Natalie terkejut seseorang memergokinya.
“Sam, kau mengejutkanku. Aku hampir saja tersungkur,” protesnya dengan berbisik.
“Nona, tidak seharusnya Anda berada di sini.”
“Sam, menunduk!” Natalie menarik tubuh Samuel yang akhirnya ikut menunduk di sebelahnya. “Sam, dengarkan aku! Nyonya Jovanka menerima telepon. Aku mendengar dia marah-marah saat menerimanya. Lihatlah, dia berbicara dengan seseorang di balik pohon itu. Dan aku pikir, orang itu adalah penjahat.” Samuel kini menatap arah suara Jovanka untuk memastikan apa yang Natalie katakan benar.
“Suara itu ....” Samuel semakin tegang saat suara itu terdengar jelas di telinganya.
“Sam, jangan berisik,” bisik Natalie. Kini mereka berdua mendengarkan dengan serius pembicaraan Jovanka dengan seseorang yang hanya terlihat telapak tangannya karena terhalang pohon besar.
“Kau tidak seharusnya berada di sini!” Jovanka menatap sosok di hadapannya itu dengan tegang.
“Hahaha, berikan Sultan! Aku sangat menginginkannya,” ucapnya pelan namun tegas membuat Jovanka semakin geram.
“Kau … kau, sudah keterlaluan! Sultan tidak akan pernah aku berikan!” Jovanka perlahan melangkah semakin mendekati sosok yang masih tersenyum dominan di hadapannya. “Aku akan menyembuhkanmu. Ikutlah denganku!” rayunya yang malah membuat sosok itu melepas tawa.
“Hahaha, menggelikan. Aku tidak akan termakan rayuanmu," balasnya memperlihatkan wajah kaku seketika.
"Baiklah, aku akan mengambil Sultan dengan caraku sendiri. Dan, satu hal yang perlu kau ingat, wanita …,” katanya membuat Jovanka semakin tegang. “Suamimu itu, sang Bos Besar, akan hancur dalam sekejap. Rahasia besarnya akan aku ungkap. Siapapun juga tidak bisa menahanku. Apa kau dengar ucapanku?” Jovanka menarik napas berusaha menenangkan hatinya.
“Apa, kau sudah gila!” bentak Jovanka kembali membuat dia yang berada di hadapan Nyonya Besar semakin tertawa keras.
“Hahaha, bersiaplah! Karena aku, akan mengambil Sultan. Dan … membongkar semua rahasia Bos Besar!”
"Kau!"
Natalie bersama Samuel melotot seketika. Mereka tidak percaya dengan perkataan mereka. “Rahasia Bos Besar? Sam, apa kau mengetahuinya?” bisik Natalie melotot ke arah Samuel yang menggelengkan kepala.
“Aku tidak mengetahuinya, Nona,” jawab Samuel pelan sembari menarik napas.
Sorotan tajam Natalie masih tidak terlepas pada sosok Jovanka yang akhirnya masuk kembali ke dalam rumah saat Devoni berlalu.
“Kita harus segera pergi dari sini, Sam.” Tangannya menarik lengan Samuel untuk segera beranjak dari sana agar mereka tidak tertangkap. Pandangan tajam masih sama-sama mereka perlihatkan. Apa yang mereka dengar barusan, adalah hal yang sangat mengejutkan.
“Apa yang harus kita lakukan, Nona Natalie?” tanya Samuel.
“Save my Boss!”
Samuel masih diam mendengar apa yang Natalie katakan. Dia berusaha membuat dirinya sendiri tidak meluapkan emosi. Sosok Samuel adalah tanpa kompromi. Jika ada sesuatu yang membuat dirinya kesal, lawannya akan tumbang seketika.
“Sam, kita harus mulai mengamati semuanya nanti. Sosok misterius itu, sepertinya akan mulai melakukan tindakan. Tapi … siapa dia?” Natalie masih mengelus-elus dagunya sambil berpikir. Berjalan beberapa detik, kedua matanya melebar mendadak. Dia kini menatap Samuel. “Sam, apa jangan-jangan dia adalah …” Natalie semakin melotot melihat ekspresi Samuel sontak tegang dengan amarah.
“Sam!”
Bos besar sangat beruntung menemukan sosok Samuel. Dia saat itu bertemu dengan Bos Besar di salah satu gedung opera. Dia melintas, tidak sengaja melihat seseorang membawa senjata tajam ingin melukai ayah Sultan. Orang itu diam-diam menerobos semua pengawal. Samuel dengan sigap menarik tubuhnya dan menumbangkan seketika dengan keahliannya bela diri. Dia sendiri adalah pemuda yang menjuarai pertandingan seni karate tingkat nasional. Namun, kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan, hingga membuat dirinya hidup sendiri.
Bos Besar seketika itu menawarkan pekerjaan sebagai pengawal pribadi Sultan yang saat itu berumur 14 tahun. Bos Besar menginginkan seorang pengawal yang memiliki umur tidak jauh berbeda dari anak kesayangannya itu. Umur Samuel hanya terpaut lima tahun dari Sultan. Dengan senang hati Samuel menerimanya, dan menjadi pengawal Sultan hingga puluhan tahun lamanya.
“Kau, kenapa diam seperti itu?” protes Natalie sembari mengangkat kedua tangannya.
“Nona Natalie, sebaiknya kita kembali ke dalam ruangan. Masalah ini akan kita bicarakan nanti. Tuan Muda akan sangat marah jika dia tidak melihat Anda.”
“Sam, ini adalah rahasia. Jangan sampai Sultan mengetahuinya. Kita akan menyelidikinya bersama. Apa kau mengerti?” Natalie mengkerutkan kedua alis, menatap Samuel yang masih diam berpikir. Dia mendengus kesal. Lagi-lagi ekspresi Samuel yang selama ini dibenci Natalie harus dia lihat lagi. Raut wajah diam kaku, dengan penuh teka-teki.
“Sam … Sam! Kau selalu saja lama berpikir,” protes Natalie sembari mengangkat kedua tangannya.
“Melindungi Tuan Muda adalah tugasku, Nona. Masalah ini sangat membahayakan nyawa Tuan Muda. Aku harus memikirkan sebuah cara,” ujarnya.
Natalie terdiam sesaat kemudian menganggukkan kepalanya. “Baiklah, kau benar, Sam. Kita sebaiknya kembali. Besok, kita akan membicarakan masalah ini lagi. Jika kau sangat lama berpikir, aku akan bertindak lebih cepat darimu.” Setelah selesai dengan perkataannya, Natalie berjalan kembali masuk ke dalam ruangan inti. Samuel masih dalam diam mengikutinya. Dari kejauhan, Sultan sudah memasang wajah masamnya.
“Ke mana saja mereka? Aku tidak akan pernah memaafkannya,” batinnya kesal. Sultan tidak membalas senyuman Natalie saat mengarah kepadanya.
“Sam, dia tidak membalas senyumanku,” bisiknya sedikit melirik Samuel.
“Kita terlalu lama di luar, Nona. Aku harap Nona bisa meredakan Tuan Muda nanti,” balas Samuel membuat wajah Natalie sedikit mengerut lemas.
“Aku harus bersiap terkena kemarahannya. Hah, biar saja. Dia sangat tampan jika marah. Kenapa aku lemah dengan laki-laki sangat angkuh itu?" gumamnya. Natalie terus melempar senyum ke arah Sultan walaupun sama sekali tidak dibalasnya.
Waktu berjalan selama dua jam. Rapat keluarga akhirnya selesai. Berbagai menu makanan mewah di atas meja berhiaskan bermacam-macam jenis bunga segar, mulai disantap oleh semua orang. Natalie yang menganga melihat steak lezat di salah satu piring, segera diambilnya. Dia menatap dengan lidah yang terus bermain di dalam mulutnya. “Daging ini … akan aku san—” Spontan tangannya terhenti saat Sultan mengambil piring digenggamannya, lalu meletakkan di atas meja. Bumbu barbeque dari steak itu sedikit terkena baju mahal Natalie.
“Bajuku …,” lirihnya.
“Tidak perlu makan. Kita pulang!” Sultan menarik tangan Natalie. Samuel tetap mengikutinya dalam diam.
“Sayang, tanganku sakit,” rengek Natalie. Sultan tidak menghiraukannya. Dia tetap mencengkeram telapak tangan Natalie, walaupun pergelangan tangan mungil itu mulai kemerahan.
"Sam, buka pintu mobil!" Dengan sigap Samuel melakukannya.
“Masuk mobil, dan diam!” bentaknya membuat Natalie cemberut. Dia duduk dengan bersedekap. "Berengsek! Aku tidak jadi makan steak itu. Menyebalkan!" gerutu Natalie yang ditanggapi Sultan dengan santai.
Tuan Muda tampan itu kini menarik lengan Samuel. Mereka menjauh dari posisi mobil. Natalie semakin mengamatinya dengan kesal.
“Sam, kenapa kalian lama sekali? Jawab dengan jujur! Atau … kalian menemukan sesuatu? Jawab, Sam!” Ponselnya Tiba-tiba berdering. Sultan terkejut melihat nomor tidak dikenal ada di layar.
“Jangan diterima, Tuan Muda!” cegah Samuel. Sultan mengernyit sesaat, baru menekan tanda merah yang berarti menolak panggilan.
“Nyonya Jovanka menemui dia." Samuel membuat kedua mata Tuan Muda membelalak.
"Dia? Bukankah hanya kita berdua yang mengetahuinya, Sam!" tanya Sultan sembari mengangkat kedua tangan.
"Untuk selebihnya kita akan membicarakan besok, Tuan Muda. Lebih baik kita kembali ke apartemen. Aku sendiri tidak mengetahui hal itu.” Sultan saling bertatapan tajam dengan Samuel dalam diam. Dalam beberapa detik, dia akhirnya berjalan kembali menuju mobil tanpa bersuara. Saran Samuel adalah yang terbaik di pikiran Sultan.
“Bos …” Suara lembut berasal dari Natalie tidak membuat Sultan menolehkan pandangan.
“Diam, dan jangan bersuara!” tegas Sultan membuat wanita centil di sebelahnya diam seketika.
“Makanlah ini. Kau belum makan dari tadi.” Sultan memberikan sekotak kue sangat cantik membuat kedua mata mungil Natalie melotot. Sekotak kue tart berbentuk hati Sultan ambil di meja khusus hidangan penutup. Dia berikan kepada salah satu pengawal untuk diletakkan di dalam mobil sebelum mereka memasukinya.
“Sangat cantik. Gimana aku memakannya? Aku tidak tega. Tapi … aku lapar. Selamat tinggal kue cantik,” gumam Natalie konyol membuat Sultan menahan tawa.
“Dia selalu saja menggemaskan,” batin Sultan melihat Natalie dengan lahap menghabiskannya dalam sekejap.
Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam hingga sampai di apartemen. Natalie membuka pintu mobil tanpa menunggu Samuel melakukannya. Tubuhnya segera keluar dan berjalan meninggalkan kekasihnya yang semakin marah melihatnya.
"Kenapa dia meninggalkanku? Menyebalkan," gerutu Sultan dan segera keluar dari mobil saat Samuel sudah siap di sebelah pintunya.
“Sam, aku akan berada di kamarnya. Kau beristirahatlah di kamarmu.” Samuel menganggukkan kepalanya.
Sultan mempercepat langkah untuk mendekati Natalie yang dengan mudah dia kejar. Di dalam lift mereka masih saling diam. Natalie terus memalingkan wajahnya. Sultan sebenarnya tidak tahan dengan sikap cuek Natalie. Dia terus mengatur hatinya, namun menyerah.
“Ke mana saja tadi?” Akhirnya Sultan melontarkan suaranya.
“Hmm, sepertinya ada yang bersuara …,” balas Natalie membuat Sultan lebih menyerah lagi dengan menarik tubuh wanita mungil itu yang kini berada dalam dekapannya.
“Kenapa kau selalu saja melanggar perintahku?” bisik Sultan. Jemari Sultan perlahan membelai pipi Natalie yang tidak memalingkan pandangannya.
“Cup!”
Dengan mendadak Natalie mengecup permukaan bibir Sultan. Kedua mata Tuan Muda seketika melotot, kemudian melepaskan dekapannya. “Aku bilang jangan dicium!” bentaknya. Namun tidak merubah wajah Natalie yang bersemu.
“Maaf, tidak tahan. Habis, kamu seksi, sih,” ucapnya manja. Sultan masih diam mengatur hatinya. Dia melonggarkan dasi agar bisa mengatur degupan jantungnya yang berlari kencang. "Kenapa dia menciumku?" batinnya kesal.
Pintu lift terbuka. Sultan cepat-cepat berjalan keluar. Natalie dengan santai mengikutinya dari belakang. Kaki ramping mulusnya terhenti saat mengetahui Sultan dengan santainya masuk ke dalam kamar. Natalie bergegas menambah kecepatan langkahnya untuk mendekati kekasihnya yang sudah membuka jas dan melempar ke sembarang tempat.
“Bos, ini kamarku. Kita belum menikah, dan aku tidak mau satu kamar denganmu!” bentak Natalie yang sama sekali tidak direspon Sultan.
“Bos!” Kali ini Sultan menolehkan pandangannya. “Aku mau tinggal di sini, dan itu aturanku!” jawabnya semakin membuat Natalie geram. Dia menggeleng cepat, sembari melangkahkan kakinya untuk mencegah Sultan memasuki kamar inti.
“Bos, kita belum menikah! Dan, kita tidak boleh bersama. Ini aturanku!” Sultan diam semakin memandang Natalie. Dia mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. Natalie melebarkan kedua mata sambil menelan salivanya melihat d**a kekar rata sangat seksi.
“Itu … kekar banget. Hah, aku ingin menyentuhnya …” Natalie sesaat terbuai dengan keseksian Sultan. Namun, dia segera menggelengkan kepala untuk kembali memusatkan pikirannya. “Aku tidak boleh terlena. Dia tetap tidak bisa tinggal denganku. Bagaimana jika aku akan mengganti baju, dan dia bisa melihat … tidak! Harus, aku usir!” gumamnya terus menggeleng.
“Bos keluar!” Jari telunjuk Natalie mengarah ke pintu. Senyuman tipis terlihat di wajah Tuan Muda yang selalu dingin. Perlahan kakinya melangkah, membuat degupan jantung Natalie semakin kencang. Apalagi tubuh kekar Sultan semakin jelas terlihat dari dekat.
“Eh, kok …”
Sultan mengangkat tubuh Natalie dan merebahkannya di atas ranjang. Kedua sepatu yang masih terpasang di kaki Natalie, dilepaskannya perlahan. “Merah? Kenapa kakimu?” Sultan terkejut melihat kulit putih mulus wanita yang dicintainya sedikit terluka akibat goresan kulit sepatu.
“Aku akan membereskan masalah ini besok.” Sultan menata posisi tubuh Natalie. Dia ikut menaiki ranjang, kemudian menarik selimut. Kini tubuh Natalie berada dalam pelukannya.
“Dia memelukku. Aku jadi tahu bahwa dia memang angkuh. Tapi soal hati, dia sudah memperlihatkannya kepadaku. Biasanya aku hanya membayangkan hal ini setiap hari. Kini, aku bisa berada satu ranjang dengannya? Arggghhhh!”
Sultan sontak melepaskan tubuh Natalie. Pekikan mendadak menyerang telinganya itu yang membuat dia melakukannya. “Natalie Leteshia! Kau!” bentak Sultan sambil memegang kepalanya lalu mengatur napas.
“Maaf, Bos. Aku tidak sengaja,” rengek manja Natalie dengan wajahnya yang semakin cantik membuat Sultan mereda seketika.
“Sudahlah, tidur!” Sultan kembali mengatur selimutnya. Kini mereka kembali berpelukan.
“Bos, cium!” pinta Natalie menatap wajah Sultan yang sudah memejam.
“Besok!” jawab Sultan singkat.
“Sekarang!”
“Besok!”
“Bos! Se-ka-rang!”
“Ssst, besok!”
“Menyebalkan!”
Pandangan Natalie mulai remang karena mengantuk. Pelukan hangat Sultan semakin membuatnya terlelap. Kini mereka berdua tertidur dalam kehangatan yang sudah mereka tunggu selama tujuh tahun lamanya.
***
Pagi mulai menjelang. Natalie perlahan terbangun. Dia terduduk dan berusaha melebarkan kedua matanya. Sosok laki-laki tampan duduk di hadapannya dengan sangat rapi. “Jangan terlambat bekerja. Lihatlah jam itu! Tiga puluh menit lagi, jika kau tidak sampai di kantor, aku selamanya akan tinggal di kamarmu,” kata Sultan membuat Natalie semakin terbangun. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali agar semakin jelas melihat.