“Pekerjaan aneh,” gerutu Natalie. Dia tidak segera menuju sofa, malah menatap Sultan yang sibuk memeriksa laporan perusahaannya di lap top.
“Kenapa tidak segera melakukan perintahku?” tanya Sultan kesal. Dia kini memandang Natalie dengan mengernyit, dan menghentikan jarinya yang semula menekan keyboard.
Natalie mengangkat kedua tangan hingga tepat di mulutnya. Dia menyatukan jarinya yang super lentik, kemudian menggerakkannya cepat. Hembusan napas dia atur dengan baik. Kedua matanya mengernyit, membalas tatapan Sultan yang melihatnya bertingkah aneh. Mulutnya menyamping kiri, kemudian kanan, membuat dirinya lebih tenang menghadapi sikap ketus Sultan yang tidak dia sangka sama sekali.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Sultan kaku. Dia tidak menyangka melihat kekonyolan Natalie untuk menenangkan hatinya yang super kesal.
“Kau tidak tahu? Hah, tentu saja kau laki-laki pelupa. Kekasihnya saja dilupakan. Hahaha, menggelikan. Itu adalah senam wajah agar kita bisa segar kembali. Mau aku ajari, Tuan Muda?” katanya manja dengan kedua mata yang mengedip.
Sultan duduk tegak kaku, menahan tawa yang sebenarnya sudah lama dia rindukan. Tapi itu semua harus dia tahan.
“Rayuanmu tidak mempan. Cewek genit! Apa kamu selalu melakukan itu dengan semua pria?” tanya Sultan memaksa.
“Penasaran?” balas Natalie dengan suara membisik.
“Jadi benar, kau melakukannya dengan semua pria?” Kepastian yang Sultan inginkan, tapi masih tidak mendapat jawaban dari Natalie.
“Hmm, bagaimana ya?” balasnya santai. “Bibirku gatal,” rengek Natalie manja.
Sultan bergeming. Dia menelan salivanya saat Natalie menggigit bibir seksi kemerahan beraroma permen, siap dijilat. Apalagi Natalie sedikit mengeluarkan lidah membasahi permukaan bibirnya.
“Hentikan!” Sultan menggeleng. Tubuhnya sedikit bergerak untuk mengendurkan ototnya yang tegang. Napas segera dia atur dengan baik. Sultan berusaha menyembunyikan perasaannya. “Kenapa dia melakukan itu? Menyebalkan,” batinnya.
Natalie semakin tersenyum menggoda, mengangkat salah satu alisnya. Dia semakin bersemangat untuk membuat Sultan semakin cemburu. “Tentu saja, aku selalu menggoda semua pria. Aku single, dan tidak punya kekasih. Hmm, dulu aku mempunyai kekasih. Tapi, dia meninggalkanku begitu saja. Kau tahu aku memanggilnya apa?” Tatapan tajam Natalie membuat Sultan berdegup.
“Kau memanggilnya apa?” Rasa penasaran semakin menghantui hati Sultan, walaupun dia mengetahui itu ditujukan untuknya.
“Kekasih berengsekku,” bisik Natalie.
Sultan menarik napas, terkesiap menerima julukan yang diberikan Natalie untuknya. Namun, kecemburuan tetap melekat di hatinya.
“Sudahlah, duduk di sana! Itulah pekerjaanmu, hanya duduk di sana!”
“Di mana?” rengek Natalie.
“Sofa itu!” jawab Tuan Muda semakin tegas.
“Sebel! Pekerjaan aneh!”
Dengan wajah semakin kesal, Natalie menghentakkan kakinya kemudian berjalan menuju sofa di tengah ruangan Sultan yang berwarna hitam diselimuti bahan kulit sintetis mahal dan mengkilap. Dia duduk sambil menikmati keempukan sofa itu yang membuatnya menguap seketika.
“Huaaf.”
“Bagaimana bisa aku menahan rasa kantukku, jika duduk di sofa empuk ini? Apalagi dengan dinginnya ruangan ini. Ngantuk banget. Pekerjaan sangat aneh yang aku terima. Hmm … aku tidak mengerti,” gerutunya duduk bersedekap terus menatap sosok yang kini ada di hadapannya dengan tanpa malu. “Dia masih saja tampan.” Gigi putihnya terus terlihat dengan wajah bersemu.
“Huaaf.”
Natalie berusaha membuka kedua matanya agar tidak tertidur. Dia terus menggelengkan kepalanya saat ingin segera terpejam. “Hah, menyebalkan. Aku ngantuk,” gumamnya terus menguap sambil mengamati Sultan menandatangani semua dokumen yang diberikan sekretarisnya.
“Tidak!” teriak Natalie saat melihat sekretaris itu mendekat, sedikit menyentuh tangan Sultan.
“Tidak boleh!” ucapnya spontan. Dia mengulurkan tangan kanannya sambil berdiri.
"Apa maksudmu?" tanya Sultan terperangah melihat reaksi Natalie.
"Hmm, jangan! Itu tangannya, tidak boleh pegang!" jawabnya tegas. Natalie menggelengkan kepala dengan cemberut.
“Aku cemburu!” katanya sedikit berteriak, namun tidak mendapat respon dari Sultan yang masih sibuk memeriksa dokumen.
Sultan mengarahkan tangannya agar sekretaris itu segera keluar dari ruangannya. Dia membenarkan dasi, sedikit melonggarkannya. Kedua mata Natalie seketika membelalang saat leher Sultan terlihat dengan jelas.
“Leher itu, seksi …,” lirihnya ingin tersenyum. Namun, dia segera menutup mulutnya.
“Kamu mau tersenyum?”
“Tidak!” bantah Natalie mendaratkan tubuhnya kembali di sofa.
“Tok, tok!”
Suara ketukan kembali terdengar. “Masuklah!” teriak Sultan.
Samuel masuk bersama dengan koki terkenal membawa sebuah nampan diletakkan di atas meja tepat di hadapan Natalie. Bola matanya terbelalak saat melihat steak kesukaannya. Natalie segera memeriksa jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Dia tanpa sadar, sudah berada di dalam ruangan Sultan sangat lama, hingga menunjukkan jam makan siang.
“Glek!”
Natalie menelan salivanya. Dia tidak percaya jika steak yang membuatnya sedih, kini bisa dia lihat lagi. Sultan bersama Natalie selalu saja memakan daging mahal itu di restaurant kesukaan mereka saat berkencan. Dia selalu saja menangis jika mengingatnya. Hingga dia tidak pernah menyantapnya lagi untuk melupakan kebahagiaan itu.
“Steak, dengan harga sepuluh juta per porsi ada di hadapanku? Argh!” teriak Natalie membuat Sultan dan Samuel ingin terperanjat. Sultan hanya menggeleng, kembali melirik Samuel agar dia keluar bersama koki dari ruangannya.
“Pergilah, Sam!” perintah Sultan membuat Natalie menengok seketika. Dia tidak percaya melihat Samuel yang sudah lama tidak ditemuinya, kini ada di dalam ruangan.
“Samuel, apa kau masih ingat denganku?” tanya Natalie membuat Samuel mengangguk. Sorotan tajam Sultan, membuat pengawal setia itu bergegas berjalan menuju luar ruangan. Pucuk bibir Natalie terangkat. Sambil bersedekap, dia kembali memalingkan wajahnya. Ekspresi spontan Natalie saat melihat aksi Sultan.
“Bahkan Sam dia larang menyapaku. Menyebalkan,” batinnya kesal. Pikiran Natalie kembali teralihkan melihat daging berlumur aroma saos barbeque yang menyengat menyerang penciumannya.
“Sangat lezat.”
Sultan termangu dengan tingkah konyol Natalie. Dia akhirnya sedikit tersenyum sambil menggeleng. Sultan berdiri membenarkan jasnya yang sedikit berantakan, kemudian memutuskan untuk mendekati Natalie. Kakinya melangkah perlahan menuju sofa, duduk mendekati wanita yang sebenarnya sangat dia rindukan.
“Apa yang kau lakukan?” Sultan menggeleng melihat Natalie masih menganga sambil memainkan lidahnya di depan makanan kesukaannya yang sudah lama tidak dia nikmati.
“Makan!” pinta Sultan yang membuat Natalie terperanjat. Tanpa dia sadari, orang yang sangat dicintainya berada tepat di sebelahnya hanya berjarak beberapa senti. Natalie seketika mundur dan memalingkan wajah.
“Kenapa dia masih saja tampan? Aku selalu saja tergila-gila kepadanya, walaupun hatiku merana karena dirinya. Bayangan wajah sempurna itu selalu saja terbenak di kepala. Hatiku melemah seketika memandangnya. Rasa sakitku seakan lupa, saat sorot mata tegas itu menatapku. Kekasihku ...,” gumamnya pelan perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap Sultan dengan bersemu.
Sultan masih berusaha mengatur hatinya seolah-olah tidak mendengar ucapan Natalie. “Makan!”
“Makan kamu?” balas Natalie tanpa sadar.
“Steak!” tegas Sultan kembali melotot.
Natalie tersadar dari lamunannya akibat suara keras Sultan. Kepalanya spontan menggeleng untuk memusatkan pikirannya agar kembali normal.
“Tidak! Maafkan aku, Tuan Muda. Tubuhku sudah tidak menerima makanan berlemak. Aku harus mempertahankan tubuh seksiku ini. Terima kasih.”
“Aku memesannya khusus untukmu! Kau harus memakannya, dan itu perintah!” Sultan terkejut melihat Natalie menolaknya.
“Aku tahu …,” batin Natalie sekali lagi dengan wajah memelas. Dia memandang steak lezat yang membuat dirinya menelan saliva berkali-kali.
“Makanlah! Melamun saja.”
“Tidak. Aku sudah membeli makanan saat berangkat tadi, dan makanan tanpa lemak sangat bagus buatku.” Natalie membuka tas hitam berisi makanan khas Jepang bernama susi, yang terbuat dari beberapa sayuran bercampur ikan laut. Makanan yang kini menjadi kesukaannya.
“Apa itu?” tanya Sultan semakin mendekati Natalie yang sontak menjadi kaku karena wajah laki-laki impiannya semakin mendekat.
“Bibir …,” lirih Natalie saat bibir kemerahan milik Sultan sangat jelas terlihat memenuhi ruang matanya.
“Apa?”
“Eh, maksud aku, ini makananku, dan hanya aku yang boleh memakannya,” jawab Natalie sambil mengatur napasnya agar bisa menjadi waras kembali.
“Aku sudah tidak waras dengan ketampanannya,” gumam Natalie pelan. Sultan hanya sedikit melirik berpura-pura tidak mendengar ucapan Natalie yang jelas-jelas dia dengar. Dia kembali berdiri, berjalan cepat untuk duduk kembali di kursi kerjanya. Jantung Sultan semakin berpacu melihat wajah Natalie dari dekat.
“Aku harus menahannya,” batin Sultan kembali mengatur dirinya agar terlihat biasa.
“Kemarilah, Nat!”
Natalie meletakkan susi di atas meja sambil mengernyit. Dia berjalan, duduk di hadapan Sultan. “Ambil susi itu!” perintah Sultan membuat Natalie kaku, kemudian menghembuskan napas hingga tubuhnya membungkuk.
“Apa? Jadi, aku harus berjalan ke sofa itu, dan menuju ke sini lagi?” tanya Natalie menunjukkan jari lentiknya ke arah sofa dengan punggungnya yang sudah tersandar lemas di kursi.
“Apa aku harus mengulanginya?”
“Kenapa tidak sekalian?” tanyanya lemas bercampur kesal.
Natalie menarik napas berusaha sabar mengatasi sikap Sultan. “Berengsek, aku benci! Kenapa tidak dari tadi menyuruhnya? Sialan!” batinnya berteriak melirik Sultan yang masih menatap tajam sambil berjalan menuju sofa.
“Baiklah, aku akan tenang menghadapinya. Kenapa dia tidak ingat kepadaku? Apakah dia hilang ingatan?” gumamnya. Dia berdiri, menyerang pandangan Sultan sambil menjulurkan lidahnya.
"Aku melihatnya, Nat."
Natalie masih memperlihatkan wajah kaku. Dia mengambil susi di atas meja, lalu melangkah kembali duduk di hadapan Sultan.
“Buka!”
“Sudah, hehe,” jawabnya sedikit tersenyum.
“Siapa menyuruhmu tersenyum?”
“Mmm.” Natalie kembali merapatkan bibirnya.
“Suapi!” pinta Sultan mendadak membuat Natalie melongo tidak percaya.
"Baiklah."
Natalie membuka sendok yang terbungkus plastik. Dia mulai mengambil susi, menyodorkan ke mulut Sultan. Natalie tidak hentinya menatap bibir Sultan yang sangat merah bergerak mengunyah susi yang dia berikan.
“Bibir itu, semakin membuatku lapar. Aku ingin menjadi susinya,” batinnya.
Wajah cantik seperti boneka itu menganga melihat Sultan sambil tersenyum sendiri. Dengan kecepatan meningkat, Natalie menyendokkan suap demi suap susi itu sampai tidak tersisa.
“Kenapa seperti itu?” tanya Sultan menahan tangan Natalie.
“Deg, deg!”
“Jantungku, uratku, kulitku, bergetar seketika. Setelah tujuh tahun, dia menyentuhku. Arghhhhhh!” pekikan Natalie kembali membuat Sultan terkejut. Dia hampir memecahkan kotak susi yang berada di hadapannya.
“Nat, kenapa kau tidak pernah berubah? Kau selalu saja berteriak sampai membuatku terkejut. Sudah, tidak perlu menyuapi lagi!” Tanpa sengaja Sultan mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan Natalie.
“Kau mengingatku? Yah, aku selalu berteriak dan kau selalu saja tertawa. Lalu, agar aku tidak melakukan hal itu lagi, kau menciumku. Mau …,” ucapnya pelan. Natalie memejamkan kedua mata, sedikit menegakkan tubuh, lalu memajukan bibirnya ke arah Sultan yang semakin melotot melihat kelakuan aneh Natalie yang menggelikannya. Namun, itu semua tetap dia tahan.
“Kau siapa? Aku tidak kenal!” jawab Sultan ketus.
“Jadi kau tidak mengingatnya?” tanya Natalie sekali lagi memastikan. Sultan menggeleng. Natalie berdiri lemas, bersiap berjalan kembali menuju sofa.
“Siapa yang memerintahkan kamu berdiri? Duduk!”
Lirikan pasrah, terus Natalie berikan kepada Sultan. Dia menata tubuhnya, duduk kembali dengan tegak.
“Sudah," jawabnya sambil merengek.
“Baiklah, kembali sana!” perintah santai Sultan, semakin membuat Natalie melongo. Kedua matanya memperlihatkan protes.
“Ke mana?” tanya Natalie mengangkat kedua tangannya.
“Sofa itu!” pinta Sultan melotot.
“Kenapa tidak dari tadi, Tuan Muda Sultan?” protes Natalie gemas hingga kedua tangannya mengepal.
“Yang menentukan kamu duduk, berjalan, berdiri, adalah aku!” tegas Sultan mendapat tatapan kesal dari Natalie. Kakinya sengaja dihentakkan hingga heels sepuluh senti itu berbunyi keras ketika menyentuh lantai sampai dia kembali duduk kursi sofa.
“Satu lagi, panggil aku Bos!”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau kau memanggilku sama dengan mereka semua. Ingat, panggil aku Bos!”
Natalie semakin pasrah dengan sikap Sultan. Namun, satu lagi yang membuatnya sangat lemas, “Kriuk!” Suara perutnya yang keroncongan.
“Lapar …,” lirihnya.
“Makan saja!”
Natalie masih memalingkan wajahnya. Hingga dia berpikir. “Aku lapar. Maafkan perut indahku,” gumamnya. Dalam sekejab dia menghabiskan semua steak kesukaannya.
“Hah, kenyang.” Natalie mengelus-elus perutnya yang sudah sangat penuh. Dia merebahkan tubuhnya. Kedua matanya tidak bisa lagi terbuka akibat kekenyangan. Natalie akhirnya terlelap dalam sekejap.
“Di mana aku?”
Dalam tidurnya, Natalie bermimpi berada di hamparan rumput hijau sangat indah dengan berbagai macam jenis bunga berwarna-warni. Dia terdiam dan mengamati semua arah. Seketika dia terkejut saat bayangan sosok mirip Sultan tiba-tiba berada di hadapannya, membelai wajahnya dengan lembut.
“Aku merindukanmu, Putri.”