Kaki kanan Natalie maju selangkah tepat di detik terakhir ke dalam ruangan. Sultan di kursi kerjanya menatap tajam melihat kekasihnya memenangkan sesuai perkataan Samuel. Sedikit senyuman Samuel perlihatkan di belakang tubuh Natalie.
“Ternyata kau menjadi penghianat, Sam,” sindir Sultan.
“Melakukan sesuatu tidak bisa dilakukan dengan curang, Tuan Muda,” balas Samuel sembari membungkukkan tubuhnya, lalu meninggalkan mereka.
Natalie menutup pintu, melangkah genit melewati Sultan begitu saja. Dia duduk di sofa, melakukan pekerjaannya sesuai kontrak. Hanya duduk agar Tuan Muda bisa memandangnya.
“Kau tidak bisa bersama orang sembarangan! Bagaimana jika dia adalah penjahat dan kau akan—” Sultan menggantung kalimatnya. Rahangnya mengatup tegas. Alisnya menukik. Dia berdiri dari duduknya. “Orang jahat ada di mana-mana. Kau bisa saja dilecehkan!” sambungnya.
Natalie memilih tidak merespon dan memanjangkan percakapan ini. Tapi, dia memasang wajah bahagia. Hatinya tersentuh dengan perhatian lebih yang Sultan berikan. Namun, Natalie memutuskan untuk tetap diam.
Sultan menarik napas, menekan emosinya. Dia mendekati wanita pujaannya yang masih memasang wajah masam. Sultan duduk di sebelahnya, kemudian memeluknya. Jemari Sultan mengelus-elus punggung Natalie.
“Bagaimana bisa marah kalau dia sudah seperti ini. Tidak! Aku harus menahannya," batin Natalie tersipu di dalam dekapan Sultan. “Hmm, detakan jantungnya sangat kuat. Seperti orangnya, kuat dan berkarisma. Argh!”
“Natalie! Tidak mungkin!”
Sultan menggeleng. Dia terperanjat dan melepaskan pelukannya begitu saja saat pekikan kembali terdengar. Natalie berusaha menahan kekagumannya dan masih kaku di sebelah Sultan.
“Aku akan tetap diam. Rasakan!” batinnya puas.
“Kau mandi saja dulu. Baju baru sudah disiapkan di dalam sana.” Masih tidak berkomentar apapun, Natalie beranjak dari duduknya untuk melakukan perintah Sultan. Lirikan sinis dengan ujung bibir yang terangkat, membuat Sultan semakin mengkerutkan kedua alisnya.
“Dia sangat marah. Aku sepertinya keterlaluan,” gumam Sultan kini duduk kembali di kursi kerjanya.
“Tok, tok!”
“Masuklah!”
Sekretaris membawa beberapa dokumen penting masuk mendekati meja Sultan. “Tuan Muda, kolom ini harus Anda tandatangani.” Beberapa map biru diterima Sultan. Dia mengambil bolpoint dengan baluran warna emas, siap menorehkan tintanya ke dalam semua dokumen. Sultan mulai akan melakukannya. Tapi, “Arghhhh!”
“Sret!”
Pekikan Natalie membuat Sultan menorehkan bolpointnya dengan sembarangan. Tinta yang berada di dalamnya, terarah ke semua kolom hingga menjadi berantakan. Hembusan napas kasar Tuan Muda itu keluarkan. “Dia berteriak pasti karena baju itu,” gerutu Sultan sembari menggelengkan kepalaya. Sekretaris yang berada di hadapannya, hanya diam menahan diri dengan mencengkeram blazer di dadanya.
“Buatlah dokumen baru.” Sekretaris menganggukkan kepalanya, berjalan meninggalkan ruangan. Sultan melonggarkan dasinya terus menatap kamar mandi yang masih belum terbuka. “Dia, kenapa lama sekali? Apakah semua wanita selalu seperti itu?” Pandangannya masih tidak terlepas dari pintu yang masih tertutup rapat.
Di dalam kamar mandi dengan gaya khas Eropa sangat mewah, Natalie masih menatap gaun lain rancangan Elena yang terbaru. “Tidak aku sangka pekerjaanku semakin menyenangkan. Hanya duduk di sofa itu menggunakan semua busana impianku. Kau … adalah yang terbaik untukku, wahai kain gemerlap bertabur berlian. Huh … aku menyayangimu, karena kau secantik diriku. Hihihi …” Natalie terus memutar tubuhnya dengan menyibakkan rok selutut yang sangat pas menempel di tubuhnya. Lekukan bodi biola yang sangat seksi, membuat dirinya semakin cantik. Ditambah lengan pendek berenda dengan bertaburan berlian merah, semakin membuat kecantikannya tiada lawan.
“Cermin-cermin ajaib, akulah yang paling can—” Mulutnya terhenti saat kekasihnya masuk mendadak memberikan tatapan kaku. “Cantik. Cermin itu sudah menjawabnya. Keluar!” kata Sultan tegas. Natalie memutar bola matanya jika sangat kesal. Dia melewati Sultan begitu saja masih tidak bersuara.
“Hmm, sepertinya dia sengaja melakukannya. Kenapa aku tidak tahan melihatnya mengacuhkanku?” Pandangan Sultan tidak teralihkan sama sekali kepada yang lain kecuali sosok wanita yang sekarang duduk di sofa dengan wajah masam. Perlahan Sultan mendekatinya. Kini mereka duduk saling berdekatan.
“Nat, apa kau mau makan siang denganku?” Rayuan kalimat konyol yang terlintas di pikiran Sultan. Waktu masih menunjukkan cukup pagi. Dia kembali merapikan jasnya yang sebenarnya sudah sangat rapi. Bahkan, sama sekali tidak berantakan. “Aku benar-benar bodoh,” batinnya sembari berpikir apa yang sebenarnya akan dia lakukan. Terus merayu, atau kembali dengan sikap angkuhnya?
“Tunggu, apa dia baru saja merayuku? Tidak, aku tak boleh langsung terlena. Kenapa dia bisa seberengsek itu kepadaku?” batin Natalie semakin memalingkan wajahnya.
“Nat, a-ku … min—” Natalie menoleh seketika dengan tatapan bingung membuat Sultan menghentikan ucapannya.
“Apa maksudmu? Kau … mau meminta maaf? Hahaha!” ujarnya tertawa membuat seperti candaan.
“Diam! Aku tidak suka bercanda!” tegas Sultan. “Apa kau pikir aku bercanda?” tanyanya sekali lagi. Natalie mengangguk canggung. “Lumayan,” balasnya pelan.
“Sudahlah! Aku minta maaf!” Mata Natalie membelalak. Dia memasang pendengarannya dengan jelas. Jari lentiknya terus mengusap-usap daun telinga untuk memastikan apa yang dia dengar adalah nyata.
“Dia meminta maaf? Hah, rasanya akulah sang pemenang,” gumamnya puas dan beranjak dari duduknya. “Bos … aku maafkan,” balasnya dengan suara mendesah dan manja.
“Aku mau ada rapat. Duduk dengan baik di sofa itu!” Natalie kembali terdiam mendengar suara tegas Sultan. Dia duduk kembali dan merebahkan tubuhnya di sandaran. “Punya kekasih berengsek. Menyebalkan. Kenapa dia tampan hingga aku selalu saja lemah? Sebel,” rengeknya membuat Sultan hanya diam meliriknya.
“Aku mendengar ucapanmu, Gadis Genit,” balas Sultan yang sudah menduduki kursinya kembali.
“Tok,tok!” Ketukan pintu kembali terdengar.
“Masuklah!”
Samuel memasuki ruangan berjalan gagah mendekati Sultan. “Tuan Muda, semua klien sudah datang,” bisik Samuel membuat Sultan menganggukkan kepalanya.
Dengan sigap Samuel mengarahkan tangan kepada sekretaris Sultan yang berada di depan pintu. Wanita yang selalu mengurusi semua klien dan dokumen perusahaan itu segera mempersilahkan lima klien masuk ke dalam ruangan Sultan. Mereka seketika diam dan saling menoleh saat berada di dalam. Rapat biasanya dilakukan di ruangan khusus. Baru kali ini Sultan melakukan di ruangannya. Dia sebenarnya hanya tidak ingin melepaskan pandangannya kepada Natalie.
“Kenapa saling menoleh?” Sultan mengernyit melihat semua kliennya yang tergolong pengusaha sukses masih saling memandang satu sama lain.
“Tuan Muda, apakah kita melakukan rapat penting ini dengan berdiri?” tanya salah satu dari mereka.
“Ya! Ada masalah?” jawab singkat Sultan. Mereka sontak terdiam. Perintah Tuan Muda itu adalah segalanya. Kekuasaan yang dia punya bisa membuat semua klien yang ada di hadapannya hancur seketika jika membuat pewaris Abraham itu marah.
Rapat segera dimulai. Natalie dengan santai menguasai kursi sofa yang sebenarnya bisa menampung banyak orang. Bagaimanapun juga, dia adalah kekasih pemuda berpengaruh, dan tentu saja ikut menguasai semuanya.
“Aku sangat bosan berada di sini. Kapan aku bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkan kebosanan?” gumam Natalie. Dia terus mengamati semua klien Sultan yang sangat sibuk memberikan laporan. Namun, raut wajah Natalie berubah seketika. Kedua matanya tersorot pada gambar di salah satu punggung tangan klien yang berdiri tidak jauh dari posisi Sultan.
“Apa itu?” batinnya mengernyit tidak melepaskan pandangannya sedikitpun. Natalie memutar waktu beberapa hari sebelumnya. Dia berusaha merangkum peristiwa lampau itu untuk mendapatkan petunjuk. “Tato itu ..,” ucapnya pelan masih menyorot tajam. Dalam beberapa detik, akhirnya dia mengingat sesuatu. “Tato yang sama dengan telapak …,” gumamnya. Natalie saat itu hanya melihat punggung tangan sosok yang tidak tertutup pohon, memiliki gambar simbol mawar saat menemui Nyonya Besar.
Natalie tidak menyangka dia melihat itu dari tangan salah satu klien Sultan. Kini dia akan melakukan tindakan berani. Jemarinya membuka tas untuk merobek secarik kertas. Keahliannya dalam hal melukis, membuat Natalie bisa menorehkan tinta bolpointnya persis dengan gambar dibayangannya.
“Aku akan memberikannya kepada Samuel. Dia harus segera memeriksa. Ini sangat tidak baik untuk keselamatan Sultan.” Napas dihembuskannya perlahan. Kini tubuh mungil itu mulai beranjak dari sofa. Natalie dengan meringis berjalan mendekati Samuel yang tentu saja terkejut melihatnya. “Apalagi yang akan dilakukan Nona Natalie?” tanyanya membatin dengan lirikan kaku.
Sultan melotot melihat Natalie mendekati Samuel. Hingga dia tidak berkonsentrasi untuk mendengar beberapa kalimat penting yang disampaikan salah satu kliennya. “Kenapa dia?” batin Tuan Muda masih menumbukkan sorotan ke mata Natalie yang tidak memberikannya petunjuk.
Kedua mata Natalie melirik Samuel yang akhirnya juga menatap. Pengawal itu semakin tidak mengerti saat Natalie memasukkan secarik kertas ke dalam saku jasnya. Bola mata hitam Natalie mengarah saku jas yang membuat sang pengawal semakin tidak mengerti. Kini pria bertubuh garang itu menunduk dan keluar dari ruangan. Sementara Natalie kembali duduk di sofa.
Sultan masih menahan penasarannya. Dia akan menunggu rapat yang sangat penting bagi perusahaan selesai, setelah itu segera menanyakan maksud dari Natalie dan Samuel. “Gadis itu, selalu saja membuatku pening," gerutu Sultan pelan sembari menarik napas.
Samuel di luar segera memeriksa secarik kertas dengan gambar tato yang Natalie berikan. Dia semakin tegang saat membaca pesan yang berisi jika gambar itu sama persis dengan milik seseorang yang sangat dikenalnya. “Gambar itu …” Tanpa berpikir lagi, Samuel bergegas melangkah di pojok ruangan menghubungi Jovanka.
“Nyonya, aku harus menuju ruangan Black Room. Ini menyangkut nyawa Tuan Muda.”
“Apa maksudmu?”
“Kita akan bertemu dan berbicara, Nyonya. Sekarang, aku harus bergegas. Berikan aku ijin!”
“Aku mengijinkan! Kita harus bertemu, dan jelaskan kepadaku setelah mendapatkan sesuatu,” balas Jovanka menutup ponselnya.
Samuel berjalan memasuki lift khusus di dalam ruangan Bos Besar. Dia memiliki kunci yang memang dipercayakan kepadanya. Bos Besar hanya menuju perusahaan jika ada masalah darurat. Dia memang setiap hari selalu bepergian. Perkembangan perusahaan hanya dia terima dari laporan para ketua cabang yang diberikan kepada Sultan dan Jovanka dengan bantuan Samuel. Semua kegiatan Bos Besar sangat misteri. Bahkan jovanka tidak bisa menanyakannya.
“Kenapa aku sampai ceroboh membiarkan dia memasuki kantor ini?” gumamnya terus melangkah cepat.
Samuel masuk ke dalam lift yang terbuka langsung menjurus dalam ruangan lorong dikelilingi kaca, menembus satu lagi ruangan besar yang berisi semua komputer canggih. Di sana hanya ada sepuluh pegawai dengan keahlian menggunakan komputer. Mereka menerima kontrak nyawa dari Bos Besar. Jika informasi yang mereka ketahui sampai keluar, maka kematianlah yang akan mereka dapat. Semua pegawai mendapatkan bayaran fantastis untuk pekerjaan itu.
“Aku harus mendapatkan informasi klien itu,” batinnya mulai mengarahkan kedua mata elang ke layar Black Room.
Lima layar besar mengelilingi ruangan. Semua kamera cctv yang mengarah ke sudut ruangan gedung, juga bisa terlihat. Black Room sendiri adalah ruangan khusus untuk mencari semua informasi seseorang yang diinginkan Bos Besar. Namun, keberadaan seseorang yang dicarinya, tidak bisa Samuel temukan di sana. Itu adalah kecurigaan besarnya selama ini. Dia secara diam-diam masih menyelidiki rahasia itu.
Samuel segera memerintahkan salah satu dari pegawai untuk melihat klien tuannya dengan tato bergambar mawar di salah satu layar.
“Carilah laki-laki ini? Dan, berikan identitasnya kepadaku secepatnya!”
Kedua mata tegas Samuel dengan serius mengamatinya saat layar itu mulai memperlihatkan sosok misterius yang di maksud. Namun, ada satu hal yang membuatnya terkejut saat menatap kamera cctv di bawah layar paling kanan.
“Tuan Muda dan Nona Natalie? Mau kemana mereka tanpa pengawalan? Gawat!”