Aku terpaku, diam membisu. Siapa pria ini. (sedikit mengingatkanku pada seseorang, atau aku pernah melihatnya disuatu tempat, atau mungkin aku salah, namun wajahnya sedikit tak asing mungkin juga karena pasaran hingga aku menganggap pria asing ini seseorang yang sempat berpapasan) “apa yang kau lakukan, cepat keluar dari rumahku” Usirku, setelah semua hal baik yang ia lakukan padaku. Yah baik, cukup baik hingga aku tak tahu apa yang orang asing lakukan dirumahku, memperlakukanku seperti orang t***l saat ini. “ayo makan dulu” Didorongnya tubuhku untuk duduk dikursi, menghadap meja makan yang telah diletakannya mie yang ia buatkan. “kau itu totol atau bego? Kutanya siapa dirimu” tanyaku dengan mulut kotorku. “perkenalkan saya Alen Geraldino, saya pekerja dari layanan sosial onkologi rumah sakit, hari ini jadwal saya bertemu anda” Kenalnya padaku “dengar saya bukan nenek jompo, jadi untuk apa kau datang” Tersinggung aku tahu soal dirinya seorang pekerja social. “tapi anda terdaftar sebagai salah satu dari tanggung jawab kami, untuk kami rawat, ini bisa anda lihat data yang kami dapat, kita bisa mulai dari diagnosis dan rencana pengobatan” Jelasnya padaku, memberikan sebuah file padaku. Masih Tak percaya. Seolah mengada-ngada. Namaku tertera disana, Lily Ashleey. begitu dengan fotoku, daftar nama keluargaku, pekerjaanku editor, author di sebuah perusahaan penerbit terangnya. ketahuilah aku memang sudah tak memiliki siapa-siapa, sebatang kara. Turun arah pandangku semakin bawah, riwayat kesehatanku, leukemia. Disana letaknya, seseorang mendafatarkanku dengan alasan tak ada yang menjaga, seorang pesakitan yang entah kapan bisa saja tiada. “dengar kini memang aku sedikit sakit dan tak memilki siapa-siapa, tapi aku sangat tak membutuhkan siapapun untuk mengurus diriku, jad-“ Tak sempat kuselesaikan kalimatku, suara perutku meminta diberi makan keras dan jelas terdengar. Mie sialan, mengapa kau terus menggoda. Hangat juga aromanya sedari tadi melambai-lambai, kulit wajahkupun dapat merasakan bagaimana nakalnya kalian. Kugigiti bibir yang rupanya tengah ketahuan berbohong tak membutuhkan bantuan, bahkan kini aku sedang kelaparan. Ia hanya menatap, menghela napas dan memajukan kursinya mendekat kearahku, memposisikan duduk disampingku. “makanlah” Ucapnya meletakan sendok ditanganku, menuntun untuk mengambil sesendok kuah, dan mengarahkannya pada mulutnya. Huuu Ditiupnya, dan kini berada didepan mulutku Aaaa Terhipnotis aku dan terbuka sudah mulutku siap memasukannya, kuah itu. Gulp, hangat. Akhirnya, memenuhi rongga mulutku, turun kekerongkonganku. Wah! enak sekali. Aku lupa apa yang baru saja ia lakukan padaku, tanpa sadar aku berada dalam kendalinya, suapan pertama, kedua dan ketiga mie itu masuk kedalam mulut juga perutku. apa yang sedang kulakan? Tanyaku, bergumam, entah pada siapa, namun kuharap ada yang menjawab. Bukan jawab yang kudapat, elusan lembut mendarat dipuncak rambutku. Tangannya yang setelah menyuapiku, kini juga mengusap kepalaku. Percayalah ini nyata, bukan mimpi, apalagi dipagi hari. Sadarlah Lily. Tiba-tiba aku terbangun dari dudukku, memundurkan sedikit kursi yang kupakai duduk. “kau pasti sudah gila” Umpatku pada diriku sendiri. kutatap pria yang duduk disampingku kini, membulatkan mata, mulut sedikit terpernaga, namun sialnya itu sangat mempersona. Malaikat nyasar dari mana pria ini. Dengan sadar dan bukan atas kemauanku. Jujur. Aku masih ingin memiliki mimpi gila ini. namun ini jelas tidak benar. “keluar” Ucapku. Kutarik tangannya, bangun dari duduknya. Kudorong hingga keluar pintu. Masih kutatap punggung yang tak kubiarkan menghadapku itu. kulemparkan jaketnya yang sempat tergantung ditubuhku pada pria gila yang baru saja kuusir keluar dari rumahku. Brak Kukututup pintu itu kasar. Berat napas kuhembuskan. Apa yang baru saja terjadi barusan. Aku kecolongan orang asing, yang untungnya tampan. Tanganku bertopang pinggang. Masih tak percaya apa yang baru saja kulakukan, mata yang kusapukan kesekeLilyng ruangan, meja makan, mie instan, dan file yang pria itu tinggalkan. “oh ayolah ini sungguh mengerikan” Kesalku, Saat k****a ulang berkas yang beberapa waktu kudapatkan. Kulempar dengan semua kekesalan yang kurasakan. Langkah berat membawaku kembali ketitik awal, tempat yang sudah kurencanakan. Kunyalakan keran, membasuh mukaku kasar, mencoba untuk menyadarkan dan kembali ke keadaan setelah gangguan besar barusan. Kuanggat kepalaku setelah menunduk lama pada westafel tempatku mengguyur wajahku dengan air. selesai dengan itu, kuusap lurus wajahku turun kebawah, membawa tetesan air dari wajahku, menatap lurus bayangku dari cermin yang sedikit berkabut karena napas beratku. Tangan basahku menyapu cermin itu. menampilkan sosok wanita, kulit putih pucat pasi, lingkar hitam mewarnai area dibawah mata, hidung bertulang kecil, kurus dan bibir yang sedikit membiru. Tanganku meraih pipi yang sudah kempis tak berisi. Seketika teringat kejadian didepan pintu bersama pria asing itu, bahkan hangat sentuh tangannya menyisakan jejak, sensasinya masih jelas kuingat. Sungguh bukan mauku semua itu kuingat. Pertanyaan sosoknya begitu mirip dengan seseorang, namun aku sangkal sudah pasti bukan dirinya, dan mengapa pula tiba-tiba aku mengingat pria gila yang telah mencampakanku. Ah aku pasti sudah gila berpikir itu dirinya. Mataku kini tertuju pada bathup yang sudah kuisi setengah dengan air, jangan lupakan soal segelas wine dan pisau yang sudah kusiapkan. Seharusnya tadi, jika semua itu terjadi, rencana meneguk wine kemudian menyayat nadi, mungkin sekarang ini aku sudah pergi dari dunia ini. “hah sialku, ingin mati saja bisa gagal seperti ini” Keluhku, kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar mandi. Merebahkan diri, meraih selimut dan membungkus diri. Mataku sulit terpejam, terbuka. Menatap lurus jedela. Layar bercahaya ucapan selamat hari natal besar terbaca. Bulan Desember, dingin namun beberapa wajah kupastikan kini bersuka ria merasakan hangat berkumpul bersama keluarga. Malangnya aku yang kini kedinginan sebatang kara. Otaku masih belum lepas dari semua kejadian mengherankan tadi. Yang menjadi pertanyaanku sekarang ini adalah manusia menyebalkan mana yang kurang kerjaan mendaftarkanku pada sebuah yayasan untuk mendapatkan layanan sosial. Akhirnya aku bangun, mengambil file yang tadi kutinggalkan, k****a ulang siapa pengaju laporan itu, kucari dan masih tak mengerti. Disana hanya tertulis semua dataku dan tak kutemukan informasi yang kubutuhkan. Jalan terkahir adalah menghubungi layanan center rumah sakit yang tertera di kepala surat penyataan dilembar pertama RS Internasional Medika Hospital. berisi bahwa aku seorang penerima bantuan pendampingan layanan social onkologi. Cih sungguh menggelikan. Kuhubungi. Dan kutanyakan, dengan sedikit berat hati dan malas kuberikan beberapa informasi pribadi untuk mengisi data yang diperlukan dipusat informasi, katanya. Dan disanalah kudapatkan nama seseorang, yang kukenal sebagai pengaju layanan bantuan. Berkutat dengan ponselku, mencari kontak disana. “Oh Pastor Joseph, ada apa denganmu, kurang kerjaan sekali mengurusiku dengan urusan seperti ini” Ucapku setelah kemudian kudapatkan nama sang pengaju bantuan layanan, tanpa sapa dan langsung saja pada masalahnya begitu panggilanku terhubung pada sipenerima. “ada apa Lily?” Suaranya berat dan lembut seperti biasa, suara sosok ayah bijak dan penyayang begitulah siapapun yang pertama kali mendengar. “mengapa pastor mendaftarkanku untuk mendapat layanan social onkologi, itu tak perlu. sungguh. aku bisa mengurus diriku, pastor tahu itu bukan?” Racauku, kesal, nadaku sedikit sinis dan meninggi “itu-“ Belum selesai kupotong perkataannya. “sudahlah, minggu kita bertemu, aku akan pergi menemuimu” Tutupku, benar-benar menutup sambungan telpon. aku tak ingin melibatkan banyak orang seperti ini. meski aku tahu dirinya sangat menghawatirkanku setelah tahu bahwa aku mengidap leukemia dan sedikit terlambat bagiku untuk mengetahuinya menjadikanku berada diambang hidup yang jujur saja aku sudah enggan. Aku berterimaksih padanya, mengingat jika bukan dirinya yang memulung anak pemurung yang ditinggalkan kedua orang tuanya sungguh kurang beruntung. Bukan begitu? Ya aku besar disebuah panti gereja, bersama mereka yang juga tak memilki orang tua. Dan setelah aku cukup besar dan dewasa, aku mulai bekerja untuk memenuhi hidupku. Bukan perusahaan besar hanya sebuah peusahaan penerbit, bekerja sebagai editor juga beberapa kali kuluncurkan beberapa buku, cukup bagiku menghidupi hidupku. Aku hidup sebagai author juga editor, sering kali akupun menghadiri seminar dengan menjadi motivator, katanya. Namun aku tak yakin dengan itu. bisa dibilang diusiaku yang memasuki 24 tahun ini, aku sudah cukup mapan. Loyality dari penjualan yang tak seberapa namun aku selalu berdonasi pada gereja tempat aku tumbuh besar. Mengingat jadi banyak yang harus kuselesaikan, acara mengakhiri kehidupan harus ku urugkan. Mungkin kau bertanya Mengapa kulakukan, nekat ingin mati bunuh diri itu, padahal hidupku ehm kau tahu itu aku sudah punya segalanya diusia muda. karena sejujurnya tak ada lagi alasan untuk aku tinggal, kesuksesanku, semua pencapaianku, terasa sangat hampa. Terlebih karena terlanjur mengidap penyakit mematikan, dan kudengar semakin nanti semakin berat penderitaan yang harus kurasakan sebagai pesakitan, kemoterapi dan sebagainya, hanya orang gila yang mau merasakannya. Aku sudah jelas menolaknya. 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hubungan Terlarang

read
513.2K
bc

Call Girl Contract

read
339.0K
bc

Sekretarisku Canduku

read
6.6M
bc

Aksara untuk Elea (21+)

read
843.3K
bc

SEXRETARY

read
2.3M
bc

Surgeon Story

read
267.4K
bc

Saklawase (Selamanya)

read
69.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook