Sultan berdiri, melangkah pelan mendekati Natalie yang masih termangu di atas ranjang.
“Baju itu pakai, dan segeralah berangkat!” Sultan tersenyum sinis, berjalan keluar dari kamar. Sementara Natalie masih diam tidak bergerak. Di luar kamar, Samuel mendampingi Sultan untuk menuju ke dalam mobilnya.
“Apakah dia akan berhasil, Sam?” ucapnya masih berjalan santai. Jemarinya terus bergerak menyentuk pahanya, menandakan kegelisahan.
“Aku pikir Nona Nat akan memenangkannya, Tuan Muda,” jawab Sam membuat Sultan mengernyit.
“Baiklah, kita lihat saja nanti.”
Pintu lift terbuka, Sultan dan Samuel melangkah masuk. Mereka berdiri tegak saling menatap dengan rasa penasaran terhadap Natalie.
***
Natalie menuruni ranjang, berlari menuju kamar mandi. Dia membasahi tubuhnya dengan cepat. “Dasar berengsek!” teriaknya sembari mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. “Aku tidak boleh kalah!” Tangannya mengambil baju putih sangat indah yang sudah disiapkan untuknya. “Arghhh! Baju rancangan Elena terbaru. Kau sangat indah,” ucapnya memasang wajah kagum. “Aku harus cepat.” Dia segera memakainya.
Kali ini Natalie tidak menuju cermin riasnya. Dia segera memakai kedua sepatu, tidak lupa topi kesayangannya. Tangannya mengambil tas yang kemudian dia jinjing, lalu berjalan cepat keluar dari kamar menuju lift.
Jari lentik mulai menekan tombol lift berkali-kali. Wajah Natalie mengernyit karena tidak melihat tanda lampu menyala yang berarti lift bisa digunakan.
“Pintu lift ini, kenapa mati? Dia … berengsek! Arghhhh!” Sultan sengaja melakukannya agar Natalie tidak bisa memenangkan perintahnya.
Natalie memegang kepalanya. Dia berpikir keras untuk bisa lolos dari tugas menyebalkan dari kekasih berengseknya itu. "Dasar berengsek!" umpatnya. Pandangannya seketika terhenti ketika mendengar suara pintu lift dari arah lain terbuka. Bola matanya berputar, dan akhirnya Natalie melepas senyum.
“Hahaha, lift pegawai itu sangat pas untukku.” Kaki Natalie berlari masuk ke dalam lift laundry. Dia semakin kesal saat bau menyengat menyerang hidungnya. “Bau! Menyebalkan!”
Pintu lift terbuka. Natalie terus berlari sambil menutup hidungnya melewati ruang laundry yang sangat menyengat. Dia mengatur napasnya hingga sampai ke parkiran. Kedua matanya semakin melotot tidak melihat mobil di sana. Dia melupakan jika mobiil VW miliknya tidak ada.
“Berpikirlah, Natalie …” Kedua matanya menyorot pemuda dengan motor butut di pinggir jalan. Natalie tersenyum, segera menghampiri. “Hai, tampan. Uang ini akan menjadi milikmu jika kau bisa membawaku ke kantor Abraham dalam dua puluh menit.” Natalie menyodorkan beberapa lembar uang yang membuat pemuda itu tercengang.
“Naik!” jawabnya singkat.
Natalie menerima helm putih agak usang dari pemuda itu. Tanpa berpikir, dia memakainya lalu membonceng belakang. Namun, Natalie agak resah melihat pemuda itu masih belum bisa menyalakan mesin. “Aku tambah lagi uangnya. Nyalakan!” bentaknya hingga dalam beberapa detik, “Jreng!” Mesin menyala.
Motor butut dengan suara mesin keras melesat kencang. Natalie berpegangan pada pinggang pemuda itu yang terus melaju. Samuel terkejut melihat Natalie memeluk pemuda dari kaca spion. Sultan yang juga melihatnya menjadi murka.
“Apa yang dia lakukan?!” teriaknya kesal. “Sam, jika kau tidak bisa mengejarnya, aku akan benar-benar memanggangmu!”
Natalie melotot melihat mobil mewah Sultan yang sempat disalipnya karena berjalan santai, kini mengejar. “Gawat! Lewatlah jalan pintas, dan hindari mobil itu!” teriaknya membuat pemuda itu membelokkan kemudinya ke kanan dengan cepat. “Arghhhh!” teriak Natalie saat tubuhnya serasa ingin terlempar dari jok.
“Natalie Leteshia!” teriakan Sultan di kaca jendela mobil yang sudah terbuka. Dia semakin kesal saat mendapat balasan juluran lidah Natalie. “Wekk!”
"Apa?!" Tangan kuat Tuan Muda memukul jok kursi depan. “Buk!”
“Tuan Muda, sebaiknya kita menuju kantor. Jika Nona sampai terlebih dahulu, Anda akan kalah.”
“Baiklah, Sam! Dan, cepatlah!”
***
Di sebuah gang sempit, pemuda itu masih melaju. Hingga dia berhenti mendadak. Natalie menggerakkan kepalanya sedikit kekiri. Dia sontak terkejut melihat tangga di hadapan motor butut yang dinaikinya. “Jangan bilang kau akan menuruni tangga itu dengan motor ini,” kata Natalie tegang.
“Berpeganganlah!” teriak pemuda itu. Dia menekan pedal gas dengan cepat. Motor dengan mesin bersuara keras itu kini melewati tangga menurun membuat tubuh Natalie bergetar. “Arggghhhh!”
“Kita akan terjatuh!” teriaknya semakin kencang. Pemuda yang masih melaju, semakin mengencangkan motornya. Dia menerobos jalanan yang dipenuhi kandang ayam hingga bulunya menancap di baju Natalie.
“Aku akan membunuhmu, Sultan! Dasar kekasih berengsek! Arghhhh!” Natalie masih saja berteriak sambil memejamkan kedua matanya. Motor terus melaju kencang, berbelok mendadak.
“Cuiit!”
Pemuda itu menekan rem yang membuat motor akhirnya berhenti. Natalie memegang kepalanya. Dia menuruni motor dengan keadaan sangat berantakan. Tubuhnya serasa masih melayang. "Aku benar-benar akan membunuhnya, Tuan Muda berengsek!"
“Sudah sampai!” kata pemuda itu. Motor terhenti di sebuah halaman penuh rumput alang-alang. Natalie perlahan semakin melebarkan kedua matanya. Dia melepaskan helmnya mengamati semua arah. “Di mana ini? Apakah kau mau menculikku?!” tanyanya kesal.
“Masuk lewat pagar itu, dan kau sampai di perusahaan. Kakakku bekerja sebagai koki. Dia selalu melalui jalan ini. Tenanglah. Mana mungkin aku berani menculik wanita Tuan Muda. Kau lihat saat dia marah di jalanan tadi? Jangan bawa diriku jika dia marah, ok!" jawab pemuda itu sambil menyodorkan telapak tangan kanannya. Natalie memberikan jumlah uang sesuai kesepakatan. Dia segera berlari dan mengikuti saran pemuda itu yang memang benar. Sela pagar kecil dia masuki.
“Krek!”
“Bajuku … dia memang benar-benar berengsek! Argh!” Sembari berteriak karena baju mahalnya robek, Natalie sedikit menoleh ke arah pemuda yang membantunya.
“Semoga beruntung!” teriak pemuda itu mendapat balasan senyuman Natalie.
Kakinya terus melangkah masuk, dan ternyata dia melewati belakang gedung, tepatnya ruangan gudang barang. Natalie segera menaiki lift kemudian menekan lantai dua puluh lima. Saat pintu terbuka, dia berlari hingga benar-benar sampai di depan ruangan Sultan.
“Aku memenangkannya,” batinnya puas saat melihat jam yang berada di salah satu meja pegawai tidak jauh dari posisinya masih menunjukkan waktu kurang dari lima menit. Dengan segera dia memegang gagang besi pintu untuk membukanya.
“Ceklek!”
“Apa? terkunci?”
“Kau tidak akan bisa menang, Natalie!”
“Berengsek!”
Natalie terus mengamati jarum jam yang perlahan memutari angka. “Satu menit lagi, dan aku gagal,” gumamnya lemas. Semua pegawai yang baru berdatangan menatap Natalie dengan berbisik.
“Aku adalah wanita paling buruk di dunia,” ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya. Napasnya berhembus perlahan. Dia sebenarnya ingin sekali selalu bersama Sultan. Namun, bersama sebelum menikah itu adalah hal yang dilarang.
Pesan mendiang ibunya mengatakan, “Menjadilah wanita yang sangat tinggi derajatnya dengan memegang kesucianmu sebelum menikah. Bersentuhanlah dengan pasanganmu saat kau sudah sah. Dengan begitu, kau akan menuju surga bersamanya. Hidup sampai mati, selalu bersama.”
Rasa cinta Natalie yang sangat mendalam kepada Sultan, membuat dia melakukan hal itu. Dalam pikirannya, dia menginginkan bersama laki-laki yang dicintai sampai alam baka. Pesan ibunya dengan teguh dia lakukan. Itu adalah aturan mutlak bagi dirinya.
“Bagaimana ini, aku tidak bisa melanggar aturan Ibu,” katanya berjalan sambil menempelkan telapak tangan kanannya di tembok.
“Nona, Natalie!” Seketika tubuhnya berbalik saat Samuel memanggilnya. “Samuel …,” ucapnya mengernyit tidak percaya tangan kuat pengawal setia Sultan itu menyodorkan kunci pintu ruangan.
“Anda harus membukanya. Waktu Anda hanya sepuluh detik dari sekarang,” kata Samuel membuat Natalie tersenyum melangkah cepat menuju pintu. Jemarinya memasukkan kunci ke dalam lobang, kemudian memutarnya hingga mengeluarkan bunyi yang menandakan pintu terbuka.
“Ceklek!”