Sultan terdiam mendengar apa yang Natalie katakan. Kedua mata Natalie menatapnya dengan berkaca-kaca. Sultan tidak menyangka jika Natalie selama ini masih sangat mencintainya. Dia semakin merasa bersalah sempat menuduh Natalie sudah melupakan dia dan berselingkuh dengan Roy. Tidak menceritakan semua kepada Natalie adalah sesuatu yang tidak bisa Sultan lakukan sekarang. Natalie sudah berada di sisinya, dan memang seharusnya Sultan menceritakan rahasianya kepada Natalie seluruhnya.
Sultan keluar dari mobil dan mendekati Samuel yang masih berusaha menenangkanCantik yang terisak ketakutan di dalam pelukannya. Samuel segera melepaskan pelukannya kepada Cantik saat Tuan Muda mendekatinya. Dia segera membuka pintu mobil yang berada di sebelahnya, dan membuka pintu mobil, lalu meminta Cantik untuk masuk ke dalamnya.
“Masuklah dan diam di sana. Aku harus berbicara dengan Tuan Muda,” ucap Samuel membuat Cantik menganggukkan kepala namun masih saja menangis. Samuel segera menutup pintu mobil dan menghadap Sultan yang sudah berada di hadapannya.
“Samuel, aku ingin mengendarai mobil ini sendiri bersama Natalie. Kali ini aku ingin berdua saja dengan Natalie. Jika kalian ingin mengawal ku dari kejauhan, silahkan. Aku tidak mau kalian mendekat karena ini pribadi dan kalian harus mengerti.”
“Tuan Muda, sepertinya, ini adalah waktu yang tidak tepat untuk Anda melakukan hal ini. Saya yakin suruhan Devoni pasti masih berada di sekitar kita.”
“Aku tidak peduli dengan itu semua, Samuel. Aku tidak pernah meminta sesuatu untuk yang kedua kalinya.”
Sultan membalikkan tubuhnya, lalu berjalan cepat menuju mobilnya kembali. Dia membuka pintu dan menarik Natalie untuk keluar. Lalu mendudukkan kekasihnya itu di kursi depan, dan memasangkan sabuk pengaman. Natalie tidak mengerti dengan apa yang Sultan akan lakukan. Namun dia kembali tersenyum saat wajah Sultan sangat dekat dengan wajahnya ketika memasangkan sabuk pengaman.
“Sekarang kita akan pergi berdua saja dan aku akan mengatakan semuanya. Kau menginginkan ini dan aku mengabulkannya. Tapi setelah ini, kau harus mengabulkan satu permintaanku dan kau tidak boleh membantah,” kata Sultan dengan begitu cepat, lalu menutup pintu mobil dan memutari mobil, kemudian masuk kembali dan duduk di kursi kemudi.
“Sebenarnya permintaan apa yang ada dipikirannya? Semoga permintaan itu bisa aku berikan,” batin Natalie kemudian kembali tersenyum menatap Sultan yang mulai menyalakan mesin mobil dan menekan pedal gas untuk melesatkan mobil itu dengan kencang.
Natalie masih terdiam di dalam mobil. Dia tidak tahu akan pergi ke mana Sultan membawanya. Tuan Muda itu masih dengan sangat serius semakin melesatkan mobilnya menuju ke suatu tempat yang sangat indah. Natalie hanya bisa menebak ke mana kekasihnya itu akan membawanya.
“Kita akan ke mana, sayang,” ucap Natalie pelan. Sementara Sultan tidak menjawab dan mengabaikan pertanyaannya.
Selama perjalanan menempuh waktu 60 menit, mereka masih saling diam dan tidak berbicara apapun. Hingga mereka sampai di sebuah pantai yang sangat indah dengan gazebo yang berada di sana.
Masih tanpa berbicara, Sultan membuka pintu mobil lalu keluar dan memutari mobilnya untuk membuka pintu mobil Natalie. Sultan membuka sabuk pengaman dan menarik kekasihnya itu keluar.
Natalie masih saja diam tidak berkata apapun. Dia hanya mengikuti ke mana Sultan melangkah. Mereka terus berjalan hingga sampai di pinggir pantai. Samuel yang melihatnya dari kejauhan, mengarahkan semua pengawal untuk melarang siapapun juga memasuki pantai itu. Dia menghubungi penjaga pantai dan pemilik semua restoran yang berada di sana. Dia akan membayar berapapun biayanya agar melarang siapapun masuk dan mengganggu Sultan bersama Natalie.
Sultan membuka jasnya dan melemparnya begitu saja. Dia membuka kancing kemeja yang ada di pergelangan tangannya, lalu melepaskan dasinya yang juga dia lempar ke sembarang tempat. Sekaran Tuan Muda merebahkan tubuhnya di atas pasir putih. Dia tidak peduli semua pasir itu telah melekat di kulitnya. Dia merentangkan tangannya. Natalie yang masih berdiri, menatapnya begitu saja.
“Kemarilah!” ucap Sultan sedikit melambaikan tangannya.
Natalie mendekati Sultan, lalu ikut merebahkan tubuhnya. Dia meletakkan kepalanya di lengan kekar Sultan.
Mereka saling memandang dengan tersenyum. Sultan mengangkat tangan kanannya, lalu membelai pipi Natalie dan memiringkan tubuhnya. Natalie berada tepat di hadapannya Tuan Muda yang memberikan tatapan lembutnya. Perlahan Sultan mengecup kening Natalie begitu lembut, membuat wajah sang wanita yang berada di hadapannya merah seketika.
“Sekarang katakan apa yang ingin kau ketahui? Aku akan menjelaskan semua karena memang kau harus tahu kerena memiliki sifat penasaran luar biasa,” ucap Sultan dengan menggelengkan kepalanya. Natalie mendengus, lalu mulai menatap wajah Sultan.
“Kenapa Roy melakukan itu? Kau memiliki pengawal yang sangat hebat dan tidak pernah melepaskanmu. Namun, kenapa kau bisa terjebak dengan situasi yang sangat rumit seperti itu?”
Sultan menarik napas panjang, berusaha mengatur hatinya karena dia sedikit mengingat masa lalu mencekam yang sangat membuatnya frustasi dan hampir gila. Sultan kembali merebahkan tubuhnya, lalu memejamkan kedua matanya
Sultan mulai akan berbicara apa yang sebenarnya terjadi 7 tahun silam. Peristiwa yang sangat membuatnya terpukul dan mengalami traumatis hebat yang membuatnya tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi. Bahkan Sultan selalu ingin mengakhiri hidupnya.
“Saat itu aku mau bertemu denganmu, Nat. Namun kau terlebih dulu menghubungiku karena akan pergi bersama Cantik untuk berbelanja. Roy tiba-tiba berlari menghampiriku sambil membawa bola basket. Dia mengatakan ingin bermain denganku dan aku sangat senang saat itu karena kau tahu sendiri jika Roy tidak pernah berbicara denganku. Itu adalah hal pertama kalinya dia melakukannya kepadaku. Namun aku mengatakan kepada dia untuk meminta izin dulu kepada Samuel dan dia melakukannya.”
Natalie mengangkat tubuhnya dan duduk melihat ekspresi Sultan yang menjadi sendu seketika. Dia sangat resah dengan keadaan kekasihnya. Namun jika dia tidak mengetahui yang sebenarnya, Natalie menganggap hal itu akan menghambat penyelidikan yang akan dia lakukan selanjutnya.
“Saat itu Samuel hampir saja tidak mengijinkan. Namun aku melambaikan tanganku dari kejauhan dan tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya, lalu membiarkanku bermain sama Roy. Namun tiba-tiba tidak berselang lama, semua pengikut Roy memukul wajahku, dan aku pingsan seketika. Dia menyeret tuuhku, lalu memasukkan ku ke dalam mobilnya dan membawaku ke rumah di Devoni dengan sangat kejam.”
Sultan mencengkeram pasir putih lalu melemparkan pasir itu ke depan. Hal itu dia lakukan untuk meluapkan kekesalannya jika mengingat trauma yang sangat menyedihkan itu.
“Aku diikatnya di tiang gantungan seperti kera. Lalu Devoni datang, dan melakukan hal itu kepadaku,” ucap Sultan mulai menundukkan kepalanya kemudian terdiam. Natalie perlahan mendekati dan memeluknya. Jemarinya perlahan membelai rambut Sultan dengan sangat lembut.
“Samuel mendobrak pintu dengan sangat kencang. Devoni ketakutan dan dia segera memakai bajunya. Namun aku masih tergantung dengan sangat mengenaskan di sana. Samuel segera datang, lalu melepaskan tali yang telah diikat Roy. Dia memberikan jasnya untuk menutupi tubuhku. Bajuku sudah dibawa Devoni pergi. Saat aku akan melangkah, aku menarik selimut yang berada di atas ranjang mengerikan itu untuk menutupi bawah tubuhku. Samuel memapahku untuk berjalan masuk ke dalam mobil.”
Natalie semakin mengeratkan pelukannya dan mencegah Sultan untuk menghentikan apa yang akan diceritakan.
“Sudah cukup! Jangan lanjutkan lagi apa yang terjadi. Sekarang aku sudah mengerti semua penderitaan yang kamu alami.”
“Tidak!” sela Sultan membuat Natalie sangat terkejut. “Aku tetap akan menceritakan semuanya hingga kau paham apa yang aku alami selama ini.”
Natalie akhirnya menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan.
“Aku saat itu akan memasuki mobil, namun Devoni tiba-tiba datang dengan mobil sport kuningnya di hadapanku. Dia dengan tatapan tajam, segera melesatkan mobilnya begitu saja setelah Samuel mengarahkan senjata ke arahnya.”
Sultan kembali menarik napas mengatur hatinya yang sudah akan meluap dengan emosi yang sebenarnya dia tahan.
“Aku meminta Samuel untuk menjemputmu karena kita sudah melakukan janji untuk bertemu di dalam gudang itu. Tapi setelah aku sampai di sana, kau menangis dan memeluk Roy. Aku sangat terkejut melihatnya dan aku meninggalkanmu.”
Natalie menggelengkan kepalanya dengan keras. “Kenapa kau tidak mencegahku untuk melakukannya? Jika kau melakukan itu, mungkin kita tidak akan seperti ini. Berpisah selama 7 tahun itu sangat membuatku menderita. Aku yakin kau juga merasakan hal yang sama, Sultan.”
“Aku tidak mungkin menemuimu dalam keadaan berantakan seperti ini. Apalagi di situ ada Roy yang sudah membohongi aku. Itulah salah satu alasan yang akan aku katakan kepadamu selain rasa cemburu buta yang aku rasakan saat itu.”
“Sekarang Apa yang harus kita lakukan? Kau masih takut kepada Devoni?”
Pertanyaan Natalie yang membuat Sultan seketika diam menatapnya.
“Sayang, kita sudah bersama dan bersatu kembali. Aku yakin kita bisa mengalahkan Devoni. Apakah kau mau melakukannya? Kita bersama! Membalasnya!”