Three

1504 Kata
New York City, Manhattan, 5th Avenue, 23 Desember 2017 Suasana Natal sangat terasa di Manhattan. Semakin malam, 5th Avenue semakin ramai. Tidak pernah ada kata sepi di kota New York City. Pohon natal super besar berdiri di dekat Rockfeller Center. Berwarna kerlap-kerlip dengan bintang besar pada puncaknya. Cuaca dingin dengan suhu sekitar 6 derajat Celcius membuat Theo tidak kehabisan akal untuk tetap duduk di bangku sembari mendengarkan lagu dari ponsel dan juga mengecek beberapa surel yang masuk ke akunnya. Malam ini Manhattan cerah, hujan memang turun tadi siang, tetapi tidak deras dan New Yorkers—sebutan untuk orang-orang yang tinggal menetap di New York—tetap keluar meskipun dingin. Sekadar mencari makan malam atau mengunjungi kelab malam, itu yang biasa mereka lakukan. Begitu pula dengan Theo van Kuiken, dia sudah membuat janji dengan teman lamanya semasa kuliah. Mereka memutuskan bertemu karena Brian Kim baru tiba di Amerika tiga hari yang lalu. Brian selama ini tinggal di Afrika Selatan dan bekerja di balai konservasi hewan liar. “Hei bro!” sapanya saat mereka sudah bertemu. Keduanya saling bersalaman ala pria kemudian berpelukan. “Bagaimana kabarmu?” “Baik, seperti yang kaulihat,” jawab Theo sambil berjalan. “Sudah makan?” tanyanya. “Kebetulan belum. Ayo kita cari makan dan mengobrol. Ada banyak hal yang aku yakin ingin kauketahui.” Keduanya berjalan sambil mengobrol tentang pekerjaan dan juga hal lain. Brian sangat menyukai hewan-hewan asli Afrika seperti singa, cheetah, hyena, dan lain-lain. Kadang hal itu membuat Theo iri karena ia sangat menyukai hewan-hewan yang disebutkan Brian. Andai ia bisa memelihara singa, harimau, serigala, jaguar, dan semacamnya di New York, dia akan melakukannya tanpa berpikir. Sayangnya izin seperti itu tidak mudah didapat. Alhasil ia hanya memelihara dua ekor kucing dan satu ekor anjing. Satu kucing jenis Maine Coon berwarna keperakan dengan tubuh besar, satu lagi kucing Caracal dan anjing Siberian Husky jantan berwarna abu-abu-putih yang memiliki warna mata berbeda, mata kanan berwarna coklat dan kiri berwarna biru. Bukan tanpa alasan ia memelihara hewan-hewan tersebut, selain sebagai teman, Theo memang menyukai bentuk mereka yang menyerupai hewan liar. “Kau tidak mengajak Güliz?” tanya Brian setelah mereka menemukan tempat makan. “Dia akan menyusul. Dia bekerja lembur hari ini,” Theo melihat nama restoran yang menjadi favoritnya, “dia menanyakanmu beberapa kali selama seminggu ini setelah aku memberitahunya kau akan pulang.” “Aku harap dia tidak memberiku pelukan eratnya,” Brian tertawa kecil. “Tapi sayangnya kau tidak akan bisa menghindar,” sahut Theo sambil membuka pintu restoran yang malam itu sangat ramai. “Bersedia menunggu meja kosong?” tanyanya pada Brian untuk menerima persetujuan. “Tidak apa-apa, aku bisa bersabar,” jawabnya. Mereka memasuki restoran bergaya klasik yang dominan berwarna coklat tanah pada dinding dan juga lantai kayu berlapis karpet yang terlihat hangat di tengah cuaca dingin. Di ruang tunggu yang berada di depan ada kursi merah dari kulit dan di samping kiri ada tangga menuju lantai dua. Keduanya sudah memesan meja dan menunggu antrean karena pada malam-malam menjelang Natal seperti ini, semua restoran ramai. Atapnya dihiasi puluhan ribu pipa rokok berbaris rapi seperti barisan susunan jerami. Aroma daging yang dibakar dicampur lada menyapa penciuman Theo. Pajangan lukisan menghiasi setiap dinding. Ada juga sejarah negara Amerika dan beberapa pigura orang-orang terkenal. Meja-meja bulat dilapisi kain putih tersusun rapi di tengah ruangan. Meja-meja petak yang lebih kecil berbaris di pinggir ruangan, merapat ke dinding dan jendela. Suara gelak tawa dan riuh orang-orang berbicara dicampur alunan musik klasik khas Natal membuat suara ponsel Theo teredam. Ia tidak melihat panggilan telpon masuk yang sudah beberapa kali. “Lihatlah bekas cakaran mereka padaku,” Brian menarik lengan pakaiannya perlahan, langsung terlihat di sana bekas luka yang sudah lama. “Singa betina mencakarku ketika aku mencoba mendekatinya. Kejadian ini dua tahun yang lalu. Saat itu aku tidak sadar jika pengaruh bius pada singa itu telah habis.” “Kenapa singa itu tidak sekalian saja memakanmu. Itu lebih baik dibanding kau terluka,” ungkapnya. Brian Kim sama sekali tidak terkejut dengan kata-kata sarkas milik Theo. Ia sudah sering mendengar pernyataan yang lebih pedas dari mulut Theo dan ia menganggap itu sebagai gurauan orang kaku. “Kuyakin kau pasti tidak ingin menghadiri pemakamanku jika itu benar-benar terjadi,” ujarnya sambil mengibaskan tangan. “Dan ngomong-ngomong di mana Güliz? Dia belum sampai?” Theo mengambil ponsel di sakunya kemudian ia melihat banyak panggilan masuk dari Güliz. Tanpa menunggu ia langsung menghubungi wanita itu. Di detik pertama Güliz mengangkat telpon, Theo sudah mendengar suara jeritannya. “Maaf aku tidak mendengar suara ponselku,” ia tertawa kecil. Gadis di seberang telponnya masih terdengar kesal. “Kami di Keens Steakhaouse. 73 West 36th Street.” Panggilan terputus begitu saja, Theo menyimpan ponselnya kembali sembari melihat beberapa pajangan di dinding. “Güliz?” tanya Brian. Theo mengangguk. “Jadi apakah aku bisa memelihara satu singa?” tanya Theo tiba-tiba. Brian menghembuskan napasnya, itulah yang ingin Theo ketahui darinya. “Sulit,” jawabnya sambil menatap Theo. “Kau tinggal di kota besar, berpenduduk padat. Terlebih kau menempati apartemen yang aku yakin tidak cukup besar untuk bisa menampung singa jika ia sudah dewasa. Ia perlu kandang besar dan yang paling mengkhawatirkan adalah, dia bisa menyerang orang,” terang Brian. Theo tertawa. “Dude, aku hanya bercanda,” ia mengibaskan tangannya, “tetapi lain hal nanti jika aku punya rumah sendiri. Aku akan memeliharanya.” “Aku menyarankan padamu untuk memelihara singa jantan. Mereka lebih mudah diatur karena terbiasa hidup berkelompok. Harimau sedikit sulit karena dia makhluk penyendiri. Dominan dan itu membuatnya sering susah diatur. Tetapi itu semua tergantung karakter masing-masing, ada juga yang tidak seperti itu.” Brian melipat kedua tangannya di d**a. “Aku pribadi lebih suka cheetah. Hewan eksotis yang ramah.” “Sepertinya aku harus pergi ke Afrika. Mendengar ceritamu menarik minatku untuk menjadi Tarzan,” guraunya sambil lalu. Seketika itu juga matanya menangkap kehadiran Güliz. “Dia sudah datang.” “Brian!” Güliz langsung menghambur memeluk Brian. Ia memeluk dengan erat sembari menggalungkan tangannya di leher Brian. “Astaga! Kau semakin tampan. Oh lihatlah, kulitmu jadi luar biasa,” ujarnya dengan takjub. “Apa kabar Baklava*?” tanyanya sambil memegang kedua pipi Güliz. “Sangat baik, bagaimana denganmu?” “Wonderful!” jawabnya dengan senyum lebar. “Lihatlah, kau semakin cantik. Aku semakin iri dengan warna matamu.” Theo hanya berdiri diam di tempatnya sembari memperhatikan keduanya yang bertukar rindu. Dia tidak suka menempatkan dirinya di tengah-tengah agar dirinya diperhatikan. Dia baru akan berbicara jika keduanya ingat dengan kehadirannya sekarang atau mengajaknya berbicara. Tipe introvert sejati. “Aku akan dengan senang hati berkunjung ke rumahmu saat Natal. Sudah lama sekali tidak mencoba masakan Korea yang dibuat ibumu. Apa kabar Khloe? Dia pasti sudah kuliah sekarang?” Güliz bertanya tanpa jedah. “Kalian berdua harus ke rumahku. Ibuku akan dengan senang hati memasak untuk kalian,” ujarnya pada Güliz dan Theo. “Ya, Khloe sudah masuk tahun kedua kuliahnya. Anak itu semakin dewasa. Dulu dia masih pendek.” Güliz ikut tertawa mendengar penuturan Brian. “Aku senang sekali kau pulang di Natal tahun ini. Pokoknya kita harus mengunjungi setiap tempat kenangan semasa dulu,” Güliz menyeret Brian untuk menaiki tangga karena nama mereka sudah dipanggil. “Theo dan aku sudah setuju untuk mengunjungi teman-teman lama kita.” Saat ketiganya sudah duduk di bangku yang mereka pesan, Theo memutuskan untuk ke toilet. Ia membuka ponselnya dan membaca pesan yang dikirimkan seseorang untuknya. Theo diam beberapa saat lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin besar. Sembari membasuh tangan, Theo tidak lepas menatap dirinya sendiri. Seolah ia melihat orang lain di sana, di dalam dirinya sendiri dengan kepribadian yang berbeda. Selesai dari toilet, Theo merasakan ponselnya bergetar pelan. Ia melihat nomor yang tidak dikenal menelponnya. Theo mengabaikannya karena ia tahu nomor itu. Seseorang yang membutuhkannya dan Theo malas untuk sekadar mengangkat panggilan yang menurutnya tidak penting. Tidak lama pesan masuk ke ponselnya dan Theo mengerang malas. Ia segera membuka pesan tersebut sembari mengumpat pelan. Tidak lama kemudian telpon kembali masuk ke nomornya. “Apa maumu?” tanyanya tanpa mengucap salam pembuka. “Kenapa tidak menjawab telpon dan membalas pesanku?” “Aku sedang ada urusan. Jangan menggangguku,” jawabnya dengan nada dingin. “Urusanmu lebih penting dibanding tugas yang kuberikan?” tanyanya. “Jangan banyak bertanya. Akan aku selesaikan dengan sempurna tugas darimu. Atau jika kau berani mengancamku, semuanya akan batal.” Theo melihat ke sekelilingnya yang sepi, tidak ada orang di lorong bilik kayu tersebut. “Kau yang akan rugi jika membatalkan kesepakatan kita.” “Baiklah, aku tidak akan menuntut banyak hal. Segera selesaikan tugasmu dan kirimkan hasilnya padaku. Kau berpacu dengan waktu.” Tanpa pikir panjang Theo segera mematikan panggilan dengan sepihak. Ia malas mendengar kelanjutan dari ucapan orang yang menelponnya. Theo melihat Güliz dan Brian masih mengobrol sembari meminum minuman mereka yang telah datang. Theo duduk dan menyimak dalam diam obrolan kedua temannya. “Theo, ayo kita mulai makan,” ajak Güliz menyadarkan Theo dari lamunannya tentang perang Amerika setelah ia melihat artikel yang ada di depannya. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN