Natalie menarik sultan hingga mereka berdiri dan saling bertatapan Dia berjinjit kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher sultan. Tubuh Sultan yang sangat tinggi, membuat Natalie harus selalu berjinjit jika ingin memeluknya.
“Apa yang kau takutkan? Kejadian itu sudah sangat lama. Tidak perlu ada trauma lagi sekarang. Yang harus kau lakukan adalah membalasnya, membuat dia ketakutan. Dia, Devoni sialan itu harus merasakan akibatnya sudah pernah membuatmu sangat menderita.”
“Tidak aku sangka memiliki seorang pacar yang sangat kejam seperti kamu. Hmm … bahkan kamu lebih kejam dari pada dirinya.”
“Aku memang terlihat lemah. Namun aku sangat cantik tentu saja. Tapi sifatku seperti raja hutan singa yang akan menerpa siapa saja yang akan mengganggu termasuk dirimu.”
Sultan sedikit tersenyum, lalu memeluk Natalie. Mereka saling berpelukan di tepi pantai sambil mendengarkan ombak yang menerpa kaki mereka.
“Aku ingin kembali. Tubuhku rasanya sangat capek.”
Sultan menggendong tubuh Natalie dan membawanya sampai ke dalam mobil. Dia menarik Tubuh Natalie dan mendekapnya di dalam tubuh kekarnya.
“Tahukah kau apa yang aku rasakan saat ini? Aku hanya ingin memelukmu setiap saat. Dasar wanita genit.”
Sepanjang perjalanan mereka masih saja saling berpelukan hingga sampai di apartemen. Begitu juga dengan mobil Samuel di belakang mobil Sultan. Cantik yang berada di dalam, masih trauma dengan kejadian tragis yang menimpanya dengan Natalie.
“Tunggulah, di sini. Aku akan membukakan pintu Tuan Muda,” ucap Samuel. Cantik hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Samuel keluar dari mobilnya terlebih dahulu, lalu membuka pintu mobil Sultan. Natalie keluar setelah Sultan mendahuluinya.
“Tuan Muda kakiku sakit,” rengek Natalie melompat mendadak ke tubuh Sultan yang terpaksa menggendongnya.
“Kenapa kamu sangat ringan? Ternyata aku menyukai anak kecil.”
“Anak kecil yang bisa memuaskanmu Tuan Muda, “ bisik Natalie membuat Sultan mengangkat salah satu alisnya.
“Apakah nanti malam kau bisa melakukannya?” tanya Sultan menggodanya.
“Bagaimana jika kita memulai dengan bibirmu terlebih dahulu,” balas Natalie yang seketika itu membuat Sultan memalingkan wajah, lalu berjalan dengan cepat sambil menggendongnya menuju ke dalam lift.
Sementara Cantik bersedekap dan masih tidak mau berjalan. Dia terus berdiri di depan pintu mobil menunggu Samuel menghampirinya.
“Kenapa masih di sini? Ayo kita masuk ke dalam.” Cantik menggelengkan kepalanya dengan keras.
“Gendong!”
Samuel menepuk jidatnya, lalu mengangkat Cantik dan menggendongnya persis dengan apa yang dilakukan Sultan terhadap Natalie.
Sampai di depan kamar apartemen, Sultan terperanjat melihat sebuah amplop coklat berada di lantai tepat di depan pintu. Dia segera menurunkan tubuhnya Natalue dan mengambil amplop itu.
“Tuan Muda, jangan membukanya!” teriak Samuel yang mengejutkan Sultan. Samuel segera menurunkan tubuh Cantik dan berjalan cepat menghampiri Sultan. Dia segera menerima amplop coklat yang semula berada di genggaman Sultan.
Samuel mengarahkan kepalanya kepada Sultan agar Natalie dan Cantik tidak ikut andil dalam masalah ini. Sultan mengerti dan mengernyit.
“Natalie, ajak Cantik ke dalam. Aku harus mengurus sesuatu.”
Natalie mengulurkan tangannya sambil menggeleng keras. Dia mendekati Samuel lalu melihat amplop coklat yang masih berada di genggamannya. Samuel segera memalingkan wajah saat melihat Sultan melotot. Dia paham perintah Tuan Muda yang mengharuskannya pergi. Samuel segera berjalan meninggalkan Natalie begitu saja. Cantik yang berada di sebelah Natalie, berlari mengikuti Samuel masuk ke dalam kamarnya.
“Aku mau mengetahui isi amplop itu, dan aku tidak mau kau melarangku untuk tidak ikut campur dalam masalah ini. Tentu saja aku harus ikut campur dan aku ingin tahu isinya.”
“Baiklah … baiklah kamu boleh mengetahuinya. Hah! Seharusnya wanita tidak bisa seperti itu. Namun bagaimana lagi, kau sudah mengetahui semuanya. Itu aku lakukan. Dari pada kamu ngomel setiap hari bikin kepalaku pusing,” gerutu Sultan masuk ke dalam kamar dan menekan tombol di ponselnya yang langsung terhubung dengan Samuel.
“Kenapa kau masuk ke dalam kamar mu? Apa kau pikir aku harus ke sana!” teriak Sultan segera mematikan ponselnya dan melemparkannya di atas meja. Sementara Natalie memeluknya dari belakang dan menarik tubuh Sultan agar menunduk lalu mengecup lehernya.
“Kenapa sih selalu galak seperti itu? Tadi, kan, kamu memang memerintahkan Samuel untuk pergi. Kenapa sekarang disalahkan?”
Sultan menarik tubuh Natalie hingga berada di hadapannya. “Sudahlah jangan pernah membahas masalah yang tidak perlu. Sebaiknya kita segera membuka isi dari amplop itu. Aku ingin mengetahui isinya.”
Dalam sekejap Samuel datang ke kamar Sultan segera membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Sultan sangat terkejut melihat beberapa foto dia melakukan semua aktivitas bersama Natalie.
Sultan bingung. Dia membungkukkan badannya, lalu mengamati semua detail foto yang ada di atas meja.
“Samuel. Ini pertanda tidak baik. Namun aku paham jika dia akan terus melakukan ini kepadaku sampai memiliki diriku seutuhnya. Tujuh tahun sudah berlalu Samuel. Aku tidak takut lagi dengannya.”
Natalie tersenyum, segera mengambil semua foto yang ada di atas meja dan merobek nya dengan cepat. Dia meremas-remas semua foto itu, lalu membuka bak sampah membuang ke dalamnya.
“Untuk apa memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Lebih baik kita sekarang memikirkan rencana untuk membalas Devoni. Itu yang harus kau lakukan Tuan Muda.”
“Aku dan Samuel yang akan melakukannya, Natalie. Tapi bukan kamu. Ingatlah jika kau harus bekerja di kantor dan duduk di sofa itu. Jika tidak, aku tidak akan pernah menggajimu lagi. Jika kau seenaknya sendiri seperti itu dengan bosmu, mau aku pecat!”
Nathalie terdiam mengepalkan kedua tanganny. Dia berjalan cepat menuju Sultan dan mendorong tubuhnya. Sultan terkejut melihatnya dan melotot tajam tidak percaya Natalie melakukan hal itu.
“Kalau kau tidak mau mengikut kan aku menyelidiki kasus mu ini, aku berhenti dari pekerjaan yang sangat membuatku mengantuk itu. Biarkan saja aku tidak bekerja dan tidak mempunyai uang, lalu aku menjadi gelandangan. Apa urusanmu!”
“Oh jadi aku juga harus memecat Dady dengan semua kerjaannya?”
Natalie menggelengkan kepalanya lalu menghentakkan kakinya berkali-kali. Dia sangat kesal jika Sultan membawa nama Dady dalam urusan pribadinya.
“Tidak mungkin kau selalu melibatkan Dady dengan urusan pribadi kita. Samuel, bilang kepada tuanmu itu bahwa aku tetap mau berhenti bekerja!”
Sultan semakin kesal mendegar ancaman Natalie. Dia menatap Samuel yang masih saja diam. “Samuel bilang kepada wanita genit yang berada di sebelahmu, kalau aku tidak akan mengizinkannya!”
Samuel yang berada di antara mereka masih terdiam tidak melakukan apapun. Dia hanya menarik napas berusaha melerai Sultan dan Natalie yang selalu saja berdebat.
“Oh jadi sekarang pengawalku ini tidak mau menuruti tuannya lagi? Samuel! Aku mengatakan kepadamu sekali lagi, bawa wanita ini masuk ke dalam kamarnya! Lalu kunci!”
“Dasar laki-laki arogan, sok kaya, sok sombong, tidak tahu diri, aku membencimu!”
Sambil menundukkan kepalanya Samuel berjalan ke arah Natalie. Dia ingin sekali mengatakan kepada Natalie jika mengatasi Tuan Muda itu sangat mudah namun tidak dengan kekerasan.
“Nona Natalie, dengan sedikit mengalah, Tuan Muda akan mudah luluh. Anda tahu sendiri bagaimana sifat tuan muda,” ucap Samuel pelan. Natalie menggeleng keras, lalu menampis tangan Samuel yang akan menyentuhnya. Namun sesuatu terjadi dan membuat Sultan melotot. Kuku Natalie patah saat terkena jas yang Samuel pakai.
Natalie menatap kukunya dengan tangan yang bergetar. Keringatnya mulai bercucuran, Wajahnya sangat kaku. Napasnya mulai tersendat, dan itu hal yang sangat dikhawatirkan Sultan.
“Samuel! Kenapa kau melakukan itu hingga kukunya patah. Dia akan berteriak dan menangis berhari-hari Samuel.”
Nathalie masih saja memandang kukunya. Dia sejenak memejamkan kedua matanya dan akhirnya berteriak kencang.
“Argh!”
“Natalie!”
Cantik yang tiba-tiba masuk melihat kuku Natalie yang patah, ikut berteriak kencang. “Argh! Tidak!”
“Samuel. Hubungi ibuku, dan tanyakan solusi kuku itu!”
“Baik, Tuan!”