Pertemuan Mencurigakan

2092 Kata
Sultan kembali merebahkan tubuhnya. Samuel memijat kepala Sultan perlahan. “Sam, kenapa kau memanggil perancang itu. Kau tahu sendiri aku sangat membencinya. Dulu Natalie selalu menginginkan baju rancangan Elena yang terbuka itu. Aku tidak pernah menyukainya.” Masih memutar jarinya di kepala Sultan, Samuel berusaha tetap meredakan situasi. “Nyonya Jovanka yang memerintahkan kepadaku, Tuan Muda. Saat itu Nyonya menanyakan apa yang disukai Nona Nat dan aku sangat ingat jika memang Nona Nat menyukai rancangan Elena,” jawab Samuel. Sambil memejam menikmati kepalanya, Sultan kembali tersentak saat pintu terbuka. Dia menampis tangan Samuel yang sedikit menghalangi pandangannya. Dia memandang Natalie berjalan kaku di hadapannya. “Jika baju ini masih tidak membuatnya setuju, akan aku jewer telinganya,” batin Natalie kesal. Namun, dia kali ini mengernyit melihat Sultan hanya diam menatapnya dari atas sampai bawah. Natalie mengenakan model baju dengan panjang medium di bawah lutut, berlengan pendek, dengan taburan berlian biru laut membuatnya semakin indah dan cantik. “Sam, berikan cek kosong kepadaku,” pinta Sultan masih memandang Natalie yang kali ini benar-benar membuatnya terpana. Samuel bisa bernapas lega Sultan akhirnya menyukai busana yang Natalie kenakan. Sedikit senyuman Sultan perlihatkan. Natalie mengedipkan salah satu matanya ke arah Elena yang mengangguk tersenyum bersama beberapa pelayannya. Cek kosong sudah berisi tanda tangan Sultan, siap untuk diserahkan Elena. “Tulislah berapapun nominal harganya yang kamu mau, Elena,” perintah Sultan. Samuel mengambil cek itu dari meja, menyerahkan kepada Elena yang tersenyum puas. Dia melupakan busana termahal yang belum dia keluarkan dari koper. Saat itu Elena mempersiapkan busana sederhana, namum bertabur berlian asli di setiap ujung rendanya. “Kenapa aku melupakanmu Blue Ocean Dress,” gumamnya mengamati cek kosong yang akan dia bawa. “Baiklah, aku akan pergi. Selamat tinggal semua. Terima kasih Tuan Muda Sultan,” ucapnya menunduk meninggalkan ruangan bersama semua pelayan yang membawa peralatannya. Sultan tersenyum mendekati Natalie. Dia masih menatap tanpa ragu. “Kau sangat cantik,” ucapnya pelan. Natalie tersenyum lembut membalasnya. “Baiklah, sekarang tunggu aku! Sam, persiapkan jasku!” Sultan memasuki kamar Natalie untuk bersiap. Samuel membuka cover jas mahal yang sudah disiapkan Elena untuk Sultan. “Sam, dia memakai kamarku yang semuanya berwarna pink. Haha, bukankah itu menggelikan?” Natalie terkekeh, membuat Samuel mengangkat salah satu alisnya. “Itu akan membuat Tuan Muda bahagia, Nona,” jawab Samuel mengikuti Sultan masuk ke dalam kamar dan menutupnya. Natalie kini duduk di sofa berbulu miliknya dengan bahagia. Dalam dua puluh menit, pintu kamarnya terbuka. Natalie terperanjat melihat Sultan dengan sangat gagah memakai jas hitam berdasi biru senada dengan dress yang dia pakai berjalan ke arahnya. Sultan mengulurkan tangan kanannya. “Sudah siap pergi, Putri?” Dengan bersemangat, Natalie menerima uluran tangan Sultan. Mereka sejenak saling memandang. Tangan Tuan Muda yang semula diam, menarik tubuh Natalie hingga kini dalam dekapannya. Samuel seketika meninggalkan ruangan untuk memberikan mereka kesempatan berdua. “Jika sudah siap, aku menunggu Anda di luar, Tuan Muda.” Tatapan dingin mendadak Sultan, membuat Natalie termangu. “Kenapa dengannya? Apakah dia berpikir aku yang meninggalkannya? Jika memang seperti itu, aku tidak akan pernah memaafkannya. Itu karena aku menunggunya begitu lama dan dia tidak datang,” batin Natalie masih dalam hangatnya tubuh Sultan. Kedua matanya tidak melepas pandangan kekasihnya sedikitpun. “Apakah aku cantik? Kau memandangku seperti itu.” Natalie meringis, berusaha membuat Sultan tidak menatapnya dengan kaku. “Aku tidak mengingatmu. Kau siapa?” tanya Sultan membuat kedua mata Natalie mencuat seperti ikan mas koki. Dia menarik napas berusaha menenangkan perasaannya. Dalam pikirannya, Natalie tidak menyangka jika Sultan masih saja tidak mau mengakui ingatannya yang jelas-jelas sangat baik. “Masih sok jual mahal. Sudah jelas dia mengingatku. Dasar!” batinya geram. “Nat, lihat aku!” kata Sultan tegas. Kedua mata mungil Natalie tersorot tepat di retina Sultan. “Jika aku melihatmu menyapa laki-laki selain diriku dan Sam, hukuman untukmu akan aku berikan. Sudah jelas!” Seketika Natalie melotot sembari menganggukkan kepalanya pelan. Sultan semakin mendekati wajah Natalie. Kini kedua kening mereka bersatu. Napas lelaki tampan yang sangat dicintainya berhembus, membuat Natalie menghirupnya. Jari kanan Sultan perlahan membelai pipi mulus wanita pujaannya itu. Kini dia memejamkan kedua matanya. “Aku sangat merindukamu, Putri. Hatiku sangat tersiksa saat melihat wajahmu selalu di dalam pikiranku. Kecemburuan selalu membayangiku. Kenapa kau melakukannya? Apakah aku harus menanyakannya sekarang?” batin Sultan masih memejamkan kedua mata. Alis tipis berwarna coklat milik Natalie mengkerut. Dia tidak paham dengan apa yang Sultan lakukan. “Kenapa dia? Aku … aku semakin tidak mengerti,” batinnya. Natalie masih menahan degupan jantunya. Kini dia melirik sesuatu yang ingin sekali dicicipinya. “Bibir kemerahan itu sangat dekat. Pengen cium!” ucapnya keras spontan membuat Sultan membuka kedua matanya. Dia mengernyit melihat bibir Natalie seperti kerucut. “Ayo kita berangkat!” Tangan yang semula membuat Natalie terbuai, mendadak terlepas. Spontan kedua matanya terbuka kembali dengan wajah cemberut. Sultan tanpa menggandengnya, keluar dari ruangan begitu saja. Natalie yang semula diam, akhirnya mengikuti dengan langkah cepat. “Bos, aku mau dicium!” teriaknya membuat Sultan masih diam. Dia terus melangkah menatap lurus ke depan. Samuel di belakang mereka, hanya diam tidak berkata apapun. “Bos!” Natalie tidak menyerah. Dia semakin menambah kecepatannya melangkah. Tubuhnya kini bisa mendekati kekasihnya yang masih tidak merespon. Jemari lentiknya menarik lengan Sultan yang akhirnya membuat sepatu pantofel itu berhenti. “Aku mau dicium sekarang,” rengek Natalie. “Aku sudah cantik, dan kau kekasihku. Cium!” “Aku tidak mau! Aku mau melakukannya, jika aku ingin. Sekarang, aku tidak mau! Menciummu adalah aturanku juga!” Sultan melanjutkan langkahnya hingga masuk ke dalam lift. Samuel melewati Natalie yang masih bergeming. “Kekasih berengsek!” Kedua matanya melotot melihat pintu lift hampir tertutup. “Tunggu!” teriaknya sembari mengulurkan tangan kanannya dengan maksud mencegah. Samuel dengan sigap menahan pintu dengan tangannya agar Natalie bisa segera masuk. Napasnya berhembus lega melihat Samuel melakukannya. Dia melangkah cepat, berdiri di sebelah Tuan Muda yang masih saja diam tidak memberi respon apapun. Natalie berdiri kesal sambil bersedekap.  “Hmm, lihat saja. Aku akan membuatnya marah, dalam sekejap,” batin Natalie tersenyum. Kakinya melangkah pelan mendekati Samuel yang sedikit mengernyit melihat kelakuannya. Pengawal dengan naluri tajam itu, sangat tahu jika Natalie akan sengaja melakukan sesuatu untuk menarik perhatian Sultan. “Sam, terima kasih kau sudah menahan pintu lift ini. Kau laki-laki terjantan yang pernah aku kenal. Apakah kau sudah memiliki kekasih? Jika belum, maukah kau menjadi kekasihku? Aku sangat merana sekali dan kesepian. Pelukan sangat aku butuhkan. Terimalah aku, Samuel …,” ucap Natalie sontak membuat Sultan melotot mengangkat pucuk bibirnya. Sementara, Samuel diam kaku sembari menarik napas untuk bersiap menerima amukan Sultan. “Sam! Aku benar-benar akan memanggangmu, jika wanita di dalam lift ini memujimu lagi, apalagi melamarmu!” bentak Sultan keras. Senyuman terpancar puas di wajah Natalie. “Rasakan!” batinnya tersenyum sinis. Natalie mendekati Samuel yang spontan membuat Sultan murka. Samuel segera berpindah posisi. Natalie terus mengejarnya. Mereka terus berputar-putar di dalam lift hingga sampai di lantai bawah.   “Apa yang kalian lakukan?!” Suara keras yang Sultan lontarkan tidak membuat Natalie menghentikan apa yang mau dia lakukan. “Sam, keluar!” teriak Sultan. Samuel berjalan cepat keluar dari dalam lift saat terbuka. Natalie yang masih kesal, berjalan melewati Sultan tanpa menatapnya. “Baiklah, aku akan menciummu,” kata Sultan membuat langkah Natalie terhenti. Dia tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya. “Itu harus kau lakukan, atau aku akan mencium laki-laki lain. Ciuman itu aku mulai dari, Sa-mu-el.” Natalie membuat Sultan spontan memegang pipinya. Wajah Sultan semakin mendekat. Sangat dekat, hingga tidak ada lagi sela untuk segera menyatukan bibirnya dengan Natalie. Tapi, “Acheww!” Natalie bersin tiba-tiba membuat Sultan sontak memejamkan kedua matanya sambil menahan napas. Natalie melotot tegang. Jemarinya segera membuka tasnya untuk mengambil tisu, karena wajah tampan Sultan sedikit basah terkena cairan di dalam hidungnya. Kelima jari lentik kanan bergerak cepat membersihkan semua cairan itu. “Ciuman batal!” Sultan membalikkan tubuhnya. Dia berjalan meninggalkan Natalie yang lemas seketika. “Kenapa aku ceroboh?” gumamnya. Kakinya melangkah cepat menyusul Sultan yang sudah memasuki mobil. Natalie tersenyum saat Samuel membukakan pintu mobil untuknya. Dia duduk di dalam mendekati Sultan yang sebenarnya menahan tawa, namun berusaha tidak dia tunjukkan. “Bos, bisa diulangi?” rengek Natalie. “Tidak!” jawab singkat Sultan. Natalie memasang wajah cemberut sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah megah Sultan bernama, Kingdom Abraham. “Aku sudah lama tidak mendatangi rumah ini. Ternyata masih sama seperti dulu. Sangat indah,” batin Natalie terpana. Dia keluar mobil saat Samuel membukanya. Sorotannya masih saja mengagumi megahnya bangunan klasik itu. Taman dengan seratus macam jenis bunga yang sangat subur, semakin membuat halaman rumah terlihat menakjubkan. Rumah yang selalu ada di dalam negeri dongeng, kini sangat nyata di hadapannya. “Selamat datang anakku, Sultan.” Sambutan Jovanka yang Sultan terima dengan baik. Dia memeluk ibu tirinya. “Natalie, kau selalu saja cantik,” sapa Jovanka membuat Natalie tersenyum dan memeluknya. “Terima kasih, Nyonya,” jawabnya. "Ayo masuk!" Jovanka dengan anggun berjalan. Sultan meraih tangan kanan Natalie. Dia menggandengnya untuk berjalan masuk ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi keluarga. Semua mata tertuju pada Natalie. “Aku memang cantik. Semua menatapku,” ucap Natalie membuat Sultan menatapnya kesal. “Dasar cewek genit,” balasnya berbisik. Nataile masih saja menebar senyuman kepada semua orang yang menyapanya. “Dia memang sangat cantik, Sultan. Kau harus terbiasa melihat wanita yang kau genggam itu mendapat perhatian semua orang,” ucap Jovanka yang hanya ditanggapi Sultan dengan diam. “Baiklah, aku akan menjemput ayahmu di dalam kamar untuk keluar.” Jovanka tersenyum, kemudian meninggalkan mereka. Saatnya semua orang yang semula duduk, seketika berdiri karena sang Bos Besar memasuki ruangan. “Aku tidak mau kau terlepas dari pandanganku, jelas!” bisik Sultan tegas. Anggukan pelan Natalie, membuat Sultan kembali menatap ayahnya yang sudah berjalan didampingi Jovanka. Laki-laki bertubuh besar dalam balutan jas hitam, dengan gagah duduk di kursi berbahan emas yang disiapkan khusus untuknya. Pandangan tajamnya seketika menyapu jajaran semua orang dan terhenti saat melihat ahli warisnya yang sudah berangsur membaik berdiri tidak jauh dari posisinya. “Sultan anakku, kemarilah!” Suara tegas yang keluar dari mulut laki-laki terkaya se Eropa itu tidak membuat Sultan segera beranjak. Dia malah menatap Samuel dan mengarahkan tangannya. Samuel seketika lebih mendekat. “Jaga Natalie! Aku tidak mau dia lepas dari pandanganku, Sam,” bisiknya pelan namun tegas. “Baik,” jawab Samuel singkat. Sultan mulai melangkah untuk mendekati ayahnya yang akhirnya tersenyum. “Kenapa kau membuatku menunggu satu menit, Sultan? Kau tahu, menunggu adalah hal yang sangat aku benci.” Sultan tidak menjawab perkataan ayahnya. Dia kini menduduki kursi tepat di sebelah ayahnya, dan masih terdiam. “Lihatlah aku saat memimpin acara. Suatu saat, kau yang menggantikan posisiku.” Kali ini Sultan membalas ucapan ayahnya dengan sedikit senyuman dan anggukan kepala. Bos Besar sedikit tersenyum melihat hal itu. Lelaki berpengaruh dengan kekayaan luar biasa itu memulai berbicara tentang semua manajemen perusahaannya kepada keluarga besar. Natalie hanya mengamati mereka dari jauh. Sultan sesekali mengawasi Natalie yang membalasnya dengan senyuman. Namun, setelah Natalie duduk selama tiga puluh menit, perutnya terasa kaku. “Sam, aku ingin melakukan sesuatu. Duh, aku tidak tahan.” Natalie merapatkan kakinya untuk menahan cairan yang harus dia keluarkan dari dalam tubuh. “Sam, aku harus ke toilet,” bisiknya. Samuel memandang Sultan dari kejauhan. Dia memberi kode kepada Sultan dengan jari yang mengarah ke toilet saat sorotan Sultan bertumbukan dengan sorotannya. Sultan menganggukkan kepala yang menandakan ijin diberikan. Samuel akhirnya membiarkan Natalie melakukannya. “Nona, saya akan mengantar Anda,” ajak Samuel membuat Natalie melotot. Dia menggeleng cepat. “Sam, jangan mengantarku!” Jari telunjuk kanannya dengan tegas terarah kepada Samuel yang membuatnya diam. “Diam di sini, dan tunggu aku!” bisiknya tegas sekali lagi. Samuel masih memasang mata kepada Natalie yang diam-diam dia ikuti. Natalie segera masuk ke dalam toilet. Sesaat dia kembali terpana melihat kamar mandi sebesar apartemennya yang tergolong luas. “Kamar mandi ini lebih indah dari kamarku? Dasar orang kaya.” Dia segera membuka celana, melakukan tugasnya. “Hah, lega.” Natalie membenarkan rok dan merapikannya. Dia kemudian menuju cermin untuk  menata rambutnya. “Aku masih saja cantik. Tentu saja,” ucapnya tersenyum. Tubuhnya berbalik, melangkah cepat menuju pintu untuk keluar. Kakinya terhenti seketika saat melihat Jovanka menerima ponsel dari seseorang dengan gelisah. Dalam pikirannya, Natalie memutuskan untuk mengikuti Nyonya Besar itu karena rasa penasaran. “Aku harus mencari tahu, apa yang Nyonya itu akan lakukan. Dan… Nyonya pasti menemui seseorang yang ada hubungannya dengan Sultan,” gumamnya pelan. Sambil mengendap, Natalie berjalan mengikuti Jovanka hingga menuju taman belakang. Tubuhnya terperanjat saat pundak kiri berhiaskan berlian, tersentuh tangan yang hampir membuatnya terjatuh. “Argh!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN