Natalie bersama cantik terdiam terpaku melihat sosok yang ada di hadapannya dengan tiba-tiba.
“Devoni?” ucap Natalie terkejut sembari menutup mulut dengan jemari kanannya.
“Ini tidak mungkin. Kenapa dia bisa …”
Natalie menarik lengan Cantik dan membisikinya, “Dia adalah Devoni saudara tiri Sultan.”
Cantik melotot tajam ke arah Natalie, lalu menoleh kembali ke arah Devoni yang hanya diam tanpa ekspresi apapun.
“Nat, kenapa dia berada di sini? Dari mana dia tahu jika kita berada di sini, Natalie. Bukankah ini sesuatu yang sangat menakutkan? Aku tidak suka melihat wajahnya. Walaupun dia sangat tampan. Lihatlah ekspresinya, seperti mayat hidup,” gumam Cantik berusaha tidak menatap Devoni yang terus menyorotkan tatapan tajam dengan ekspresi dingin.
“Jangan berbicara apapun di depannya jika kau ingin selamat,” balas Natalie semakin membuat Cantik mencengkeram lengannya. Kini Natalie berdiri tegak, berusaha menahan rasa gemetarnya di hadapan Devoni. Dia juga tidak tahu kenapa sosok itu berada sangat mengejutkan di belakangnya.
“Kita bisa berbicara di taman. Bukankah itu lebih nyaman dari pada di sini dilihat semua orang,” ucap Natalie membuat Cantik semakin melotot. Dia semakin menarik tubuh Natalie dan mendekati telinganya.
“Natalie Kenapa kau membawa kita ke tempat yang sangat sepi. Bukankah itu sangat bahaya?” Cantik terus mencegah Natalie sembari melirik Devoni yang sangat kesal terhadap ekspresi Natalie kepadanya.
“Kau lihat wajah itu saat menatapmu? Jangan berbicara sembarangan,” ucap Natalie kini berada di depan Cantik yang terus menundukan kepalanya saat Devoni masih saja melotot tajam ke arahnya.
“Kalian sangat berisik. Tapi aku sangat menyukai saran kamu Natalie,” jawab Devoni kemudian berjalan meninggalkan mereka begitu saja.
Nathalie segera menarik tubuh Cantik untuk mengikuti Devoni yang melangkahkan kakinya menuju taman belakang rumah sakit.
“Kita harus mengikutinya. Kau jangan banyak bicara. Aku membutuhkannya.” Cantik hanya menarik napas panjang, berusaha mengatasi ketakutannya. Dia masih tidak menyangka jika laki-laki yang melecehkan Sultan sangat terlihat baik dan ramah.
“Aku masih tidak percaya ketika melihatnya?” batin Cantik menggeleng pelan sembari melangkah cepat mengikuti Natalie.
Saudara tiri Sultan itu duduk di depan taman sambil tersenyum melambaikan tangannya ke semua orang. Sosok Devoni yang sangat ramah, sama sekali tidak memperlihatkan jika dirinya sebenarnya memiliki kelainan.
Natalie bersama Cantik segera duduk di sebelah Devoni. Mereka dengan serius masih menatap sosok laki-laki yang sangat-sangat terlihat baik di mata mereka. Wajahnya yang sangat polos, serta senyuman ramahnya terhadap semua orang, sempat membuat Cantik luluh dan melupakan bahwa laki-laki itu sebenarnya sangat kejam.
“Natalie. Apakah dia memang seperti yang dikatakan Tuan Muda? Artinya dia ini, adalah laki-laki yang sangat baik. Lihatlah, semua orang menyapanya dengan sangat ramah. Bahkan penampilannya sangat polos seperti itu. Dia seperti kutu buku atau mahasiswa yang sangat pintar,” gumam Cantik membuat Devoni menurunkan lambaian tangannya, kemudian sedikit memicingkan matanya membuat Cantik menunduk seketika ketika lirikan itu menumbukkan sorotan tajam ke arahnya. Sementara Natalie, segera memberanikan diri membalas tatapan Devoni.
“Kau berurusan denganku, Devoni. Bukan dengan sahabatku,” balas Natalie pelan namun menekan. Devoni perlahan mengalihkan tatapannya ke depan.
“Natalie, kenapa kau pergi ke sini? Apakah kau mencari Roy?” tanya Devoni kini kembali menolehkan pandangan dengan senyuman, namun terlihat misteri di sana.
“Dibalik senyuman mu itu, aku sangat tahu jika kau menyimpan sesuatu kepadaku. Memang benar. Aku mencari Roy, karena aku akan menanyakan banyak hal kepadanya. Tapi ternyata dia pergi melarikan diri. Kau pasti ada hubungannya dengan ini Devoni. Mengakulah!”
Senyuman yang semula mengembang di wajah tampan Devoni, perlahan menghilang. Wajah kaku dengan sorotan kebencian terlihat jelas, membuat Cantik dan Natalie saling mengeratkan tangan.
“Aku memperingatkanmu Natalie. Saat itu Sultan yang sangat aku kagumi bersama dengan wanita lain dan aku membuatnya menderita. Kau sudah menemukannya dan mengetahui bagaimana kondisi wanita itu. Yah, dia adalah Maria.”
Devoni mengangkat tangannya, membelai pipi Natalie perlahan. Hati Natalie semakin bergemetar. Jantungnya berdetak kencang. Keringatnya mulai bercucuran karena dirinya menyimpan rasa ketakutan dengan tampang Devon yang kini sangat kaku. Apalagi salah satu tangannya mengepal dengan keras.
“Bagaimana jika aku melakukannya kepadamu. Wajahmu yang sangat cantik ini lebih berseni jika terdapat sayatan di sana.”
“Hentikan Devoni!” bentak Natalie sambil menepis tangan Devoni yang masih membelai pipinya. Natalie menarik Cantik, kemudian berdiri dari duduknya. Dia mengangkat jemarinya menunjukkan tepat ke wajah Devoni yang masih terlihat kaku.
“Bagaimana jika ke dua matamu itu yang menjadi buta akibat air keras yang aku lempar ke wajahmu.”
Natalie bersama Cantik meninggalkan Devoni begitu saja yang masih duduk menatap mereka dengan mengerikan.
“Natalie. Apa kau benar-benar akan melakukan apa yang kau katakan tadi terhadap Devoni mengerikan itu?” tanya Cantik dengan gelisah, terus melangkah cepat mengikuti Natalie menuju mobil mereka.
“Jika aku benar sangat membencinya, mungkin aku akan melakukan itu,” jawab Natalie mengedarkan pandangan dan mengernyit heran karena tidak menemukan mobilnya sama sekali.
“Apa kau yakin mobilmu kamu parkir di sini?” Cantik mulai gelisah dengan ekspresi Natalie yang sangat panik dengan mobilnya.
“Cantik kita bersama-sama memarkirkan mobil di sini dan aku sangat yakin. Apalagi tempat parkiran rumah sakit ini tidak begitu luas. Aku sangat hafal dengan pohon ini dan aku memarkirnya tepat di bawahnya. Aku tidak mau mobilku itu panas terkena sinar matahari. Makanya aku memilih posisi berada di sini ini, karena akan melindungi mobil kesayanganku.”
“Aku tahu Natalie. Tapi mobilmu tidak ada, dan itu sangat … sangat membuatku ketakutan. Apa mungkin Devoni yang melakukannya?” tanya Cantik sembari melotot tajam ke arah Natalie.
Natalie perlahan melangkah, lalu diam berkacak pinggang di tengah semua mobil yang terparkir di sana dan terus mengamati semua arah. Kini dia tersadar jika memang mobilnya benar-benar tidak ada di sana.
“Bagaimana bisa dia mengambil dan melakukan ini kepadaku?” gumamnya kesal.
Cantik yang semula berada tidak jauh dari posisi Natalie, berjalan mendekatinya ketika melihat beberapa laki-laki berjalan ke arah mereka.
“Natalie kita sepertinya harus melarikan diri dari sini. Mereka tentu saja mereka akan meringkus kita,” tunjuk Cantik kea rah lima laki-laki yang semakin mendekati mereka.
“Tidak mungkin. Devoni sangat kurang ajar.”
Mereka saling berpegangan tangan, lalu berlari kencang meninggalkan rumah sakit.
“Natalie kakiku sangat sakit. Lihatlah, sepatuku ini pasti akan rusak. Aku membelinya dengan cara mencicil.”
Natalie menghentikan langkahnya, lalu melepaskan sepatu Cantik dan membuangnya begitu saja. Dia membuka tas yang masih terselempang di tubuhnya dan mengeluarkan sandal jepit yang biasa dia pakai di dalam kamar. Cantik menggeleng keras terkejut dengan apa yang dilakukan Natalie.
“Kau tahu ini adalah sepatu dengan merk yang sangat terkenal. Aku membelinya puluhan juta, apa lagi belum lunas! Kenapa kau membuangnya seperti itu?” rengek Cantik saat akan kembali mengambil sepatunya tapi Natalie tampis dengan cepat.
“Jangan pernah mengambil sepatu itu lagi. Aku bisa membelikanmu 10. Nanti akan aku antar kau membelinya. Sekarang, pakai sandal ini karena kita akan berlari. Apa kau mau mati?”
“Huaaa! Aku tidak mau mati karena aku ingin bersama Samuel dan memiliki anak, lalu berkeluarga dengan--”
“Sudah jangan banyak bicara Cantik. Kita harus melarikan diri dari sini. Ayo!”
Mereka terus berlari tanpa menolehkan pandangan ke belakang. Semua pria yang sangat garang dan membawa besi berada di tangan kanan mereka, membuat Natalie dan Cantik semakin ketakutan.
Mereka terus berlari memasuki gang yang sangat sempit dan bersembunyi dipojokkan di antara dua tong sampah yang sangat besar.
“Kau tahu Natalie, ini adalah hal yang paling buruk yang pernah aku lakukan bersamamu. Seharusnya kau mendengarkan Tuan Muda itu dan jangan pergi menyelidiki ini sendirian. Aku sekarang duduk di antara dua sampah yang sangat bau. Lihatlah, mereka sudah membawa sebuah besi yang sangat tajam itu, dan siap untuk menusuk tubuhku. Bagaimana jika kita mati Natalie?”
Natalie sama sekali tidak merespon perkataan Cantik. Dia tetap mengedarkan pandangan dan mencari cara untuk bisa berhasil lolos dari kejaran beberapa pria yang sudah pastinya dikirim Devoni.
Namun apa yang sudah Natalie pikirkan gagal. Dari belakang, salah satu dari mereka menyodorkan senjata api ke kepala Natalie dan membuat Cantik ingin pingsan seketika.
“Berdirilah, dan kalian jangan melawan. Jika tidak, aku akan meletakkan peluru ini, hingga membuat kalian mati seketika.”
"Brak!"
"Lepaskan mereka!"
Natalie kembali terkejut melihat Sultan datang, menarik dan memeluknya. Samuel melawan semua pria itu dengan hebat bersama beberapa pengawalnya. Sementara Cantik masih diam berdiri dan menangis. Natalie melepaskan pelukannya dan menarik Cantik kemudian menenangkannya.
"Kita selamat, Cantik. Kau tenanglah," ucap Natalie pelan. Namun Cantik segera melepaskan pelukan Natalie dan berlari menuju Samuel yang memeluknya.
Sultan menarik tubuhnya dan memasukkannya ke dalam mobil. Mereka saling diam. Terutama Natalie yang berusaha memalingkan wajahnya saat Sultan menatapnya kesal.
"Apa kau akan selalu seperti ini?" tanya Sultan dengan nada tinggi. "Sekarang hadap sini, dan tatap aku!" bentak Sultan sekali lagi membuat Natalie akhirnya menolehkan pandangannya.
"Kau tahu berapa besar arti nyawamu kepadaku? Jawab!"
"Hentikan!" balas Natalie kini menunduk dengan memegang kepalanya. Sultan menarik napas, mengatur emosinya.
"Natalie, aku sangat mempercayaimu. Aku harap kau bisa mengingat kejadian menyeramkan kedua kalinya yang sudah menimpamu."
Natalie mengatur hatinya, sebelum akhirnya berkata, "Apakah kau bisa menceritakan bagaimana Roy bisa melakukan kepadamu?"
"Untuk apa kau mau mendengarnya?"
"Save you, Boss."