“Natalie Lethesia, kita harus bicara!”
Natalie terdiam kaku, menatap wanita yang selalu membuatnya bergetar, kini kembali di hadapannya. Sejak Sultan meninggalkannya, sosok Jovanka sama sekali tidak pernah dia temui lagi. Natalie sering melihat Jovanka ketika Sultan mengajak dia berkunjung di rumahnya. Jovanka yang selalu meminum teh di kursi taman, tersenyum melihat kebahagiaan Sultan dengan Natalie saat mengobrol dipenuhi canda. Namun, mereka tidak akrab dan hampir tidak pernah berbicara. Ini adalah pertama kali bagi Natalie mendapat sapaan dari Jovanka.
“Aku tidak suka berbelit. Kau meninggalkannya, atau Sultan meninggalkanmu?!” ucapan tegas dengan pertanyaan kilat yang jelas-jelas menyambar hati Natalie. Jovanka terus menatapnya dalam tegang.
“A--.” Perkataan spontan untuk membela diri, Natalie hentikan seketika saat mendengar bentakan yang membuatnya terperanjat.
“Diam!”
Jovanka segera memotong perkataan Natalie saat akan menjawab. Kaki mulus ramping dengan sepatu high heels sepuluh senti berwarna merah, melangkah anggun mendekati Natalie yang masih diam bergetar menatapnya. Kini Jovanka berdiri sambil mengangkat tangan kanan di pinggang, sementara tangan kirinya memegang pundak Natalie. Tangan mulus tanpa kerutan itu sempat membuat kedua mata Natalie meliriknya.
“Apartemen tempat untuk kau tinggali bersama Sultan sudah dipersiapkan. Aku memberitahu lewat ponsel kepada Sultan siang tadi sebelum dia pingsan, dan dia menyetujuinya. Sekarang, katakan semuanya!” Kini kedua tangan mulus itu sama-sama memegang pundak Natalie bersama pelototan kaku siap untuk menginterogasinya.
“Aku tidak seperti itu,” bantah Natalie menggelengkan kepala pelan, dengan suara parau.
“Kenapa kau membuat Sultan marah?” Kali ini Jovanka menanyakan kembali dengan nada sedang. Namun masih menyorot protes.
Selama di Vila, Jovanka selalu mendekati, berusaha membuat Sultan mengatakan apa yang membelit perasaannya. Rayuan serta perhatian lebih kepada Sultan yang dia berikan, akhirnya membuat hati Sultan melunak. Kisah perasaan sakit hatinya, Sultan ceritakan semua. Namun, Jovanka mendapat larangan Sultan untuk mencari Natalie dengan alasan yang hanya dia ketahui. Hingga Jovanka memutuskan mencari Natalie setelah kedua matanya melihat nama Natalie selalu Sultan sebut saat dia mengalami koma.
“A--.” Mulut Natalie kembali menutup tidak melanjutkan kalimat saat Jovanka kembali memekikkan perintah.
“Cukup!” Mendadak, wajah cantik dengan polesan sempurna milik Jovanka masih memasang pandangan tajam membuat Natalie bergeming. Jovanka melepaskan tangannya yang sempat membuat pundak Natalie berat.
“Katakan alasanmu nanti kepada Sultan. Buatlah dia bahagia. Samuel akan mencari tahu. Tapi, selama tujuh tahun, ruang Black Room saja tidak bisa memberikan petunjuk,” gerutunya seraya membenarkan rambut hitam terurai sepundak yang sedikit menutupi salah satu matanya. Kini tubuhnya kembali menegak menghadap Sultan.
“Dia, sangat menderita karenamu, Natalie Leteshia!” jawabnya tegas namun pelan sembari menunjukkan telunjuk kanannya kepada Sultan yang masih terbaring. Natalie mengkerutkan kedua alis. Hatinya merasa kelelahan mendengar Jovanka menghakimi dengan semua tuduhan.
Jovanka perlahan menurunkan telunjuknya yang semula tegang mengarah ke ranjang Sultan. Dia semakin melangkah mendekati anak tirinya itu yang terbaring lemas. Tarikan napas panjang kembali terlihat dengan resah. Tangan kanannya mulai membelai wajah Sultan mengikuti polanya. Rautnya semakin sendu. Saat ini Jovanka hanya menginginkan Sultan bisa hidup bahagia.
“Black Room?” tanya Natalie singkat masih berdiri tegak membuat Jovanka menoleh.
Dia hanya diam menyadari ucapan yang tidak seharusnya dia ucapkan di depan sembarang orang. Jovanka kini kembali melangkah mendekati Natalie yang masih terdiam kebingungan dengan pikirannya tentang semua misteri dalam kehidupan Sultan.
“Aku bersama Samuel akan mencari tahu. Hanya dia pengawal yang bisa aku percaya,” kata Jovanka meyakinkan. Tubuh dengan pakaian glamor berwarna merah bertaburan berlian kembali berjalan dengan anggun menuju pintu kamar. Jovanka berhenti, setengah menoleh menyorot Natalie yang masih termangu.
“Lusa, akan ada pertemuan keluarga besar di Kingdom Abraham. Temani dia, dan pilihlah busana terbaik. Pagi-pagi sekali kau akan pulang membawa Sultan menuju apartemen menggunakan helikopter. Aku sudah menemui dokter. Mereka memberikan vitamin terbaik untuk membuatnya stabil kembali. Dia hanya kelelahan.”
Tangan kanan Jovanka melambai kepada Samuel yang masih diam di antara mereka. Dia melangkah spontan mendekati Jovanka yang kembali tegang. “Siapa yang memberi perintah kepada kedua motor itu untuk mengejar mobil Sultan, Sam? Anak tiriku tidak aman. Entahlah kenapa Abraham hanya diam mendengar penjahat mengejar anak kesayangannya. Dia meninggalkan semua pengawal yang melapor begitu saja. Carilah sesuatu, Sam! Ini sangat membingungkan,” bisik Jovanka membuat Natalie penasaran hingga memasang telinga untuk mendengar.
“Aku harus berbuat sesuatu. Sultan tidak bisa hidup dalam kegelapan seperti ini. Dia memerlukan bantuan. Aku akan melakukan pertolongan itu dengan caraku,” batin Natalie mengamati Jovanka yang masih mengobrol pelan dengan nada berisik sedikit emosi bersama Samuel. Namun, Natalie memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan mereka. Dia hanya ingin fokus mendekati Sultan.
Natalie menarik kursi, mengatur posisinya tepat di sebelah Sultan. Dia duduk sambil menatap Sultan yang masih belum tersadar. Kedua matanya yang sudah mengantuk, berusaha untuk tetap terbuka. Namun dalam beberapa detik, Natalie terlelap tanpa sadar.
Obat penenang yang diberikan dokter, membuat Sultan masih terlelap. Itu adalah keputusan yang dokter ambil untuk membuat Sultan tidak melakukan aktifitasnya. Tubuhnya yang masih belum benar-benar pulih, mengharuskan dia beristirahat sangat panjang.
Samuel hanya diam menatap dua insan yang sempat terpisah kini bersatu kembali. Dia membiarkan mereka berdua yang sudah terlelap dan memutuskan untuk menjaga di luar kamar bersama beberapa pengawal suruhan Jovanka.
***
Waktu berjalan cukup singkat. Pagi menjelang dengan cerah. Cahayanya yang terpantul ke dalam, membuat Sultan samar-samar membuka kedua matanya. Dia mengendus aroma khas rumah sakit. Panca indranya mulai mengumpulkan data peristiwa bagaimana dia bisa terbaring di ranjang pasien. Otaknya terus memutar garis waktu yang sangat kacau balau. Sambil memejam, akhirnya gambar peristiwa sebelumnya mulai melengkap di kepala memberikan ingatan yang sebenarnya.
“Kedua motor itu pasti …,” batinnya menekan emosi. Namun dia merasa lega saat menarik napas, tidak merasakan sesak. Sakit kepala yang dia rasakan sebelumnya juga menghilang.
Sultan semakin terkejut menatap tangan kanannya yang tidak terpasang selang infus, terdapat sosok wanita yang dicintainya terlelap sangat cantik. Sultan tersenyum melihat jemari Natalie menggenggam erat jemarinya. Seketika itu, hatinya merasa tenang.
“Bodoh, kenapa dia tertidur seperti itu?” Sultan perlahan membelai rambut Natalie membuat kepalanya tergerak. Sontak Sultan menyingkirkan tangannya. Dia terus akan berusaha tidak memperlihatkan rasa cintanya.
“Bangun, Natalie!” ucapnya keras.
Natalie tersentak dari tidur nyenyaknya. Kesemutan akibat kaki yang terlalu lama menekuk di kursi, mulai terasa dengan kesadarannya yang maksimal. Kedua mata yang masih berat terbuka, kini melebar dengan senyuman berseri melihat ketampanan kekasihnya yang membuat hatinya tenang.
“Selamat pagi, tampan. Kau memang benar-benar membuatku terpana,” kata Natalie menggoda dengan salah satu matanya yang mengedip membuat wajah kaku di hadapannya bisa sedikit tersenyum.
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Natalie lekas berdiri menoleh.
“Tuan Muda, Anda sangat segar,” sapa mendadak Samuel.
“Pecat dokter yang membuatku tertidur. Dia sudah membiarkanku seperti ini di ranjang pasien dengan selang infus, menyebalkan,” geramnya membuat Natalie melirik Samuel yang segera melangkah mendekat tepat di sebelah kursinya.
“Kita akan pergi dari sini menuju apartemen, dan Anda bisa beristirahat di sana, Tuan Muda.” Bersamaan dengan perkataan Samuel, dokter diikuti kedua suster masuk ke dalam. Samuel menganggukkan kepala, memberi tanda jika dokter bisa melepaskan selang infus.
Sultan kali ini hanya diam melihat dokter melakukannya, karena pandangannya tidak terlepas dari Natalie yang terus tersenyum lembut tanpa sela menatap wajahnya. Dengan cepat dokter bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kursi roda telah disiapkan untuk membawa Sultan menuju atap rumah sakit yang sangat luas bisa menampung helikopter telah siap menunggu.
“Kau pikir aku lumpuh?” Pelototan seketika mencuat menghiasi wajah Sultan membuat Natalie bergerak cepat.
“Cup!”
Sultan diam kaku menerima ciuman spontan di pipi kanannya dari bibir Natalie. “Sapaan yang akan aku berikan kepada Bos, sekaligus kekasihku, hehe. Ayo, kita segera ke heli itu. Punggungku sakit, aku mau segera ke apartemen.” Bibir kemerahan dengan genit mendarat di lengan Sultan yang tertutup perban akibat selang infus. Setelah kembali mengecup, kedua tangan Natalie merapikan rambut Sultan yang sedikit berantakan. Senyuman lembut terus Natalie perlihatkan. Sultan terdiam menerima belaian yang selama tujuh tahun dia rindukan.
"Kau sangat tampan, dan mempesona, kekasihku," kata Natalie kembali mengedipkan salah satu matanya membuat Sultan kali ini terkekeh. Natalie menyentuh ujung hidung lancip kekasih dinginnya itu dengan jari telunjuk, dan membuat wajah tampan itu bersemu.
Dokter bersama kedua Suster tersenyum melihat tingkah genit Natalie bisa meluluhkan hati sekuat beton Tuan Muda yang selalu melekat. Samuel mengangkat kedua alisnya sambil mengangguk lega.
“Waktunya pergi, Tuan Muda,” sela Samuel mengejutkan pandangan mereka yang masih menuai rindu. Natalie menggeser tubuhnya, membiarkan Samuel membantu Sultan.
Sultan perlahan turun dari ranjang masih menggunakan baju rumah sakit, duduk di kursi roda dengan bantuan Samuel. Dia mendorongnya perlahan keluar menuju atap rumah sakit. Pilot yang menunggu mulai menyalakan mesin heli hitam sangat gagah dan mewah. Samuel menghentikan kursi roda, memapah tubuh Sultan hingga masuk ke dalam heli disusul Natalie.
Perlahan heli mulai memutarkan baling-balingnya, saat Samuel masuk dan duduk di sebelah pilot. Natalie masih menatap lembut wajah Sultan yang kali ini membalasnya dengan sorot hangat. Ada rasa cinta yang jelas terpampang sana.
“Syukurlah, kau bisa sedikit tersenyum kekasihku,” batin Natalie menggenggam erat jemari tangan kanan Sultan. Samuel akhirnya bisa sedikit tersenyum spontan keluar dari wajahnya setelah sekian lama dia pendam. Mereka bertiga saling memperlihatkan aura bahagia hingga tanpa sadar heli mendarat di atap apartemen tempat Natalie tinggal.
Natalie tinggal di sebuah apartemen mewah. Dady yang sangat sukses dengan pekerjaannya sebagai sutradara terkenal, selalu memberikan fasilitas kelas satu kepada Natalie. Gedung apartemen mewah tempat tinggal Natalie memiliki dua bagian, hingga memberikan keunikan tersendiri. Bagian utama gedung adalah fasilitas kelas atas dengan 100 kamar mewah bintang lima. Gedung kedua adalah kelas satu dengan 200 kamar mewah standart. Yang memberikan gedung itu lain dari yang lain, adalah jembatan kaca yang menghubungkan kedua gedung itu. Dari jembatan itu para penghuni bisa melihat keindahan kota Paris, bahkan menara Eiffel salah satu keajaiban dunia itu juga bisa terlihat dengan jelas.
Mereka segera memasuki apartemen setelah keluar dari heli. Sultan memutuskan untuk berjalan sambil berpegangan tangan dengan Natalie yang mengernyit tidak melihat siapapun di dalam gedung utama apartemen.
“Di mana semua orang?” tanyanya masih clingak-clinguk keheranan.
“Apa kau tidak tahu? Ibuku membeli gedung utama apartemen ini, dan hanya ada kita berdua di dalam, bersama beberapa pengawal yang akan menjaga,” balas Sultan santai terus berjalan menarik tangan Natalie yang masih dia genggam.
“Jadi, kita hanya berdua?” Pertanyaan yang membuat Sultan terhenti, spontan menutup mulut Natalie yang akan berteriak seperti kebiasaannya.
“Sudah, jangan berteriak. Kita harus bergegas. Ada seseorang yang menunggu kita di dalam,” kata Sultan semakin membuat Natalie tidak mengerti.
“Apa? Ada se-orang …?”