Ada Apa Denganmu

1882 Kata
“Salah satu perlindungan dari kekecewaan adalah memiliki kesibukan.” (Alain De Botton)   Pekikan nada oktaf dua belas Natalie membuat puluhan pegawai memandangnya. Tanpa menghiraukan semua mata memandang, Sultan menarik tangan Natalie. “Bos, pelan-pelan,” keluh Natalie. Kakinya bergerak cepat mengikuti langkah panjang Sultan, membuat tulang jari kaki di dalam sepatu menjadi kaku. Namun gerak kaki Sultan bersepatu pantofel hitam itu terus berjalan sambil menggenggam tangan Natalie, tidak menghiraukan keluhannya sama sekali. Mereka terus melangkah sampai di depan mobil yang sudah siap melaju. Samuel yang sudah berdiri di samping pintu mobil, segera membuka pintu belakang. Tanpa bicara, Sultan menunjukkan jarinya ke arah Natalie agar masuk ke dalam mobil. “Iya, aku masuk,” ucap Natalie menahan kakinya yang lecet. Sultan berjalan mengitari separuh mobil, membuka pintu sebelah kanan tanpa menunggu Samuel seperti biasanya. Dia melonggarkan dasinya, memasukkan kaki kiri ke dalam mobil, kemudian menjatuhkan badan ke jok, disusul kaki kanan. Sultan menyandarkan punggungnya ketika terduduk dengan sempurna. Samuel menutup pintu, menyusul duduk di kursi kemudi. “Kita pergi, Sam.” Sultan melepaskan dasinya, mengatur napasnya yang terasa sesak. “Baik, Tuan Muda,” jawab Samuel. Dia mengernyit menatap kondisi Sultan dari kaca spion berharap tidak terjadi apapun dengannya, karena wajah tampan tuannya itu mendadak pucat. “Hah, kok parkirannya kosong?” Bola mata Natalie terus berputar kecewa tidak melihat mobil kesayangannya yang semula terparkir rapi di depan kantor kini menghilang. Kedua telapak tangannya menempel pada kaca jendela dengan wajah kaku masih terus memandang parkiran kantor yang semakin tidak terlihat karena mobil sudah melesat kencang. “Bos, mobilku di mana?” tanya Natalie bimbang. “Tidak aku percaya dia membuangnya. Aku merana, meronta. Hah, aku akan melakukan protes dan demo. Dasar bos angkuh, galak. Kekasih berengsekku, tidak tahu diri!” ucap Natalie geram. Dia kembali menarik napas, untuk menghadap Sultan dan melakukan protes besar-besaran. “Baiklah, rasakan omelanku,” batinnya. Secepatnya dia membalikkan tubuh sambil menujuk wajah Sultan. “Bos, kau--.” Natalie termangu. Sorot matanya tertuju pada wajah sendu Sultan. “Kenapa dia?” batin Natalie terus memasang pandangan penasaran. Kepala Sultan yang tersandar di kaca jendela dengan pandangan kosong, membuatnya termangu. “Sakit, sedih, apa itu yang dia rasakan? Ada apa sebenarnya, kekasihku?” gumamnya pelan. Sorot itu pedih, ada rasa sakit di sana, dan kekecewaan takdir dalam hidupnya. Natalie mengangkat tangannya, berusaha meraih lengan Sultan. Namun, “Sakit, d**a aku sakit ... Argh!” Sultan merintih tiba-tiba. Natalie spontan menarik, mendekap tubuh Sultan. “Samuel, kenapa dia?” Samuel spontan menjadi tegang saat menatap kaca spion memperlihatkan dua sepeda motor jenis Ducati Sport terbaik yang terkenal kekencangannya, mengejar dari arah samping kanan kiri. “Nona Nat, dengarkan aku! Lindungi Tuan Muda. Aku akan mengendarai mobil ini segera menuju rumah sakit. Tapi, sangat kencang. Ada urusan yang harus aku atasi.” Kemudi mobil dengan mendadak Samuel putar ke kanan. Natalie masih mendekap tubuh Sultan yang sangat berkeringat. Suara mesin kedua motor meraung-raung mendekati mobil dengan senjata api yang sudah siap mereka arahkan. Natalie masih terpaku tidak percaya dengan apa yang dia lihat. “Samuel, mereka mengikuti kita. Kenapa, dan apa ada sebenarnya?!” pekikan Natalie membuyarkan konsentrasi Samuel. “Nona! Diamlah, dan jangan berbicara!” “Samuel, kenapa mereka mau mengejar kita? Aku tidak mau mati. Argh!” “Nona, aku mohon diamlah!” “Bagaimana aku bisa diam, Samuel! Kenapa dengan mereka?!” Samuel mendadak memutar kemudinya kembali, membuat Natalie berteriak memeluk tubuh Sultan saat akan tersungkur. “Argh!” Samuel dengan serius menatap ke depan. Sebuah pistol yang terselip di belakang kemudi, mulai dia ambil. Tangan kanannya masih mengendalikan kemudi. Sedangkan tangan kirinya mengangkat pistol dengan tinggi. Samuel berencana untuk melesatkan peluru saat salah satu dari mereka semakin mendekati mobil. “Pistol?” Natalie menunduk panik. “Sayang, aku mohon. Bertahanlah!” Natalie memeriksa muka Sultan dengan saksama. Wajahnya semakin pucat. Bibirnya membiru. Kulitnya sangat dingin. “Kekasihku, lihatlah aku,” bisiknya pelan. Natalie menutup bibir Sultan dengan mulutnya seketika. Kebahagiaan terpancar di wajah Sultan. Bibirnya mengikuti ciuman Natalie yang semakin dalam. Hati Natalie merasa lega, akhirnya bisa mengalihkan perhatian Sultan dari bahaya yang masih dihadapi mereka. Bibir mereka semakin bersatu membuat Samuel sedikit tersenyum melihatnya di kaca spion. Kini dia bisa tenang untuk mengendarai mobilnya menyingkirkan kedua motor yang mengejar. “Mereka akhirnya bersatu,” batinnya. Kakinya menekan pedal gas semakin kencang saat salah satu motor dari arah kiri akan sengaja menabrak. Kecepatan mengemudinya berhasil untuk menghindar. Samuel mengambil jalanan sepi untuk menghindari korban. Dia melihat sebuah truk besar melintas. Kedua motor yang sepertinya percaya diri akan mengenai mobil Sultan, membuat mereka gagal. Samuel mendadak mengurangi kecepatannya, lalu memutar kemudi ke kanan, kembali lurus, dan menyalip truk dengan sangat cepat. Kedua motor itu kehilangan jejak Samuel. Mereka kebingungan, memutuskan berpencar. Perlahan mereka menelusuri jalanan sepi itu. Setelah menyalip truk, Samuel mematikan sorot lampu mobil dan bersembunyi di gang sempit. “Nona, tolong jagalah Tuan Muda. Anda harus tetap tenang. Aku akan menyelesaikan masalah ini.” Natalie diam menganggukkan kepalanya. Samuel keluar dari mobil berjalan dengan gagah, kemudian berhenti di tengah jalan. Kedua matanya terfokus dengan suara mesin kedua motor dari arah berlawanan yang kini mendatanginya. Tangan kanannya ke depan mulai menekan pelatuk, dan “Dor, dor!” Hanya dengan sekali gerakan dari kanan ke kiri, kedua peluru dengan cepat melumpuhkan ban motor membuat mereka terjatuh menabrak tiang listrik hingga tergeletak tidak bergerak. Samuel melakukannya dengan sangat cepat, tidak memberikan kesempatan lawan untuk membalasnya. Dia menarik napas menghembus lega. Tanpa memikirkan pengendara motor entah tewas atau hanya pingsan, dia kembali berlari masuk ke dalam mobil. “Kita akan menuju rumah sakit, Nona.” Samuel segera menyalakan mesin mobil dan melesat kencang. Natalie masih saja memeluk Sultan yang sudah menatapnya dengan wajah putih pudar. Kepanikan semakin meraja lela dalam benak hati Natalie. Pelukan hangat tetap dia berikan. “Kenapa denganmu?” Suara bisikan parau terus terlontar dari bibir tipis kemerahan Natalie dengan bergetar. Dalam waktu tiga puluh menit, mesin mobil terhenti di depan pintu Unit Gawat Darurat. Samuel bergegas keluar berlari memanggil suster penjaga. “Suster, Tuan Muda Sultan pingsan!” teriaknya membuat salah satu suster yang berada di hadapannya terperanjat. “Aku akan membantumu, Sam,” jawab suster kemudian mengambil brankar dorong di sudut ruangan. Dia mendorongnya kencang hingga sampai di depan pintu mobil Sultan. Samuel berusaha tenang melihat tubuh tuannya sudah tidak sadar dipelukan Natalie. “Nona, aku akan membawa Tuan Muda.” Samuel menarik tubuh kekar tuannya. Dia mengangkatnya ke atas brankar. Suster bersama Samuel segera membawanya masuk ke dalam ruangan dokter untuk diperiksa. Natalie melangkah perlahan sambil mengatur degupan jantungnya yang berdetak kencang masuk ke dalam sebuah tempat yang sangat dia benci. Tempat di mana ibunya meninggal akibat kecelakaan. Tapi, keberanian Natalie kumpulkan demi menemani Sultan yang keadaannya sangat membuat dia terkejut. “Kenapa kau, kekasihku?” Pikirannya menyeret setumpuk tanya tentang peristiwa apa yang sebenarnya telah dia lewatkan. Kakinya terus melangkah mendekati Samuel yang berdiri tegang menatap dokter dengan kedua suster kembali memeriksa Sultan. Pundak yang semula diam, akhirnya bergerak akibat tepukan tangan Natalie. “Ceritakan kepadaku, Samuel. Kenapa dia meninggalkanku selama itu tanpa kabar? Kau tahu, aku sangat menderita. Jika kau tidak mau membuka semuanya, aku akan mengakhiri hidupku. Aku tak kuasa melihat kekasihku dengan masalah beratnya. Lebih baik aku mati.” Kedua mata sayu Natalie membuat Samuel menarik napas. Menceritakan semuanya berarti melanggar janji yang sudah dia ucapkan kepada tuannya. Pikirannya memutar sejenak, mengingat kejadian masa lalu yang seharusnya tidak dia rahasiakan kepada Natalie. Karena sebenarnya Sultan bisa menjadi bahagia dan melupakan pelecehan, serta kasus berat yang menimpa jika bersama wanita yang dicintainya. “Kita akan duduk di sana, Nona.” Samuel mengarahkan tangannya menuntun Natalie dengan keresahan untuk duduk di kursi penunggu. “Katakan semua yang terjadi, Samuel. Aku mohon.” Natalie masih saja memohon. Namun, Samuel tetap saja menutup mulutnya. “Aku, tidak bisa, Nona!” Samuel menghentikan ucapannya sejenak sambil melonggarkan dasinya. Dia mengingat masa lalu yang bisa menyulut emosinya tanpa alasan. Rasa kesetiaan atas janji Samuel untuk menutup rapat, selalu dia pegang dengan kuat. “Kenapa, Sam? Aku berjanji tidak akan pernah mengatakan yang sesungguhnya. Ini rahasia kita berdua. Jika aku tidak mengetahuinya, bagaimana bisa aku hidup seperti ini. Sekarang aku bersamanya, dan aku harus tahu, Sam!” Paksaan Natalie, masih saja tidak meluluhkan hati Samuel. Samuel menarik napas pelan. Dia selalu saja emosi jika mengingat kejadian tragis yang menimpa Sultan. Samuel merasa gagal menjaga Sultan yang membuatnya sangat menderita. Samuel mengepalkan kedua tangannya. Mata bulat hitam seperti gerhana bulan tegas miliknya, mulai memerah. “Maafkan aku, Nona. Janjiku adalah nyawa buatku.” Kini dia kembali menatap Natalie yang masih diam dengan tegang menerima keputusannya. “Tidak mungkin,” kata Natalie lesu. Air mata menetes hingga membasahi blazernya. Natalie mengangkat tubuhnya. Dia melangkah pelan menuju kaca jendela, menatap sendu tubuh Sultan yang tergeletak lemas. Dokter bersama kedua suster meninggalkan ruangan setelah memasang selang infus di lengan kanan Sultan. Namun, itu tidak membuat hati Natalie lega. “Mengapa Sultan bisa sakit seperti itu? Dan … kenapa seseorang mengejarnya? Terakhir, kenapa dia meninggalkanku selama itu tanpa kabar?” Samuel ikut melangkah mendekati Natalie yang tidak melepas pandangan kepada kekasihnya. “Tuan Muda memasuki perusahaan setelah tujuh tahun menyendiri. Saat kami pulang kerja, sebuah truk menabrak kami dengan sengaja hingga mobil berputar dan terbalik. Kepala Tuan Muda terkena benturan keras. Dalam keadaan lemah, aku berusaha melepaskan sabuk pengaman dan keluar menyelamatkan Tuan Muda yang tidak sadarkan diri. Tuan Muda koma selama dua bulan.” Samuel kini semakin menatap Natalie yang juga menatapnya. Dia ingin sekali menyampaikan sesuatu yang sangat penting, dan harus diketahui oleh Natalie. “Satu hal yang harus Anda tahu, Tuan Muda tidak pernah melupakan Nona. Bahkan dalam tidurnya selama koma, Tuan Muda terus menyebut nama Anda, Nona,” kata Samuel membuat Natalie berlinang air mata. Dia menatap tajam Samuel di hadapannya yang masih diam berdiri. “Kenapa ada seseorang yang sangat kejam seperti itu, Sam? Dia pasti sangat menderita, Sam. Aku akan membalas mereka! Dia pasti mengalami sesuatu yang sangat fatal dan berat. Aku akan mencari sendiri masalah itu, walaupun kau tidak mengatakannya. Aku, akan mencari tahu!” Natalie berbicara keras sembari menunjukkan jari telunjuk kanannya kepada Samuel. “Aku yang akan membalas mereka, Nona,” jawab Samuel tidak memuaskan Natalie. “Membalasnya? Kenapa kau baru akan membalasnya? Kenapa tidak segera melakukannya saat itu? Tujuh tahun sangat lama! Kenapa baru sekarang?!” Natalie semakin membentak, membuat Samuel menarik napas. Dia berusaha mengatasi semua dengan tenang. “Kami sudah melacaknya, Nona. Tapi, ada satu hal yang Anda tidak bisa ketahui. Anda akan mengetahui saatnya nanti.” “Lalu, siapa yang menabraknya, Sam?” “Aku masih menyelidikinya,” jawab Samuel singkat. “Aku akan selalu berada di sisinya, Sam. Dia sepertinya sangat membenciku. Kenapa?” Samuel mengarahkan tatapannya. “Nona ...” Suara pelan Samuel membuat Natalie semakin menatapnya. “Tolong jagalah Tuan Muda. Aku mempunyai pekerjaan sangat banyak. Aku memohon kepadamu, Nona.” Tatapan tegang Samuel, membuat Natalie menganggukkan kepalanya dengan sedikit lirikan sinis. Kini dia melangkah masuk ke dalam kamar Sultan. Tangannya berpangku pada sandaran kursi di depan ranjang, menghayati tubuh kekasihnya yang tidak berdaya. Pandangan Natalie semakin melemah melihatnya. Dia berpikir akan menyelematkan Bos, sekaligus kekasihnya itu dari semua masalah yang menimpa. “Aku akan menyelamatkanmu, Bos,” batin Natalie. “Brak!” “Natalie Lethesia, kita harus bicara!” ucap seorang wanita yang sangat mengejutkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN