Busana Madame Elena

1934 Kata
Sultan masih saja melangkah santai. Sementara Natalie hanya diam mengamati semua lorong yang memang sangat sepi. “Ini seperti apartemen hantu. Mana mungkin aku di dalam gedung sebesar ini hanya berdua?” batinnya terus mengikuti langkah Sultan hingga akhirnya sampai di depan kamarnya. Dia semakin tidak percaya Samuel mengeluarkan benda sebesar kartu kredit yang sangat mirip dengan kunci apartemennya. “Samuel, kenapa kau membuka kamarku?” Natalie menampis tangan Samuel saat ingin menyentuhkan kartu itu di tanda merah tepat sebelah gagang pintu. “Nat, jangan menyentuh tangan Samuel!” Sultan sontak menarik lengan Natalie. “Ini kamarku, dan aku tidak mau siapapun masuk, termasuk kekasihku. Karena kita belum menikah!” bantah Natalie namun Sultan mengabaikannya. Sultan melirik Samuel agar segera membuka pintu kamar. “Buka, Sam!” Pengawal yang semula diam itu sesigap mungkin melakukan perintah tuannya saat memperlihatkan wajah tegang. Samuel menekan tanda merah dengan kartu yang masih dia genggam. Suara menandakan pintu terbuka terdengar jelas. Natalie melongo, memandang tidak percaya. “Ini namanya perampokan, dan aku adalah korbannya,” gumamnya melirik Sultan yang masih santai menunggu pintu kamar benar-benar terbuka. Tanpa berbicara, Sultan menarik Natalie kembali agar mengikutinya masuk. “Bos, ini pribadi, dan aku tidak terima,” protes Natalie masih tidak mendapat tanggapan. “Bos, Dady membelikannya dengan susah. Dan kami membayarnya. Jadi, ini milikku!” teriak Natalie menahan langkahnya, membuat Sultan melepaskan tangan yang masih menggenggam. Sultan menoleh, melangkah mendekati Natalie. “Deg, deg!” Jantung Natalie bergetar mendadak. Sultan semakin mendekat, sangat dekat. Dia menundukkan kepalanya, melirik telinga kanan Natalie. Sedikit hembusan napas Sultan membuat Natalie semakin diam. Seakan waktu terhenti seketika. “Uangmu sudah aku kembalikan. Lihat saja pesan di ponselmu. Kau kekasihku, harus mengikuti aturanku.” Natalie masih termangu mendengar bisikan pelan namun menghakiminya. Protes, itulah yang ada di dalam pikiran Natalie sekarang. Namun, dia mengurungkan niatnya. Wajah tampan yang tidak bisa membuat dia berkutik, semakin menempel di wajahnya. “Mana bisa aku menolak wajah tampan itu,” batin Natalie lemas. Sultan terkekeh sinis, menjauhkan wajah menggoda itu, berjalan meninggalkannya. Natalie memejam, untuk mengatur hatinya yang tidak waras. “Di mana tasku?” tanyanya kebingungan. Natalie sempat melupakan tas kesayangannya. Kejadian mengerikan tempo lalu yang membuatnya melakukan itu. Namun, Samuel menyelamatkannya. Dia membuka ransel hitam miliknya yang cukup besar untuk menampung tas merah Natalie yang berukuran kecil. Samuel segera mengeluarkannya. “Ini, Nona,” kata Samuel menyodorkan tas Natalie. “Aku sampai lupa tasku. Terima kasih, Sam,” ucapnya tersenyum. Samuel kembali melangkah mengikuti Sultan yang sudah masuk mendahuluinya. Ponsel lucu bergambar karakter Helo Kity kartun kesukaan semua gadis di dunia, segera Natalie keluarkan. Jari lentiknya mulai menekan sebuah pesan. Seperti yang Sultan katakan sebelumnya, uang milik Natalie dalam sekejab dia kembalikan. Dia memandang serius pesan dari rekening bank pribadinya. Tapi, ada sesuatu yang sangat aneh dengan angka nol. “Kenapa banyak sekali nolnya?” Matanya terus mengerjab menatap jumlah uang yang Sultan berikan kepadanya. Di dalam ruangan apartemen milik Natalie yang cukup luas, Sultan menyandarkan tubuhnya duduk di sofa berbulu kesayangan Natalie. Samuel masih setia berada di sebelahnya. “Samuel, sebentar lagi dia akan berteriak. Apa uang sepuluh milyar sudah kau berikan kepadanya?” “Sesuai arahan Anda, Tuan Muda,” jawab Samuel. Jovanka yang saat itu menghubungi Sultan, sangat senang dengan keputusan Sultan menyetujui rencananya kali ini. Samuel segera menghubungi semua pemilik kamar apartemen, dan membeli semua kamar kelas utama dengan harga tiga kali lipat dari harga sebelumnya. Tanpa berpikir panjang, mereka semua menyetujuinya. “Arggghhh!” Sultan bersama Samuel seperti biasa terperanjat mendengar lengkingan suara milik Natalie. Bahkan wanita yang sudah berada di hadapan mereka menjatuhkan alat ukur di tangannya. Langkah kaki mulai dengan menggebu mendekat. Natalie menghentikan langkah di depan Sultan yang masih menguap. “Sultan mah bebas. Hahah, memberikan uang seenaknya sendiri. Aku memutuskan, demo!” Dia masih berdiri kesal. Sultan menarik tubuh Natalie hingga berada di pangkuannya. Jarinya membenarkan rambut Natalie yang sedikit menutupi wajahnya. “Kenapa kamu berisik sekali? Apa suaramu tidak sakit, terbiasa berteriak?” Jemari Sultan masih saja memainkan rambut Natalie. “Sekarang, diam! Kita akan mendatangi acara keluarga besar Abraham. Kau bisa memilih baju yang pas untukmu, dan sesuai denganku.” Natalie seketika bersemu menerima pandangan lembut yang seperti biasa tidak bisa membuatnya berkutik. “Dia, sudah membuatku lemah. Hah, aku tidak bisa menolaknya. Sebel, se—” Kalimat utuh terpotong mendadak dari mulut Natalie, saat tangan Sultan mengatur kepalanya menuju sosok wanita yang sedari tadi masih diam berdiri menatap kegiatan mereka. “Ma-dame, apakah dia Madame Elena?” Natalie menganga, meremas baju Sultan. Tubuh yang semula duduk, secepatnya dia angkat hingga berdiri tegak. “Tidak aku percaya melihat perancang busana impianku ada di dalam kamarku? Arggghh!” “Natalie!” Sultan hampir saja memecahkan vas bunga di atas meja sebelah kursi yang dibuatnya bersandar. Samuel yang sudah sangat hafal dengan kebiasaan Natalie, hanya mengatur napasnya dengan baik. Namun, tidak dengan Elena yang seketika menjatuhkan semua isi tasnya yang semula dia pegang. Dia bersama pelayannya sudah tiba terlebih dahulu di dalam kamar atas perintah Samuel untuk memberi kejutan kepada Natalie. Samuel memerintahkan beberapa pengawal untuk membawa Elena dan menyuruhnya masuk ke dalam kamar Natalie. “Maafkan aku. Kau adalah perancang terbaik impianku, dan aku sekarang bisa dengan jelas berjumpa denganmu. Luar biasa,” puji Natalie membuat Elena tersenyum mengangguk. Pelayan yang berada di sebelah perancang siap dengan semua bajunya, spontan memunguti barang Elena yang berserakan di lantai akibat terkejut. “Nyonya Jovanka memerintahkanku untuk membantumu memilih busana saat makan malam. Aku sudah menyiapkan semua di dalam kamar. Kau bisa mencobanya, Nona Natalie,” ucapnya membuat telinga Natalie bergetar. Dia melirik Sultan yang menganggukkan kepalanya dengan sedikit senyuman. Elena mulai menggandeng Natalie masuk ke dalam kamar utama bersama beberapa pelayan. “Aku mencintaimu kekasihku, muah!” ucap Natalie bersemangat. “Apakah dia matrealistis, Samuel?” tanya Sultan masih menatap Natalie yang akhirnya menutup pintu kamarnya. “Semua wanita memang seperti itu, Tuan Muda. Dan itu hak mereka,” jawab Samuel membuat Sultan menatapnya datar. Di dalam kamar, kedua mata Natalie tidak hentinya menatap puluhan busana indah bertabur permata tergantung. Dia memutar tubuhnya, tidak melepaskan senyuman bahagianya sedikitpun. “Aku mau baju merah itu. Punggungku akan sangat cantik sekali,” katanya mendekati salah satu busana merah dengan rok panjang. Elena tersenyum mengarahkan tangannya kepada pelayan agar memabantu Natalie masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu. “Kau akan mandi, dan kami akan meriasmu sangat cantik, hingga Tuan Muda terpesona melihatmu,” kata Elena membuat Natalie tersenyum puas. Itulah tujuan utamanya. Membuat Sultan terpana dengannya. Di luar kamar sambil merebahkan tubuhnya dengan santai, bota mata Sultan memutari setiap ruangan hingga terhenti seketika menatap bak sampah yang memperlihatkan sobekan kertas mirip dengan wajahnya menjumbul. Dia mengernyit, berencana untuk mengambilnya. “Apa ini?” gumamnya mulai berjalan kemudian membuka penutup hitam bulat itu untuk melihat isinya. Samuel tidak hentinya melihat Sultan mengacak-acak isi bak sampah. Dia mendekat seketika. “Tuan Muda, apa yang Anda lakukan?” Samuel menarik bak sampah dengan cepat. Dia tidak akan membiarkan Sultan memegangnya. “Biarkan saya mencari apa yang membuat Anda tertarik,” tegas Samuel masih saja tidak menghentikan Sultan mengambil semua sobekan kertas dan menyatukannya. “Wajahku?” Sultan diam menghembuskan napas saat dengan jelas melihat sobekan itu adalah dirinya dalam lukisan. “Sam, satukan lukisan ini, dan berikan pigora terbaik agar tidak rusak.” Sultan menatap lukisan dirinya dengan sayu. Dia mengerti jika Natalie pasti melakukan itu karena membencinya. “Dia pasti membenciku, Sam. Aku mengerti itu,” pintanya pelan. Samuel segera menyatukan semua sobekan, dan memasukkan ke dalam tas hitam ransel miliknya yang selalu dia bawa. Sultan kembali duduk di sofa. Dia mulai bosan menunggu Natalie yang belum juga keluar. “Sam, apakah wanita selalu saja lama memilih busana? Ini sudah satu jam, dan aku mulai bosan,” gerutu Sultan. Sesaat, suara gagang pintu terbuka membuatnya melirik. Natalie perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Dia memutar tubuhnya dengan gaun merah memperlihatkan lekukan punggung seksinya, terlihat semakin jelas. Sultan memasang wajah kaku, kemerahan, dengan kedua tangan mengepal. “Kenapa baju itu sangat jelek!” teriak Sultan tiba-tiba membuat Samuel spontan berdiri, kemudian mendekati Natalie. Elena panik melihatnya. Dia dengan segera menarik tubuh Natalie yang masih kaku berdiri, menuju kamar kembali. “Samuel, jika dia tidak bisa memberikan baju yang sesuai, aku akan menutup semua butik sialan itu!” Natalie di dalam kamarnya yang sudah tertutup rapat, berusaha menekan hatinya yang juga akan meledak. “Kekasih berengsek! Ini baju sangat bagus, dan aku menginginkannya!” balas Natalie membuat Sultan di luar kamar membuang semua bantal dan boneka di sofa hingga berantakan. “Dasar cewek genit! Apa kau mau memperlihatkan punggung itu ke semua laki-laki?!” “Tuan Muda, minumlah air ini. Elena pasti akan menggantinya dengan pakaian yang sesuai keinginan Anda.” Botol air mineral yang masih di tangan Samuel akhirnya Sultan terima. Dia meneguknya, kembali duduk untuk mengatur hatinya yang sangat kesal. “Dia bisa membuat semua mata laki-laki hidung belang memandangnya, Sam,” katanya sekali lagi membuat Samuel mengarahkan tangannya kepada pelayan Elena yang berjaga di luar. Pelayan yang memakai seragam celana kain abu dan blazer hitam berpadu putih itu segera berjalan cepat menghampiri Samuel. “Baju yang sederhana, dan tertutup. Sampaikan kepada Elena,” pinta Samuel membuat pelayan itu menganggukkan kepalanya. Dengan langkah cepat, pelayan itu mengetuk pintu kamar, bergegas masuk setelah pelayan lain membukanya dari dalam. “Kenapa?” tanya Elena menerima bisikan pesan Samuel dengan mengangguk. “Tidak aku percaya, Tuan Muda berengsek itu seenaknya mengatur hidupku. Baju itu sangat indah dan aku menginginkannya,” rengek Natalie berusaha pasrah dan menerima. Namun, pandangannya teralihkan kepada busana rok pendek diatas lutut berwarna kuning dengan hiasan bunga mawar sangat cantik yang akan memperlihatkan pahanya super mulus. “Karirku akan mati jika tidak ada baju yang cocok,” keluh Elena masih mengamati semua busananya. Dia melirik Natalie menyentuh baju yang membuatnya bernapas lega. “Cepat pakai, karena itu akan membuatmu sangat cantik,” kata Elena menarik tubuh Natalie. Semua pelayan mendekat, membantu memakaikan baju yang cukup mahal pilihan Natalie. Sultan masih saja menunggu dengan geram. Samuel terus berusaha menenangkan hati tuannya yang sangat susah melunak jika kesal. “Samuel, kenapa lama sekali?” Sultan sudah semakin gerah, berdiri dari duduknya. “Ceklek!” Suara pintu kembali terdengar. Sultan seketika menoleh. Natalie kembali berjalan memutarkan busana kuning yang melekat indah di tubuhnya. “Prang!” Botol minuman di tangan kanan Sultan seketika melayang. “Apa kau mau memperlihatkan kedua pahamu itu, hah?! Bagaimana jika semua laki-laki ingin melihat isi rokmu yang pendek itu?!” Sultan kembali murka melihat rok di atas lutut membuat paha mulus putih milik Natalie jelas-jelas terlihat. “Aku menyukai baju ini, dan aku mau memakainya!” balas Natalie dengan berteriak. “Kau ingat yang aku katakan, bagus buatmu tapi cocok untukku!” bentakan semakin keras keluar dari mulut Sultan. Natalie semakin geram, berkacak pinggang dan akan membalasnya. Samuel kembali mengarahkan tangannya agar Elena kembali menarik tubuh Natalie. “Dasar, kekasih berengsek!” jerit Natalie menerima tarikan beberapa pelayan Elena. Di dalam kamar, Elena mengucurkan keringat deras walaupun pendingin ruangan sudah menyebar ke setiap sudut. “Karirku akan tamat!” keluhnya. Dia terus berjalan mondar-mandir sambil berpikir. “Tok, tok!” Suara ketukan keras kembali terdengar. Elena membukanya segera. “Baju tanpa memperlihatkan keseksian, tapi membuat Nona Natalie sangat cantik. Jika kali ini kau tidak bisa memberikannya, aku meminta maaf,” kata Samuel semakin membuat Elena menelan salivanya. Dia mengangguk, kembali menutup kamar. “Apa yang harus aku lakukan?” gerutunya. Dia kembali berpikir. Pandangannya terhenti saat menatap koper yang terlupakan dirinya. Elena menarik napas panjang, tersenyum seketika. “Buka koper itu!” teriaknya segera membuat Natalie ikut menolehkan pandangan ke arahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN