Bisikan pelan terdengar di telinga Natalie, membuatnya bahagia walau dalam mimpi. Bayangan itu sudah mencium bibirnya. Dengan tersenyum bahagia, Natalie menerima hangatnya bibir yang sudah lama dia rindukan. Ciuman yang selama tujuh tahun selalu ditunggunya
Bibir Natalie menikmati permainan bibir yang membuatnya melayang. Perlahan, mulutnya terbuka menerima lidah yang melesak masuk ke dalam, mengabsen giginya satu–persatu. Ciuman yang semakin dalam, membuat hati Natalie terbuai. Dia terus menikmatinya, hingga bibir itu mendadak terlepas.
“Hah!”
Natalie terbangun mendadak, segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Ciuman itu seperti nyata, dan aku merasakannya. Tapi … itu hanya mimpi,” gumamnya lemas. Hingga dia mengingat sesuatu yang kembali membuatnya sontak berdiri. “Hah, aku tertidur, dan pastinya …”
“Jangan berteriak!” cegah Sultan seketika.
“Bos, aku mendengkur tidak?” Natalie sangat resah jika kebiasaannya mendengkur keras saat tertidur, akan terdengar.
“Yah, suaramu itu sangat menggangguku,” jawab singkat Sultan membuat Natalie semakin lemas. Mendengkur adalah salah satu kelemahan yang dia punya.
“Aku benar-benar mendengkur.” Hatinya masih kesal. Pandangan tajam tidak teralihkan dari wajah Sultan. “Tidak aku percaya akan seperti ini. Bertemu dengan laki-laki yang aku tunggu pertama kalinya, tapi aku terlihat buruk. Dia pasti menertawakanku saat mendengar aku mendengkur. Menyebalkan.” Masih dengan berdiri, Natalie terus bergumam kesal dengan dirinya sendiri.
“Ah, aku sangat cantik ini, kenapa memiliki kelemahan sih?” Natalie menghembuskan napas, duduk kembali di sofa. Dia terus menatap Sultan yang kini membalas tatapannya. “Hah?” Natalie mengedipkan kedua matanya. Dia melihat sesuatu yang tidak asing di bibir Sultan. Sorotannya tertumbuk pada warna merah yang sangat dikenalnya.
“Hah, tidak mungkin. Kenapa bibirnya terdapat bekas lipstick? Dan itu seperti warna …”
Natalie menutup mulut dengan kedua tangannya. “Tapi, itu sangat tidak mungkin. Tidak mungkin dia ...” Reflek dia membuka tasnya, meraba benda kecil panjang berwarna merah di dalam. Natalie mengeluarkan, melihat warna lipstick miliknya. Kepalanya menggeleng pelan, semakin melihat bibir Sultan.
“Apakah aku harus menanyakannya?” gumam Natalie. Dia teringat kata salah satu dosennya jika sebuah studi terbaru mengungkap bahwa memicingkan mata, maka penglihatan akan menjadi lebih baik. “Aku akan semakin melakukannya,” gerutunya. Natalie semakin menyipitkan kedua matanya sesuai dengan ilmu yang dia dapat.
“Itu … warna lipstikku. Aku akan menanyakannya.” Natalie mengatur suaranya dengan baik. Dia berdiri dan mengangkat wajahnya. Tepat ketika sorotannya di tengah retina Sultan, mulailah mulutnya berkata, “Bos, kau harus jujur!” katanya separuh berteriak. Jari telunjuk kanan runcing dengan cat kuku merah terangkat tepat di wajah Sultan.
“Kenapa?” Suara tegas membalas tatapan tajam Natalie, membuatnya perlahan menurunkan jari lentiknya seketika. Bagaimanapun juga, dia harus bersabar, untuk terbebas dari kemarahan Sultan. Natalie kembali mengatur emosinya dengan menarik napas panjang, menghembuskan perlahan.
“Huf.” Kini dia siap menanyakan lagi pertanyaan dengan nada pelan.
“Bos, maaf. Itu, bibirnya kok merah?”
Sultan terdiam tegang. Kedua mata bulat hitam, kaku seketika saat melirik kaca oval kecil bertengger di atas meja kerjanya. Bekas lipstick yang menempel di bibirnya membuat Sultan melotot.
“Bos, apa kau ... Argh!”
Teriakan melengking Natalie membuat Sultan hampir melempar kaca di hadapannya. Sultan menahan gerakan, sontak mengembuskan napas.
“Dia telah menciumku? Tidak adil!” Natalie melangkah cepat dengan tangannya yang berkacak pinggang, semakin mendekati Sultan. Kali ini keputusannya untuk melakukan protes semakin bulat. “Aku harus berani protes. Menyebalkan,” gerutunya.
“Bos, kenapa kau menciumku saat tertidur?” protes Natalie masih berkacak pinggang.
“Untuk apa aku menciummu? Kau bukan pacarku, istriku, ataupun saudaraku,” jawab Sultan santai membiarkan bekas warna merah masih melekat di bibirnya.
“Dasar pembohong!” Natalie berusaha mengatur napasnya dengan baik. Dia merasa jika Sultan menciumnya saat tertidur, dia tidak merasakan apapun. Dan itu dianggap tidak adil baginya!
“Aku tidak akan takut jika dipecatnya. Berengsek!” katanya melotot.
“Aku ingin merasakan bibir itu, dasar berengsek! Argh!” teriak Natalie semakin kencang. Kali ini Sultan tidak bisa menahan rasa terkejutnya.
“Prang!” Kaca itu akhirnya tersambar tangan Sultan. Dia menggeleng sambil membenarkan jasnya.
“Hentikan, Natalie!”
“Tidak adil!”
“Brak!”
Samuel mendadak masuk tanpa mengetuk pintu saat mendengar pekikan Natalie yang sangat keras dari sebelumnya. “Tuan Muda, apa ada masalah?!” tegas Samuel. Dia menatap Sultan yang memanahkan sorotan tajam kepadanya.
“Samuel, kita bertemu lagi. Kau masih sama seperti dulu. Sangat gagah, dan garang. Wow, dasimu yang berwarna merah itu sangat menyala, dan aku suka. Kau pasti digilai banyak sekali wanita,” kata Natalie spontan. Dia melupakan warna lipstick di bibir Sultan, melangkah mendekati Samuel.
Sultan semakin menatap tajam Samuel ketika mendengar Natalie tiba-tiba menyapa, apalagi memujinya. Samuel hanya menganggukkan kepala tanpa menatap Natalie.
“Duduklah!” perintah Sultan. Jarinya tertuju ke arah Natalie yang masih melambai, lalu melempar senyuman kepada Samuel.
“Siapa yang memerintahkan kamu tersenyum?” tanya Sultan ketus. Bibir Natalie langsung merapat, masuk ke dalam mulutnya.
“Duduk!” bentak Sultan sekali lagi. Natalie sontak duduk dengan wajah masam.
“Tuan Muda, ini adalah surat kontrak untuk Nona Natalie yang Anda perintahkan tadi.” Samuel memberikan sebuah dokumen kontrak kerja yang Sultan perintahkan kepadanya saat berbisik sebelum Natalie masuk ke dalam ruangan. Dia harus membuat surat kontrak untuk Natalie, sesuai dengan kalimat yang akan Sultan kirimkan lewat pesan di ponselnya. Sultan segera mengetik lima kalimat yang harus Samuel cantumkan di dalam surat kontrak.
Sultan membuka dokumen itu untuk memeriksanya agar tidak ada kesalahan. Sementara, Natalie menopang dagunya di atas meja, terus menatap ketampanan Sultan yang tiada batas. Sultan terkadang sedikit membalas lirikan Natalie, yang membuat hatinya sangat berdebar. Namun, dia masih berusaha tidak menunjukkannya.
Sultan mendadak melempar dokumen itu di atas meja kerjanya setelah puas memeriksa. “Baca!” Suara lantang Sultan tiba-tiba menyentak kesadaran Natalie.
“Yang mana?” tanya Natalie kebingungan. Dia menatap meja Sultan yang dipenuhi dokumen perusahaan dengan warna map biru yang sama. Natalie tidak berkonsentrasi, karena terus memandang ketampanan Sultan.
“Yang itu,” tunjuk Sultan masih membuat Natalie memutar bola mata mencari dokumen yang dimaksud.
“Natalie, lihatlah dokumen di hadapanmu!” tegas Sultan sekali lagi.
“Tapi, banyak sekali dokumen. Aku bingung,” rengek Natalie, hingga akhirnya Samuel mengambil dokumen itu kemudian memberikan kepadanya.
“Samuel, kau memang sangat baik dari dulu. Aku mengingatnya. Saat aku bersama pacarku yang mirip dengan bosku sekarang—” kata Natalie memicingkan kedua matanya ke arah Sultan yang mengernyit menatapnya. “Kau selalu saja mengawal kita dan menyiapkan semuanya. Kau memang sangat baik, Samuel,” ucap Natalie terus memuji Samuel membuat Sultan menarik napas panjang menandakan murka.
“Samuel, apa kau mau aku cincang sekarang?!” ancam Sultan membuat Samuel akhirnya menganggukkan kepala. Dia berpindah posisi berdiri di belakang Natalie.
“Samuel kenapa kau …” Natalie hendak membalikkan tubuhnya. Tapi, “Brak!” Dengan keras Sultan memukulkan tangannya ke atas meja membuat dia terperanjat seketika.
“Kau mau lihat Dady menderita?”
Natalie melotot menggeleng cepat. “Baca!” bentak Sultan membuat Natalie segera mengangguk. Namun, sebelum dia membuka dokumen, Natalie kembali memberikan wajah cemberut. Mulutnya mengerut seperti kerucut.
“Kenapa?” Sultan kembali mengernyit.
“Bos, maaf. Hmm ... aku tidak biasa membaca sangat banyak. Kau tahu sendiri, aku takut jika kedua mata indahku ini nanti akan sakit, lalu aku akan memakai kaca mata, dan wajahku yang indah ini menjadi, jelek—”
“Aku bilang, baca!”
“Baik!” teriak Natalie spontan melihat Sultan berdiri dari duduknya kemudian membentak. Natalie mulai membuka dokumen. Napasnya menghembus lega melihat isi dokumen yang ternyata hanya ada lima nomor di dalamnya dengan lima kalimat.
Sultan sangat paham dengan sifat Natalie yang tidak suka membaca dari dulu. Dia memutuskan tidak memberikannya banyak kalimat.
“Baiklah, untunglah hanya sedikit. Aku bisa dengan mudah membacanya. Satu, peraturan Bos adalah segalanya dan tidak bisa dirubah.” Natalie membuka salah satu kancing bajunya karena gerah. Hal itu yang menjadi kebiasaan saat mengatasi hatinya yang super kesal.
Sultan kaku memandang d**a Natalie yang sedikit terlihat hingga dia mengusap wajahnya. Samuel di belakang Natalie, mengernyit curiga melihat ekspresi Sultan yang aneh.
“Kenapa dibuka?” tanya Sultan gelisah.
“Hmm ... hatiku, sangat panas,” jawab Natalie menyipitkan kedua matanya.
“Baca lagi!” Sultan segera memalingkan wajahnya agar tidak terlihat semakin gelisah saat renda di tengah d**a Natalie sedikit terlihat.
“Dua, kembali ke peraturan no satu.” Natalie mengangkat pucuk bibirnya karena kesal. Sementara Sultan masih memegang dagunya menunggu Natalie melanjutkan membaca dokumen.
“Tiga. Selama seumur hidup, Natalie Leteshia adalah kekasih Bos. Tidak boleh ada laki-laki lain yang mendekati, bahkan berbicara dengannya, kecuali Samuel. Hah, jadi seumur hidup hanya kekasih? Nikahnya kapan?” rengek Natalie, membuat Sultan melotot. Seketika Natalie mengangkat dokumen menutup seluruh wajahnya. Beberapa detik, jari lentiknya perlahan menurunkan dokumen, hanya memperlihatkan kedua mata indahnya.
“Apa?”
Natalie terperanjat melihat kedua mata Sultan semakin menyorot tajam ke arahnya.
“Baiklah, aku akan membacanya lagi. Untung tampan,” protesnya pelan.
“Peraturan keempat adalah, Natalie ke mana saja harus bersama Bos. Jika berjalan, harus berdekatan. Tidak boleh tersenyum sama sekali, karena itu dilarang.” Natalie mengernyit, segera melakukan protes. “Bos, jika aku tidak tersenyum, wajahku jelek!”
Sultan diam tidak peduli. Dia menunjukkan jarinya dengan semakin melotot membuat Natalie kembali menundukkan kepala untuk melanjutkan membaca.
“Lima, kerjamu hanya duduk di sofa itu agar aku bisa memandangmu, dengan bayaran seratus juta sebulan. Apa?” Natalie menutup mulut dengan kedua tangannya. Sultan semakin serius memandang. Dia seketika mengulurkan tangannya mencegah Natalie agar tidak berteriak.
“Natalie, jangan berteriak!”
“Arggghhh!”
“Natalie!”
Natalie mengatur napasnya yang sangat tidak beraturan. “Gajiku seratus juta sebulan? Oh, aku bisa membeli tas, make up, baju, apapun yang aku mau. Aku akan benar-benar cantik. Hihi,” ucapnya dengan sedikit tertawa. Sultan menggeleng dan menepuk jidatnya. Namun, Natalie menjadi kaku saat dia kembali membaca kontrak nomor lima.
“Tapi …,” ucapnya pelan menatap Sultan yang mengernyit.
“Kenapa?” tanya Sultan.
“Bos, sejam saja aku ngantuk. Dua jam, tiga jam, empat jam, li--.”
“Hentikan! Apa maksudmu?” tanya Sultan memastikan.
“Aku sebentar saja sudah mengantuk saat duduk di sofa itu. Apalagi seharian, bahkan dua hari, tiga hari, em--.”
“Sudah, ayo kita pulang. Tanda tangani itu!”
Natalie dengan lemas menandatangani surat kontrak kerja untuknya. Dalam beberapa menit setelah dia menandatangani dokumen itu, ponselnya bergetar. Natalie segera mengangkatnya.
“Halo? Kok, gak ada suaranya, sih?” tanyanya kebingungan.
“Nona Natalie, itu adalah nada pesan, bukan panggilan,” bisik Samuel membuat Natalie kembali melihat layar ponselnya.
“Oh, kamu memang benar Samuel,” ucap Natalie meringis. Namun saat Sultan meliriknya tajam, dia segera memalingkan wajahnya, kembali melihat layar ponsel. Jari lentiknya menekan tombol pesan berwarna hijau menyala. Kedua matanya mengernyit melihat data transfer uang seratus juta sudah masuk ke dalam rekening banknya.
“Jangan berteriak, atau aku akan menutup mulutmu seperti ini sampai kau bisa tenang!”
Tanpa Natalie sadari, Sultan sudah menarik tubuhnya dan mendekap erat. Dia menutup mulut Natalie dengan tangannya. Wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak satu senti. Pandangan Sultan semakin membuat Natalie terkejut. Dia tidak hentinya menatap Sultan yang sangat dirindukannya.
“Aku sangat merindukannya, kekasihku,” batin Natalie memberikan tatapan lembut kepada Sultan yang kali ini juga membalasnya. Samuel segera membalikkan tubuhnya meninggalkan ruangan.
“Aku sangat merindukanmu, Natalie. Kenapa kau waktu itu berpelukan dengannya? Selama itu hatiku sangat pahit dan hancur. Kau seakan musuh untukku. Tapi … saat kau berada di hadapanku, rasa cintaku seketika tumbuh. Kenapa aku tidak bisa menolakmu?” batin Sultan membuat Natalie tidak mengerti dengan wajah kekasihnya yang seketika menjadi sendu.
"Kenapa wajahnya tiba-tiba bersedih?" batin Natalie tidak melepas tatapannya.
Perlahan Sultan melepaskan tangannya. Dia semakin terhanyut dengan wajah Natalie yang sangat cantik. Tangannya mendadak menutup kancing Natalie yang masih terbuka.
“Bos …,” ucap pelan Natalie.
Natalie memejamkan kedua matanya, kemudian memajukan bibirnya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Sultan membuat Natalie membuka matanya yang terpejam.
“Bos, aku pikir kamu mau menciumku, hehe,” ucapnya meringis.
“Siapa yang mau melakukannya?” Mendadak Sultan melepaskan dekapannya. Dia melonggarkan dasinya, berjalan meninggalkan Natalie yang masih diam di tempat dengan perasaan kesal.
“Dasar, kekasih dominan, angkuh, sebel!” teriak Natalie tidak membuat Sultan menghentikan langkahnya keluar dari ruangan.
“Ayo pulang ke apartemen kita!” teriak Sultan membuat Natalie termangu.
“Apartemen kita? Maksudnya apa, Bos?” tanya Natalie mulai berjalan mengikuti Sultan hingga memasuki lift bersama Samuel.
Sultan masih tidak menjawabnya hingga pintu lift terbuka. Natalie masih berjalan berusaha mengikuti langkah kaki Sultan yang cepat. “Bos, jawab dong!” cegah Natalie akhirnya membuat Sultan menghentikan langkahnya.
“Ingat peraturan nomor empat?” Sultan kembali melangkah. Namun Natalie masih bergeming. Dia terus berusaha mengingatnya.
“Hah, Natalie harus saling berdekatan dengan Bos?”
“Arggghhh!”
“Natalie!”