Suasananya kembali menjadi tenang dan kami mulai berjalan ke Dambanya Kafe.
Aku bertanya padanya Bobi sewaktu di jalanan dan mengobrol di atas motor, "Hmm..., apa kau sedang menginginkan sesuatu pada saat-saat ini Bob?."
Jawabannya ia padaku, "Oh... banyak sih Bang, tadinya aku mau beli baju kemeja dan lainnya, lalu juga ingin jalan-jalan, tapi tidak jadi karena ketinggalan dompet."
Seperti itulah rasanya ketika aku sedang banyak menginginkan sesuatu, namun belum bisa tercapaikan.
Hari ini tepatnya bulan Desember pada tahun 2009. Aku senang sekali karena sebentar lagi akan memasuki tahun yang baru, yakni 2010 dan perkuliahanku juga akan selesai.
"Tahun Baru dan Suasana Baru."
Entah mengapa tahun ini begitu berbeda, mungkin karena aku lupa akan seorang wanita yang baru saja ku kenal. Kemudian kami sampai di Dambanya Kafe.
Kami Duduk dan Memesan Meja
"Permisi ya,! silakan mau pesan apa ya Kak,? dan boleh di lihat menu-menunya,?" Tanyanya pelayan kafe Damba sambil menyodorkan menunya dengan ramah.
"Hmm...Saya mau pesan Kopi Damba satu gelas sedang ya Mba, yang manis ya,!" Pintaku pada pelayannya.
"Baik, ditunggu ya,!" Katanya pelayan Kafe.
Namaku Jemi Kimer, begitulah teman-teman biasanya memanggilku, dan nama panggilanku adalah Bang Jem. Aku mahasiswa jurusan sastra di perguruan tinggi ternama di kota Yang-Yang Zhi, ada di Negara Republik Damba.
"Universitas Kimer Techno Zhilogic."
BOBİ JOSENVA
Hmm... wah Kak Jemi pesannya kopi damba satu gelas, aku ingin jugalah. Ramai banget pada sekarang ini kafenya, dan juga berdesak-desakan.
Tapi kok, aku belum melihatnya Kenia dan Risa. Kemana mereka Ya,? dan kenapa belum juga datang,? Bobi berkata dalam benaknya.
JEMİ KİMER
"Ayo Jem..., kok bengong saja kamu,! tak seperti biasanya, kenapa tuh,!" Sahutnya kawan-kawan seperjuanganku, dan kami mulai duduk di meja bersama-sama.
"Sebentar ya kawan-kawan, aku baru saja sampai juga nih," jawabku pada mereka.
Malam Minggu ini aku akan bertemu dengannya Kenia, dan ku tidak pernah menyangka sebelumnya. Dia adalah seorang wanita yang pintar, penari, dan juga cantik serta kulitnya yang putih seperti bengkoang. Hal itu membuatku terbayang kepadanya.
Dia pun sedikit lucu dan sangat menggairahkan. Namun sebelumnya aku tidak mengetahuinya, tentu jika Risa tidak mengenalkanku kepadanya.
Nia atau Nefiya adalah nama panggilannya. Kenia dan Risa sama-sama berkuliah di perguruan tinggi seni ternama, yakni bernama 'Universitas Maniskas Damba Seniya, dan mereka berdua senang menari.
"Singkatannya adalah UMDS, Universitas Maniskas Damba Seniya, ada di Negara Republik Damba."
Pertemuan kami di awali pada sebuah kafe kopi di kota Yang-Yang Zhi. Kafe tersebut bernama ‘’Dambanya Kafe,’’ dan ramai dikunjungi oleh orang-orang yang sedang kasmaran.
"Kalau sedang kasmaran kesini nih!."
"Ayo... ayo yg lainnya,! kita kumpul disini yuk,! Jemi dan yang lainnya sudah hadir loh,!" sahutnya kawan-kawan seperjuanganku untuk berkumpul bersama-sama di meja.
"Meja Mawar 1, adalah meja kami pada saat ini."
Hidangan Kafenya sederhana, namun khasnya cita rasa kopi itu dapat dinikmati dengan santai. Kemudian bercengkerama bersama mereka, sungguhlah menyenangkan, tentunya dapat menghibur di sela-sela kepenatan.
Kami duduk bersama-sama, tidak lama kemudian datanglah Kenia, Risa, Daniela, Nina, Yoseniya, Vanvi dan yang lainnya. Kami menyambutnya dengan penuh kegembiraan.
"Hey... semuanya,! itu mereka datang tuh, kalian yang baik-baik ya,! yang sopan dan ramah, oke,!" kataku dan Bobi pada mereka kawan-kawan seperjuanganku.
VANVİ YAMAYA
Duh,!!! gimana nih Ris, Nia, aku jadi gugup dan deg-degan nih. Aku jarang ketemu dengan mereka, apalagi disana itu ramai banget loh.
Aku kenal sama Kak Jemi Kimer, tapi kan, setahuku ia berpacaran dengannya Risa. Aku dengar-dengar sih katanya begitu.
