Zara tengah sibuk berkutat pada penelitiannya. Sesekali, mata birunya itu menatap ke arah mikroskop yang telah ia gunakan sejak tiga jam yang lalu. Ia begitu fokus tanpa tau bahwa dirinya tengah menjadi pusat perhatian. Bahkan, mereka para teman satu jurusannya sudah mengambil potret Zara sebanyak mungkin. Waktu berlalu hingga akhirnya ia pun telah selesai dengan laporan yang ada di tangannya. Saat hendak membereskan semua hasil pekerjaannya, seseorang dengan cepat mencegah yang ternyata itu adalah sang profesor. Ia sedari tadi memperhatikan Zara. Ia merasa terkesan, bahkan ingin sekali ia merekrut Zara dalam kelompok penelitian besarnya. Ya, harus! ia tak ingin menyesal di akhir karena membiarkan salah satu mahasiswa jeniusnya itu bebas. Sedangkan kemampuan dan kejeniusan nya mampu dan

