Bel pun berbunyi membuat Arkan dan Zara berhenti dari permainannya. Zio yang entah sejak kapan memiliki minuman pun mendekat dan langsung di berikan pada Zara saat kedua sejoli itu mendekat ke arah mereka.
"Kak Riz, ini buat kakak." Ucapnya seraya menyodorkan minuman isotonik pada Zara.
Zara yang hendak mengambil itu langsung memberenggut kesal kala Arkan mengambilnya dengan cepat. "Kamu kalah!"
"Ihhh... nyebelin banget sih." Kedua pipinya menggembung begitu lucu membuat Arkan tak kuasa menahan diri untuk mencubit pipi sang kakak.
"Aahhkkk... Arkan! Sakit!"
"Habisnya... kamu lucu!" Zara mengumpat dalam hati akan kelakuan Arkan yang begitu mendalami perannya.
"Awas aja, di rumah bakal gue bales!" Batin Zara dengan penuh tekad.
"Heh! Itu minuman buat kak Riz–"
"Bawel!" Potong Arkan yang membuat Zio naik pitam. Untung ada Ezar yang menenangkannya saat ini.
"Yaudah nih... aku kasihin."
Zara dengan cepat mengambil minuman itu dan meneguknya dengan cepat. Wajah putih yang memerah karena lelah, serta keringat yang membasahi pelipis hingga lehernya pun membuat ia semakin terlihat menawan di mata ketiga sahabat Arkan. Hingga akhirnya, minuman itu pun tandas dan Zara mendesah lega.
"Ahhh... enak banget. Makasih Zio." Senyum manis Zara bubuhkan membuat Zio semakin terpana.
"Sama-sama kak."
"Selesai kan? Kalau gitu, ayo kita ke aula."
"Loh? Memangnya ada apa?" Tanya Zara karena ia merasa ketinggalan berita.
"Sekarang ada salah satu investor yang akan memberikan motivasi gitu. Acaranya di aula. Dan... Kita telat." Ucapan terakhir terdengar sangat kecil namun menjadikan sebuah ancaman bagi mereka.
Akhirnya, mereka pun berlari menuju aula sekolah.
Zara meraih tangan Arkan, bukan! Itu bukan Arkan, tapi Hega.
Merasa tangannya di genggam oleh seseorang, membuat Hega bersemu merah. "Astaga... ini adalah hadiah yang takkan pernah aku lupakan. Terima kasih Tuhan." Batin Hega yang kini tersenyum sendiri karena merasa bahagia.
Zio melihatnya! Ia marah bukan kepalang kala melihat Hega yang menikmati sentuhan dari bidadari nya.
"Hega sialan! Dia malah nikmatin!" Umpatnya dalam hati begitu kesal.
Mereka terus berlari tanpa henti dan saat tiba, pintu di buka secara kasar oleh Zio untuk melampiaskan amarahnya. Namun hal itu justru berdampak buruk.
"Zio b**o!"
"Bukan sobat gue."
"Ya Tuhan... Dia terlalu pintar!"
Mereka menunduk saat merasakan tatapan membunuh dari beberapa guru dan juga seseorang yang kini tengah berdiri di atas podium.
Namun tatapan itu tak berpengaruh sama sekali untuk Arkan dan juga Zara. Mereka tetap menatap dengan berani tanpa ada ketakutan sedikit pun.
"Mohon maaf, kami terlambat." Ucap Zara dengan sopan.
"Silahkan masuk."
"Teri–"
"Dan berdiri di depan teman-teman kalian." Ucap pria tampan yang kini masih berdiri di atas podium itu dengan nada tegas.
Suara bisikan mulai terdengar kala mereka memasuki ruangan. Most wanted dan murid baru yang selalu menjadi bahan perbincangan membuat eksistensi mereka semakin meledak. Ya, mereka semakin terkenal.
Bahkan, kakak kelas pun dengan berani melayangkan siulan nya kala Zara berjalan melewati mereka.
Ternyata Zara telah melepas genggaman tangannya. Mata tajam yang cantik itu menatap lurus ke arah pria yang ternyata sempat bertemu dengannya saat istirahat siang tadi.
Mereka kini tengah berbaris di depan ratusan siswa yang tengah berkumpul. Banyak kekaguman yang mereka lontarkan untuk kelimanya. Hal itu malah membuat Xenan semakin murka.
Niat awal, ia hanya ingin lebih dekat dengan gadisnya. Tapi apa ini? Gadisnya malah menjadi semakin terkenal dan membuat ia tersingkir.
"Itu tidak boleh! Dia hanya akan jadi milikku." Batinnya berteriak keras.
Saat Xenan hendak mengeluarkan suaranya, deringan ponsel salah satu diantara lima orang yang kini berada di hadapannya berbunyi. Ini adalah sesuatu yang sangat ia benci. Para guru bahkan kini tengah berdoa berharap tak akan berdampak buruk kedepannya.
Ternyata, si pemilik ponsel adalah Zara. Dilihatnya gadis itu, kini tengah mengambil ponselnya dan menatap nama si penelepon.
"Kenapa?"
"Bantu gue Zar! Gue ketauan." Bisik seseorang di seberang sana dengan nada panik nya.
"Lokasi?"
"Em... Anjir ini dimana sialan! Gue di bangunan tua Zar. Gue share loc." Panggilan dimatikan, ia pun langsung mendapat pesan dari Teo yang kini tengah mengirim lokasinya.
Zara menatap Arkan yang kini menatapnya dengan khawatir. "Pinjem motor."
"Tapi Zar–"
"Aku pasti baik-baik aja. Trust me, hmm?"
Dengan berat hati, Arkan pun memberikan kunci motornya pada Zara. Kecupan singkat Zara berikan pada pipi Arkan untuk membuat suasana hati adiknya kembali tenang. Beda halnya dengan mereka yang melihat adegan itu.
Marah, iri, envy dan lain sebagainya. Termasuk Xenan yang kini tengah mengepalkan kedua tangannya untuk menahan gejolak emosi saat melihat gadisnya mencium pria lain.
Zara berlari menuju parkiran, tanpa membawa tas bahkan skateboard kesayangannya pun ia tinggalkan. Kini, nyawa sahabatnya lah yang paling utama.
Setelah sampai di parkiran, ia bergegas menuju motor Arkan dan dengan cepat menaikinya. Deruman motor sport membuat sang satpam bersiaga menjaga gerbang.
"Gak boleh keluar!"
"Saya di suruh tamu itu membawa berkasnya yang ada di kantor."
"Beneran?"
"Iya Pak."
Tanpa pikir panjang, sang satpam pun langsung membuka gerbangnya membuat Zara langsung menancap gasnya kembali dengan kecepatan di atas rata-rata.
Ia meliak-liukkan laju motornya menghindari beberapa pengendara lain. Lokasi yang di kirim oleh Teo tidak terlalu jauh dari tempatnya. Zara semakin melajukan kecepatannya kala gedung yang Teo maksud telah terlihat.
Zara berfikir akan apa yang di alami sahabatnya itu. Karena Teo, sangat kurang dalam beladiri tapi ilmu teknologinya di atas kemampuan Zara.
Sesampainya ia di tempat tujuan, Zara bergegas memasuki gedung yang terlihat sudah lama tak terpakai. Bangunan kumuh yang ia yakini tempat untuk menyekap. Tunggu, menyekap?
Zara mengambil sebuah balok kayu yang bisa ia gunakan untuk senjatanya kali ini.
"Sebenarnya tugas apa yang dia kerjakan." Gumamnya dengan nada khawatir. Ia pun mulai melangkah menelusuri setiap ruangan.
Sudah beberapa anak tangga yang ia pijak untuk naik ke lantai atas. Hingga, terdengar sayup-sayup yang membuat ia semakin mengencangkan genggamannya pada kayu tersebut.
Bughhh! "Arrgghhh, sshhh...."
"Kembalikan data itu!"
Zara langsung paham akan situasinya saat ini. Teo menjalankan sebuah misi untuk mengambil beberapa data yang seharusnya ia dapatkan. Namun sayang, kala komputer yang ia gunakan terserang kembali oleh virus dari data yang ia curi. Hal itu membuat Teo ketahuan dan tertangkap.
Zara mengintip dari celah pintu yang langsung menampakkan sosok Teo yang kini tengah terlentang di tengah ruangan dengan darah mengalir dimana-mana. Beberapa pria berbadan besar itu tak segan melayangkan kembali pukulan dan tendangannya pada Teo.
Dengan berani, Zara pun masuk dan... Bughhh, pukulan dari Zara pada salah satu pria itu yang kini langsung terduduk karena merasa pening akibat pukulan yang di terimanya.
Para temannya kian marah kala mengetahui ada sosok lain yang mengganggu mereka.
"Hajar!"
~~~~~~