“Sini lihat pipinya. Pasti sakit banget ya, sayang?” Reynand ingin melihat kondisi pipi Kanaya yang terkena tamparan dari mamanya. Tapi Kanaya malah berhambur ke pelukannya. Reynand juga dengan senang hati membalas pelukannya. Menciumi puncak kepala Kanaya dengan sayang. “Maafkan mamaku ya sayang.” Kata Reynand lembut. Kanaya hanya bisa mengangguk. “Aku janji tak akan membiarkan mereka menyakitimu.” Janji Reynand pada Kanaya. Sekali lagi Kanaya hanya bisa mengangguk kecil sebagai jawabannya. Dengan air matanya yang masih terus mengalir. Sakit.... Bukan karena tamparan itu. Melainkan karena tatapan kebencian serta jijik yang ditujukan oleh Ibu dari pria yang dicintainya itu kepadanya. Seolah-olah ia sesuatu yang membuatnya tak suka sekaligus ingin sekali menghindarinya. Ya, kar