Dan katanya, hubungan mereka itu sedang menggantung. Aku tidak begitu dekat dengannya Kak Jemi, tapi aku tahu, kalau ia orangnya baik dan asik.
Karena kami satu kampung dengannya, yakni berasal dari kota Yang-Yang Zhi ini. Aku kenal dengannya Kak Jemi sejak dari SMA.
Aku dengar-dengar, katanya Kenia ingin berkenalan dengannya, tak mengapalah pikirku, siapa tau saja mereka cocok.
Tapi aku cukup bingung dan aneh, tentunya kepadanya Risa, Vanvi berkata dalam benaknya.
DANİELA STELLA
Hmm... Aku jarang nongkrong-nongkrong seperti ini, tumben mereka mengajakku pada malam ini. Katanya Vanvi mereka itu pada asyik, terutamanya kalau mengobrol dan bercanda.
Aku punya pacar, tapi aku pikir tidak mengapa kalau jalan-jalan sendiri pada malam ini, dan juga bersama dengan kawan-kawan yang lainnya.
Pacar kan, juga belum tentu menjadi pendamping, maka dari itu aku ingin melihat dan mengenal yang lainnya. Aku punya adik yang bernama Doviana Stella. Kami berasal dari keluarga kelas atas, tapi aku tidak membeda-bedakan dan bisa berteman kepada siapa saja.
Keluargaku mempunyai perusahaan, dan dekat dengan perusahaan SSE. Aku sedang berkuliah pada sekarang ini, dan aku senangnya pada bidang Arsitektur. Maka dari itu aku cukup sibuk. Malam Minggu ini merupakan malam yang cukup penting bagiku, Daniela berkata dalam benaknya.
NİNA EMERTA
Aku sepupunya Risa, dan aku ingin menemaninya pada malam Minggu ini. Aku ingin tahu juga, siapa dan seperti apa sih si Jemi Kimer itu?.
Risa jarang bercerita kepadaku, karena pada biasanya ia selalu saja diam, dan tidak banyak bicara.
Aku saja baru tahu, kalau ia sekarang sedang dekat dan berpacaran dengannya Jemi, aku harap sih baik-baik saja, Nina berkata dalam benaknya.
YOSENİYA YANSİ
Hmm... Kafenya cukup bagus, berkelas dan aku suka. Aku satu angkatan dengannya Kenia, dia teman baikku, dan kami sering belajar menari bersama-sama.
Aku cukup tertarik kepadanya Bobi, tapi katanya Kenia, kalau Bobi itu sudah punya pacar.
Lalu aku mesti bagaimana ya?.
Kenia telah bercerita tadinya, bahwa ia ingin berkenalan dengannya Jemi Kimer, sedangkan aku ingin berkenalan dengannya Bobi.
Semoga saja pertemuan kami ini menjadi menyenangkan. Aku baru saja dikabarin oleh mereka, terutamanya pada beberapa hari yang lalu, Yoseniya berkata dalam benaknya.
JEMİ KİMER
Pada awalnya begitu. Aku dan Risa sudah lama berteman cukup lama, sudah beberapa tahun sebelumnya.
Orang tuanya sudah mengenalku dengan sangat baik, bahkan telah mempercayakannya kepadaku untuk di awasi, kalau-kalau dianya susah dihubungi.
İbunya Risa berkata," Dek Jem,! tolong dilihatin dan kabarin İbu ya,! kalau-kalau Risanya susah dihubungi, ini nomornya İbu karena kemarin-kemarinnya, dia tak bisa di hubungi."
Aku jawab," Baik Bu, nanti saya akan awasi dianya, dan saya kabarkan."
Aku memperhatikannya Risa dan mengawasinya sambil berkuliah, terutamanya kalau ibunya menanyakannya kepadaku.
Kemudian dari kejauhan kami melihat mereka semua melangkah masuk ke dalam Dambanya Kafe, pelan dan perlahan mereka menyapa.
"Salam Halo... selamat malam semuanya,! apa kabarnya kalian-kalian ini,?" Tanyanya Risa dan yang lainnya menyapa kami semuanya.
"Ya... selamat malam juga, silakan duduk Kenia, Risa, Daniela dan yang lainnya,!" Kataku kepada mereka berdua mewakili yang lainnya.
"Selamat malam juga Ris, silakan duduk, dan siapa siapa temanmu itu ya,?" Tanyanya Bobi menanyakan Yoseniya.
Mereka para perempuan itu cukup menarik, sehingga banyak kawan-kawan seperjuanganku yang meliriknya, termasuk Kenia.
Akan tetapi, aku masih punya rasa padanya Risa, dan sekarang ini belum berpindah, namun ku telah merasakan adanya sesuatu kekosongan.
Tentunya aku menerima, apapun yang ia inginkan, walau ku cukup berat dan merasakannya, mungkin karena sudah kenal lama tadinya.
Selebihnya, aku menjalankan saja apa yang akan terjadi setelahnya. Tentu ku tidak akan pernah tahu. Semoga saja harapku akan adanya sesuatu yang menyenangkan. Terutamanya dalam hubungan pertemanan.