Samuel terus berpikir. Dia tidak melepaskan pandangannya sama sekali. Mata bulat hitamnya mengamati sosok misterius yang ternyata mengikuti kemana tuannya pergi. “Dia mengikuti Tuan Muda?” Yang paling Samuel resahkan, ternyata Sultan pergi diam-diam bersama Natalie. “Carilah siapa pria itu! Kabari aku secepatnya!” teriak Samuel bergegas keluar dari ruangan untuk menyelamatkan Sultan.
Di luar gedung, Sultan masih menarik tangan Natalie menuju parkiran. Saat itu Sultan merasa bersalah dengan perbuatannya kepada Natalie. Dia ingin mengajak wanita pujaannya makan siang bersama di restaurant steak tempat favorite mereka di masa lampau saat masih menjalin kasih.
“Tutuplah kedua matamu. Aku mau kau melihat sesuatu.” Natalie tidak menyangka melihat kekasih dinginnya berubah sangat romantis. Kedua tangan kekar milik sang Tuan Muda, menutup kedua mata mungilnya. Tubuh Natalie yang hanya sebatas pundak Sultan, kini masuk ke dalam dekapannya.
“Kamu siap melihat sesuatu?” Perlahan sepuluh jari Tuan Muda melepas kedua mata kekasihnya. Senyuman khas Natalie keluar begitu saja saat melihat mobil VW kuningnya ternyata ada di hadapannya.
Samuel yang berlari dan bisa menjangkau mereka, mengarahkan tangan kanannya kepada semua pengawal yang mengikutinya. Dia melakukan itu agar tidak mengganggu kemesraan yang sudah ditunggunya selama tujuh tahun kini terlihat nyata.
“Jagalah sekeliling, dan jangan sampai Tuan Muda mengetahui kita mengikutinya!” Semua pengawal menganggukkan kepala, melakukan perintah Samuel. Pandangannya masih terus menatap ruangan mencari sosok pria misterius yang mengaku klien kiriman Bos Besar dan ternyata adalah sosok membahayakan. “Kenapa aku sampai percaya begitu saja dengan orang asing mengatasnamakan Bos Besar? Lain kali aku harus lebih menelitinya,” batin Samuel terus menyorot serius semua arah.
Sementara Sultan mulai masuk ke dalam mobil kesayangan Natalie. Hati bahagia Natalie sudah memuncak. Teriakan melengking ingin sekali dia keluarkan. Ditahan, itulah yang dia lakukan sekarang. Merusak keromantisan yang dia tunggu, tidak akan pernah terjadi dalam benaknya.
“Kenapa kekasih berengsekku kini sangat romantis, dan … sifat angkuhnya bisa berubah seperti ini? Hah, aku mimpi … atau aku benar-benar mengalaminya?” tanya manja Natalie dengan salah satu matanya yang mengedip. Di depan kemudi, Sultan tersenyum sembari mulai memasukkan kunci mobil. Pedal gas dia tekan, dan mobil melaju kencang.
Mereka saling memandang satu sama lain. Wajah dingin Tuan Muda menghilang seketika. Ada rasa cinta dan kehangatan di sana. Jemari lentik Natalie menekan tombol radio. Dia dengan genit menggoyangkan pundaknya saat lagu kesukaannya terdengar. Senyuman berbinar akhirnya semakin terlihat di wajah Tuan Muda Sultan yang terkenal dingin dan angkuh.
“Kau tahu, aku harap kau selalu saja seperti ini,” kata Natalie masih menikmati alunan musik pop yang membuat tubuhnya bergoyang. Kedua matanya kembali melotot menatap wajah dingin Sultan kembali muncul. Dia melirik kaca spion melihat mobil Samuel yang ternyata mengikuti. Seketika Natalie mematikan radio.
“Kenapa dia tidak bisa membiarkanku hanya berdua saja. Nat, berpeganganlah! Aku akan menghindari mobil pengawal hebatku itu,” kata Sultan membuat Natalie resah. Dia meragukan jika Sultan bisa mengalahkan keahlian Samuel dalam hal mengemudi. Jemarinya mengerat pada sabuk pengaman yang sudah terselempang di tubuhnya.
“Bos, aku rasa kau jangan mengebut! Arghhhh!” teriak Natalie saat tangan Sultan mendadak memutar kemudi ke kanan. “Bos! Kau … tidaakkkk!” teriakan melengking semakin keluar dari mulut Natalie ketika Sultan menyalip sebuah truk yang melintas. Namun, mobil Samuel masih saja berhasil menyusul.
“Dia memang sangat hebat,” ucap Sultan. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan kiri, sembari mendorong kopling untuk menambah kecepatan. Pedal kembali ditekan, membuat mobil Natalie melaju lebih kencang.
“Mobilku bisa rusak. Jika itu terjadi, aku akan membuatmu menyesal! Berengsek!”
“Diamlah, aku pasti bisa membuat pengawal itu menyerah!”
Samuel di belakang Sultan mengambil ponselnya. Dia menekan semua nomor yang terhubung dengan beberapa pengawal yang juga mengikuti Sultan. “Ikuti mobil itu, tapi jangan sampai Tuan Muda mengetahuinya. Kita akan mengamati Tuan Muda dari jauh!”
Perlahan, semua mobil sedikit menjauh dari posisi mobil VW kuning yang memelankan mesinnya. “Kau akhirnya menyerah, Sam,” batin Sultan yang sebenarnya mengetahui jika pengawal setianya itu tidak bisa dia kalahkan. Menghilang dari pandangannya bukan berarti kalah, tapi memang sengaja Samuel lakukan. Sultan sangat mengetahui hal itu.
“Aku sangat mual. Bisakah kita berhenti?” ucap Natalie menekan perutnya. Sultan memarkirkan mobilnya di pinggir jembatan yang kebetulan mengarah ke pantai. Saat mobil sudah menepi, Natalie keluar segera merentangkan kedua tangan dan mendongakkan kepalanya sambil memejam. “Hah, akhirnya aku bisa menghirup udara segar.” Badannya berbalik mendadak. Senyuman kembali dia lempar saat kekasih tampannya menyandarkan tubuhnya sambil bersedekap di mobil terlihat sangat tampan. Sinar matahari membuat wajahnya semakin terlihat sempurna.
Perlahan Natalie berjalan dengan melenggok. Dia semakin terlihat seksi saat salah satu tangannya memegang pinggang. Bodi biolanya terlihat menawan melekuk sempurna. Kini wajah mereka saling menatap dekat. Sultan menurunkan wajahnya hingga kedua kening mereka bersatu.
“Kau sangat menyebalkan. Kenapa mengendarai sangat kencang?” protes Natalie pelan. Tanpa menjawabnya, Sultan mengangkat tubuh Natalie hingga terduduk di atas mobil bagian depan. Sultan memeluknya dari depan.
“Apa maafku diterima?” tanya Sultan mendekatkan wajahnya. Kini ujung lancip hidung mereka bersentuhan.
“Aku menerimanya. Tapi …” Bibir Natalie mendekati telinga kanan Sultan. “Kau tetap tidak bisa di kamarku,” bisiknya pelan sembari melempar senyum.
“Kalau aku cium?” Sontak Natalie menelan salivanya. “Apakah aku bisa merubah pikiranmu?” sambung Sultan masih membuat Natalie diam tegang.
Setiap malam Natalie selalu saja membayangkan ciuman hangat dari pria tampan di lukisannya. Tapi, siang ini dia benar-benar akan melakukannya. “Hmm … akan aku pikirkan,” balas Natalie memejamkan kedua mata siap menerima bibir Sultan.
Natalie mengernyit. Waktu sudah berjalan sepuluh detik, tapi kenapa bibirnya tidak tersentuh? Bahkan kekasih Sultan itu sudah mencondongkan bibirnya semakin maju. “Kau—” Natalie sontak menghentikan katanya. Alisnya menyatu, menandakan tidak mengerti dengan ekspresi wajah Sultan.
“Kau … kenapa? Bos!” Sultan mengucurkan keringatnya. Dia mencengkeram dadanya. Natalie melompat, berlari menghampiri Sultan dan memapah tubuhnya yang hampir terjatuh. “Dia … dia sudah menikmati bibirku. Lidah itu … menggigitku! Aku sangat jijik. Saat itu aku hanya bisa diam. Devoni … kau, adalah … arghhh!” Sultan berteriak histeris. Natalie kini mengerti kenapa laki-laki yang dicintainya selalu menolak mencium bibirnya. Trauma tragis yang menyebabkan hal itu.
Samuel berlari akan menghampiri Sultan. Pelototan Natalie membuat langkahnya terhenti. Samuel mengerti jika Natalie ingin mengatasi rasa trauma Sultan dengan caranya. Semua pengawal yang sudah mendekat, mengurungkan niatnya melihat tangan Samuel terangkat yang artinya berhenti.
Natalie kali ini memegang kemudi. Dia melesat lumayan kencang. Namun, dia melihat sesuatu mencurigakan saat melewati jalanan sepi. Mobil asing mendadak menabrak dari arah kiri. Sultan terkejut dan membuka kaca jendela.
“Dor!”
“Arghh!”
“Tidak!” teriak Natalie melihat lengan kanan Sultan terserempet peluru. Dia menghindar dan masuk ke dalam gudang.
“Tuan Muda!” Samuel yang berada tidak jauh dari posisi Sultan, semakin menekan pedal gasnya. Kaki kanannya yang semula menekan kencang untuk lebih melaju, dia tahan mendadak. Sepasang netranya melotot tegang terhadang seseorang yang dia cari namun menghilang, kini berdiri tegak dengan wajah dingin di tengah jalanan bersama sepuluh orang pengikutnya. Mereka menghalangi mobil Samuel agar tidak bisa mengejar tuannya yang sudah menghilang dari pandangannya. Senjata sudah terarah siap menembus mobil Samuel.
Samuel di depan kemudi masih tegang menatap seluruh pistol yang sudah melesat namun tidak bisa menembus mobil anti peluru yang dia kendarai. Perlahan tangannya meraih pistol saat semua mobil pengawal sudah berdatangan di sebelahnya.
“Lindungi aku!” perintah Samuel kepada semua pengawal dari ponsel mobil yang terarah ke mereka.
***
Sultan masih menahan lengannya yang sudah bersimpuh darah. Natalie dengan panik masih mengendarai mobil dan berusaha menghindar dari penjahat misterius yang mengejar.
“Nat, masuk gudang itu!” teriak Sultan membuat gadis yang selalu centil kini berusaha mengatur hatinya yang sangat tidak karuan.
“Gudang? Di mana itu?” teriak Natalie sama sekali tidak menoleh. Dia masih menatap depan untuk berkonsentrasi penuh. Bola matanya terus berputar mencari tempat yang dimaksud Sultan.
“Di depan seberang jalan itu! Cepat!” Dengan suara serak, Sultan berusaha berteriak sambil menekan lengannya. Darah yang terus menetes, membuatnya sedikit lemas.
“Arghh! Aku tidak mau mati!” balas Natalie dengan pekikannya. Tangannya membelok mendadak membuat mobil VW miliknya sedikit terserempet pintu saat mobilnya memaksa masuk ke dalam. Dia segera mematikan mesinnya. Sultan merobek rok Natalie, “krek,” yang membuatnya semakin terperanjat. “Argh! Apa yang kau lakukan?”
Tanpa berbicara, Sultan mengikat lengannya dengan kain sangat kencang. Kini darah tidak menetes lagi. “Tunggulah di sini! Aku akan melawan mereka,” kata Sultan membuat Natalie termangu tegang.
“Jangan! Biarkan Samuel melakukannya. Kita akan berada di sini, dan menunggu,” protes Natalie sembari memegang kepalanya. Dia sangat takut melihat dua pria kini sudah berada di depan mobil dengan mengarahkan senjata.
“Natalie, aku mencintaimu,” Suara pelan yang Sultan lontarkan sebelum membuka pintu mobil dan keluar.
“Men-cin-taiku ….”