Zara menatap mereka dengan tatapan nyalang bak elang yang siap menerkam mangsa. Seruan peperangan membuat Zara tak merasa takut sedikit pun. Zara yang hanya seorang diri mesti bertarung dengan beberapa pria berbadan besar yang pasti nya otot-otot mereka pun bukan hanya sekedar hiasan. Ia tak takut! Karena saat ini, nyawa sahabatnya lah yang menjadi korban dari mereka.
Dan hal itu membuat Zara semakin marah.
Mereka langsung menyerang ke arah Zara yang kini tengah siap menerima pukulan ataupun serangan lainnya. Balok kayu yang ia bawa semakin di eratkan seolah mengumpulkan semua kekuatan pada lengannya.
Bughhh, suara yang begitu keras kembali terdengar kala Zara melayangkan pukulan kerasnya pada salah satu di antara mereka.
"Jangan beri ampun!" Teriak salah satu dari mereka yang sepertinya menjabat sebagai ketua, hal itu membuat semuanya bersemangat kembali melayangkan pukulan serta tendangannya.
Mereka saling mengadu kekuatan, dengan Zara yang hanya seorang wanita saja, tapi kemampuannya yang sangat luar biasa mampu membuat pria-pria itu memiliki memar bahkan sudah merasa kelelahan.
"Ga ada habisnya!" Pikir Zara kala mereka kembali bangkit dengan kekuatan yang masih kuat. Matanya menatap ke arah belakang dimana Teo berada.
Bughhhh, pukulan teramat keras Zara dapatkan hingga membuat sudut bibirnya berdarah. Ia lengah!
Zara kembali fokus ke arah lawan yang kini tengah menyeringai seolah mereka tengah memenangkan peperangan ini.
"Gue harus kalahin mereka." Ucapnya dengan tekad yang semakin kuat. Ia menatap lagi ke arah sahabatnya dengan sekilas yang ternyata kini tengah di dekati oleh salah satu dari mereka. Hal itu langsung saja di cegah oleh Zara.
Gadis cantik itu berlari ke arah pria botak dari arah belakang dan menendang kepalanya dengan keras ke arah samping. Ia bahkan lupa akan musuh jelek yang tadi berada di hadapannya.
Duaggghhh, melihat korbannya pingsan, Zara pun mendekat ke arah Teo yang kini masih terkapar lemah dengan sesuatu di dalam genggamannya.
"Te!!!" Teriak Zara pada Teo.
"Teo!" Lagi, dan kini di barengi dengan sedikit guncangan pada tubuh Teo.
"Teo, bangun! Akhhh... Sialan! Teo lo harus bangun!" Tak ada pergerakan sedikit pun. Zara pun akhirnya menempelkan jari pada hidung Teo berharap bisa merasakan pernapasan dari sahabatnya itu.
Tidak terasa! Tangannya gemetar akibat rasa takut yang ia rasakan saat ini. Bukan karena takut pada lawannya, tapi sebuah kehilangan yang membuatnya sangat ketakutan.
"Teo!"
Salah satu dari mereka kini tengah mengeluarkan sebuah pistol dari arah belakang Zara. Seringai yang terletak jelas di bibirnya membuat ia merasa senang.
DOR!!!!
~~~~~~
Arkan menatap papan tulis dengan pandangan gelisah. Para sahabatnya yang kini tepat berada di sebelahnya pun merasakan akan keresarahan yang di alami Arkan.
"Tenang bro, lo bikin meja lo bergetar gitu."
"Panik! gue panik!" Jawab Arkan yang sesekali menggigiti kuku tangannya.
"Coba cerita pelan-pelan. Apa yang bisa bikin lo panik kayak gini, dan emangnya tadi kak Riz mau kemana? Kok keliatannya penting banget." Ucap Hega berharap mendapat jawaban dari sahabat paling kutub nya ini.
"Nah itu yang jadi pertanyaan gue, kenapa kak Riz keliatan buru-buru gitu sih?" sambung Zio yang ternyata semakin membuat Arkan kehilangan kendali tubuhnya.
Arkan bangkit dari duduknya hingga membuat semua teman kelas termasuk guru nya pun menatap ke arah Arkan.
"Kunci motor!" Pintanya dengan paksa pada Hega membuat sang empunya mengangkat sebelah alisnya tak percaya.
"What the—" batin Hega, Zio dan juga Ezar yang semakin tak mengerti akan tingkah Arkan.
"Buat apa?" Hega Akhirnya mengeluarkan suara.
"Gak usah bacot! Siniin kunci motor lo." Sentak nya membuat Hega dengan pasrah memberikan kunci motor kesayangannya pada Arkan.
"Ada apa Arkan?"
Tanya sang guru membuat Arkan tak mengundurkan tekadnya sedikit pun. Ia menatap ke arah guru dengan tatapan tegas tak ingin di bantah.
"Saya akan keluar."
"Tapi pelajaran belum selesai, memangnya kamu mau kemana?" Tanya guru itu menuntut tak ingin sampai murid terpintar di sekolahnya membolos saat pelajaran nya.
Namun, tanpa kata sedikit pun, Arkan pergi meninggalkan kelas tanpa menghiraukan seruan dari guru dan para sahabatnya.
Arkan bergegas menuju ke arah parkiran dan menemukan motor milik Hega. Ia akan kembali ke rumah.
Hatinya resah, ia ingin segera sampai rumah dan menemukan kakaknya tengah duduk bercanda dan baik-baik saja. Air mata pun tanpa bisa di cegah mengalir begitu saja. Ini lah yang selalu Arkan rasakan. Ia takut saat dalam misinya Zara, ia akan kehilangan orang yang paling ia sayang.
Perjalanan yang teramat singkat hingga akhirnya ia bisa melihat gerbang tinggi dan mansion pun telah di depan mata. Ia memencet klakson motor tanpa henti hingga akhirnya pintu gerbang terbuka lebar.
"Dad...."
"Dad, where are you?" Teriak Arkan dengan wajah memerah menahan tangis.
"Dad...." Teriak Arkan lagi. Hingga akhirnya seseorang keluar dari ruangan terlarang.
Arkan menatapnya dengan penuh permohonan, hingga seseorang itu pun mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.
Arkan terduduk memegang kedua kaki yang ternyata adalah Satria. Wajah tampan penuh ketegasan membuat ia semakin di hormati.
Satria menatap anak bungsunya dengan pandangan penuh tanya.
"Ada apa Arkan? Kenapa kamu ada disini?"
"Dad... lepaskan."
"Lepaskan? Lepaskan apa?"
"Lepaskan kakak dari jabatannya. Arkan mohon dad. Arkan gak sanggup setiap dengar kakak mendapat telepon dari daddy. Arkan gak mau kakak melakukan hal membahayakan lagi. Arkan gak mau kehilangan kakak dad."
"Arkan..." panggilnya membuat Arkan mendongakkan kepalanya menatap Satria.
Namun, sesuatu hal berbeda dari Daddy nya. Tatapan penuh kasih sayang yang selalu daddy nya berikan kini berubah.
"Kamu mau menantang keputusan daddy?"
"D-dad—"
"Kamu mau menentangnya?" Tanya Satria semakin menaikkan nada suaranya membuat Arkan berjengit kaget.
Akhirnya Arkan pun menunduk seraya menggelengkan kepalanya. Ia sungguh tak berani lagi menatap ke arah Satria saat ini. Hingga, suara dering ponsel milik Satria pun menahan amarah yang hampir saja ia luapkan.
"Halo."
".... "
"Rumah sakit mana?" Tanya Satria dengan wajah yang berubah menjadi panik.
"...."
"Saya akan segera ke sana."
Tak menunggu lama lagi, Satria pun berlari tanpa menghiraukan Arkan yang kini tengah memucat.
Rumah sakit? Siapa? Apa—
"Zara ... Lo harus baik-baik aja." Ucap Arkan dalam hati dengan segala doa terucap di bibirnya berharap bukan Zara lah yang kini berada di rumah sakit.
Saat Arkan hendak menaiki motor, seseorang mendorongnya membuat Arkan kesal.
"s**t!"
"Kamu mengumpat, ingat hukumannya setelah kembali ke mansion."
"Dad?"
"Kamu di belakang, biar daddy yang bawa motornya." Arkan pun akhirnya paham akan keinginan sang daddy.
Motor pun melesat keluar meninggalkan mansion utama. Seakan teringat sesuatu, Arkan mendekat pada Satria.
"Dad, gimana dengan mommy?"
"Mommy kamu sedang di rumah grandma Fay."
Akhirnya mereka pun melesat meninggalkan mansion menuju ke rumah sakit.
~~~~~~