Mencoba Mencium

1040 Kata
Sultan sangat serius menatap Dokter. Dia berharap mendapatkan kabar baik darinya mengenai Natalie. “Dokter. Bagaimana hasilnya?” “Nona Natalie …,” ucap Dokter menghentikan perkataannya. Sultan terdiam kaku menatap sang dokter. “Dia mengalami benturan keras. Namun hasil operasi sangat baik. Berikan apapun yang bisa menyenangkan hatinya. Hanya itu yang bisa saya sarankan untuk Anda, Tuan Muda.” Sultan menganggukkan kepala dengan sedikit senyuman. Dokter segera berlalu dengan beberapa suster yang mengikutinya. Sultan melangkah pelan memasuki kamar Natalie. Cantik yang akan mengikuti Tuan Muda, menghentikan langkah saat Samuel menahannya. Samuel menggelengkan kepala, mencegahnya untuk membiarkan mereka hanya berdua. “Biarkan mereka berdua. Kau akan menemuinya nanti, Cantik.” Samuel memeluk Cantik yang masih saja menangis. Sultan menarik kursi, menyeretnya tepat di depan ranjang Natalie. Pandangannya sendu. Jemarinya membelai lembut wajah Natalie. Dia memejamkan kedua mata, mengatur emosinya. Sultan sama sekali tidak menyangka jika Maria selama ini yang sudah dia percaya ternyata menusuknya dari belakang. “Devoni … kau sudah membuatku sangat marah. Aku selama ini sudah sangat bodoh sudah takut kepadanya. Untuk apa aku melakukan itu. Sekarang, sudah waktunya aku membalaskan dendam untuk membuatnya sangat menyesal dengan perlahan.” Sultan tidak hentinya membatin sembari menatap sang kekasih yang kini tergeletak lemas. “Jika kau tidak segera membuka kedua matamu, aku akan menyalahkan diriku sendiri, Natalie,” batin Sultan masih menyorotkan pandangan tajam. Dia kembali menarik napas panjang, kemudian berdiri dari duduknya. Sultan berdiri dengan masih menatap kekasihnya yang hanya terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Selang infus masih saja tertancap di lengan kanan Natalie, membuat Sultan semakin menahan dirinya. “Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya tersenyum saat membuka kedua matanya,” batin Sultan segera merogoh ponselnya kemudian menghubungi Samuel. “Sam. Siapkan seratus bunga mawar segar. Kirimkan dan hias kamar Natalie. Aku mau menemui Elena untuk menyiapkan kalung berukir namanya. Siapkan segera agar dia bisa tersenyum saat membuka kedua matanya.” “Baik, Tuan.” Samuel segera melakukan permintaan Sultan. Dalam sekejap, bunga mawar datang dan menghiasi kamar Natalie. Elena secara khusus datang membawakan sebuah kalung berinisial nama Sultan dan Natalie dengan sangat indah. Sultan sangat senang melihatnya. Dia berharap Natalie akan menyukainya ketika terbangun. Sepanjang malam Sultan menatap Natalie yang masih saja tidak terbangun. Samuel bersama Cantik sangat resah melihatnya. Sultan berjalan mondar-mandir dengan wajahnya yang tegang. Samuel perlahan memasuki ruangan dan meletakkan makanan kesukaan Sultan. Namun pengawal setia Sultan itu tidak berani berbicara dan hanya diam, kemudian meninggalkan ruangan. “Apa yang harus aku lakukan? Aku mohon … bangunlah kekasihku,” batin Sultan masih saja diam terus memandang Natalie yang belum memberikan hasil apapun. Hari berlalu dengan cepat. Bunga mawar segar mulai memperlihatkan kelopak coklatnya menandakan layu. Wajah Sultan mulai sayu. Emosi sudah menyelimutinya. Dia berdiri, menekan tombol suster untuk datang ke kamar Natalie. “Ini tidak bisa aku biarkan. Kenapa dokter itu tidak bisa membuatnya terbangun!” teriaknya keras. Samuel segera datang dan menepuk pundak Sultan agar bisa menjadi tenang. “Tuan Muda. Tenanglah, aku mohon. Nona Natalie akan baik-baik saja.” “Di mana dokter itu!” bentaknya sekali lagi. Beberapa suster dan dokter segera datang. Mereka terkejut melihat kemarahan Sultan. “Tuan Muda. Kita tidak bisa melakukan pengobatan dengan terburu-buru. Benturan itu sangat keras. Nona akan terbangun saatnya,” jawaban Dokter yang tidak membuat Sultan puas. Sultan menarik kerah Dokter yang membuat lelaki tua seumuran ayahnya bercucuran keringat. “Jika besok kau tidak bisa membuatnya membuka kedua matanya, aku akan membuatmu terlempar menjadi dokter yang sangat buruk!” ancamnya keras. Samuel mengarahkan tangannya agar dokter dan semua suster keluar dari kamar. Sultan membuang semua bunga mawar yang sudah layu hingga membuat kamar sangat berantakan. Cantik menggeleng keras melihatnya. Dia sangat kesal segera mendekati Tuan Muda. “Jika Natalie terbangun, kau akan kehilangan pipimu itu, Tuan Muda. Dia sama sekali tidak menyukai kamar berantakan!” bentak Cantik membuat Sultan terdiam. Samuel mendekati Cantik dan akan menariknya. Namun Sultan mengulurkan tangan, agar Samuel tidak melakukannya. “Tidak perlu kau lakukan itu, Sam. Apa yang dikatakan Cantik memang benar.” Sultan kembali mendekati Natalie. Dia mengeratkan telapak tangannya, sembari terus menarik napas. Telapak tangan Natalie masih saja terasa dingin. “Tuan, saya tidak mengatakan ini kepada Dady. Saya khawatir Dady akan sangat sedih dan berpengaruh dengan karirnya.” “Kau benar, Sam.” Sultan kini menundukkan kepalanya. Samuel kembali menarik Cantik untuk keluar ruangan. Sultan sepanjang malam menatap wajah pucat Natalie. Dia mendekati wajah Natalie sangat dekat. “Apakah aku harus menciumnya, untuk membuatnya terbangun?” batinnya gelisah. Mencium adalah hal yang masih membuatnya trauma. Bibir Devoni dengan liar menikmati bibir Tuan Muda saat itu. Bahkan bibir saudara tirinya itu sudah menjelajahi setiap lekukan tubuh Sultan, hingga miliknya. Sultan selalu saja memejam dengan mengepalkan kedua tangan jika mengingatnya. Napasnya selalu saja tersendat, bahkan kerongkongannya terasa kering saat pikirannya kembali memutar waktu mengingat kejadian mengerikan itu. “Apakah aku bisa membuat peristiwa menjijikkan itu hilang dari pikiranku?” gumamnya tiada henti. Namun dia tetap akan mencium Natalie karena ciumannya adalah hal yang sangat dirindukan Natalie selama ini. “Baiklah, aku akan mencobanya.” Sultan mulai mendekati bibir yang semula merekah merah kini memucat dan mengering. Sultan sedikit membuka bibirnya, mulai sangat … perlahan mengecupkan permukaannya di bibir Natalie. Dia memejamkan kedua matanya, terus mengecup hingga akhirnya benar-benar mencium Natalie. Sultan masih menikmatinya dengan tersenyum. Jemarinya membelai pipi Natalie. Bibirnya masih saja menikmati bibir wanita pujaannya yang kini berada dalam mulutnya. Hingga berjalan beberapa menit, kedua mata Sultan kembali melotot, dan melepaskan bibir Natalie. “Aku … aku masih tidak bisa. Hah … apa yang aku lakukan?” Sultan menjauh, hanya menatap Natalie yang masih terbaring. Dia menarik napas, berusaha mengatur hatinya. Perlahan Sultan kembali melangkah mendekati Natalie dan kembali duduk di sebelah ranjangnya. “Natalie, bangunlah …,” gumamnya kemudian semakin mengeratkan telapak tangannya yang bertautan dengan telapak tangan Natalie hingga Sultan terlelap. Samuel lega melihat Tuan Muda bisa tertidur setelah dua hari terjaga. “Sam. Carilah makanan. Aku akan menjaganya.” Samuel masih terdiam menatap Cantik yang mengenyit kemudian menarik lengannya. “Aku akan baik-baik saja. Sudahlah, pergi sana. Aku juga lapar,” ucap Cantik mengarahkan tangannya ke ujung lorong. Samuel akhirnya melangkah dan meninggalkan Cantik. “Kau diam, aku tidak akan mencekikmu dengan keras,” ucap seseorang mendekap Cantik tiba-tiba dari belakang membuatnya melotot tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN