Mencari Informasi

1186 Kata
Cantik tidak mengerti dengan Natalie. Dia duduk di sofa, merebahkan tubuhnya sembari melirik Natalie yang masih memoles wajahnya. “Apakah Tuan Muda bersama pengawal tampannya itu tidak akan membuntuti kita?” tanya Cantik seketika membuat Natalie menghentikan gerakannya. Dia terdiam sembari menatap wajahnya di depan cermin. “Apakah dia akan melanggarnya?” tanya Natalie menatap Cantik yang menganggukkan kepalanya. “Lalu, jadi kau sudah meminta Tuan Muda untuk tidak memata-matai, kita?” Cantik berdiri dari duduknya. Dia melangkah mendekati Natalie yang menatapnya. “Apa kau percaya dengan perkataannya?” Cantik bersedekap, memberikan pelototan kaku. “Aku sudah menduga, jika Tuan Muda tidak akan membiarkan aku. Dia pasti akan melanggarnya. Kita tetap keluar.” Cantik meraih tasnya, lalu berjalan mengikuti Natalie yang melangkah cepat mendahuluinya. Di dalam mobilnya, Sultan menerima ponsel yang diberikan Samuel kepadanya. “Apa aku bisa melihatnya, Sam.” “Saya memasang chip sangat kecil di rambut Cantik. Di dalam tasnya juga aku pasang, di salah satu kancingnya. Kita bisa mengetahui semua kegiatan mereka, Tuan Muda.” Sultan tersenyum mendengar perkataan Samuel. Dia menatap layar ponselnya melihat Natalie mulai berjalan keluar dari gedung apartemen. *** Natalie menarik lengan Cantik. Mereka menuju mobil VW kuning yang sudah terparkir di depan pintu loby. Samuel menyiapkannya atas perintah Sultan. Natalie sangat senang melihat mobil kesayangannya. “Oh … mobil kesayanganku yang sangat luar biasa. Aku sangat mengagumimu, sayang. Kau adalah belahan jiwaku. Dasar Tuan Muda sok kaya. Dia selalu saja mengambil harta bendaku.  Tapi … dia tampan. Aku sudah lemah,” ucap Natalie menyandarkan tubuhnya di depan mobil sembari bergaya. Sementara Cantik mengabadikannya di ponsel. Sultan di dalam mobil menepuk jidatnya. “Sam. Jangan sampai Cantik memasang semua rekaman dan foto Natalie. Semua laki-laki akan memandangnya. Sepertinya dia juga belum sadar jika memiliki pacar sangat kaya.” *** Natalie bersama Cantik sudah memasuki mobilnya. Dengan cepat Natalie memasukkan kunci ke dalam lobang sebelah kemudi, lalu memutarnya membuat mesin menyala. Dia segera menekan pedal gas, kemudian melesat.  Cantik yang berada di sebelahnya masih diam tidak berkata apapun. Dia hanya pasrah mengikuti Natalie yang entah mau pergi ke mana. “Apa yang kau lakukan tadi malam dengan Samuel?” tanya Natalie tiba-tiba membuat Cantik sontak menatapnya dan mengernyit. Dia menggeleng Lalu bersedekap. “Apakah aku harus mengatakan apa yang aku lakukan di dalam kamar bersama-sama dengan Samuel?” Pertanyaan balik yang Cantik berikan kepada Natalie. Sahabatnya itu kini memandangnya dengan sangat serius. “Apa kau selalu tidur berdua dengan Samuel?” Cantik kembali menggelengkan kepalanya. Dia sangat paham jika pasti Natalie akan merasa penasaran dengannya. “Baik aku akan jujur denganmu. Emang aku sudah bercinta dengannya. Apa kau mendengar semua teriakan itu?” “Aku mendengarnya dan itu sangat mengesalkan. Kenapa kau melakukan itu?  Apa kau sangat mempercayai Samuel? Bahkan kau sudah melakukannya sebelum kalian berpisah. Kau tidak memberitahukan aku?” protes Natalie membuat Cantik menepuk jidatnya. “Saat itu aku berdua dengannya, Natalie. Lalu dia merasa sedih dengan kejadian yang menimpa Tuan Muda. Kami berpelukan lalu ...” Cantik menghentikan omongannya. Natalie melotot sambil menatap jalanan dan terus berkonsentrasi untuk mengemudi. Namun pikirannya diselimuti rasa penasaran dengan apa yang Cantik lakukan bersama Samuel. “Baiklah jika kau tidak mau mengatakanny. Jangan pernah kau menganggapku sebagai sahabat.” “Jangan berkata seperti itu Natalie! Iyah aku melakukannya di dalam mobil karena dia sangat bersedih. Lau, apa yang bisa aku berikan kepadanya kecuali diriku karena aku memang mencintainya.” “Tapi mereka meninggalkan kita Cantik,” ucap Natalie dengan sangat keras. “Kau kan sangat tahu bagaimana masalah yang sebenarnya terjadi, dan kita memang harus memaafkannya. Lagi pula sekarang kita mencari penjahatnya. Sudah … sudah cukup dengan ceritaku. Sekarang dirimu. Apakah kalian sudah melakukannya?” “Berciuman saja tidak pernah, mana bisa kita melakukannya. Tapi aku akan melakukannya jika aku sudah menikah dan itu adalah keputusan yang akan aku pegang karena ibuku berpesan seperti itu.” “Oke, oke, aku sudah salah melakukan sesuatu hal yang tidak pantas aku lakukan. Tapi aku memang sangat mencintai pengawal itu dia sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari Tuan Muda.” “Hahaha kau memang benar.” Di dalam mobilnya Sultan tidak percaya dengan semua yang dikatakan Natalie. Apalagi Cantik sudah membuka semua rahasianya dengan Samuel. Terlebih lagi kini Sultan menatap Samuel dari kaca spion karena Natalie dengan jelas-jelas mengatakan bahwa Samuel lebih tampan dari pada dirinya. Samuel yang juga mendengarnya hanya terdiam, lalu sedikit menundukkan kepalanya. Dia berusaha tidak merespon tatapan Sultan kepadanya. “Jangan berpura-pura kau tidak mendengarnya Samuel. Sudah jelas-jelas Natalie mengatakan kau lebih tampan dariku. Sepertinya aku harus memecat mu sekarang juga,” ucap Sultan membuat Samuel masih memalingkan wajahnya dan tidak merespon sama sekali. Kini Sultan kembali menatap layar melihat Natalie memang benar-benar memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit di mana Roy sebelumnya dirawat. “Sudah aku duga. Ternyata memang dia pergi untuk menemui Roy. Samu, apa kau sudah memastikan jika memang Roy melarikan diri dan tidak berada di sana?” Samuel kini menatap Tuan Muda melalui kaca spion dari kursi depan. “Tuan Roy melarikan diri dengan seseorang yang memakai jaket dan bertopi hitam. Sepertinya itu adalah Tuan Devoni. Namun setelah mereka keluar dari rumah sakit, kami tidak bisa menemukan keberadaan mereka. Sesuatu sudah menghalangi semua itu.” “Kau tidak mencari penyebabnya itu apa?” “Kami masih menyelidikinya, Tuan Muda.” Mobil Tuan Muda sampai di depan kantor megahnya. Dia segera keluar dari mobil saat Samuel seperti biasa membukakan pimtu mobil. Sultan berjalan menuju ruangannya, masih saja memandang ponselnya. “Tuan Muda, ada 10 rapat yang menunggu Anda,” ucap sang sekretaris yang berlari ketika melihat kedatangan Sultan. Dia menyodorkan beberapa dokumen perusahaan. “Batalkan semua. Aku tidak mau menghadiri rapat. Aku ada acara penting.” Samuel mengarahkan tangannya agar sekretaris yang masih melangkah mengikuti Sultan berhenti. “Aku akan mendatangimu,” ucap Samuel membuat sang sekretaris menganggukkan kepalanya. Samuel terkejut melihat Sultan mendadak menghentikan langkahnya. “Samuel. Kamera itu mati.” Samuel melotot melihat layar ponsel yang Sultan arahkan tepat di wajahnya menghitam. “Mereka tahu kau sudah memberikan kamera!” “Saya akan menghubungi semua pengawal yang menyamar Tuan,” jawab Samuel segera merogoh ponselnya di dalam saku jas. “Sialan,” umpat Sultan. *** Natalie bersama Canti menuju toilet rumah sakit, dan mengganti semua bajunya. Sejak Natalie mengamati Canti di dalam mobil, dia melihat sesuatu yang mencurigakan di dalam pita rambut sahabatnya itu. Natalie sengaja bertanya sesuatu untuk mengalihkan pandangan Sultan yang pasti menatapnya. Natalie menatap tas Cantik dan ternyata terlihat benda hitam sangat kecil tertempel sebelah resleting. Sejak keluar dari kamar Natalie sudah memasukkan dua kaos di dalam tasnya. Dia sudah menduga Sultan akan melanggar semua janjinya, seperti yang dikatakan Cantik. Apa lagi, Cantik selalu bersama Samuel. “Dia pikir kita sangat bodoh? Rasakan!” Natalie menginjak semua kamera yang terlihat. Namun dia tidak mengetahui kamera yang berada di kancing Cantik yang dia masukkan ke dalam tas. Karena Cantik sudah mengganti kaos. “Aku sudah bilang. Tuan Muda tidak akan melepaskanmu begitu saja.” Natalie menarik Cantik dan berlari menuju pusat informasi. Dia kecewa tidak menemukan keberadaan Roy. “Di mana dia?” batinnya. “Kau mencari aku?” “Devoni?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN