Di depan pintu masuk perusahaan, mobil VW kuning telah terparkir dengan baik. Natalie keluar dari mobil sambil mendongakkan kepalanya menatap kemegahan gedung bertingkat terbesar di Kota Paris yang dikelilingi kaca. Natalie kembali menata blazer dan rok pendeknya.
“Kuatkan hatimu, Nat!” gumamnya pelan. Kaki mulus dengan heels hitam sepuluh sentimeter, segera berjalan untuk masuk. Sekretaris yang sudah menunggunya atas perintah Samuel, segera menghampiri setelah melihat foto Natalie yang diberikan kepadanya.
“Nona, Natalie Leteshia?”
“Yah, itu aku. Panggil aku, Nat!”
“Baiklah Nona Nat, ikuti aku!” Natalie masih saja mengatur jantungnya yang berdetak kencang, mengikuti sekretaris jangkung yang memiliki tinggi lebih dari 175 cm, dengan anggun berjalan menuju pintu lift. Dia menekan lantai dua puluh lima, di mana ruangan Sultan berada.
“Jantungku benar-benar berdetak kencang. Kuatkan dirimu, Nat,” batinnya pelan
Pintu lift terbuka, membuat Natalie semakin bergetar. Apalagi sekretaris itu sudah membawanya berada di depan pintu kokoh berwarna hitam dengan ukuran sangat lebar berbeda dengan pintu pada umumnya.
“Tuan Muda Sultan sudah siap menemui Anda. Silahkan!”
Natalie semakin percaya diri dengan dirinya walaupun jantungnya berdetak semakin cepat dari sebelumnya. Namun, “Buk!”
“Argh!”
***
Sebelum Natalie masuk ke ruangannya, Sultan menatap Samuel tidak percaya. Ia segera berdiri dan mengeluarkan kekesalannya. Suara keras dari mulutnya seketika terarah kepada pengawal setia berjas itu yang hanya diam kaku menerima.
“Sam! Kau sangat tahu jika aku tidak mau menemuinya. Dia … dia menghianatiku, Sam. Bahkan kau juga tahu itu. Hanya kau yang mengetahui semuanya. Ini tidak boleh terbongkar, dengan siapapun! Martabatku adalah taruhannya!”
“Brak!” Hentakan keras terdengar saat tangan kanan milik Sultan memukul permukaan meja untuk meluapkan kebenciannya.
Samuel hanya berdiri menatapnya, berpikir memberikan alasan yang tepat sesuai perintah Jovanka. “Tuan Muda Sultan, perusahaan membutuhkan sekretaris untuk Anda. Hanya Nona Nat yang memenuhi syarat dari sekian pelamar.” Sultan mengernyit, mendengarkan penjelasan Samuel.
“Kau pikir aku bodoh?” jawabnya ketus.
“Tuan, baiklah. Aku bersama Nyonya Jovanka menginginkan Nona Nat datang agar bisa menemani Anda. Aku jamin jika dia tidak akan mengetahui masa lalu Anda. Tapi, sepertinya Nona Nat tidak berhianat kepada Anda, Tuan Muda Sultan,” tegas Samuel. Dia masih menunduk.
“Kau tahu, Sam! Kedua mataku melihatnya dengan jelas, apa yang sudah dia lakukan dengannya, Sam.” Sultan menyandarkan punggungnya di kursi sambil menarik napas menekan emosinya.
“Anda bisa menanyakan alasan itu saat bertemu dengannya, Tuan Muda.”
Samuel membuat jantung Sultan berpacu lebih kencang dan ujung jemarinya mulai bergerak-gerak sendiri di atas meja. Reaksi yang timbul seketika mendengar ucapan Samuel.
“Tapi, bagaimana jika dia bertanya kenapa aku meninggalkannya? Aku sangat kecewa dengan semua yang dekat denganku, Sam. Dan aku, membencinya!” Sultan kembali menatap tajam Samuel yang kini mengangkat wajahnya.
“Berikanlah Nona Nat kesempatan untuk menjelaskannya, Tuan Muda. Untuk alasan Anda kenapa meninggalkan Nona Nat, Anda bisa berpura-pura tidak mengenalnya. Atau, hilang ingatan. Mungkin itu adalah satu-satunya jalan yang bisa Anda lakukan, Tuan Muda.” Samuel mengangkat kedua tangannya. Kali ini dia memandang langsung wajah Sultan.
Sultan terdiam menatap tajam Samuel beberapa menit. Tangannya melambai agar pengawal setianya yang masih diam dalam posisi tegak mendekat. Sebuah bisikan rencana membuat telinga Samuel bergetar. Namun, dia bisa menarik napas lega melihat Sultan menyetujui rencananya dengan Jovanka.
“Baik, Tuan Muda,” balas Samuel.
“Keluarlah, dan segera lakukan perintahku. Aku akan menunggunya.”
Samuel menganggukkan kepalanya, berjalan meninggalkan ruangan Sultan untuk melakukan perintahnya. Sultan duduk dengan tegang di kursinya menunggu kedatangan Natalie. Suara ketukan pintu semakin membuat jantungnya lebih berpacu.
“Tok, tok.”
“Kita akan bertemu lagi, Natalie,” gumam Sultan. Dia mengeratkan semua jarinya hingga bersatu di atas meja. Pandangan dingin dia persiapkan untuk menyambut kedatangan wanita yang sangat menyakiti perasaannya.
“Masuklah!”
Sultan mengangkat wajahnya dengan kedua mata yang melebar. Pandangan itu seketika buyar saat dia melihat Natalie masuk tersandung lipatan karpet dan tersungkur.
“Buk!”
“Argh!”
Raut muka Natalie menunjukkan malu. “Kenapa aku sampai tersungkur?” gumamnya masih setia menatap lantai. Kedua mata hitam mungil itu melotot, mendadak melihat sepatu pantofel hitam mengkilap berjalan, lalu berhenti tepat di hadapannya.
“Berdiri!”
“Kenapa dia tidak mau membantuku?” batinnya geram.
“Kau mau tidur di sana?”
Sepatu mewah, mahal, yang membuat perhatian Natalie tersorot, membalik untuk melangkah kembali menuju kursi kerja tempatnya awal mula.
“Aku bilang, berdiri!”
“Berengsek, dia tidak membantuku,” gumam Natalie semakin kesal. Niatnya untuk berdiri sudah bulat. Dia mengurutkan kakinya yang sedikit sakit. Kedua tangannya menepuk-nepuk blazernya yang sangat berantakan. Topi yang terlepas dia tata kembali di kepalanya.
“Sepatuku …,” lirihnya saat mengetahui sepatu kesayangannya lecet. Natalie memakainya kembali dengan wajah cemberut. Kini dia siap untuk meluapkan emosinya. Napas yang sedikit sesak, dia atur dengan baik.
“Huh.”
“Kau, tidak tahu diri!” Caci maki seketika terhenti. Tatapan yang sangat dirindukan terlihat semakin jelas. Kelopak mata Natalie membuka dan bibirnya melepas senyum lemas. “Sultan,” ucapnya pelan, saat dia mendadak membalikkan tubuhnya menghadap Sultan.
“Kenapa dia sangat tampan? Bibirnya merah, seksi, merekah seperti bunga mawar yang siap dipetik. Rambutnya hitam berkilau terlihat sangat pas, semakin membuatnya terlihat sempurna. d**a itu sangat kekar. Pundak rata itu gagah. Aku ingin memeluknya. Tapi, dia sudah meninggalkanku. Huh, aku sangat menderita,” batin Natalie menatap Sultan tanpa malu sambil tersenyum sendiri. Selama tujuh tahun, dia hanya menatap wajah Sultan di dalam lukisan. Kini dia bisa melihatnya dengan nyata.
“Aku sangat merindukannya,” gumamnya pelan. Senyuman terang-terangan masih Natalie perlihatkan dengan wajah bersemu merah.
“Kenapa, tidak pernah melihat pria tampan?” tanya Sultan terdengar keras. Tidak dipungkiri Sultan juga terpana dengan kecantikan Natalie yang sangat luar biasa. Wajah secerah awan putih bersih, bagaikan bidadari yang selalu membuat Sultan bahagia jika menatapnya. Namun, untuk sesaat Sultan berpikir dia harus mengatasi rasa itu.
“Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapannya. Dia sudah menghianatiku,” batinnya memupuskan rasa getaran.
“Dia memang sangat tampan. Argh!” teriak Natalie tiba-tiba membuat Sultan tersentak berpegangan pada ujung mejanya sambil menggeleng.
“Kamu mau aku pecat!” ancam Sultan. Dia kembali memasang wajah kaku.
“Hah, pecat?”
Lamunan Natalie teralihkan dengan ancaman Sultan. Dia melangkah cepat duduk tepat di hadapan Sultan sambil tersenyum.
“Jangan dipecat. Nanti aku bangkrut menjadi gelandangan,” balas Natalie meringis.
“Apa urusannya denganku?” Kedua alis yang mengkerut, masih saja terlihat di wajah tampan Sultan. Natalie mendadak menyipitkan kedua matanya. Sultan seketika memalingkan pandangannya. Dia masih saja mengatur jantungnya yang terus berdetak kencang.
“Dasar!” ucap Natalie menahan hatinya yang kaku seketika.
“Kau mau bilang apa? Lanjutkan!” Kini pandangannya kembali menyorot tajam.
“Anda sangat baik dan aku berterima kasih,” jawab Natalie tersenyum.
“Jangan tersenyum! Aku tidak suka melihatnya!” tegas Sultan sedikit menghentakkan tangannya di atas meja.
Natalie sontak melotot mendengarkan permintaan Sultan yang mustahil dia lakukan. “Tidak bisa! Jika aku tidak tersenyum, nanti aku jelek,” ucapnya cemberut.
“Aku bilang tidak, ya tidak!” tegas Sultan sekali lagi. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi terus mengatur napasnya. Jantung Sultan yang terus berdebar, sebenarnya sangat susah dia tahan.
“Nyebelin,” balas Natalie pelan.
“Apa?” Suara lantang kembali keluar, membuat Natalie akhirnya menurut.
“Eh, iya. Aku tidak akan tersenyum.” Natalie merapatkan bibirnya. “Dia kenapa sepertinya tidak mengingatku? Baiklah, aku akan berusaha tidak mengingatnya juga. Berengsek!” batinnya kesal namun masih memandang Sultan tanpa malu. Kedua matanya tidak berpaling sama sekali dari wajah Sultan yang semakin tampan.
“Tampan ...,” gumamnya tanpa malu dengan wajah terkagum-kagum.
Sultan berusaha tidak menanggapi Natalie. Dia selalu menatap ke arah lain. Hatinya juga berdetak kencang. Natalie adalah wanita yang sangat menyakiti hatinya. Sepanjang hari di sebuah vila Venesia, Sultan menyendiri selama tujuh tahun memendam perasaan trauma dan kebenciannya kepada Natalie. Selama itu, Sultan hanya diam berusaha mengatasi semuanya. Hingga saat ini dia dipertemukan dengan wanita yang menyiksa batinnya kembali.
“Duduk di sofa itu, dan diam di sana!” Telunjuk kanan Sultan dengan tegas menuju sofa di dalam ruangannya, namun pandangannya masih menunduk.
“Apa?” Spontan Natalie menoleh singkat di kursi mewah yang dimaksud Sultan, kemudian kembali memandang wajah Sultan. Dia tidak mengerti dengan perintah Sultan.
“Apa aku harus mengulangi perkataanku?” Sultan masih saja menunjukkan jarinya, namun Natalie masih diam tidak beranjak.
“Tapi, kapan wawancaranya? Apa aku sudah diterima?” tanya Natalie mengedipkan matanya.
“Kau sudah diterima. Tapi, duduk di sana!” Kali ini Sultan berdiri dari duduknya, mengangkat wajahnya yang kaku, agar Natalie tidak banyak bertanya.
“Kenapa hanya duduk?” Natalie akhirnya berdiri. Dia memandang wajah Sultan dengan serius agar menjelaskan pekerjaannya.
“Diam! Jangan banyak tanya! Di sini, aku yang berkuasa. Jadi, kau turuti perintahku. Duduk di sana sekarang juga! Itu adalah pekerjaanmu!” tegas Sultan. Dia terus menunjukkan jari telunjuk kanannya ke arah sofa bersama pandangan tajam membuat Natalie diam seperti patung.
“Tidak mungkin!”