TUJUH TAHUN KEMUDIAN

2441 Kata
“Brak!” Sebuah mobil sedan yang semula berjalan tenang, berbelok mendadak ke pinggir jalanan dengan cepat hingga tertabrak pembatas jalan.  Beberapa  mobil sengaja menabraknya dari arah kanan dan kiri. Namun, kelihaian sang pengemudi, masih bisa mengatasinya. Dia segera menambah pedal gas untuk membuat mobil semakin melaju kencang dan menghindar. “Siapa yang melakukan ini?!” Suara lantang dari sosok yang duduk di kursi jok belakang, mengejutkan pengemudi yang masih saling menyalip dengan beberapa mobil. “Brak!” Ujung mobil kembali terkena tabrakan dari mobil pengejar yang berhasil mendahuluinya. “Dor!” Peluru kini di arahkan oleh sang musuh, namun tidak mengenai karena kelihaian sang pengemudi yang cepat menghindar. Suasana malam mencekam masih menghiasi jalanan sepi yang mengarah ke luar kota. “Menghindar, atau kita akan mati!” Kembali lagi sosok di belakang sangat kebingungan dan menundukkan kepalanya untuk menghindari lesatan peluru yang saling bertanding mengenai sasaran. “Dor!” “Bertahanlah, Tuan!” Sorotan tajam sang pengemudi mengarah ke kaca spion. Senjata api sudah siap dia arahkan dari tangan kanan. Sementara, tangan kirinya masih mengendalikan kemudi mobil yang melesat cukup kencang. “Aku akan mengenainya!” teriaknya sembari menekan pelatuk yang sudah siap di arahkan ke sasaran. “Dor!” “Brak!” Akhirnya pengemudi bisa membuat mobil yang mengejar, terpelanting jauh akibat tembakannya. Dia kini melesatkan mobil semakin kencang, hingga menghentikan mesinnya di pinggir jalan yang dia rasa sudah aman. “Apakah sudah aman?” Kedua mata sosok di kursi belakang menempelkan wajahnya di jendela, mengamati semua arah di luar yang di warnai kegelapan dengan saksama. “Aku rasa, kita sudah aman, Tuan,” jawab sang pengemudi menarik napas. Namun, dia kembali menyorotkan pandangan ke depan, saat lampu menyilaukan mendadak kencang ke arah mereka. Spontan tangannya menyalakan mesin mobil kembali, namun dia terlambat. “Arghh!” “BRAKK!” “Melihatmu berdarah, adalah seni bagiku,” ucap seseorang tidak jauh dari posisi mobil yang sudah terbalik.   *** Keringat mulai bercucuran. Alat oksigen yang masih terpasang di hidung mancung seorang pasien pria mulai pengap akibat basah. Napasnya mulai sesak. Tubuh yang terkujur kaku itu mulai bergerak. Kedua tangannya yang semula lemas, perlahan bergerak. Jemarinya terus bergetar, hingga akhirnya merasa kuat untuk mencengkeram sprei. Dia perlahan membuka kedua matanya yang selama dua bulan tertutup. “Ke-ka …. sih …” Sultan Havier Abraham, Tuan Muda dengan visual tak terbantahkan. Suara seraknya terdengar lirih membuat suster yang berjaga membelalakkan mata. Dia melangkah cepat masuk ke dalam kamar paling mahal dan termewah di salah satu rumah sakit terbaik Kota Paris. Pemuda tampan berumur dua puluh tiga tahun itu akhirnya terbangun dari koma. Suster segera berlari menuju ruangan dokter memberikan kabar baik untuknya. “Dokter, Tuan Muda akhirnya terbangun!” teriaknya membuat Dokter terkejut. “Siapkan semua!” balas Dokter membuat kedua suster melakukan perintahnya. Tuan Muda sangat tampan itu biasa dipanggil Sultan. Wajahnya memiliki ketampanan maksimal dengan julukan dewa Hermes putra Zeus. Bibir tebal, hidung mancung, garis tulang pipi yang tercetak pas dan kotak, menandakan wajah berkarisma lebih maskulin. Ditambah alis tebal ala ulat bulu membuat pandangan kedua mata bulat hitamnya lebih romantis. Siapapun yang beradu tatap dengannya, pasti tergila-gila. Sorotan mata tegas itu membuat para hawa menghayalkan dirinya dan tidak bisa tidur berhari-hari. Dia mengalami koma saat seseorang menabrak mobilnya. Benturan keras di kepala, membuat dia tidak sadarkan diri. “Tuan Muda Sultan, kau … sudah terbangun!” teriak sosok laki-laki berjas hitam yang selalu setia menemaninya. Dia terperanjat saat duduk diam termenung di depan kamar, mendengar suara lirihan Sultan. Kakinya berlari mendekati ranjang mewah di mana tuannya terkujur lemah mulai berusaha bergerak. Kedua tangannya menggenggam telapak kanan Sultan yang selalu kaku, kini bisa terangkat. Dia berusaha mengatur hatinya melihat Sultan yang selama ini hanya terbaring lemas, akhirnya memperlihatkan kemajuan. “Bertahanlah, Tuan Muda Sultan.” Sedikit lirikan dengan alis mengkerut, Sultan tujukan kepada Samuel. Pengawal pribadi yang selalu setia menemaninya selama puluhan tahun. Sultan biasa memanggilnya Sam. "Sam ...," lirih Sultan. “Tuan Muda, kau akan baik-baik saja," ucapnya bersemangat. “Dokter akan segera datang untuk memeriksamu, Tuan Muda.” Pandangan matanya yang semula tegang, memejam seketika bersama tarikan hembusan napas, melihat dokter yang ditunggu akhirnya datang. “Sam, sebaiknya kau keluar. Biarkan kami memeriksanya.” Dokter bersama kedua suster mulai melakukan tugasnya, membuat Samuel menuruti permintaan yang sebenarnya berat dia lakukan. Keinginannya berada di samping Sultan harus dia tunda. Dia melangkah cepat ke luar ruangan. Samuel sendiri adalah sosok yang tidak banyak bicara. Seni bela diri dan memakai senjata, adalah keahliannya. “Akhirnya kau kembali, Tuan Muda,” batinnya lega tanpa mengalihkan pandangan pada yang lain kecuali wajah dokter bersama kedua suster yang masih sibuk memberikan suntikan di lengan kanan Sultan. Suara ponsel tiba-tiba berdering di saku jas Samuel sebelah kanan. Kali ini pandangannya teralihkan seketika. Sambil mengernyit, jemarinya bergerak cepat mengambil benda hitam itu, untuk melihat siapa yang menghubunginya. Saat nama Nyonya Besar berada di layar, membuat wajah tegang Samuel yang selalu melekat seketika datar. Akhirnya dia bisa memberikan kabar baik untuk ibu tiri Sultan. “Tuan Muda sudah sadar. Tubuhnya mulai bergerak. Akhirnya apa yang kita tunggu terjawab, Nyonya.” “Apa kau bersungguh-sungguh?” “Dia membuka kedua matanya, Nyonya.” “Berikan yang terbaik untuknya. Aku segera kesana, Sam.” “Baik, Nyonya.” Wanita anggun yang memiliki wajah layaknya gadis berusia jauh di bawahnya, tersenyum berlinang air mata mendengar apa yang Samuel kabarkan. Jovanka Lovata itulah namanya. Ibu tiri Sultan seorang mantan artis terkenal di Kota Paris. Kulit mulus putih, bersih, dengan wajah oriental, membuatnya tidak terlihat jika dia sudah berumur setengah abad. Dengan bersemangat, Jovanka bersiap menuju rumah sakit. Sembari menjinjing tas hitam bermerk dengan bahan kulit asli, Jovanka melangkah cepat keluar kamar. Hentakan dari heels sepatunya, membuat dua pengawal yang semula mengobrol terperanjat seketika untuk berdiri tegak. “Aku harus menuju rumah sakit.” Mereka bergerak cepat membuka pintu mobil belakang sedan hitam mewah jenis Porsche Hybrid Executif milik Jovanka. Wanita itu segera masuk diikuti kedua pengawal yang duduk di kursi depan. “Kemudikan mobil ini dengan cepat! Aku ingin segera sampai ke sana!” “Baik.” Pengawal secepatnya menyalakan mobil yang memiliki suara mesin halus itu, kemudian melesat kencang. “Aku sangat merindukanmu, Sultan,” batin Jovanka. Dengan sendu, wajahnya menatap jalanan. Dia tidak sabar untuk meluapkan kerinduannya terhadap Sultan. *** Di depan kamar, Samuel terus menatap Sultan yang masih mendapat penanganan. Dia berharap dokter bisa mengatasi keadaan tuannya yang semakin tersadar. Hingga pandangan Samuel kembali teralihkan dengan suara ponselnya yang berdering. Dia menerimanya dengan cepat saat nama pengawal Jovanka terlihat di layar. “Nyonya Besar sudah sampai, Sam.” Samuel segera berlari untuk menyambut kedatangan Jovanka di pintu masuk rumah sakit. Dia berusaha mengatur puluhan awak media yang mengerumuni mobil Jovanka saat sudah menepi. Berita Tuan Muda terbangun dari koma sangat cepat menyebar. Semua wartawan sudah bersiap dengan semua kamera dan perekam suara. Mereka berharap Jovanka menjawab pertanyaan yang mereka ajukan untuk halaman berita. “Nyonya, apakah Tuan Muda Sultan baik-baik saja?” kata salah satu wartawan. Dia berusaha menerobos kedua pengawal bertubuh tinggi dan garang yang selalu melindungi kemanapun Jovanka pergi. Samuel semakin mendekat, segera menarik tubuh Jovanka. Namun puluhan wartawan tetap mendekatinya. “Pergilah!” Samuel membentak, lalu menatap tajam salah satu wartawan yang terus berusaha mendekati Jovanka. Wartawan itu seketika mundur dengan sendirinya. Kilatan lampu kamera terus menyerang Jovanka. Membuat dia mengernyit tidak bisa melihat dengan jelas. “Singkirkan mereka!” teriak Jovanka. Dia terus menundukkan kepalanya. Samuel mendekap tubuh Jovanka. Kedua pengawal menarik semua wartawan, hingga akhirnya berhasil menerobos masuk ke dalam rumah sakit. Para satpam yang sangat panik, segera menutup pintu dengan rapat, untuk mencegah para wartawan itu masuk. “Sam, bawa aku segera menemui Sultan!” Jovanka mengatur hatinya yang berapi-api tidak sabar untuk bertemu Sultan. Kakinya semakin bergerak cepat seakan tidak ada waktu yang bisa menghentikannya sebelum sampai di tujuan. Kedua pengawal bersama Samuel mengikuti Jovanka dengan pandangan tajam. “Brak!” Jovanka mendorong pintu kamar Sultan dengan keras. Dia seketika diam menahan hatinya yang bergetar, saat melihat Sultan sudah terduduk di atas ranjang. Perlahan kakinya melangkah untuk mendekati Sultan kemudian memeluknya. Kedua mata sebiru lautan mulai berlinang air mata. Keresahan akan kesembuhan anak tirinya itu selama dua bulan akhirnya terjawab. “Kau sudah sadar anakku. Bagaimana kondisimu?” Pandangan sinis, tajam, dan dingin, seperti biasanya selalu Sultan perlihatkan. Jovanka hanya menatap tanpa berkomentar. Tangannya terus membelai Sultan. “Selamat datang kembali, anakku,” sapa Jovanka pelan. Bibir merahnya mengecup kening Sultan. “Bagaimana keadaannya, Sam?” “Tuan Muda sangat baik, Nyonya. Tapi, perlu waktu lama untuk membuatnya normal kembali,” bisik Samuel. Dia berdiri di belakang Jovanka membuat netra Sultan menyorot dingin ke arahnya. “Besok aku mau bekerja,” katanya singkat mengejutkan Jovanka. “Tidak mungkin! Sultan, kau baru saja tersadar!” Suara keras Jovanka membuat Sultan mengambil vas bunga di atas nakas sebelah ranjangnya. Sorotan tajam semakin jelas terlihat. “Prang!” Dengan sengaja Sultan membuang vas itu yang kini terpecah belah seukuran kerikil berserakan di lantai. “Sam, panggil dokter!” teriakan mendadak Jovanka. “Baik.” Jovanka menarik napas, berusaha tenang mengatasi sikap angkuh Sultan yang selalu melekat. Sikap yang selama ini selalu dihadapi Jovanka dengan sabar. “Aku mau keluar dari kamar menyebalkan ini!” bentak Sultan semakin membuat Jovanka menggeleng. Dia masih saja tidak berkata. Dokter dalam sekejap datang bersama Samuel. Jovanka mulai mendekati dokter memberitahukan permintaan mustahil Sultan. Dia berkata, “Dokter, Sultan mau bekerja.” Tentu saja membuat dokter menggeleng, seketika mengangkat kedua tangannya. Dia tidak bisa memutuskan apapun. Kemarahan Sultan bisa membuat jabatannya sebagai Kepala Dokter akan terancam. “Kau tahu sendiri, Dokter! Jika tidak mengabulkan permintaanku, jabatanmu itu akan aku gantikan dengan orang lain!” ancam Sultan membuat semua orang memandangnya serius. “Sultan, selama dua bulan aku menunggumu sadar. Untuk apa kau mau segera bekerja?” Jovanka berusaha meredakan situasi. “Ibu, apa aku juga perlu membuatmu mengerti dengan permintaanku?” “Lakukan apa yang dia mau!” pinta Jovanka tegas seketika membuat wajah dokter kaku berkeringat. Dia menatap ragu-ragu Jovanka. Dokter menarik napas panjang, kemudian berbisik, “Tapi, ini akan sangat sulit, Nyonya. Keadaan Tuan Muda Sultan masih belum pulih seutuhnya.” Suara pelan yang masih bisa Sultan dengar dengan baik, mendadak membuatnya naik pitam. “Diam! Permintaanku harus kau lakukan. Jika tidak, Sam akan menembakmu!” Dokter hanya diam menatap Sultan. Namun tidak dengan Jovanka. Dia sudah tidak bisa menahan amarahnya. "Sultan!" bentaknya.  Samuel berpikir harus melakukan sesuatu untuk masalah ini. Kakinya melangkah mendekati Jovanka untuk meredakan emosinya. “Nyonya, lebih baik menuruti permintaan Tuan Muda. Jika kita menekannya, aku sangat kawatir keadaan Tuan Muda bisa kembali memburuk,” sergah Samuel membuat Jovanka akhirnya mengalah. Hembusan napas kembali Jovanka keluarkan. Sejenak dia menenangkan diri sambil membenarkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Kedua matanya, kembali menatap dokter dan berkata, “Dokter, kau harus melakukan sesuatu. Sultan adalah pewaris tunggal Bos Besar. Tidak ada yang bisa menolaknya. Semua bisa dia lakukan dalam sekejap.” “Aku akan memberikan suntikan vitamin dan semua yang Tuan Muda butuhkan untuk membuatnya normal kembali. Tapi, aku membutuhkan waktu satu hari lagi. Hanya itu yang bisa aku lakukan.” Penjelasan Dokter membuat Jovanka menganggukkan kepalanya. Dia berjalan kembali mendekati Sultan yang masih menyerang dengan sorotan tajamnya. “Satu hari lagi kau akan pulang. Kau bisa masuk untuk bekerja, setelah hari itu.” Kali ini ucapan Jovanka membuat Sultan terdiam. Dia membelai wajah Sultan walaupun dibalas dengan tatapan tajam. Meski Sultan bukan anak kandungnya, kasih sayang tetap dia curahkan dengan utuh. “Baiklah, Sam akan menjagamu. Besok aku akan menunggumu di rumah.” Jovanka mengecup kening Sultan sekali lagi. Dengan tatapan sendu, dia mengingat masa lalu saat dirinya bertemu dengan Bos Besar. Jovanka menikahi Ayah Sultan sang Bos Besar bernama Adelard Abraham. Mereka menikah atas permintaan Ibu Sultan bernama Shufaka yang berasal dari Dubai. Linangan air mata mulai menetes saat masa menyedihkan itu kembali memasuki pikirannya. Dia sejenak memejam untuk mengatur hatinya yang sangat rapuh agar kembali normal. “Aku harap kau menjaga dirimu dengan baik, anakku. Ayahmu dalam perjalanan dari Dubai. Dia akan menemuimu saat kau berada di rumah. Aku sangat menyayangimu, seperti aku menyayangi ibumu, anakku.” Jemarinya ingin membelai Sultan sekali lagi, namun tangan yang kini sudah bertenaga dari Tuan Muda, menampisnya. “Tapi … aku tetap bukan anakmu.” Ekspresi Sultan yang masih dingin, membuat Jovanka menguatkan degup jantungnya yang semakin pelan akibat keresahan. Dia hanya tersenyum menanggapi perkataan Sultan yang menyayat. "Aku akan mulai memeriksanya, Nyonya," pinta Dokter. "Baiklah," jawab Jovanka pelan, menggeser tubuhnya agar sang dokter bisa melakukan tugasnya. “Dia selalu berpura-pura kuat. Padahal, dia sangat rapuh. Tapi, kenapa? Apa yang membuatnya seperti itu?” batinnya. Mata indah berwarna biru secerah berlian milik Jovanka tidak lepas dari tubuh Sultan yang masih menggunakan alat untuk mendeteksi jantungnya. Kedua alisnya mengkerut dengan jelas, menandakan kegelisahan memikirkan permintaan Sultan untuk bekerja. Jovanka melambaikan tangan agar Samuel menghampirinya, saat dokter kembali menggunakan alatnya memeriksa keadaan Sultan. Dia melirik Samuel untuk menjauh dari posisi Sultan. Mereka kini berada di tengah pintu kamar. “Dulu Sultan mengurung diri selama tujuh tahun, dan aku tidak mengerti kenapa. Aku perlahan merayunya setiap hari agar dia mau menuju perusahaan. Dengan tegas dia selalu menolak, walaupun akhirnya aku berhasil. Kenapa dia sekarang bersikeras ingin bekerja?” gumam Jovanka membuat Samuel menatapnya. “Mungkin dengan bekerja, Tuan Muda bisa merasa lebih baik, Nyonya,” jawab Samuel membuat pandangan Jovanka kini terarah kepadanya. “Jaga dia dengan baik, Sam. Segera cari tahu siapa yang menabraknya. Habisi mereka tanpa ampun, Sam!” “Baik.” Tanpa berbicara lagi, Jovanka segera berlalu bersama kedua pengawalnya setelah sejenak kembali menatap Sultan yang masih memberikan sedikit lirikan tajam ke arahnya. Namun, langkah itu terhenti mendadak. Samuel semakin menatap, saat Jovanka menoleh dengan lirikan tegang. “Sam, cari wanita itu! Nama yang selalu saja Sultan sebutkan saat tidak sadar. Lakukan apapun agar wanita itu bekerja di ruangan Sultan. Dengan begitu, Sultan akan bisa sedikit menghilangkan rasa angkuhnya. Lakukan dengan cepat dan rahasia!” “Baik!” jawab singkat Samuel dengan menunduk. **** “Dia … meninggalkanku, kenapa? Apa yang aku lakukan hingga dia melakukannya?” Suara parau seorang wanita yang termenung menatap indahnya Kota Paris dari lantai lima jendela kamarnya. Wajahnya selalu saja sendu, mengingat sosok yang dicintainya. Dia menarik napas, berusaha mengatur hatinya. “Wajah itu selalu saja terbenak dalam bayanganku. Namun, apakah dia akan kembali? Tujuh tahun berlalu, aku masih tidak bisa berpaling. Dia terlalu sempurna buatku. Bayangan semua tentang dirinya seakan melekat, dan tidak terlepas. Kekasihku … kenapa?” Kini dia merentangkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit kamar dengan gaya khas Eropa. “Kenapa kau pergi?!” Tangisan memecah di ruangan, membuat wajah cerianya yang selalu melekat hilang. “Kenapa?! Kekasih, berengsek!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN