Samuel segera menghubungi Nyonya Jovanka dan menanyakan solusi tentang kuku Natalie. Samuel segera melakukan apa yang dikatakan Jovanka.
Sultan memegang kepalanya karena mendengar suara tangisan Natalie dan Cantik yang masih saja tidak berhenti.
“Kukuku. Huaaa!”
“Tuan Muda. Nyonya ingin bertemu Anda di kantor. Ini masalah yang sangat serius. Sepertinya Nyonya menemukan sesuatu,” kata Samuel setelah menerima telepon dari Jovanka.
“Kita akan berangkat,” ucap singkat Sultan. Namun langkahnya terhenti melihat Natalie masih sesenggukan di pundak Cantik yang juga ikut menangis menatap kuku Natalie yang patah. “Hidupku menderita. Kukuku sudah rusak. Huaaa!” tangisan Natalie semakin pecah. Sultan menggeleng melihatnya.
“Sam. Bagaimana dengan mereka?” tanya Samuel mengelus-elus dagunya sembari menatap Natalie.
“Tuan, lebih baik mereka ikut menuju kantor. Saya akan memanggil seseorang yang bisa memperbaiki kuku Nona Natalie ke kantor.”
“Baiklah, kalau begitu.”
Sultan mendekati Natalie dan menepuk pundaknya. “Kita akan memperbaiki kukumu di kantor.”
Natalie menganggukkan kepalanya. Cantik melakukan hal yang sama. Samuel segera menarik Cantik dan menggandengnya untuk keluar. Sultan mendekati Natalie dan memeluknya. “Kukumu akan aku perbaiki. Apa yang tidak bisa Sultan lakukan. Gimana?”
Natalie tersenyum. Dia mengikuti Sultan melangkah keluar kamar. Cantik berlari memeluk Natalie saat berada di dalam lift. “Apakah hal buruk yang dilakukan wanita adalah kehilangan kuku mereka, Sam?” tanya Sultan melirik pengawalnya itu yang seketika menatapnya. Samuel menganggukkan kepalanya pelan.
“Aku pernah melihat ibuku kesal saat melihat kukunyapatah. Wanita memang sangat rumit,” gumam Sultan sembari menggelengkan kepalanya.
Mereka menuju mobil dan menuju kantor. Kini Samuel yang mengendarai, dan Cantik berada di sebelahnya. Sultan bersama Natalie duduk bersama di kursi belakang. Sementara, dua mobil pengawal ada di belakang mereka.
“Cuitt!”
Samuel mendadak menghentikan mobilnya, melihat Maria berada di tengah jalan. Natalie sangat terkejut, begitu juga dengan Sultan yang seketika keluar dari mobil saat Samuel sudah mematikan mesinnya.
“Sultan, dia menemuiku. Dia mengancamku. Dia menusuk Ayah dan ibuku. Dengan siapa aku harus mengadukan masalah ini? Dia sudah menyayat tubuhku. Aku mohon, menikahlah denganku agar aku aman.”
“Me-menikah?” Natalie sangat terkejut mendengar perkataan Maria saat berada di belakang tubuh Sultan. Dia tidak mengerti dengan perkataan Maria. Sultan menarik tangan Maria dan mengajaknya menjauh dari Natalie. Saat Natalie akan mengejarnya, Samuel menghadangnya. Cantik mendorong tubuh Samuel dengan keras.
“Jangan menghalanginya, Sam tidak tahu diri! Biarkan Natalie mengetahui semuanya. Kehidupannya sudah sangat sulit selama tujuh tahun dengan cinta yang dia tunggu. Biarkan dia!” bentak Cantik namun Samuel masih saja menghalanginya.
“Baiklah, jika kau tetap bersikeras dengan ini semua,” ucap Cantik memikirkan cara untuk membuat Samuel bisa berpindah dari posisinya.
Natalie dengan tajam menatap Sultan dari kejauhan yang masih berdebat dengan Maria. Cantik mendorong Samuel yang masih saja tidak bergerak dari posisinya, hingga Cantik menarik lengan Samuel dan mengigitnya. “Argh!” Samuel menjerit mendadak.
“Nat! Lari!” teriak Cantik membuat Natalie segera berlari menghampiri Sultan di seberang jalan. Tapi, “Argh!”
“Brak!”
Seseorang dengan sengaja melesatkan mobilnya dan menabrak Natalie hingga terpelanting jauh. Sultan berlari kencang menghampiri tubuh Natalie yang sudah bersimpuh darah di tanah. Cantik terdiam kaku melihatnya, kemudian pingsan. Samuel segera menangkap Cantik, lalu menghubungi ambulance.
“Natalie, aku mohon. Bangunlah … sayang … bangun!” teriak Sultan sembari memeluknya.
Maria masih berdiri tegak tidak beranjak sama sekali. Sultan terus memeluk Natalie yang sudah tidak sadar. Darah dari kepalanya mengalir deras.
“Natalie!” teriak Tuan Muda tanpa henti.
***
Di sebuah rumah. Tepatnya kota kecil. Jarak yang cukup jauh dari Kota Paris. Seseorang menari-nari dengan alunan musik klasik. Dia menari mengikuti pola iramanya yang sangat merdu. Kakinya terus bergerak mengikuti setiap ketukan irama yang dia dengar.
“Sangat indah suara jeritan itu. Dia memang memiliki suara yang membuatku b*******h. Aku sangat menginginkannya. Hmm, ini membuatku ingin melakukannya.”
“Ting, tong!”
Suara bel berbunyi dengan keras. Devoni membuka tirai jendela ruangan tengah rumahnya yang sangat luas dengan gaya klasik berbahan kayu pilihan. “Dia sangat tampan. Aku menyukainya.”
Ponselnya yang masih belum dia tutup dan berada digenggamannya, kembali dia tempelkan di telinganya.
“Aku sangat menyukai suara itu. Terima kasih, Maria. Kau selama ini sudah membantuku untuk membuat Sultan kesayanganku itu selalu saja menjerit dengan indah. Aku akan memberimu hadiah yang sangat banyak. Apa kau mau?”
Di seberang, Maria terdiam mendengarkan suara Devoni di ponselnya sembari mengembangkan senyumannya. Tidak ada yang mengetahui jika Maria sebenarnya benar-benar memiliki kelainan sejak Devoni mendekatinya tujuh tahun silam.
“Aku mencintaimu, Devoni.”
“Aku juga mencintaimu, Maria.”
Devoni menutup ponselnya. Segera membuka pintu rumahnya. Dia terdiam dengan tatapan dingin, namun bibirnya sedikit tersenyum melihat sosok di hadapannya.
“Tuan, ini adalah pizza yang sudah Anda pesan. Biayanya, ada di dalam catatan itu.”
Devoni menyentuh jemari pria itu dengan lembut. Sang penjual pizza sedikit begidik hingga menarik napasnya. Dia menundukkan kepalanya saat Devoni semakin menatapnya.
Perlahan Devoni mengeluarkan senjata tajam kecil di saku celananya, dan, “Srek!”
“Argh!”
“Aku akan menikmatimu, malam ini.”
***
Sultan berjalan mondar-mandir di depan kamar Natalie melakukan operasi. Cantik terus menangis di kursi penunggu. Sementara Maria dengan wajah polosnya duduk di sebelah Cantik. Samuel hanya berdiri berusaha menenangkan hatinya. Dia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dia bisa membiarkan Natalie menyeberang saat itu.
Cantik terus bergumam, dan menyesal membuat Natalie lolos dari Samuel. “Seharusnya aku tidak membantunya untuk menyeberang. Aku sangat bodoh. Kenapa aku bisa membuatnya berlari hingga mobil itu menabraknya dengan kencang,” gumam Cantik sembari terus menangis.
“Sam! Cari mobil itu dan bawalah dia kepadaku!”
“Kami sudah menemukannya, Tuan. Biar pihak berwajib yang mengatasinya, Tuan. Lebih baik Anda memikirkan keadaan Nona Natalie. Masalah ini, saya akan mengurusnya.”
Sultan mengamati Maria yang segera memalingkan wajahnya saat melihatnya. Sultan melangkah cepat menghampirinya. “Maria, kenapa kau tiba-tiba menemui dan menghadangku? Bukankah kau seharusnya berada jauh dari sini?” tanya Sultan kemudian menatap Samuel di hadapannya.
“Sam. Bukankah ibuku memerintahkanmu untuk membawa Maria dengan semua keluarganya jauh dari Kota Paris? Kenapa dia masih saja di sini, Sam?”
Samuel masih diam, hingga Jovanka tiba-tiba datang. Dengan cepat Jovanka melangkah bersama kedua pengawalnya. Dia segera menyusul ke rumah sakit saat mendengar berita mengejutkan menimpa Natalie dan Sultan. Jovanka mengejutkan Sultan dan Samuel yang masih diam menatapnya.
Sultan semakin terkejut melihat dua pengawal Jovanka memegang Maria. “Sam, aku menunggumu ke kantor untuk membahas masalah Maria, dan kalian malah di sini.”
“Ibu. Ada apa dengannya? Dia menghadangku dengan tiba-tiba. Bahkan dia meminta untuk aku menikah dengannya. Gara dia, aku membuat Natalie mengalami hal buruk.” Sultan menarik napas berusaha menenangkan hatinya. Dia berjalan menuju pintu operasi yang sudah berjalan satu jam masih saja belum terbuka.
“Jika Natalie tidak selamat, aku tidak bisa hidup lagi,” ucapnya membuat Jovanka mengarahkan kepalanya kepada Samuel agar mendekati Sultan. Samuel menganggukkan kepalanya, berjalan dan menarik lengan Sultan untuk duduk di sebelah Cantik yang masih saja menangis.
“Anakku. Semua akan baik-baik saja. Ibu jamin itu. Maria, kau menyembunyikan sesuatu. Kau … pernah berhubungan dengan anakku, Devoni. Mengakulah,” ucap Jovanka membuat Sultan melotot. Dia menolehkan pandangannya ke arah Maria yang menundukkan kepalanya.
“Apakah itu benar?” tanya Sultan memegang pundak Maria dengan kedua tangannya.
“Jadi … kau memang sengaja menemuiku, untuk menghancurkan Natalie? Jawab!”
“Plak!”
Cantik berdiri dan menampar Maria dengan tiba-tiba. “Jika apa yang dikatakan Nyonya benar, aku akan membunuhmu!” teriak Cantik keras. Samuel sontak menarik dan memeluknya. Sultan masih menatap Maria tegang.
“Aku memintamu ke kantor untuk membahas ini, Sultan. Aku menemukan dia berada di sebuah rumah, dan aku yakin jika itu adalah Devoni.”
“Apa?”
Sultan menarik Maria, kemudian mencekiknya. Jovanka mengarahkan pengawal untuk mencegahnya.
“Jangan lepaskan aku, Ibu. Aku akan membunuhnya!” teriak Sultan berusaha meronta untuk terlepas dari tangan kedua pengawal Jovanka yang menahannya.
“Maria, kau akan aku bawa ke rumah sakit jiwa dan akan aku tanyai di sana.”
Tidak berselang lama. Pihak rumah sakit yang sudah Jovanka hubungi datang dan membawa Maria yang tertawa sangat kencang. “Hahaha. Sultan! Aku sangat membencimu. Devoni milikku, dan kau membuatnya jatuh cinta kepadamu. Aku sangat senang melihatmu hancur!” teriak Maria keras membuat Sultan lemas seketika. Dia tidak menyangka ternyata selama ini Maria membohonginya.
“Sejak kapan Maria bersama Devoni, Ibu?” tanyanya lemas.
“Aku akan menceritakannya nanti. Ibu juga baru mengetahuinya. Devoni sangat licik dan cerdas. Sekarang kau sebaiknya menjaga Natalie, dan biarkan Ibu mengurusi semuanya.”
Samuel menuntun Cantik untuk duduk kembali di kursi. Dia segera mendekati Jovanka saat melambai ke arahnya. “Adelard seperti biasa hanya diam saja dengan semua masalah ini. Sam, aku tidak butuh waktu lama untuk membongkar semuanya. Aku yakin suamiku ada hubungannya dengan semua ini. Jagalah Sultan, dan kabari aku.”
“Baik, Nyonya.”
Jovanka berlalu dengan semua pengawalnya. Sultan menundukkan kepalanya, dan terkejut dokter akhirnya membuka pintu ruangan.
“Dokter. Bagimana hasilnya?”
“Nona Natalie …”