Kami berjalan pelan menuju ke Dambanya Kafe. Sewaktu berboncengan aku mengatakan bahwa tadinya ku bertemu dengannya Sofi.
Bobi malah terkejut tiba-tiba ketika mendengar ceritaku, dan ia juga sedikit kesal, karena kami tadinya tidak jadi berbelanja pada hari ini.
Pada siang harinya, tadi kami telah bersiap-siap untuk pergi ke mall dan belanja, namun tiba-tiba ada kejadian yang tidak terduga, dan tentunya tidak diketahui, bahkan hal itu jauh dan tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.
"Bob hey...,! tadi aku bertemu Sofi loh disana, sewaktu kamu pulang kerumah sebentar tadinya," Aku bercerita pada sambil berjalan.
"Oh iya Bang, kok bisa ya,? hmm... kenapa dia ada disana ya Bang,?" Katanya dia.
"Tidak tahu juga aku sih Bob, katanya tadi, pengen jalan-jalan saja, begitu," Aku menjelaskan.
BOBİ JOSENVA
Oh... ada Sofi rupanya disana tadinya, hmm... pantas saja Sofi tadi bertanya kepadaku. Kiranya ia mengikuti Bang Jemi, sepertinya begitu.
Aku sudah lama kenal dengannya Sofi, memang cukup banyak ia bercerita denganku, kalau Bang Jemi beberapa bulan ini, telah sering berkomunikasi dengannya Sofi.
Bahkan Sofi sering juga meneleponku dan menanyakannya, tapi Bang Jemi tidak tahu. Apa aku harus beritahu ia ya?. Hmm... lebih baik rasanya aku diam saja, Bobi berkata dalam benaknya.
SOFİ SOFİYA
Aku beberapa Minggu yang lalunya telah menanyakan Jemi kepadanya Bobi, kemana saja ia perginya,? karena aku ingin bertemu dengannya tanpa diketahui oleh pacarku.
Akan tetapi, mengapa Jemi selalu terlihat menghindar dan seperti menjauh dariku, tentu aku menjadi bingung dan heran.
Bobi juga berkata, kalau Jemi hanya dekat dengan Risa saja. Aku ingin mengenal dulu Jeminya, jika cocok kepadaku, mungkin aku akan punya pertimbangan lainnya.
Akan tetapi, aku merasa sedikit tidak enak kepadanya Jemi, karena sudah beberapa kali ia melihatku dengan Pacarku Yİku Kumilu.
Aku tau Jemi suka bermain gitar, dan pacarku jugalah seorang gitaris, bahkan mereka berdua pernah bertemu di suatu acara, namun sepertinya Jemi tidak mengenalnya, Sofi berkata dalam benaknya.
JEMİ KİMER
Kami berjalan pelan ke Dambanya kafe, karena hujan gerimis jadinya kami mungkin sedikit terlambat. Bobi juga tampak kesal, tentu karena tidak jadi berbelanja tadinya.
Pada saat ini aku sedang merasa kosong, dan hanya dekat kepada Risa saja, tapi kami pun jarang bertemu, dan hanya pada waktu libur Sabtu dan Minggu biasanya.
Risa dekat denganku dan kami sering bercerita, berjalan bersama, tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh kepadanya.
"Mengapa ia sering sekali mengenalkanku kepada wanita lainnya?."
Dan itu yang menjadi pertanyaan bagiku. Aku tahu bahwa ada beberapa laki-laki yang sedang menyukainya, dan ku pernah melihatnya.
Namun Risa selalu menjaga perasaanku, jadinya kami tetap langgeng. Akan tetapi, pada kali ini aku merasa ada sesuatu yang berbeda.
"Mengapa ia ingin mengenaliku dengan tergesa-gesa, dan bahkan sepertinya ingin menjauh dariku, " Lalu "Ada apa ya?."
RİSA EMERTA
Waduh gimana ya. Aku ingin menjauh sebentar darinya Kak Jem, karena sekarang ini, aku sedang ada beberapa cowok yang mendekatiku.
Aku tidak enak kalau Kak Jem mengetahuinya, maka dari itu aku coba kenalkan ia pada Kenia saja.
"Kenia punya sepupu yang bernama Mbak Noni Nefiya, dan nama keluarga mereka ujungnya sama."
Kenia kemarinnya bilang ke aku, kalau ia mau berkenalan dengannya Kak Jemi. Dia pernah melihatnya pada beberapa waktu yang lalu, tapi belum mengenal.
Beberapa hari ini Kenia telah menghubungiku, dan sepertinya kami sepakat untuk berkenalan terlebih dahulu.
Akan tetapi, aku juga tidak ingin kehilangan Kak Jem. Kenia adalah teman baikku, semoga saja mereka bisa cocok.
Jika tidak, mungkin nanti akan aku pikirkan dahulu, Risa berkata dalam benaknya.
BOBİ JOSENVA
Aku cukup kagum sama Kak Jemi Kimer ini, karena ia begitu pengertian dan tidak neko-neko. Orangnya sederhana banget, dan itu yang kusuka. Dia lebih sering mementingkan hubungan pertemanan, daripada hal-hal yang lainnya.
Dia juga sering bercerita kepadaku, tapi tidak pernah terbuka dan lebih jauh, hanyalah hal-hal biasa saja, terutamanya tentang wanita.
"Mengapa Kak Jemi selalu begitu tertutup ya?."
Hmm... aku ingin tahu seperti apa dianya. Kebetulan kami mempunyai hobi yang sama, yakni senang bermain musik.
Tetapi jika kulihat, Kak Jemi sepertinya lebih menyukai Piano daripada gitar, sedangkan aku lebih kepada pembelajaran Vokal.
Aku punya Band dan cukup ternama sekarang ini. Tentu aku punya banyak kenalan, dan ku juga senang kalau kak Jemi hadir ketika ku manggung.
Dan tampaknya malam ini, kami akan bertemu dengan seorang wanita yang baru, kemarinnya telah dikatakan olehnya Kak Jem, kalau ada seorang wanita yang bernama Kenia, dan ingin berkenalan.
Aku pernah mendengar namanya Kenia, dan ku sudah cukup kenal, mungkin ia ingin bertemu dengannya Kak Jemi.
Semoga saja malam ini menjadi sesuatu yang berbeda. Tapi setahuku, Kak Jemi kan, berpacaran dengannya Risa.
Hmm...aku jadi bingung nih, kenapa ya,? ada apa ya,? Bobi berkata dalam benaknya.
KENİA NEFİYA
Oh... kenapa ya Risa bercerita kepadaku tentangnya Kak Jem. Apakah ia ingin menjauh darinya?.
Dia sering bercerita kepadaku, mengapa Kok dia malah menyuruhku untuk berkenalan dengannya Kak Jem?. Aku pernah melihatnya pada beberapa waktu yang lalu.
Akan tetapi karena belum kenal, jadinya aku tidak menyapanya. Aku cukup tertarik kepadanya, terlebih lagi ia mempunyai keahlian di bidang musik.
Kemudian juga ia punya banyak teman, dan asyik orangnya, katanya mereka begitu. Bagiku hal yang seperti itu, ialah merupakan sesuatu yang menarik.
Hmm... semoga perkenalan kami nantinya, akan menjadi sesuatu yang indah. Aku oke-oke saja, apalagi Risa adalah teman baikku.
Kemudian pada saat ini, aku juga tidak dekat dengan siapapun, atau bisa dikatakan sekarang aku sedang jomblo.
Katanya mereka, Kak Jemi Kimer itu imut, lucu, dan setidaknya aku bisa mengenalnya terlebih dahulu, Kenia berkata dalam benaknya.
JEMİ KİMER
Beberapa menit lagi kami akan sampai di Dambanya Kafe. Aku tidak begitu antusias, setidaknya aku bisa menambah kenalan dan menjalin pertemanan.
Karena pada saat ini, aku sedang terpikirkan kepadanya Risa. Tentunya tentang kelanjutan hubunganku kepadanya.
Aku pikir jika adanya pergantian, tentu hal itu tidaklah mudah, butuh waktu, kenyamanan dan juga pengertian.
Aku sudah cukup mengerti akan apa maunya Risa. Akan tetapi, hal itu cukup berat kurasakan, karena menemukan seseorang dan sesuatu yang nyaman, itu tidaklah mudah.
Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, selebihnya ku berpasrah saja. Apalagi aku juga sibuk dengan perkuliahanku. Setidaknya aku masih bisa bertemu dengannya dan bercanda.
"Hey Bob... apa kau kenal dengan wanita yang bernama Kenia,?" Katanya mereka dia itu cantik dan menarik, iyakah,?" Tanyaku sewaktu di atas motor.
"Oh iya Bang... keren loh orangnya, katanya mereka, dia itu sih penari, memangnya kenapa ya Bang,?" Bobi malah balik tanya.
"Oh... begitu, aku pikir tadi apa, nanya aja, karena aku belum kenal loh Bob," Kataku.
"Ya... tidak apa-apa sih Bang, kita kenalan dan lihat saja nantinya,!" Kata dia.
"Oke kalau begitu," Kataku.