Suasana damai di sebuah kamar bernuansa hitam putih kini terusik oleh suara Arkan yang tiba-tiba saja masuk ke dalamnya. Zara yang tadinya akan membuka baju langsung di urungkan dan menatap Arkan dengan kesal.
"Kak, gue butuh penjelasan lo."
"Soal apa?"
"Pacar. Apa maksud lo?"
"Hm... itu rahasia, pokonya lo ikutin aja permainan gue."
"Tapi kak, kalo gue mau dapet cewek gimana?"
"Tahan dulu, sampai kenaikan kelas, oke? gue janji bakal selesaikan masalahnya."
"Misi lo?"
"Hm..." Zara mendekati Arkan yang kini tengah menundukkan kepalanya. Ia sungguh merasa lemah sebagai adik laki-laki Zara karena tak bisa sehebat Zara.
Walau kakaknya itu perempuan, bisa di pastikan bahwa kemampuan bertarung Zara 10x lipat lebih hebat darinya. Pantas saja sang daddy mewariskan dunianya pada Zara.
Elusan mulai terasa pada puncak kepala Arkan membuat pemuda itu mendongak menatap dengan jelas bola mata kakaknya. Senyum pun terhias di wajah cantiknya membuat Arkan ikut tersenyum.
"Gak usah pikirin itu, lo tau gue kan? The Last Princess. Dan gue bakal buktiin bahwa itu bukan hanya sekedar nama buat gue."
Arkan memeluk Zara dengan erat, Zara pun membalas pelukannya di tambah tepukan kecil pada punggung Arkan.
"Gue akan selamat di setiap misi, karena apa? Karena gue masih ingin kembali berkumpul sama kalian. Gue akan tetap berusaha bertahan hidup apapun caranya."
"Hmm... lo harus buktiin itu, gue gak mau kehilangan lo Zar."
"Iya iya, adek gue bawel banget sih." Arkan mendengus kesal kala Zara merusak moment haru mereka. Ia pun melepas pelukannya kemudian menggelitiki Zara hingga puas.
Suara tawa pecah dari keduanya membuat suasana menjadi semakin menghangat.
~~~~~
Keesokan harinya, seorang pria tampan dengan setelan jas formal kini tengah bersiap menuju tempat tujuan utamanya hari ini. Ia sudah sangat tak sabar akan hal yang ia tunggu-tunggu. Ya, itu adalah waktu kunjungannya ke Azfary International School dimana gadis itu berada.
"Pak, ini yang harus di tandatangani." Andana menyodorkan sebuah berkas perjanjian dengan perusahaan lain. Dengan segera ia bubuhkan tanda tangan beserta cap nya setelah membaca isi perjanjian itu dengan teliti.
"Jadwal?"
"25 menit lagi acara janji dengan School Azfary International akan dimulai."
"Hm, jarak dari sini tidak terlalu jauh. Aku akan berangkat sekarang."
"Biar saya antar, Pak." Tawar Andana yang memang selalu mengikuti Xenan pada setiap pertemuan.
"Saya akan pergi sendiri." Tak ada yang bisa membantah keinginan bos nya ini.
Akhirnya, Xenan pun bangkit dari duduknya dan mulai melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja miliknya.
Dalam otaknya, ia akan terus menyusun beberapa strategi yang pas untuk bisa bertemu dengan gadis cantik itu.
Jalanan padat Ibu Kota membuat Xenan mendengus kesal. Namun, senyum ceria kembali terbit kala sebuah gerbang tinggi bertuliskan Azfary International School sedikit lagi tepat di hadapannya.
Senyumnya terus berkembang. Dengan segera, ia meng klakson mobilnya membuat seorang satpam datang menghampiri.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Xenan, dari perusahaan XE Corp." Ucap Xenan seraya menunjukkan kartu nama miliknya pada pak satpam.
"Baik tuan, silahkan masuk."
Pintu gerbang terbuka lebar, dan akhirnya ia pun memasuki sekolah itu dengan binar mata yang semakin indah.
Karena waktu datangnya menunjukkan pukul 12.30, itu waktu dimana para siswa-siswi beristirahat yang kedua kalinya.
Pandangan terpana dengan bisik-bisik tanpa henti tak membuat Xenan menghentikan langkahnya. Mata tajam bak elang menatap sekitar dengan teliti, ia berharap bisa bertemu dengan gadis incarannya sebelum seminar yang akan ia lakukan nanti.
"Awasss!" Dughhhh, kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut dengan rasa sakit yang mendera nya. Suara langkah kaki terdengar sangat cepat mendatanginya. Ia marah sekali! Sungguh sial, baru saja datang sudah terkena bola.
"Maaf...." Ucap nya dengan lembut karena merasa bersalah.
Xenan yang hendak mengumpati si pelaku langsung bungkam kala melihat siapa orang yang barada di hadapannya.
"Maaf pak, saya tidak sengaja."
Xenan berusaha menetralkan detak jantungnya yang mulai berdebar tak karuan.
"Ekhmm... Hmm, saya yakin kening saya sudah membiru." Zara menatap kening lelaki di hadapannya yang ternyata memang benar, membiru.
Zara menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa bersalah tapi tak ingin melakukan apa-apa. Ia sungguh malas berurusan dengan lelaki seperti dia. Namun, keuntungan kini berpihak pada Zara.
Arkan datang dengan cepat setengah berlari ke arah Zara. Tanpa aba-aba dan karena sudah terbiasa, Arkan pun langsung merangkul kan pinggangnya pada Zara tanpa rasa malu sedikit pun.
"s**t! Siapa bocah lelaki itu? Berani-beraninya menyentuh gadisku." Batin Xenan dengan amarah yang menggebu.
"Buruan, masih ada waktu nih bentar lagi."
Zara pun mengangguk ke arah Arkan kemudian kembali menatap Xenan. "Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Kami permisi." Tanpa menunggu jawaban, Zara dan Arkan pun pergi meninggalkan Xenan yang masih terdiam mematung di tempatnya.
Xenan menatap tajam kedua insan yang tengah berlari seraya bergandengan tangan itu. Hatinya merasakan panas dan marah.
Lain dengan Arkan dan Zara yang kini tengah bertos karena rencana kaburnya berhasil.
"Gila lo dek, untung itu orang gak ngejar kita."
"Hehehe... rasain aja! Siapa suruh dia ngeliatin lo gak sopan gitu."
"Emang dia liat gue gimana?"
"Gini nih." Arkan memperagakan ekspresi wajah Xenan kala pertama melihat Zara. Dan hal itu sukses membuat Zara tertawa begitu puasnya.
"Astaga! Hahahaha... gila lo, kok jelek gitu?"
"Emang dia jelek kok." Arkan mengedikkan bahunya dan membuat Zara tertawa kembali. Adiknya ini memang sungguh sangat jahil.
"Lanjut!"
Arkan berlari seraya merebut bola basket yang sedari tadi berada di pelukan Zara. Hal itu membuat Zara ikut berlari untuk merebut bola yang kini tengah Arkan lemparkan ke arah ring.
Plukkk, Zara menepis bolanya dengan cepat membuat bola basket itu tak jadi masuk ke dalam ring.
Mereka bermain dengan serius, walau terkadang Arkan selalu menjahili nya, namun bukan Zara namanya jika ia kalah dari Arkan. Keduanya bahkan tak sadar bahwa banyak dari siswa-siswi menonton mereka dengan serius.
Siapa yang akan jadi pemenangnya? Itulah yang mereka nantikan.
Wajah tampan dari Arkan dan kecantikan Zara mampu membuat mereka semakin di idolakan. Bahkan banyak yang menjadi Fans keduanya.
"Pasangan yang serasi."
"Cantik dan tampan!"
"Andai aja gue secantik Zara... pasti gue yang ada di posisinya sekarang. Astagaaa... Couple goals banget."
Para sahabat Arkan hanya bisa menggigit jari melihat dua orang itu dengan gemas.
"Berasa dunia milik berdua ya!"
"Envy!"
"Ck, Arkan... sialan dia curi start!"
"Mereka gak cocok!" Ucapan terakhir membuat ketiga sahabat Arkan menengok kan kepalanya ke arah sumber suara.
"Siapa ya om?" Tanya Zio dengan nada kesal karena terbawa perasaan melihat sang idola dengan salah satu sahabatnya.
"Gak perlu tau! Bocah!" Setelah mengucapkan kata yang begitu menyakitkan para remaja itu. Xenan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.