Kedua matanya melirik belakang Samuel, lalu mengedar semua arah. Sultan masih tidak menemukan sosok Cantik di sana. Dalam batinnya kebingungan. Sebenarnya, apa yang terjadi? Apakah sesuatu burul terjadi? Atau ... memang ada Devoni yang diam-diam datang ke sini?
Kini dia kembali menatap Samuel. Sultan ingin mengetahui semuanya. “Kenapa Cantik tidak ada?” tanya Sultan membuat Samuel menggelengkan kepalanya. Tuan Muda mengernyit dalam. Dia semakin curiga dengan semuanya.
“Sam. Apa terjadi sesuatu?” tanyanya sekali lagi. Samuel masih saja diam menatap Tuan Muda dan tidak segera menjawab. Apalagi wajahnya sangat pucat.
"Sam, apa kau tidak dengar aku berkata apa? Pasti ada sesuatu yang terjadi dan ini sangat buruk. Sam, ceritakan! Cepat!"
“Saya tidak menemukan Nona Cantik. Terakhir saya menemuinya di sini, dan saya pergi untuk membeli makanan. Namun, saya tidak menemukannya lagi. Entah dia pergi ke mana, saya tidak mengerti. Saya sudah mencarinya ke mana-mana. Dia sudah pergi, Sam," ucap Samuel kebingungan. Dia memegang kepalanya dengan panik.
“Kau sudah memeriksa kamera CCTV, Sam?” tanya Sultan memastikan sekali lagi. Kedua mata Samuel melebar seketika.
“Saya akan memeriksanya, namun saya memeriksa Anda terlebih dahulu. Saya khawatir Anda akan terancam.”
Sultan menggeleng cepat. Dia kembali menatap Samuel dengan tajam.
“Kenapa kau tidak segera memeriksanya. Jika ada sesuatu kepadanya, bagaimana? Pergilah!” pinta Sultan dengan tegas. Dia membuat Samuel akhirnya yang semula terdiam, bergerak.
“Saya akan memeriksa amplop itu nanti, Tuan,” jawab Samuel menganggukkan kepala, lalu pergi berlalu. Sultan kembali masuk ke dalam kamar. Sementara Natalie masih saja memandang kukunya yang sudah pendek dengan wajah memelas. Sultan kebingungan karena pastinya Natalie akan sangat ribut dan membuatnya pusing.
"Hah, dia pasti akan ribut. Masalah mendadak terjadi, dan aku harus mengatasi ini," batin Sultan berjalan cepat mendekati Natalie yang masih saja ingin meluapkan kekesalan.
“Nanti juga akan tumbuh lagi. Sudahlah. Jangan dipandang saja,” ucap Sultan menghampirinya, lalu mengecup keningnya. Namun, Natalie masih saja tidak mau. Kepalanya menggeleng keras.
“Kau tidak tahu bagaimana sengsaranya jika wanita kehilangan kuku mereka. Itu adalah bencana. Ah … aku benar-benar sangat sial,” balasnya lemas lalu menurunkan jemarinya. Sultan menggenggam telapak tangan kanan Natalie, lalu mengecup setiap jemarinya.
“Aku menyukai apa adanya. Tapi … sepertinya lebih suka jika tidak memakai pewarna kuku. Labih alami.” Natalie segera menari telapak tangannya. Melotot tajam. Mewarna kuku adalah sesuatu yang dia sukai, dan itu wajib dia lakukan. Memiliki kuku indah adalah segalanya baginya. Dia tidak terima melihat Sultan mengatakannya.
“Huaaa! Tidak mungkin. Aku akan merana jika tidak memiliki kuku ini. Natalie cantik membahana selalu saja akan cantik jika semua sempurna, termasuk kuku ini,” jawabnya sewot lalu memalingkan wajah. "Bagaimana dia bisa mengatakan itu, aku sangat kesal. Aku tidak bisa kehilangan kukuku ...," gerutunya sesekali melirik Sultan di belakangnya.
Sultan menggelengkan kepala sembari tersenyum. “Dasar wanita. Kehilangan kuku saja seperti kehilangan nyawa. Sudah dirayu tidak mempan.” Sultan mendekati Natalie dan mengucapkan sesuatu yang akhirnya membuat Natalie membalikkan tubuh dan mulai akan merengek.
“Katanya akan dipanggilkan seseorang yang akan merawat kukuku?” tanya Natalie meringis lalu mengedipkan salah satu matanya. Sultan menarik napas, menatapnya sembari terkekeh pelan. Dia tidak percaya dengan perubahan ekspresi kekasihnya itu yang spontan mudah sekali berubah.
“Akan aku lakukan jika kau sembuh. Kalau tidak …,” balas Sultan kembali menggeleng. Natalie kesal memperlihatkan wajah manyun dengan bibir maju ke depan.
“Aku tidak akan menyayangimu, dasar kaya tapi pelit!” balasnya sedikit berteriak. Natalie bersedekap, menjulurkan lidahnya. Sultan menariknya dan semakin menatapnya.
"Jika seperti ini sangat menggemaskan," balas Sultan kemudian tersenyum dan melepaskan wajah Natalie.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak melakukannya," teriaknya kesal.
Sultan di kursi sofa tidak menghiarukannya. Dia kembali membuka amplop coklat dan melihatnya. Di sana terdapat beberapa lembar foto yang hanya memperlihatkan pergelangan tangan wanita dan tersayat. Sultan tidak mengerti dengan itu. Dia terus memutar foto itu memastikan siapa wanita di dalamnya.
“Ini sangat menyebalkan. Devoni … ataukah siapa yang mengirimkan ini kepadaku?” batinnya terus mengamati dengan serius. Natalie mengernyit melihatnya, merasa penasaran dengan apa yang Sultan lakukan.
“Kenapa dia? Apa yang dia lihat?” batinnya. Natalie mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas tidak jauh dari jangkauannya. Dia berusaha meraih dan memeriksanya.
“Kenapa ponselku mati?” Jemarinya menekan tombol beberapa detik hingga ponsel itu kembali menyala. Natalie mengkerutkan alis dengan dalam, melihat panggilan tidak terjawab berasal dari Cantik.
“Hah! Kenapa dia?” Natalie segera memeriksa pesan, dan melihat isi rekaman suara yang sudah dikirimkan untuknya.
“Ini tidak mungkin!” Telinganya bergetar setelah mendengar suara Cantik di sana meminta tolong.
“Nat! Aku ada di atas, dan dia … Devoni mengejarkan. Tolong! Argh!”
Natalie melepaskan selang infus, membuangnya begitu saja. Darah mengalir di lengannya, membuat dia sedikit lemah namun tetap berusaha untuk terbangun. Sultan terperanjat, melempar semua foto yang semula berada di dalam genggamannya. “Nat! Apa yang kau lakukan?” teriaknya berlari menarik tubuh Natalie yang hampir saja terjatuh.
“Natalie! Apa kau sadar dengan perbuatanmu?” Sultan sangat marah, segera menggendong Natalie yang meronta untuk kembali ke ranjang.
“Lepaskan! Lihatlah ponselku ini!” balas Natalie membuat Sultan melotot tajam.
“Apa maksudmu?” Sultan melangkahkan kaki dengan cepat, merebahkan tubuh Natalie kembali. Dia menerima ponsel Natalie dan mendengarkan suara Cantik.
“Samuel. Di mana dia?” Sultan meraih ponselnya dan terus menghubungi pengawalnya yang belum juga memberi kabar.
“Kita akan pergi dari sini. Situasi sangat tidak aman.” Sultan berlari keluar kamar, mencari kursi roda dan membawanya masuk ke dalam kamar kembali. Dia mengangkat Natalie perlahan, lalu mendudukkan ke kursi roda. Dia memasukkan semua foto yang berada di atas meja ke dalam amplop dan membawanya.
“Diam dan menunduklah! Tekan lenganmu agar darah itu tidak mengalir.” Sultan mulai mendorong kursi dan berjalan cepat keluar kamar. Dia menuju pintu lift tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Roy?”
“Tuan Muda!” teriak Samuel menghampiri Sultan namun terhenti melihat Roy menatap mereka berdua di dalam lift. Kedua mata mereka tidak percaya melihat sosok Roy berada di sana.