Obat Kejujuran

2102 Kata
Natalie masih bergeming mendengarkan pengakuan perasaan Sultan. Dia membuka beberapa kancing baju karena tubuhnya serasa mendidih akibat pernyataan terindah yang dia dengar. “Dia mencintaiku? Kekasihku … aku juga mencintaimu. Tapi …” Kedua matanya melotot tegang melihat Sultan mengangkat kedua tangannya ke atas. “Kenapa dia melakukan itu?” Natalie menempelkan wajahnya di kaca jendela agar penglihatannya lebih jelas. “Samuel, kau di mana?” batinnya resah. “Aku menyerah! Kalian bisa membawaku,” ucap Sultan masih dengan kedua tangan terangkat. Tanpa berbicara, salah satu dari mereka berjalan mendekati Tuan Muda yang menyorot tajam. Pria itu mengamati tubuh Sultan dari atas ke bawah, memastikan tidak ada senjata yang dia pegang. “Aku akan membawamu kepada seseorang. Dia membayarku sangat banyak,” ucapnya membuat wajah Tuan Muda mengernyit. “Siapa?” tanya Sultan singkat. “Devoni!” jawabnya lantang. Sultan menarik napas. Dia sudah menduga saudara tirinya pasti yang melakukan semua ini. Obsesi kepada dirinya, masih saja tidak membuat Devoni menyerah. Tangan Sultan yang semula diam, mendadak mendorong kuat tubuh pria yang masih sibuk akan mengikatnya. Pria itu seketika menjadi tersungkur. Kaki kanan jenjang milik Tuan Muda menendang wajah pria itu di tanah hingga pingsan. Pria satunya lagi menjadi sangat panik. Namun perintah untuk tidak menumbangkan Sultan, membuat dia hanya bisa mengancam akan menembakkan peluru yang sudah diarahkannya. “Jika kau tidak berhenti, aku akan menembakmu!” Pria itu masih saja perlahan melangkah lebih mendekati Sultan dengan senjata yang semakin terarah tepat di wajah tampan Tuan Muda. Saat pria menghentikan langkah, “Prak!” Natalie memukul kepala pria itu dari belakang menggunakan sebuah batu yang dia ambil tidak jauh dari posisi mobilnya. Natalie mengendap keluar, memutuskan untuk menolong Sultan. “Rasakan! Dasar predator!” umpatnya puas sembari menepuk-nepuk kedua telapak tangannya yang sedikit terkena pasir yang menempel di batu. “Kau, kenapa keluar?” Sultan melangkah cepat mendekat, lalu menarik tubuh Natalie. Dia memutar tubuh mungil kekasihnya dengan mudah. Sorot matanya melihat setiap lekukan dengan saksama. Sultan terus melakukannya, memastikan jika Natalie tidak mengalami luka-luka. “Untunglah kau tidak apa-apa.” Sultan memeluk Natalie erat. Kini dia menggenggam tangan Natalie dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. “Ayo kita keluar dari sini!” “Brak!” Pintu gudang mengeluarkan suara sangat keras akibat terkena sebuah mobil. Sontak membuat mereka yang berada di dalam menoleh. Samuel bersama semua pengawal akhirnya datang. Sultan melepas napasnya karena lega. Samuel segera mendekatinya. Sementara, semua pengawal membawa kedua pria yang sudah tumbang namun masih hidup, untuk diinterogasi. “Tuan Muda. Syukurlah Anda selamat,” ucap Samuel tersenyum lega. Kini manik hitamnya melirik Natalie yang merapikan rambutnya karena acak-acakan. “Nona, Anda juga baik-baik saja?” sapa Samuel kini menatap kekasih Sultan. Kepalanya seketika menunduk saat dua kancing baju Natalie masih terbuka. Sultan menggeleng pelan, menarik tubuh Natalie hingga dalam dekapannya. “Kau mau dimakan buaya, lalu giginya mengoyak tubuhmu yang lezat itu! Katakan kau tidak melihatnya!” Sultan memasang tatapan tajamnya, dengan teriakan ancaman. Samuel memejamkan kedua mata dan menarik napas. “Aku tidak melihatnya, Tuan Muda,” jawabnya singkat lalu mengarahkan tangan kanannya menuju mobil miliknya. Alis Natalie menukik ke arah Sultan yang tidak dihiraukan. Dia tidak suka jika sifat Sultan yang angkuh itu keluar. Natalie merasa kesal jika Samuel yang sudah melakukan semuanya untuk Sultan, namun masih saja terkena marah dengan hal sepele. “Mobil Nona Nat akan dibawa pengawal. Demi keselamatan Anda dan Nona Nat, sebaiknya menaiki mobil bersamaku, Tuan Muda,” ucap Samuel  membuat Sultan akhirnya menurut. Dia masih memeluk Natalie, berjalan segera masuk setelah Samuel membukakan pintu untuknya. Di dalam mobil, Sultan masih saja mendekap tubuh Natalie. “Bos, jangan pernah memarahi Samuel. Dia sudah banyak berkorban untukmu, sayang.” Lirikan kaku masih Sultan perlihatkan. Itu adalah jawaban yang sama sekali tidak diinginkan Natalie. Namun, dia hanya bisa menarik napas menerimanya. Sultan menatap jalanan memikirkan saudara tiri yang masih terobsesi dengannya. “Apakah aku harus menemui dan melawannya? Untuk apa aku selalu saja menghindar. Dia menginginkanku. Dulu memang aku suah kalah. Tapi … sekarang aku akan melawannya. Itu akan aku lakukan secepatnya,” batinnya dengan dendam yang selama ini dia tahan akan mulai dikeluarkan. Kedua mata Samuel masih memasang tajam di kaca spion melihat ekspresi tuannya yang sangat dia hafal. “Tuan Muda pasti akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini. Hatinya yang sangat resah, aku bisa lihat dengan jelas. Kali ini kau tidak akan aku lepas, Devoni!” batinnya tegas sembari mengemudikan mobil dengan lumayan kencang. Mobil sudah terparkir dengan baik di basement apartemen. Samuel dengan sigap membuka pintu mobil belakang kanan di mana Sultan duduk. “Aku akan menghubungi Dokter, Tuan Muda. Dia akan datang dalam sekejap,” kata Samuel mendapat anggukan dari Sultan. “Samuel, kau memang pengawal yang hebat. Terima kasih sudah sangat sabar bersama orang yang aku sayangi ini,” sambung Natalie membuat sedikit senyuman kembali terlihat di wajah Samuel. Kini Sultan membiarkan Natalie memuji pengawal yang dianggap saingannya itu. “Hmm, kau tidak akan membiarkanku—” Sultan menarik napas sejenak sebelum melanjutnya berkata karena menahan rasa perih yang semakin dirasakannya. “Tidur sen-dirian?” sambungnya dengan suara yang sudah tidak bisa dikatakan dengan baik. “Kau akan bersamaku. Namun, jangan pernah membiarkanku pergi ke kantor seperti itu lagi.” Syarat mudah Natalie, segera mendapat persetujuan Tuan Muda yang kini sudah sangat pucat. Samuel masih memapahnya hingga sampai kamar, dan merebahkan di atas ranjang. “Baiklah, aku akan menunggu dokter. Dia sudah memasuki lift. Nona Nat, aku menitipkan Tuan Muda kepadamu.” Anggukan dengan senyuman Natalie berikan. Samuel melangkahkan kakinya keluar kamar, berjalan di depan pintu lift untuk menyambut kedatangan dokter. Pintu lift dengan perlahan terbuka. Sang dokter dengan terburu-buru berjalan mengikuti langkah jenjang Samuel yang sudah membalikkan tubuhnya untuk masuk kembali ke dalam kamar. “Berikan yang terbaik untuk Tuan Muda, Dokter,” pesan Samuel. “Aku selalu akan memberikan yang terbaik untuknya, Sam,” jawab Dokter meletakkan tasnya di atas nakas dan mulai mengeluarkan semua alat yang akan dia gunakan. Dengan saksama, Dokter memeriksa lengan Sultan dan membuka perlahan kain yang mengikatnya. “Argh ..,” rintih Sultan saat jemari Dokter menekan untuk memeriksanya. Natalie hanya diam menatap tegang. Rasa takutnya terhadap darah, harus dia tahan. “Tuan Muda, aku akan membiusmu. Cairan ini tidak akan membuat Anda tertidur. Lengan itu harus aku jahit untuk menghentikan pendarahan. Namun, obat ini agak keras dan memiliki efek samping luar biasa. Mungkin … Anda akan sedikit melayang. Bagaimana?” Sultan menatap Dokter sejenak, hingga akhirnya dia berkata, “Baiklah, dan lakukan cepat! Aku tidak ingin menunggu terlalu lama.” Dokter mulai mempersiapkan semua. Natalie mengatur napasnya, semakin tak kuasa melihat semua alat yang akan dokter gunakan. “Dokter, bisakah kau perlahan memasukkan jarum dan suntikan itu di lengan pria tampan ini? Aku tak kuasa mendengar rintihannya. Aku mohon.”  Dokter menganggukkan kepala, kemudian mulai menyuntikkan obat yang dia maksud. Kali ini dia akan melakukan sendiri tanpa bantuan suster. Samuel memberikan pesan jika dia harus datang sendiri. Berita Tuan Muda terkena tembakan tidak boleh tersebar. “Kau tahu, aku tidak akan pernah berteriak hanya karena jarum kecil itu menusukku. Aku akan berteriak jika menusuk milikmu, Natalie,” ucap Sultan membuat kepala Natalie menggeleng kemudian terkekeh pelan. Efek yang keluar dari mulut Sultan saat obat bius sudah merasuk ke dalam tubuhnya. Pandangannya mengernyip, namun tidak tertidur. “Baiklah, aku akan berjaga di luar,” kata Samuel. Dia segera meninggalkan ruangan. Kedua matanya sontak menatap saku jasnya saat ponsel berdering. Dengan segera dia menerima panggilan Jovanka. Ibu tiri Sultan itu sangat resah saat mengetahui anak tirinya mengalami ancaman dari pengawalnya. “Samuel, apa benar Sultan terkena tembakan? Lalu … siapa yang melakukannya? Apakah Devoni?”Jovanka berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia berharap mendapat kabar baik dari Samuel tentang keadaan Sultan. “Nyonya, Tuan muda baik-baik saja. Semua sudah aku atasi. Anda tidak perlu mengkawatirkannya,” balas Samuel. “Sam, aku pastikan itu Devoni. Sekali lagi, Bos Besar hanya diam tanpa berkomentar apapun saat aku memberitahukannya. Aku tidak mengerti dengan misteri ini. Bahkan ruangan secanggih Black Room saja tidak bisa menemukan anak sialan itu.” “Anda tidak perlu mencemaskannya, Nyonya. Aku akan segera menemukan jawaban dari masalah ini.” Samuel berusaha menenangkan hati Jovanka. Ibu tiri Sultan memejamkan kedua mata di depan jendela kamar menikmati semilir angin yang menerpa untuk menekan emosinya. Tangannya masih saja menggenggam ponsel yang terarah ke Samuel. “Baiklah, kau sebaiknya dengan cepat menyelesaikan ini. Aku tidak mau Sultan menderita karena anakku. Shufaka … aku sangat mencintainya. Balas budiku untuknya hanya dengan menjaga Sultan walaupun musuh besarnya adalah anakku sendiri. Aku mohon, Sam. Selesaikan ini!” “Baik, Nyonya.” Jovanka menutup ponselnya. Dia kembali mengatur hatinya yang diselimuti keresahan akan keselamatan Sultan. “Devoni, kenapa kau seperti ini?” gumamnya pelan. *** Dokter sudah melakukan tugasnya. Darah kental yang semula menetes sudah tertutup jahitan yang dibalut perban. Samuel kembali masuk untuk melihat keadaan Tuan Muda. “Tugasku sudah selesai, Sam. Tuan Muda akan sedikit melayang dan mungkin tidak sadar dengan ucapannya. Itu efek dari obat bius yang aku berikan. Tapi, kau tidak perlu kawatir. Besuk dia akan kembali seperti semula,” ucap Dokter pelan. Samuel menganggukkan kepala dan mengantar sang dokter keluar kamar. Natalie di sebelah Sultan mulai membelai rambutnya. Sentuhan lembut jemarinya membuat Sultan semakin menatap. “Hmm.” Sultan menghembuskan napasnya sebelum ia berucap, “Kau adalah wanita yang menyakitiku. Tapi, aku selalu saja memiliki perasaanku denganmu. Setiap melihatmu, aku ingin melakukannya. Milikku selalu saja tegang. Kau tahu … menahan hasrat itu adalah siksaan buatku,” kata Tuan Muda membuat Natalie melotot. Samuel yang semula mengencangkan langkah untuk bergegas kembali masuk, mendadak terhenti. Tangannya mengulur tepat di ke arah Natalie. Dia menggeleng pelan. Natalie sangat tahu jika maksud Samuel melakukan itu untuk mencegahnya membantah, atau berkomentar dengan perkataan tuannya. “Baik,” bisik Natalie dengan melotot. Samuel mengangguk, kemudian membalikkan tubuh untuk keluar dari kamar. Kini Natalie hanya berdua dengan Sultan di dalam. “Hoi, pengawal tidak tahu diri! Tapi, aku menyukaimu, Samuel!” teriak Sultan sontak membuat Natalie memeluknya. “Kau sudah tidak jelas. Tapi tetap saja tampan. Sekarang diam, dan menurutlah. Aku akan membuatkan bubur, bagaimana?” kata Natalie masih memeluk Sultan. “Aku tidak mau makan.” Sultan mendorong tubuh Natalie yang semula mengerat, akhirnya sedikit terlepas. Sultan terduduk, mendekatkan wajahnya. Dia mendekati telinga kanan Natalie untuk menyampaikan sesuatu yang dia pendam selama ini. Efek samping obat, semakin membuatnya tidak sadar dengan apa yang akan dia lakukan. “Kenapa kau memeluk Roy saat itu? Aku membencimu! Hatiku sakit menerima kenyataan itu. Tujuh tahun lamanya, aku selalu memendam rasa itu. Sakit, sangat … sakit!” Kini teriakan Sultan semakin tidak terkendali. “Natalie Lethesia! Kau adalah wanita dalam hidupku. Tapi, kau sudah menyakitiku! Aku sangat menderita melihatmu melakukannya!” Tangan Sultan semakin mendekap tubuh yang sudah pasrah di sebelahnya. Natalie diam merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan. “Maafkan aku, sayang …,” lirih Natalie membuat Sultan kini kembali menatapnya. Kedua sorot mata mereka saling bertumbukan mesra. Kerinduan terpancar jelas di sana. Hati yang saling menahan, kini serasa lepas, meluap, terbang tiada batas. “Aku merindukanmu, Natalie,” bisiknya lemas. Natalie hanya diam sayu menerima semua perasaan Sultan yang meluap. Dia tidak menyangka jika apa yang membalut pikirannya selama ini tentang kebencian kepada kekasihnya, adalah salah. “Kaulah segalanya, kekasihku,” balas Natalie parau. Ruang mata Tuan Muda mulai mencembung. Tatapan sendu membuat Natalie memainkan jemari di pipi dengan rahang tegas milik kekasihnya yang mulai bercerita tentang masa kelamnya. “Aku saat itu menggantung. Punggungku dipukulnya dengan alat pemuas itu berkali-kali. Saudara tiriku yang sangat berengsek, dia sudah membohongiku. Dia memasukkan miliknya ke dalam tubuhku bagian belakang. Aku sangat tersiksa. Sangat … menderita.” Sultan menarik napas keras, sebelum melanjutkan berbicara. Dia berkata, “Tangannya terus memainkan milikku. Tetesan air mata, serta rintihanku malah semakin membuat dia gila.” Kini tangisan yang ditahan, pecah di pelukan Natalie. Sultan semakin mengeratkan tangannya di tubuh wanita yang semula hanya berada di pikirannya, kini sangat nyata terlihat. Dia meluapkan emosi. Napasnya tersengal-sengal. Air mata semakin deras keluar membasahi wajah. Natalie hanya termangu tidak berkomentar sama sekali. Hatinya ikut merasakan sakit. Tangan yang mengerat, sudah mulai melonggar. Kedua mata Sultan yang sangat sembab, masih saja tidak menghilangkan ketampanannya. Namun, tatapan sendu itu kini berubah menjadi dingin. Sorotan kesedihan yang semula terlihat, kaku seketika. “Katakan! Kenapa, kau memeluk Roy!” Tangan kuat Sultan mencengkeram tubuh Natalie. Dia berusaha menerima perlakuan kasar kekasihnya. Rasa sakit di sekujur lengannya, masih dia tahan tanpa berkomentar. “Apa kau mencintainya? Kau … apakah mencintai sepupuku itu? Apakah kau masih suci?” tanyanya sedikit pelan. Mereka saling beradu tatap. “Natalie Lethesia, jawab! Arghh!” “Plak!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN