Tidak Menyangka

1116 Kata
Senyuman puas terpancar di wajah Samuel selepas menemui Dady, kemudian memberikan lima kontrak film untuknya. Dia bersama kedua pengawal Jovanka segera melesat menuju sebuah rumah mewah yang menjadi kantor Dady untuk mengorbitkan semua artisnya menjadi terkenal. Samuel melakukan itu setelah mengantar Sultan kembali ke rumah megahnya Kingdom Abraham. Kedatangan Samuel bersama kedua sosok tidak jauh beda darinya, tentu saja membuat Dady tercengang. Kedua mata Dady mencuat seperti boneka panda, semakin melotot melihat tiga laki-laki bertubuh tegak, kekar, seperti simbol pohon beringin yang berarti terkuat, berdiri tajam menatap ke arahnya. “Apa … mau ka-li-an?” tanyanya tegang. “Lima kontrak film ini akan menjadi milikmu. Namamu juga akan berada di dalam daftar sutradara terbaik saat penghargaan itu berlangsung, jika berhasil membuat putrimu mau bekerja di perusahaan Abraham besok,” balas Samuel. Lima dokumen kontrak film terbaik di dunia Samuel sodorkan kepada Dady. Dady menyunggingkan senyum melihat semua judul film impiannya memenuhi ruang mata yang sudah berbinar. Napasnya menghembus panjang menekan emosi gembira yang sebenarnya akan meledak. Dengan bergetar, Dady menerimanya. Dia sejenak masih mengatur perasaannya. Tanpa berpikir panjang, tangannya menyambar ponsel di atas meja. “Aku akan segera menghubungi Nat.” Dady dengan cepat melakukan apa yang Samuel katakan dan berhasil melaksanakannya sangat mudah. “Semua, sudah beres.” Dady mengambil lima dokumen kontrak film dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya. Dia memeluknya sambil tertawa bahagia. “Hahaha, aku akan sangat terkenal. Kau memang hebat, Nat!”  Tanpa berbicara lagi, Samuel diikuti pengawal Jovanka pergi berlalu saat keperluannya sudah selesai. Batinnya tersenyum puas. Dia menatap ponsel, menghubungi Jovanka untuk memberi kabar baik untuknya. “Semua sudah saya atur, Nyonya.” “Bagus.” *** Di dalam kamar, Natalie mempersiapkan hati dan dirinya sepanjang hari hingga menjelang malam. Dia berjalan mondar-mandir memikirkan apakah dia akan ke sana? Sebuah perusahaan megah milik kekasihnya. Atau, tidak! “Apa yang harus aku lakukan? Dia meninggalkanku, sekarang akan bertemu denganku?” gumamnya masih diam berdiri. Tangannya bergerak di atas meja sambil menyorot bak sampah di mana lukisan Sultan kini berada tenang di sana. Pikirannya memutar keras untuk berpikir atas tindakannya. “Baiklah, besok kita akan bertemu lagi, kekasihku,” gumamnya dengan tatapan kerinduan yang menyiksanya selama tujuh tahun. Selama itu Natalie tidak pernah menjalin kasih dengan siapapun. Semua pria selalu saja ditolaknya. Dibalik wajahnya yang selalu tersenyum, selalu tersembunyi kesedihan akan sosok Sultan yang mengusik hatinya. Kini dia memutuskan untuk menguatkan hatinya bertemu kekasih yang sudah lama menghilang begitu saja. “Aku merindukanmu,” ucapnya pelan dengan wajah sendu. Di atas ranjang berhiaskan seprei pink berbunga, Natalie merentangkan tangannya, masih melamunkan Sultan. “Aku mencintaimu, sangat … mencintaimu, Sultan,” batin Natalie terus terucap hingga akhirnya tidur terlelap. *** Sinar matahari sudah sangat gagah menyinari bumi. Cahayanya mulai menyapa mesra wajah Natalie yang masuk melalui celah jendela. Kedua matanya perlahan-lahan terbangun. “Waktunya tiba!” Natalie masuk ke dalam kamar mandi yang dia anggap sebagai surganya wanita. Di sana dia bisa merawat dirinya untuk lebih cantik. Air hangat dalam bath up dia nyalakan. Natalie menuangkan larutan sabun mandi bermerk yang mengesatkan kulit dengan aroma harum semerbak bunga lavender. Tubuhnya kini terendam. Dia membasahi rambutnya yang berombak. “Aku akan berdandan sangat cantik untuk membuatnya terkejut dan bersujud memohon maaf kepadaku. Dasar laki-laki sombong, angkuh, berengsek!” umpatan kembali terucap dari mulutnya. Tanda luapan kebencian kepada Sultan. Blazer terbaik berwarna pink kini sudah membuatnya sangat seksi sempurna. Di depan cermin, dia siap akan merias wajahnya. “Baiklah, aku akan memolesmu, wajahku.” Lipstik merah dengan aroma permen, telah menghiasi bibir seksinya. Perona pipi kemerahan membuatnya semakin tirus. Dia mengambil topi bulat merah yang disebut Cartwheel Hat. Topi kesukaannya yang biasa dipakai para wanita bangsawan di Inggris. “Baiklah, sentuhan terakhir.” Natalie mengenakan kalung Canary Diamond, berlian kuning yang semakin membuat leher putihnya terlihat menawan. "Show time!" Dia tersenyum percaya diri, memandang dirinya sendiri yang sudah terlihat sempurna. Seraya menjinjing tas merah berbentuk kotak seukuran buku dengan merk terkenal, dia keluar kamar menuju parkiran mobil. Natalie menyalakan alarm mobil VW kuning miliknya, segera masuk duduk di kursi kemudi. Dia menegakkan tubuh, mulai menyalakan mesin mobil. Kedua matanya menatap tajam lurus ke depan, segera menekan pedal gas menuju perusahaan Sultan. “Kita akan segera bertemu kembali, kekasih berengsekku!" *** Di perusahaan megah milik Adelard Abraham sudah dipenuhi awak media sejak dini hari. Semua wartawan ingin mengetahui kondisi terakhir Sultan. Semua wartawan itu bersiap mengambil gambar. Mereka berlari mendekati mobil hingga membuat Samuel geram. Tanpa Sultan tahu, pandangan tajam menusuk sebuah mobil yang melintas tidak jauh dari posisinya. Di depan kemudi, sorot netra itu tidak melepas dari sosok yang akhirnya keluar dari mobil dengan dikerumuni para wartawan. Sesaat, wajahnya yang tegang, tersenyum puas seketika. Sosok yang sangat membuatnya terobsesi, kini bisa dia lihat lagi. “Kau, sangat tampan. Aku selalu saja menginginkanmu,” gumamnya dengan kekehan yang kini semakin lepas. “Baumu sangat harum hingga menusuk hidungku. Memainkanmu, adalah seni bagiku. Teriakanmu, alunan musik indah. Aku akan mendapatkanmu kembali, Tuan Muda,” batinnya bercampur tawaan keras menyeruak bersama semilir udara. Kini dia menutup kaca mobil, melesatkan mobilnya untuk berlalu. *** Perusahaan multifungsional Abraham Group memiliki banyak unit usaha yang memperkerjakan ribuan orang dalam berbagai industri. Yang paling populer adalah pusat perbelanjaan bernama Brand World dengan gedung tertinggi di antara gedung lainnya di Paris. Di dalamnya terdapat brand merk terkenal yang bekerja sama dengan Bos Besar dari seluruh dunia. Bisnisnya terpusat di Eropa terutama Paris, dan Venesia. Bos Besar juga sangat berhasil melanjutkan bisnis mendiang istrinya Shufaka di Dubai. Dia sering bepergian ke sana untuk meninjau semuanya. Bos Besar memiliki sebuah gedung khusus yang ditempati semua ratusan pengawalnya. Kantor itu bernama Bodyguard Abraham. “Tuan Muda Sultan, bagaimana kondisi Anda?” Salah satu wartawan memaksa untuk mendekat saat Sultan keluar dari mobilnya. Samuel dengan sigap melindungi Sultan yang akhirnya bisa menerobos semua wartawan yang menyerang dengan kilatan lampu kamera. “Jika kau tidak membuat semua wartawan itu pergi, aku akan memecat seratus karyawan tanpa alasan saat ini juga!” ancam Sultan kepada Samuel yang segera mengarahkan tangannya. Semua pengawal mendekat dalam sekejap. “Usir semua wartawan itu!” “Baik.” Pandangan tajam, dingin, Sultan perlihatkan kepada semua karyawan yang menunduk seketika saat dia melewati mereka. Sultan melangkah cepat masuk ke dalam lift menuju lantai dua puluh lima di mana ruangannya berada. Samuel terus mengikuti Sultan melangkah untuk segera memasuki ruangan luas serba hitam yang menjadi warna favoritnya. Tanpa berbicara, Sultan duduk di kursi berbahan kulit tempatnya bersandar saat bekerja sepanjang hari. Dia menatap Samuel yang menunjukkan sebuah map biru di atas meja kerjanya. Tanpa bertanya, lima jemari panjang kanan disusul kiri, segera bergerak membuka dokumen itu. Kedua mata Tuan Muda melotot tajam melihat isi di dalamnya. “Natalie?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN