Natalie Lethesia

1763 Kata
Di rumah sakit, Samuel masih berdiri sedikit menggerakkan kepalanya yang terasa kaku hingga terperanjat saat dokter menepuk pundaknya dari belakang. Dia menoleh seketika. “Tugasku sudah selesai, Sam. Panggil aku jika Tuan Muda mengalami masalah.” “Terima kasih. Aku akan melakukannya, Dokter,” jawabnya singkat. Dokter membalas Samuel dengan sedikit senyuman bersama kedua suster yang selalu membantunya menangani Sultan. Samuel kembali masuk ke dalam kamar tuannya. Dia mendadak menghentikan langkah. Kedua mata bulat hitam Samuel melotot melihat Sultan terduduk di atas ranjang dengan tatapan dingin. “Tuan Muda, apa yang bisa aku lakukan?” Samuel kembali tercengang saat Sultan menuruni ranjang mencoba untuk berdiri. Sontak dia berlari mendekati. Tampisan Sultan membuatnya tidak bergerak. “Jika kau membantuku, aku akan memecatmu, Sam!” ancam Sultan. “Tuan Muda, kondisi Anda masih belum benar-benar pulih,” balas Samuel. Tubuhnya siap siaga berada di sebelah Sultan. Sultan mulai menggerakkan kedua kakinya yang bergetar, berjalan perlahan mendekati jendela kamar yang memperlihatkan keindahan menara Eiffel Paris. Pandangan dingin masih melekat di wajahnya. “Kenapa? Kenapa … dia melakukan ini?!” Kedua mata Sultan menyorot tajam. Dalam pikirannya yang terus berputar, selalu saja membuat amarahnya meningkat. “Kenapa?!” teriaknya semakin kencang. “Tuan Muda Sultan, aku harus bagaimana?” tanya Samuel tidak mendapat balasan. Sultan kini memejamkan kedua mata. Rasa sakit kembali membayangi pikirannya. “Sialan!” Kedua mata Samuel melotot melihat Sultan tiba-tiba berteriak memukulkan tangan kanannya di kaca jendela hingga berdarah. “Prak!” “Tuan Muda Sultan. Aku mohon, berhenti!” teriaknya sembari mengulurkan tangan. Tampisan keras masih saja diterimanya dari Sultan. “Aku hanya ingin mengetahuinya, Sam! Kenapa?!” Tubuh Sam yang masih tegak, spontan bergeser akibat dorongan Sultan dengan kuat. “Argh!” Sultan berteriak histeris sambil memegang kepalanya. Samuel spontan menekan tombol pemanggil dokter yang berada di sebelah kanan ranjang. “Berikan Tuan Muda suntikan agar tenang, Dokter!” kata Samuel tegang saat dokter menerimanya. “Baik, Sam.” Suntikan penenang segera dokter siapkan. Dia bersama kedua suster melangkah cepat masuk ke dalam ruangan Sultan. “Aku tidak akan memaafkanmu, Sam!” teriak Sultan saat pengawal setianya itu memaksa dia untuk kembali ke ranjang. “Sam, sebaiknya kau menahan tubuhnya agar aku bisa melakukan tugasku,” ucap Dokter saat masuk dan melihat Sultan yang terus meronta. “Maafkan aku, Tuan Muda!” Samuel mendekap erat tubuh Sultan. Tangannya yang sangat kuat terus menahan lengan kekar Sultan sebelah kanan, hingga dokter berhasil menekannya dengan jarum suntik. Obat cairan kuning yang berada di dalamnya langsung masuk meresap tubuh. Sementara kedua suster segera mengobati punggung tangan kanan Sultan yang terluka akibat benturan kaca. “Sam, kau …” Sultan menatap Samuel sejenak. Kedua mata tajam bulat hitam itu akhirnya terpejam. Samuel mengatur napas, kemudian merapikan jasnya yang berantakan.  “Terima kasih, Dokter.” Dokter menganggukkan kepalanya sambil menepuk pundak Samuel. Dia bersama kedua suster kembali meninggalkan ruangan. Samuel berdiri tegak menatap tajam Sultan. Jemari tangan kanannya merogoh ponsel di saku jasnya. Dia menghubungi salah satu pengawal di kantor khusus yang bernama Bodyguard Abraham. “Gadis itu, kekasih Tuan Muda. Temukan dia!” Kedua mata setajam pisau, masih Samuel perlihatkan. Tangannya mengepal saat dia juga kembali mengingat sesuatu yang selalu membayanginya. “Aku harus melakukan sesuatu. Menunggu selama tujuh tahun untuk tidak bertindak, sudah cukup! Kau, akan membayarnya. Sialan!” batin Samuel menekan emosinya. Jarinya yang sudah kaku dengan mengepal, dia tahan sembari menarik napas dan menghembuskan perlahan. “Tut, tut!” Ponsel Samuel kembali berdering. Lamunannya mendadak hilang. Raut wajah tajam menjadi datar seketika saat layar ponsel kembali memperlihatkan nama pengawal yang ditunggunya.  “Apa yang kau dapat?” “Natalie Letehesia baru saja menyelesaikan kuliahnya. Ayahnya seorang sutradara terkenal. Menurut kabar yang aku dapat dari sahabatnya, dia sedang mencari pekerjaan. Dia tidak menyukai pekerjaan menjadi artis yang ditawarkan ayahnya.” “Bagus. Kita akan segera menemui ayahnya. Lakukan semua rencana yang aku kirimkan melalui pesan di ponsel. Setelah memulangkan Tuan Muda besok, kita akan segera bertemu.” "Baik." Samuel menutup ponselnya, kemudian perlahan melangkah mendekati Sultan. “Aku berjanji akan melindungimu, Tuan Muda!” batinnya. Samuel terjaga semalaman untuk memastikan Sultan baik-baik saja hingga pagi menjelang. *** Di sebuah kamar tepatnya salah satu apartemen Kota Paris, seorang gadis bernama Natalie Leteshia yang biasa dipanggil Nat, berdiri di depan cermin oval sebesar dirinya. Dia wanita centil, selalu berjalan  berlenggok seperti peragawati, memiliki kepercayaan yang tinggi, masih tersenyum memandang dirinya sendiri yang memantul sempurna memperlihatkan tubuh ramping semampainya. Wajahnya super mulus, putih, bermata bulat hitam, bulu mata yang sangat lentik, membuat dia banyak dikagumi pria. Tersenyum adalah sesuatu yang melekat pada dirinya. Natalie menganggap jika dia tersenyum, wajahnya semakin cantik. Semua orang menyamakan dirinya seperti boneka Barbie. “Cermin, cermin ajaib! Siapa yang paling cantik di dunia ini? Hah, tentu saja aku, Natalie wanita yang membahana menggelora.” Dia terus tersenyum melakukan kegiatan rutin kesukaannya setiap pagi. Tubuhnya memutar, tangan kanannya menyibakkan rambut panjang berwarna coklat berkilau tebal, hingga bergelombang sangat indah. “Aku memang sangat cantik,” katanya sekali lagi sembari tersenyum memperlihatkan gigi putih ratanya. Kelima jari lentik di tangan kanannya, mengambil satu botol kecil merah yang berisi cat kuku di atas meja rias berwarna pink seperti milik putri dalam negeri dongeng. Masih sambil tersenyum, Natalie duduk di kursi sofa berbulu dekat jendela kamar. Pandangannya tidak terlepas dari kaki mulusnya untuk mulai mengecat kuku putih mengkilap yang selalu dia rawat. “Semua kuku kesayanganku, aku akan mulai meriasmu. Kalian sangat menggemaskan,” katanya genit masih tersenyum hingga, “Kring!” “Pyok!” “Oh, no!” Nada dering ponsel membuat Natalie terkejut. Semua cairan merah cat kuku dari botol yang dia pegang, menumpahi kakinya. “Dady! Oh my God! Kenapa menelepon disaat yang tidak tepat? Kukuku bukannya menjadi cantik, malah sangat berantakan! Tidak!” “Nat, tolong Dady!” “Apa?” “Dady terancam bangkrut!” Natalie membuka jendela kamar melupakan kukunya yang sangat berantakan. “Dady, jelaskan! Aku tidak suka berbelit. Oh my …,” ucapnya pelan. Dia menatap luar jendela sambil menghirup udara yang berhembus agar hatinya tenang. “Hanya kau yang bisa membantu Dady. Lima kontrak film tidak akan bisa Dady dapatkan kecuali kau mendapatkan pekerjaan. Bantulah Dady, Nat!” “Dady, aku masih mencari pekerjaan yang cocok denganku. Berikan aku waktu!” jelas Natalie. Dia mengkipas-kipas wajah dengan tangannya yang mulai berkeringat. Buliran air yang mendadak keluar dari tubuh ketika panas menyerang, sangat dibencinya. Dia menganggap, jika hal itu sangat bau. “Keringat! Aku harus menyalakan pendingin ruangan. Tapi ini masih pagi,” keluhnya membuat dia melupakan Dady yang masih menunggu jawabannya. “Nat, apa kau masih di sana?” “Tentu saja, Dady.” “Besok, datanglah ke perusahaan Sultan Abraham. Kau diterima di sana.” “Apa?” Natalie menarik napas panjang. Wajahnya seketika tegang. Sorot matanya mendarat pada lukisan sosok Sultan semasa SMA yang tertempel di dinding. Jemarinya mencengkeram d**a, berusaha mengatur detakan jantung yang berlari seperti kuda. Kencang dengan hentakan keras. “Tidak mungkin.”  “Nat? Nat! Apa kau masih di sana?” “Ya, Dady.”  “Dady mengandalkanmu. I love you, Nat.” “I love you to, Dady,” balasnya kaku. Natalie melepaskan ponselnya hingga terjatuh di lantai. Dia mendekati lukisan laki-laki yang sangat dirindukan, namun meninggalkannya begitu saja selama tujuh tahun tanpa kabar. “Kau, kekasihku …” Suara parau terlepas dari mulutnya. Mendengar nama Sultan disebut, pikiran Natalie tersangkut pada masa lalunya. Masa di mana dia bahagia, namun menderita setelahnya. “Kenapa kini kau datang lagi?” Natalie mengingat pertemuan pertama kali dirinya dengan Sultan. Saat itu Natalie berjalan melenggokkan pinggang ramping sempurna miliknya, hingga memperlihatkan lekukan tubuh yang membuat kecantikannya tiada lawan. Puluhan mata siswa tertancap menatapnya. “Semua mata memandangku. Itulah aku, si Cantik Natalie,” gumamnya terus menebar pesona dahsyatnya. Kakinya terus melangkah menuju gerbang sekolah. Dia terkejut melihat Sultan mendapat gangguan saat pengawal tidak ada. “Hentikan!” cegah Natalie. Dia semakin melangkah mendekati Sultan yang mengernyit melihatnya. “Sultan tidak perlu kau hiraukan. Dia bukan siapa-siapa,” kata Natalie. Dia perlahan berdiri di hadapan Sultan berusaha mengalihkan mereka. Namun saat salah satu dari mereka akan mendekat, “Sultan, lari!” teriak Natalie tiba-tiba. Tangan Natalie menarik lengan Sultan, mengajaknya berlari jauh. Mereka terus berlari tanpa arah hingga sampai di bangunan tua dan bersembunyi. Sultan yang selalu susah untuk berkomunikasi dengan siapapun, akhirnya memandang Natalie. “Terima kasih,” jawabnya singkat. Natalie tersenyum malu. Kedua pupilnya menunduk ke bawah menghindari pandangan Sultan yang membuatnya lemas tidak berdaya. “Eh!” Sultan menarik Natalie, dan menciumnya tiba-tiba. Natalie terdiam kaku menerimanya. “Maafkan aku,” kata Sultan spontan melepaskan bibirnya. “Aku mau kau melakukan lagi,” kata Natalie membuat Sultan terkejut. Perlahan Natalie menarik wajah Sultan, dan mendaratkan bibirnya. Mereka akhirnya berciuman dengan mesra. Sultan sebenarnya menyukai Natalie sejak masuk sekolah. Namun dia tidak memiliki keberanian mengakui perasaannya. Natalie yang ternyata juga memiliki perasaan yang sama, membuat dirinya sangat bahagia. Dengan diam-diam wanita terpopuler di sekolah itu selalu saja mencuri pandang kepada Sultan. Sifat Sultan yang pendiam, membuat dia tidak berani mendekat. Pertemuan yang tidak terduga itu, membuat mereka akhirnya menjalin kasih. Sorotan tajam, tanpa mereka sadari mengarah kaku, semakin menahan amarah menyaksikan pertunjukan yang menyiksa batinnya. “Kalian, tidak akan aku biarkan pernah untuk bersatu!” *** Natalie termangu menarik napasnya yang masih terasa sesak. Dia mengambil beberapa anak panah kecil yang selalu digunakan untuk bermain layaknya Robin Hood saat bosan dengan kegiatannya. Jari lentik mulai bergerak untuk mengambil beberapa, dan, “Zab!” Natalie tampak mempertimbangkan perkataan sebelum akhirnya berkata, “Dasar arogan, tidak tahu diri, laki-laki pencari untung, sombong, sok kaya, angkuh!” Anak panah yang masih tersisa di tangannya, dia lempar kembali sekuat tenaga hingga tepat tertancap di wajah Sultan. “Zab, zab!” Lukisan sosok Sultan yang tercipta dari tangan Natalie sendiri, sobek dan terlepas dari perekat yang membuatnya bertahan hingga tujuh tahun lamanya. Keahlian Natalie dalam hal melukis, membuat wajah tampan Sultan terlihat sempurna menghiasi dinding kamarnya. Namun, kini lukisan itu sangat buruk akibat tajamnya anak panah yang terlempar. Natalie mengangkat wajah merasa puas dengan apa yang dia lakukan. Tangannya terus melepas lukisan itu yang akhirnya berada dalam genggamannya. Sambil berjalan dengan kebencian, lukisan itu kini masuk ke dalam bak sampah. “Rasakan! Dasar tidak tahu diri!” gerutunya kesal. “Tapi, wajahnya sangat tampan. Aku selalu saja merindukannya. Bagaimana mungkin aku akan melupakan dia yang terlalu sempurna. Pandangan mata bulatnya membuatku tidak berkutik jika memandang. Pangeranku …” Natalie merebahkan tubuhnya di ranjang. Kedua mata hitam dengan bulu mata lentik melengkung, memejam untuk berusaha menenangkan dirinya. “Kenapa? Kenapa … kini kau kembali?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN