Cantik terkejut menerima ancaman dari seorang laki-laki berjaket hitam dan bertopi. Apalagi mulutnya dibungkam. Cantik masih diam tidak meronta. Dia mengikuti ke mana lelaki itu melangkah. Cantik berusaha menahan diri, apalagi senjata tajam sudah menempel di perutnya. Dia berjalan mengatur dirinya yang bergemetaran. Lelaki itu membawanya masuk ke dalam tangga emergency, lalu menaiki hingga menuju atap.
“Kau jangan bergerak, atau aku akan melemparmu,” ancamnya sekali lagi membuat Cantik masih terdiam gemetar. Bagaimana tidak, kini dia sudah diujung pinggir atap gedung tertinggi dengan pisau yang menempel siap membelah perutnya.
“Apa maumu? kau …” Cantik tidak percaya ternyata Roy yang ada di hadapannya.
“Yah benar. Aku, Roy. Aku hanya mau mengetahui keadaan Natalie.” Cantik menarik napas panjang. Dia merasa lega pisau yang hampir saja membelah tubuhnya itu terlepas.
“Untuk apa kau mengancamku seperti ini?” protes Cantik kesal sembari bersedekap. “Kau tidak seharusnya melakukan itu kepadaku, Roy. Aku hampir saja terkena serangan jantung!” teriak Cantik semakin kesal.
“Aku harus melakukan itu. Jika tidak, kau pasti akan berteriak dan mereka semua akan menangkapku. Sekarang katakan, bagaimana Natalie?” tanya Roy sekali lagi. Cantik menggeleng keras di hadapannya.
“Apa kau ada hubungannya dengan ini? Apa kau melarikan diri dari rumah sakit karena bantuan Devoni? Roy! Katakan di mana dia agar Samuel menangkapnya, dan semua ini berakhir!”
Roy memegang kepalanya, lalu berkacak pinggang. Dia menarik napas juga berusaha menenangkan dirinya. “Aku saat itu terbaring. Devoni mencabut selang infusku. Dia bersama pengikutnya yang gila itu. Aku dibawanya dalam keadaan lemah. Aku melarikan diri, karena aku juga takut kepadanya. Dia, gila! Argh!” teriak Roy tiba-tiba membuat Cantik mengangkat kedua tangannya.
Cantik mendekati Roy dan menarik lengannya. “Roy, kau harus membantuku untuk menangkap Devoni. Kau sangat bersalah dengan masa depan Tuan Muda. Kau harus membayar itu, Roy. Natalie tidak mencintaimu, dan kau harus menerima itu. Semua ini adalah sesuatu yang harus kau lakukan untuk menebus semua dosamu, Roy.”
“Aku … aku masih mencintai Natalie. Aku sudah mencoba dengan meniduri wanita lain, namun di pikiranku hanya ada Natalie. Aku tidak bisa melupakannya … tidak bisa.”
“Cukup!” bentak Cantik keras. Roy menatapnya tegas. Cantik membalas tatapan dengan amarah.
“Kau …,” tunjuknya tegas dengan jemari tangan kanannya tepat di wajah Roy yang terdiam. “Akan menyesal jika tidak membantu Natalie,” sambung Cantik.
Roy membalikkan tubuhnya menatap Kota Paris dari ketinggian. Dia berpikir ingin membantu Natalie terbebas dari Devoni. Namun dia tidak mau jika Natalie masih bersama dengan Sultan.
“Aku akan membantumu mencari Devoni. Tapi …,” kata Roy membuat Cantik mengernyit.
“Tapi apa, Roy?” lanjut Cantik.
“Aku tidak mau meberikanya kepada Sultan. Aku tidak akan mengalah untuknya. Kau harus tahu perasaanku!”
“Banyak sekali wanita yang bisa kau ajak berkencan. Kenapa harus, Nat?” tegas Cantik namun Roy menggeleng keras.
Dia berjalan cepat mendekati Cantik dan sedikit mendorongnya. Tubuh Cantik yang hanya sebatas pundak Roy, tergeser cepat. “Apa yang akan kau lakukan, Roy? Jangan pernah melakukan hal bodoh kepadaku!”
“Plok, plok! Ternyata kalian berada di sini. Roy … kau berkhianat kepadaku. Kenapa?” Suara pelan dengan wajah tersenyum aneh mengejutkan Cantik dan Roy. Mereka terdiam seketika.
“Devoni?”
***
Sultan masih saja menatap Natalie yang terbaring lemas. Sultan terduduk lemas, semakin kesal melihat Natalie yang masih belum sadar. Apalagi keadaan kamar sangat berantakan karena dirinya.
“Kenapa dia tidak terbangun juga. Ini tidak bisa aku biarkan. Aku bisa gila,” batinnya resah. Sultan berjalan mondar-mandir sembari memegang kepalanya lalu berkacak pinggang. Hingga pandangannya teralihkan di luar pintu.
“Di mana Samuel? Kenapa sangat sepi?” gumamnya melangkah mendekati pintu dan membukanya. Sultan menolehkan pandangannya ke kanan, kemudian ke kiri, tidak menemukan apapun sama sekali.
“Di mana, dia,” gumamnya merogoh ponsel lalu menghubungi Samuel yang tidak segera mengangkat ponselnya.
“Apakah Anda Tuan Muda?” tanya seorang laki-laki tiba-tiba datang membawa sebuah amplop dan memberikannya kepada Sultan. Tanpa menanyakan apapun, Sultan menerima dan segera membukanya.
“Apa ini?” Sultan terkejut melihat isinya yang sangat mengerikan. Dia mengangkat wajahnya namun tidak melihat laki-laki yang sudah memeberikannya amplop.
“Samuel. Di mana dia!” teriak Sultan keras.
“Hah … ke-pa-la …”
“Natalie!”
Sultan tidak percaya melihat Natalie mulai berbicara. Tuan Muda berlari mendekati ranjang, segera menekan tombol pemanggil suster.
"Dia terbangun. Cepat datang!" teriak Tuan Muda keras. Sultan mengeratkan telapak tangannya ke telapak tangan Natalie yang masih terasa dingin.
"Tenanglah, Nat. Dokter akan memeriksa."
Sultan tersenyum mendekatkan kening ke wajah Natalie. Dia menarik napas lega melihat Natalie akhirnya terbangun. Sultan tidak hentinya menatap wajah pujaan hatinya yang kini bisa menatpnya.
"Kukuku ...," lirih Natalie masih mengingat kukunya yang sudah patah. Dia semakin melotot saat melihat semua kukunya ternyata pendek. Saat menjalani operasi, Dokter memotong semua kuku Natalie.
"Tidak ... aku ... aku tidak bisa menerima ini. Aku ... membenci siapa saja yang melakukannya. Kukuku ..."
Sultan menggeleng tidak percaya dengan apa yang Natalie tangiskan. Dokter bersama dua suster memasuki ruangan. Mereka segera memeriksa Natalie dengan cekatan. Namun kekasih Tuan Muda itu masih saja menatap kukunya yang sudah sangat pendek. Bahkan warna kuku merah bercampur gliter hilang.
"Kenapa kalian tega denganku. Aku sangat menderita jika melihat kesayanganku menghilang. Kuku ... aku berduka melihatmu," gerutunya tiada henti.
"Bagaimana dia, Dokter?" tanya Sultan masih saja melirik Natalie yang terus memandang kukunya sangat menderita.
"Dia membaik, kondisi dan suhu, serta semuanya normal. Namun dia tidak bisa berpikir keras. Saya harap Anda memanggil perawat kuku untuk membuatnya senang."
Sultan menganggukkan kepala. Dokter bersama suster tersenyum, lalu keluar dari ruangan.
"Apa kau masih saja memandang kuku itu dari pada diriku?" protes Sultan menarik telapak Natalie dan menciumnya.
"Kau, yang menyebabkan kukuku seperti ini. Dasar tukang selingkuh!" ucap Natalie pelan namun tegas. "Kau ... bersama wanita itu. Aku membencinya," lanjutnya pelan merengek manja.
"Aku akan mengganti semua kuku itu. Besok, akan ada yang menangani," jawab Sultan membuat Natalie tersenyum.
"Tuan Muda selalu saja bisa melakukan apapun yang kau mau. Menyebalkan." Mereka saling memandang dan tersenyum, hingga Samuel datang mengejutkan.
"Tuan Muda!" ucapnya dengan napas terisak.
Sultan berdiri, tersenyum ke arah Natalie. "Aku akan kembali."
"Di mana Cantik?" tanya Natalie membuat Samuel menatap tegang. Sultan mengernyit melihatnya. Dia sangat paham jika terjadi sesuatu yang sangat buruk, apalagi dia menerima amplop yang berisi sangat mengerikan. Sultan harus berbicara dengan Samuel namun tidak di depan Natalie.
"Cantik ada di apartemen berganti pakaian. Aku memintanya, karena dia selama dua hari menunggumu di sini tanpa mengganti baju. Kau jangan kawatir. Sekarang beristirahatlah. Aku akan mengurus sesuatu."
Sultan mengecup kening Natalie dan keluar kamar setelah menyambar amplop coklat di atas nakas sebelah ranjang. Samuel dengan tegang mengikutinya. Di luar kamar, Sultan memberikan amplop itu kepada Samuel yang segera membukanya. Samuel melotot tidak percaya dengan isinya. Namun Sultan mengernyit melihat ekspresi Samuel yang sangat aneh.
"Kau ke mana saja, Sam? Apa yang terjadi?"
"Nona Cantik ..."
"Kenapa dia?"
**************
Note Author : Hai semua. Jangan lupa komen dan lovenya ya. Dukung author menyelesaikan kisah ini. Cerita semakin menarik dan tentu saja, Sultan Mah Bebas. Kekayaannya bisa memberikan apapun buat Natalie. Tapi, Devoni masih saja membuat semua semakin rumit. Lalu ... bagaimana dengan Cantik? Ikuti selanjutnya ya ... author akan up setiap hari. Have nuce day.